f ' Inspirasi Pendidikan: Berita Pendidikan

Inspirasi Pendidikan untuk Indonesia

Pendidikan bukan cuma pergi ke sekolah dan mendapatkan gelar. Tapi, juga soal memperluas pengetahuan dan menyerap ilmu kehidupan.

Bersama Bergerak dan Menggerakkan pendidikan

Kurang cerdas bisa diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki (Bung Hatta)

Berbagi informasi dan Inspirasi

Tinggikan dirimu, tapi tetapkan rendahkan hatimu. Karena rendah diri hanya dimiliki orang yang tidak percaya diri.

Mari berbagi informasi dan Inspirasi

Hanya orang yang tepat yang bisa menilai seberapa tepat kamu berada di suatu tempat.

Mari Berbagi informasi dan menginspirasi untuk negeri

Puncak tertinggi dari segala usaha yang dilakukan adalah kepasrahan.

Tampilkan postingan dengan label Berita Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Agustus 2026

KPM DESA BONDRANG RESMI DITUTUP, MAHASISWA TINGGALKAN KESAN DAN JEJAK PENGABDIAN DI TENGAH MASYARAKAT

Ponorogo, 13 Agustus 2026 — Setelah lebih dari satu bulan melaksanakan berbagai program pengabdian, mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo resmi mengakhiri rangkaian kegiatan di Desa Bondrang, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Kamis (13/8/2026). Meskipun begitu para mahasiswa baru pulang pada tanggal 14 Agustus 2026, karena terlebih dahulu akan berpamitan dengan warga sekitar Posko dan para tokoh masyarakat secara langsung. Acara penutupan yang dimulai pukul 09.00 WIB tersebut berlangsung di Desa Bondrang dan dihadiri oleh Kepala Desa Bondrang Barru Pria Sukoco, Sekretaris Desa, para Kepala Dusun, Ketua BPD Bapak Soelarno, ibu-ibu PKK, serta perwakilan lembaga pendidikan. Hadir pula Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dr. Hariyanto, M.Pd. dan Septiyan, M.E., Sy., bersama mahasiswa peserta KPM. Suasana penutupan berlangsung dalam nuansa kekeluargaan. Tidak sekadar menjadi seremoni berakhirnya masa pengabdian, kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi atas perjalanan mahasiswa selama berada di tengah masyarakat Desa Bondrang.

Mewakili UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, Dr. Hariyanto, M.Pd. menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Desa Bondrang beserta seluruh masyarakat yang telah menerima mahasiswa KPM dengan penuh kehangatan. Ia mengungkapkan bahwa selama lebih dari satu bulan berada di Desa Bondrang, mahasiswa tidak hanya mendapatkan kesempatan untuk menjalankan program kerja, tetapi juga memperoleh pengalaman berharga melalui interaksi dan kehidupan bersama masyarakat.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Bapak Kepala Desa dan seluruh masyarakat Desa Bondrang yang telah menerima mahasiswa kami, menyambut mereka dengan penuh kekeluargaan, serta memberikan dukungan terhadap seluruh program kerja yang dilaksanakan selama KPM.” Menurutnya, dukungan masyarakat menjadi salah satu faktor penting yang membuat berbagai program KPM dapat berjalan dengan baik. Kehadiran masyarakat sebagai mitra pengabdian juga memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa tentang bagaimana ilmu pengetahuan diterapkan dalam kehidupan sosial.

Sementara itu, Septiyan, M.E., Sy. menyampaikan permohonan maaf apabila selama pelaksanaan KPM terdapat sikap, perkataan, maupun tindakan mahasiswa yang kurang berkenan di hati masyarakat. “Kami juga memohon maaf apabila selama mahasiswa melaksanakan KPM di Desa Bondrang terdapat hal-hal yang kurang berkenan di hati masyarakat. Pada kesempatan ini, kami juga memohon izin untuk menarik kembali mahasiswa agar dapat melanjutkan proses perkuliahan pada semester tujuh.” Permohonan tersebut menjadi penanda bahwa masa pengabdian mahasiswa di Desa Bondrang telah selesai. Namun, hubungan baik yang telah terbangun antara mahasiswa dan masyarakat diharapkan tetap terjaga meskipun secara formal masa KPM telah berakhir.

Apresiasi juga disampaikan oleh Kepala Desa Bondrang, Barru Pria Sukoco. Dalam sambutannya, Kepala Desa mengungkapkan kesan positif terhadap keberadaan mahasiswa selama menjalankan KPM. Menurutnya, mahasiswa telah memberikan kontribusi yang cukup berarti bagi berbagai kegiatan masyarakat, khususnya dalam bidang pendidikan dan sosial kemasyarakatan. “Kami sangat berbangga dengan kehadiran mahasiswa KPM di Desa Bondrang. Selama berada di sini, mahasiswa sangat membantu berbagai kegiatan masyarakat, terutama di bidang pendidikan dan sosial kemasyarakatan.”

Ia juga memberikan apresiasi terhadap berbagai program pemberdayaan yang telah dilaksanakan mahasiswa. Salah satunya adalah pelatihan membatik yang dilaksanakan Kelompok 66 bersama ibu-ibu PKK Desa Bondrang. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak berhenti pada proses pelatihan, tetapi telah mulai menunjukkan hasil. Ibu-ibu PKK mendapatkan pengalaman dan keterampilan baru yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi kegiatan produktif masyarakat. Apresiasi serupa juga diberikan terhadap pelatihan pembuatan pupuk organik yang dilaksanakan Kelompok 67 bersama kelompok tani. Program tersebut dinilai relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dapat menjadi salah satu bentuk pemanfaatan potensi lokal.

Salah satu momen menarik dalam acara penutupan adalah penyerahan cendera mata berupa batik hasil karya mahasiswa bersama ibu-ibu PKK Desa Bondrang. Batik tersebut menjadi lebih dari sekadar hasil karya. Ia menjadi simbol pertemuan antara kreativitas mahasiswa dan keterampilan masyarakat yang dibangun melalui proses belajar bersama. Selain batik, mahasiswa juga menyerahkan sejumlah peralatan sederhana untuk membatik, antara lain kompor, canting, malam, dan perlengkapan pendukung lainnya. Peralatan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan oleh ibu-ibu PKK untuk melanjutkan kegiatan membatik setelah mahasiswa menyelesaikan masa KPM.

Ketua Kelompok 66, Ridho, menyampaikan bahwa peralatan yang diberikan masih bersifat sederhana dan dapat dikembangkan lebih lanjut.

“Peralatan yang kami serahkan memang masih sangat sederhana. Jika nantinya ibu-ibu PKK atau pemerintah desa menghendaki peralatan yang lebih baik, tentu dapat dilengkapi secara bertahap sehingga hasil dan kualitas batiknya juga dapat semakin baik.”

Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa program KPM tidak diarahkan untuk berhenti ketika mahasiswa meninggalkan desa. Sebaliknya, mahasiswa berupaya meninggalkan sesuatu yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat. Semangat keberlanjutan juga disampaikan oleh Huda dan Shinta, sebagai fasilitator pelatihan membatik Kelompok 66. Mereka menyatakan kesiapannya untuk memberikan pendampingan maupun pelatihan lanjutan apabila masyarakat Desa Bondrang masih membutuhkan bantuan dalam mengembangkan keterampilan membatik.

“Meskipun masa KPM kami di Desa Bondrang sudah selesai, jika ibu-ibu PKK membutuhkan pelatihan lanjutan, kami siap membantu sebisa kami. Harapannya, keterampilan yang sudah dipelajari tidak berhenti sampai di sini, tetapi dapat terus dikembangkan.”

Komitmen tersebut memperlihatkan bahwa pengabdian tidak selalu berakhir bersamaan dengan berakhirnya program formal. Pengetahuan dan pengalaman yang telah dibagikan dapat terus tumbuh melalui inisiatif masyarakat. Selama menjalankan KPM, mahasiswa tidak hanya melaksanakan kegiatan sebagai bagian dari program kerja. Mereka juga belajar memahami kehidupan masyarakat secara langsung. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu, membangun komunikasi, bekerja sama, serta memahami persoalan dan potensi yang ada di masyarakat. Di bidang pendidikan, mahasiswa terlibat dalam kegiatan sekolah dan pembelajaran. Di bidang sosial, mereka hadir dalam berbagai aktivitas kemasyarakatan. Di bidang pemberdayaan, mereka mencoba memperkenalkan keterampilan yang dapat dikembangkan masyarakat, seperti membatik dan pembuatan pupuk organik.

Karena itu, penutupan KPM bukan sekadar akhir dari sebuah agenda. Ia merupakan titik peralihan,  mahasiswa kembali ke kampus membawa pengalaman, sedangkan masyarakat menerima berbagai pengetahuan, keterampilan, dan kenangan dari para mahasiswa.

Setelah rangkaian sambutan dan penyerahan cendera mata, acara dilanjutkan dengan foto bersama mahasiswa, Kepala Desa, perangkat desa, dan seluruh undangan yang hadir. Di balik senyum yang terlihat dalam sesi foto bersama, tersimpan suasana haru. Lebih dari satu bulan hidup berdampingan dengan masyarakat membuat mahasiswa memiliki ikatan emosional dengan Desa Bondrang. Bagi mahasiswa, desa bukan lagi sekadar lokasi KPM. Ia telah menjadi ruang belajar tentang kehidupan, kebersamaan, gotong royong, dan arti sebuah pengabdian. Sementara bagi masyarakat, kehadiran mahasiswa meninggalkan cerita tersendiri, tentang anak-anak muda yang datang membawa ilmu, belajar bersama masyarakat, membantu berbagai kegiatan, kemudian berpamitan untuk kembali melanjutkan perjalanan akademiknya. KPM boleh berakhir, tetapi pengalaman dan manfaat yang telah ditanamkan diharapkan terus tumbuh.

“Pengabdian bukan tentang berapa lama kita tinggal, tetapi tentang seberapa bermakna kehadiran kita bagi orang lain.”

Penutupan KPM di Desa Bondrang akhirnya menjadi penanda berakhirnya satu perjalanan, sekaligus awal bagi perjalanan berikutnya. Mahasiswa kembali ke bangku perkuliahan untuk melanjutkan semester tujuh, sementara masyarakat Desa Bondrang melanjutkan berbagai aktivitas dan program yang telah dirintis bersama. Dari Bondrang, mahasiswa belajar bahwa ilmu akan menjadi lebih bermakna ketika dibagikan, dan pengabdian akan menjadi lebih berarti ketika meninggalkan jejak yang dapat dilanjutkan. (Kelompok 66) 

Selasa, 11 Agustus 2026

BONDRANG BERKARYA, SENTRA BUDAYA: KETIKA IBU-IBU PKK BELAJAR MEMBATIK BERSAMA MAHASISWA KPM

Ponorogo, 10 Agustus 2026 — Siang itu, suasana Balai Desa Bondrang, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, tampak berbeda. Di atas meja, lembaran kain putih terbentang. Beberapa alat membatik tertata rapi. Tangan-tangan yang sebelumnya akrab dengan aktivitas rumah tangga dan kegiatan kemasyarakatan kini mulai memegang canting. Perlahan, malam panas dialirkan mengikuti garis-garis sketsa yang telah dibuat oleh para mahasiswa KPM Kelompok 66.Ada yang tampak begitu percaya diri. Ada pula yang sesekali berhenti, memperhatikan kembali ujung canting, memastikan malam mengalir tepat pada garis yang diinginkan. Hari itu, Balai Desa Bondrang tidak sekadar menjadi tempat berkumpul. Ia berubah menjadi ruang belajar, ruang kreativitas, sekaligus ruang untuk mempertemukan generasi muda dengan salah satu warisan budaya Indonesia,  batik. 

Suasana tersebut menjadi bagian dari kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Kelompok 66 UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo melalui program Pelatihan Membatik yang mengusung tema “Bondrang Berkarya, Sentra Budaya”. Kegiatan berlangsung pada 10–11 Agustus 2026 di Balai Desa Bondrang dan melibatkan ibu-ibu PKK Desa Bondrang. Tidak sekadar mengajarkan cara membuat batik, kegiatan ini membawa pesan yang lebih luas: bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari lingkungan terdekat dan bahwa keterampilan tradisional dapat menjadi pintu masuk bagi lahirnya kreativitas serta potensi ekonomi masyarakat. Kegiatan dibuka oleh Ketua Tim Penggerak PKK Desa Bondrang, Ibu Dian Istianingrum, A.Md.Keb. Dalam sambutannya, ia menyambut baik inisiatif mahasiswa KPM yang menghadirkan pelatihan membatik bagi masyarakat. Menurutnya, keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pengalaman sesaat, tetapi dapat menjadi bekal bagi peserta untuk terus berkarya. Kami menyambut baik kegiatan yang dilakukan mahasiswa KPM ini. Semoga keterampilan yang diperoleh ibu-ibu melalui pelatihan membatik dapat menjadi bekal untuk terus berkarya dan dikembangkan ke depannya.” Harapan tersebut menjadi penting karena pelatihan membatik tidak hanya berbicara mengenai teknik membuat motif dan memberi warna pada kain. Lebih dari itu, kegiatan tersebut memperkenalkan sebuah proses kreatif yang membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan kemauan untuk terus belajar.

Untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih nyata, Kelompok 66 KPM menggandeng Sakha Butik dari Ponorogo, sebuah pelaku usaha batik, dengan menghadirkan Bapak Widodo bersama timnya sebagai narasumber sekaligus praktisi.  Kehadiran praktisi memberikan warna tersendiri. Para peserta tidak hanya memperoleh penjelasan secara teoritis, tetapi dapat melihat secara langsung bagaimana proses membatik dilakukan oleh orang yang telah berkecimpung dalam dunia batik. Di hadapan peserta, Widodo menjelaskan bahwa membatik merupakan keterampilan yang membutuhkan proses. Canting mungkin tampak sederhana. Namun, menggerakkan ujungnya mengikuti pola pada kain membutuhkan koordinasi tangan, konsentrasi, dan ketelatenan. Sedikit saja lengah, malam dapat keluar tidak sesuai dengan garis yang telah dibuat. “Untuk menguasai keterampilan membatik diperlukan ketelitian dan ketelatenan. Tidak bisa instan. Karena ini merupakan keterampilan warisan leluhur, maka harus dipelajari dan dilatih secara terus-menerus.” Tegas pak Widodo.  Selanjutnya beliau berharap pelatihan yang digelar di Desa Bondrang tidak berhenti pada dua hari kegiatan. Menurutnya, apa yang telah dipelajari peserta dapat menjadi titik awal untuk dikembangkan lebih lanjut. 

Antusiasme peserta mulai terlihat ketika praktik membatik dimulai. Setelah mendapatkan penjelasan mengenai teknik dasar, ibu-ibu PKK Desa Bondrang mulai mencoba memegang canting. Sebagian tampak hati-hati. Sebagian lainnya langsung mencoba mengikuti sketsa yang telah dipersiapkan. Mahasiswa KPM bertindak sebagai fasilitator. Fadhillah Shinta dan Huda Nurrohman menjadi fasilitator utama yang mendampingi peserta, dibantu oleh mahasiswa Kelompok 66 lainnya. Mereka berpindah dari satu kelompok ke kelompok lainnya. Ada yang membantu peserta mengatur posisi tangan. Ada yang menjelaskan kembali cara mengalirkan malam. Ada pula yang memberikan semangat ketika hasil cantingan pertama belum sesuai dengan yang diharapkan. Di sinilah suasana pelatihan terasa hidup. Tidak ada jarak antara mahasiswa dan peserta. Yang ada adalah proses belajar bersama. Sesekali terdengar percakapan ringan dan tawa ketika peserta menemukan pengalaman baru dalam memegang canting. Dari kain putih yang semula kosong, perlahan mulai muncul garis-garis motif. Setelah proses mencanting selesai, peserta kemudian melanjutkan ke tahapan pewarnaan. Pada tahap ini, kain mulai menunjukkan perubahan. Warna perlahan menghidupkan motif yang sebelumnya hanya berupa garis-garis malam. 

Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Kelompok 66, Dr. Hariyanto, M.Pd. Tidak hanya hadir sebagai pengawas kegiatan, DPL turut memberikan apresiasi dan dukungan terhadap kreativitas mahasiswa dalam menyusun program yang berbasis pada potensi masyarakat. Menariknya, Dr. Hariyanto juga ikut terlibat langsung dalam praktik membatik. Ia mencoba mencanting pada sketsa yang telah dipersiapkan oleh mahasiswa. Keterlibatan tersebut menciptakan suasana yang semakin cair. Mahasiswa, peserta, narasumber, dan DPL berada dalam ruang yang sama untuk belajar dari proses membatik. Dr. Hariyanto menyampaikan kebanggaannya terhadap inisiatif mahasiswa yang mampu menghadirkan program pengabdian berbasis keterampilan dan potensi masyarakat. Menurutnya, KPM idealnya tidak sekadar menghadirkan kegiatan yang bersifat seremonial, tetapi mampu meninggalkan pengetahuan, keterampilan, dan gagasan yang dapat terus dikembangkan masyarakat setelah mahasiswa menyelesaikan masa pengabdiannya. Pelatihan membatik, menurutnya, memiliki nilai strategis karena berada di persimpangan antara pelestarian budaya, pemberdayaan masyarakat, kreativitas, dan potensi ekonomi.

Tema “Bondrang Berkarya, Sentra Budaya” menjadi semakin bermakna ketika melihat bagaimana kegiatan tersebut berlangsung. Batik tidak hanya ditempatkan sebagai benda budaya yang harus dilestarikan, tetapi juga sebagai keterampilan yang dapat dipelajari dan dikembangkan oleh masyarakat. Dari Balai Desa Bondrang, sebuah gagasan sederhana tumbuh: bahwa desa dapat memiliki ruang kreativitasnya sendiri. Hari pertama menjadi tahap pengenalan dan praktik dasar. Hari kedua menjadi kesempatan bagi peserta untuk semakin memahami proses, mulai dari mencanting hingga pewarnaan Barangkali belum semua peserta langsung menghasilkan batik yang sempurna. Namun, tujuan utama kegiatan bukanlah menciptakan pembatik profesional dalam waktu dua hari. Yang jauh lebih penting adalah memulai. Memulai mengenal canting. Memulai memahami proses. Memulai mencintai warisan budaya. Dan yang paling penting, memulai keyakinan bahwa masyarakat desa pun dapat berkarya.

Kegiatan KPM Kelompok 66 di Desa Bondrang menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat dirancang dengan pendekatan yang menghubungkan pendidikan, budaya, dan pemberdayaan ekonomi. Mahasiswa hadir bukan sekadar sebagai pelaksana program, tetapi sebagai penghubung antara sumber pengetahuan, praktisi, dan masyarakat. Sementara itu, kehadiran Sakha Butik memberikan peluang bagi peserta untuk mengenal pengalaman praktis dari dunia usaha batik. Dukungan tersebut membuka kemungkinan bahwa pelatihan tidak berhenti sebagai kegiatan KPM, tetapi dapat dilanjutkan melalui pendampingan atau kegiatan lanjutan. Bagi ibu-ibu PKK Desa Bondrang, dua hari tersebut mungkin hanya menjadi awal. Namun, dari awal yang sederhana itu, bisa saja tumbuh sesuatu yang lebih besar, misalnya kelompok pembatik, motif  khas Bondrang, produk kerajinan, bahkan sebuah identitas budaya desa. Karena setiap karya besar selalu bermula dari satu langkah kecil. Dan di Balai Desa Bondrang, langkah kecil itu dimulai dari sebuah canting yang perlahan menorehkan malam di atas kain putih.

"Melestarikan budaya bukan sekadar menjaga apa yang diwariskan masa lalu, tetapi memastikan warisan itu tetap hidup dan memiliki makna bagi generasi masa kini dan masa depan.” (KPM 66 Desa Bondrang)

Rabu, 22 Juli 2026

Mahasiswa KPM Kelompok 66 UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo Isi MPLS di SDN Bondrang 1, Tanamkan Budaya Anti-Bullying dan Gemar Menabung Sejak Dini

 

Foto bersama Siswa, Guru dan Mahasiswa KPM Kelompok 66

inspirasipendidikan.com – Komitmen mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo dalam mendukung penguatan pendidikan di sekolah dasar diwujudkan melalui partisipasi aktif pada kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SDN Bondrang 1, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, yang berlangsung pada 14-15 Juli 2026 dan dilanjutkan tanggal 18 Juli 2026.

Kegiatan yang menjadi bagian dari program kerja Bidang Pendidikan Kelompok 66 KPM ini menghadirkan mahasiswa sebagai narasumber dan fasilitator pembelajaran bagi peserta didik baru. Dibawah bimbingan DPL Dr. Hariyanto, M.Pd, Kelompok 66 mengusung konsep pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan, mahasiswa menyampaikan dua materi yang sangat dekat dengan kehidupan anak-anak, yakni Pencegahan Bullying di Lingkungan Sekolah dan Gemar Menabung Sejak Dini.

Ketua Kelompok 66 KPM, Ridho Nurrohman, menjelaskan bahwa kedua tema tersebut dipilih berdasarkan kebutuhan sekolah sekaligus sebagai upaya membangun karakter peserta didik sejak usia dini.

Suasana antusias dalam kegiatan MPLS bersama mahasiswa KPM 66

"Sekolah bukan hanya tempat memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga tempat membentuk karakter. Karena itu kami ingin anak-anak memahami pentingnya saling menghargai teman dan membiasakan hidup hemat melalui budaya menabung," ujarnya.

Materi mengenai anti-bullying dikemas secara sederhana melalui cerita, simulasi, diskusi ringan, serta permainan edukatif yang mengajak siswa mengenali bentuk-bentuk perundungan, dampaknya terhadap korban, dan cara menjadi teman yang baik. Sementara itu, materi gemar menabung memperkenalkan pentingnya mengelola uang sejak dini, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menanamkan kebiasaan menyisihkan sebagian uang saku untuk masa depan.

Berbeda dari metode ceramah konvensional, mahasiswa menghadirkan pembelajaran yang komunikatif melalui ice breaking, permainan kelompok, kuis interaktif, hingga pemberian hadiah sederhana bagi siswa yang aktif berpartisipasi. Suasana kelas pun berlangsung meriah dengan gelak tawa, tepuk tangan, dan antusiasme siswa yang terus terlibat dalam setiap sesi.

Unjuk kreativitas para siswa SDN Bondrang 1

Pada hari pertama, kegiatan dipandu oleh Ridho Nurrohman, Fadhillah Shinta, Zulfa Zakiyyah, Huda Nurrohman, Arin, dan Pinchi Septian. Sementara pada hari kedua, sesi pembelajaran dilanjutkan oleh Moch. Rifa'i, Ervina Pranindita, Arwinda Ilma, Rina Setiana, Latifa Syarafina, Zilda Hidayatul, Shahida, dan Alfi Lailatul Badriyah. Pada hari ketiga, yaitu tanggal 18 Juli 2026 diisi dengan berbagai lomba yang edukatif dan menarik.

Kepala SDN Bondrang 1, Ni’mal Mafiroh, S.Pd  menyampaikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa KPM dalam menyukseskan kegiatan MPLS tahun ini. Menurutnya, pendekatan yang dilakukan mahasiswa mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus memberikan nilai-nilai pendidikan karakter kepada peserta didik.

"Kami mengucapkan terima kasih atas kerja sama yang luar biasa dari mahasiswa Kelompok 66 KPM. Topik yang diangkat sangat relevan dengan kebutuhan anak-anak saat ini, dan cara penyampaiannya begitu menarik. Anak-anak terlihat sangat antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan."

Melihat semangat dan kemampuan mahasiswa dalam berinteraksi dengan siswa, pihak sekolah juga berharap kerja sama tidak berhenti pada kegiatan MPLS. Kepala sekolah meminta mahasiswa KPM untuk turut membantu proses pembelajaran selama masa pengabdian,

Menanggapi permintaan tersebut, Ketua Kelompok 66, Ridho, menyatakan kesiapan seluruh anggota kelompok untuk mendukung kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Mahasiswa KPM Kelompok 66 berpose di depan SDN Bondrang1
"Kami siap membantu sekolah selama pelaksanaan KPM. Selain menjadi bentuk pengabdian kepada masyarakat, kami berharap kehadiran mahasiswa juga dapat memberikan energi baru bagi proses pembelajaran sekaligus ikut memperkenalkan SDN Bondrang 1 kepada masyarakat sebagai sekolah yang terus berkembang dan memiliki kualitas yang baik."

Bagi para mahasiswa, pengalaman mengajar secara langsung memberikan pembelajaran yang tidak diperoleh di ruang kuliah. Mereka belajar memahami karakter peserta didik, mengelola kelas, serta membangun komunikasi yang efektif dengan anak-anak sekolah dasar.

Fadhillah Shinta, salah satu mahasiswa peserta KPM, mengungkapkan bahwa antusiasme siswa menjadi motivasi tersendiri selama menyampaikan materi.

"Awalnya kami sempat khawatir anak-anak akan cepat bosan. Namun ternyata mereka sangat aktif bertanya, berani menjawab, bahkan ikut berbagi pengalaman. Rasanya menyenangkan ketika melihat mereka belajar sambil tertawa."

Hal serupa disampaikan Ervina Pranindita yang bertugas pada hari kedua.

"Kegiatan ini membuat kami sadar bahwa menjadi pendidik bukan hanya menyampaikan materi, tetapi juga menciptakan pengalaman belajar yang berkesan bagi peserta didik."

Antusiasme juga datang dari para siswa. merekamengaku senang mengikuti kegiatan karena penyampaian materi tidak membosankan.

"Kakak-kakaknya baik. Belajarnya sambil main game, jadi seru. Sekarang aku tahu kalau mengejek teman itu tidak boleh."

Sementara itu, salah seorang siswi yang lain juga mengaku mulai termotivasi untuk rajin menabung.

"Aku mau mulai menabung supaya nanti bisa membeli barang yang aku butuhkan sendiri. Ternyata menabung itu penting."

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa kehadiran mahasiswa KPM tidak hanya menjalankan program kerja, tetapi juga membangun ruang belajar yang inspiratif dan menyenangkan bagi peserta didik. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dasar diharapkan mampu memperkuat pendidikan karakter, meningkatkan literasi keuangan sejak dini, serta menumbuhkan budaya sekolah yang aman, inklusif, dan bebas dari perundungan.

Keceriaan siswa siswi dalam game yang menyenangkan

Melalui pengabdian yang menyentuh langsung dunia pendidikan, mahasiswa UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo kembali menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan akan memiliki makna ketika hadir dan memberi manfaat bagi masyarakat. Alfi, salah seorang mahasiswi dari kelompok 66 menegaskan “Pendidikan terbaik bukan hanya membuat anak menjadi pintar, tetapi juga menjadikan mereka tumbuh sebagai manusia yang berkarakter.” Senada dengan itu, Zilda menyatakan bahwa ketika mahasiswa hadir di tengah masyarakat, ilmu pengetahuan berubah menjadi aksi, dan pengabdian menjadi jembatan menuju perubahan. (Hary_23/72026)

Minggu, 14 September 2025

MENTERI AGAMA RI: “DOSEN UIN TIDAK CUKUP MENJADI ILMUWAN TETAPI HARUS MENJADI CENDEKIAWAN MUSLIM.”

 

Kuliah Umum oleh Menteri Agama RI: Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA

inspirasipendidikan.com (14/9/2025)_  UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo menggelar kuliah umum dengan menghadirkan Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. Tema yang diusung sangat menarik yaitu Kurikulum Berbasis Cinta. Istilah yang digunakan memang begitu menarik karena menggunakan kata “Cinta”, abstrak namun bisa dirasakan kehadirannya oleh setiap makhluk. Dan memiliki variasi makna sesuai dengan persepsi yang mengartikan masing-masing.

Dalam kesempatan itu, Menteri Agama menyampaikan beberapa pesan yang mendalam tentang bagaimana seharusnya visi dari perguruan tinggi agama Islam. Menurutnya Perguruan Tinggi  Islam, khususnya Univeritas Islam Negeri  seharusnya menjadi pembeda dari perguruan tinggi umum. Tidak hanya beda dari sisi mutu dan tata kelolanya tetapi juga keberkahan dan kebermanfaatannya di masyarkat. Perguruan tinggi Islam tidak murni sebagai lembaga akademik saja, tetapi juga harus berfungsi lembaga dakwah. UIN harus menjadi lembaga ganda tanpa harus mereduksi satu sama lain.

Menteri Agama RI bersama Rektor UIN Ponorogo, dan Bupati Ponorogo 
UIN, diharapkan mampu melahirkan tidak hanya para lulusan yang berpengetahuan, menjadi seorang scientist/ ilmuwan, tetapi lebih dari itu harus menjadi seorang yang intelektual, yang tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga bisa mengamalkannya. Tidak hanya intelektual tetapi juga seorang cendekiawan. Seorang cendekiawan muslim adalah mereka yang memiliki dampak dan beresonansi kepada masyarakat dan bangsanya. Karena itu seorang cendekiawan itu lebih terhormat dibandingkan seorang intelektual.

Lebih lanjut menteri Agama RI menegaskan, bahwa untuk mencetak Cendekiawan muslim, maka diperlukan dosen yang tidak boleh sama kriterianya dengan dosen dari perguruan tingg umum. Baik dari sisi perekrutannya maupun kompetensi yang dimiliki. Dosen tidak boleh hanya mengajar, tetapi memberi keteladanan baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Mengapa demikian? Karena ekspektasi masyarakat begitu tinggi kepada UIN. Background UIN ini adalah putih, maka jangan pernah membuat satu titik noda pun, meskipun hanya satu titik noda hitam. Karena itu tanggung jawab dosen begitu berat, menjadi teladan bagi mahasiwanya. Hal yang serupa juga menjadi tanggung jawab mahasiswa untuk menjaga kehormatannya menjadi mahasiswa di UIN.

Pernyataan Prof. KH. Nasaruddin Umar tersebut tidaklah sederhana, apalagi di era dimana hampir semua orang memiliki jejak digital di media sosial, baik dosen dan mahasiswa. Sehingga diharapkan jika seorang dosen wanita atau mahasiswi mengenakan jilbab sewaktu di kampus, maka di mana pun juga dia harus menutup auratnya, baik di dunia nyata maupun di dunia maya, apalagi diunggah di media sosial miliknya.

Perguruan tinggi Islam harusnya memiliki dosen-dosen unggul yang tidak hanya mengajar, tetapi juga harus bisa menjadi Mursyid, bahkan bisa menjadi seorang Syech. Pendidikan tidak hanya mentransfer pengetahuan, bukankah tidak ada gunanya/ manfaatnya jika mahasiswa pandai mendapat nilai cumlaude perilakunya kurang ajar, tidak beradab. Tidak mampu mengedepankan adab daripada ilmu. Dosen pada hakekatnya sama dengan guru. Guru berasal dari bahasa sansekerta, Gu yang berarti kegelapan dan Ru yang berarti Obor penerang. Jadi Guru sejatinya adalah obor pemberi penerangan saat gelap melanda. Kehadiran guru atau dosen harusnya menjadi pencerah/ penerang bagi kegelapan atau kebodohan yang melanda masyarakat. Hidup hanya sejengkal, apa yang hendak dicari, jika pemimpin perguruan tinggi, dosen, para pejabat tidak mampu memberi prestasi, maka kita akan malu kepada sejarah, apalagi jika sejarah itu dibaca oleh anak cucu di generasi selanjutnya.

Rektor UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, Prof. Dr. Hj. Evi Muafiah

Dalam kesempatan Kuliah umum yang dihadiri ratusan civitas akademika UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, Bupati Ponorogo dan beberaoa pejabat dari Kementerian Agama tersebut, Menteri juga berpesan bahwa hendaknya kita selalu membaca tidak hanya Al Qur’an mikrokosmos tetapi juga Al Qur’an Makrokosmos. Seluruh jagad raya semesta ini jauh sudah ada sebelum Al Qur’an mikrokosmos yang diwahyukan kepada Rasululloh. Jadi UIN dengan segala kompetensi dosen yang dimiliki tidak bleh hanyut dengan perguruan tinggi sekuler, yang hanya melahirkan mausia tumpul yang tidak memiliki kepekaan sosial. Islam mengajarkan kita untuk membaca ayat-ayat kauniyah, ciptaan Allah yang maha Agung harus dikaji dan dibaca secara mendalam sehingga menghadirkan manfaat bagi kemaslahatan manusia, tidak hanya manusia tetapi juga makhluk-makhluk lainnya. Sinergi dan saling mengasihani antar sesama makhluk inilah esensi dari ekoteologi.Hukum Alam termaktub dalam Al Qur’an Makrokosmos, tetapi Al Qur’an mikrokosmos memberi hukum syariah. Hal inilah yang dipelajari dan diamalkan secara berimbang.

Lebih khusus sebelum menutup kuliahnya, Menteri Agama berpesan “Agama seperti nuklir, bisa menghadirkan keselamatan dan manfaat  bagi ummat, lihatlah nuklir yang dikembangkan untuk tenaga listrik  dan sumber energi murah lainnya. Tetapi jika disalahgunakan, maka nuklir bisa menjadi senjata penghancur massal yang dahsyat bagi semua makhluk di muka bumi. Karena itu Agama harus difungsikan sebagaimana seharusnya, untuk keselamatan manusia dan seluruh makhluk, bukan untuk memecah dan mengadu domba keberadaan mansuia di muka bumi, bukan untuk menghancurkan.” (hary, 14/9/2025)

Kamis, 20 Maret 2025

KABAR GEMBIRA DARI PEMERINTAH UNTUK CASN DAN PPPK TAHUN 2024

 

inspirasipendidikan.com_ Gonjang ganjing tentang penyesuaian jadwa CASN dan PPPK tahun anggaran 2024 nampaknya menemui klimaksnya setelah dilaksanakan konferensi Pers antara Menteri Sekertaris Negara, Prasetyo Hadi dan Kemenpan RB, RIni Widhiastuti di Kantor kementerian PANRB di Jakarta pada hari senin, 17 Maret 2025. Sebelumnya polemik penyesuaian jadwal atau yang biasa disebut penundaan pengangkatan ini terjadi bagi para CASN dan PPPK yang sudah dinyatakan lulus. Setelah Rapat Dengar Pendapat dengan DPR RI disimpulkan akan dilaksanakan percepatan. Tetapi sehari setelah itu Menpan RB justru mengeluarkan surat untuk penundaan pengangkatan CASN/PPPK. Bagi CASN akan diangkat di Bulan Oktober 2025, sedangkan PPPK dilakukan serentak pada tanggal 01 Maret 2026. Hal inilah yang memicu gelombang protes baik di media sosial maupun demonstrasi besar-besaran di seluruh penjuru Indonesia. Termasuk demonstrasi yang diikuti ribuan CASN dan PPPK di Jakarta, tepatnya di depan kantor Kementrian PANRB. Para CASN dan PPPK menuntut untuk dilakukan pengangkatan sesuai jadwal yang ada sebelumnya, bukan diundur.
Keriuhan di media sosial menjadikan trending topic selama lebih dari satu minggu, dan demonstrasi yang dilakukan para CASN dan PPPK itu akhirnya terdengar juga sampai ke telinga Presiden Prabowo Subianto serta Wapres Gibran. Presiden mengeluarkan instruksi mengenai pengangkatan CASN dan PPPK setelah terlebih dahulu mendengarkan pendapat Kementerian terkait. Adapun garis besar dari isi Instruksi presiden tersebut adalah melakukan percepatan pengangkatan CASN paling lambat bulan I Juni 2025, sedangan PPPK diangkat paling lambat Oktober 2025. Merespon instruksi presiden tersebut, Badan Kepegawaian Nasional (BKN) pada tanggal 18 Maret 2025 mengeluarkan surat tentang Penetapan Nomor Induk ASN kebutuhan Tahun Anggaran 2024. Surat dengan nomor 2933/B-MP.01.01/K/SD/2025 tersebut berisi sebagai berikut:
1. Proses pengangkatan CPNS dan PPPK hasil seleksi kebutuhan Tahun Anggaran 2024 yang belum ditetapkan Nomor Induk-nya tetap dilanjutkan sampai diterbitkan keputusan pengangkatan;
2. Proses pengangkatan CPNS:
a. Peserta seleksi CPNS yang dinyatakan lulus dan memenuhi syarat, diangkat menjadi CPNS paling lambat terhitung mulai tanggal (TMT) 1 Juni 2025.
b. Usul penetapan Nomor Induk CPNS paling lambat tanggal 10 Mei 2025.
c. Penetapan TMT pengangkatan CPNS adalah tanggal 1 bulan berikutnya dari usul penetapan Nomor Induk CPNS masuk Badan Kepegawaian Negara (BKN).
d. Dalam hal usul penetapan Nomor Induk masuk BKN sampai dengan akhir Februari 2025 dan belum diterbitkan pertimbangan teknis Nomor Induk-nya, maka TMT pengangkatan CPNS adalah tanggal 1 Maret 2025.
3.  Proses pengangkatan PPPK:
a. Peserta seleksi PPPK yang mengisi alokasi kebutuhan Tahun Anggaran 2024 diangkat menjadi PPPK dan melaksanakan perjanjian kerja paling lambat tanggal 1 Oktober 2025.
b. Usul penetapan Nomor Induk PPPK paling lambat tanggal 10 September 2025.
c. Penetapan TMT pengangkatan PPPK adalah tanggal 1 bulan berikutnya dari usul penetapan Nomor Induk PPPK masuk BKN.
d. Dalam hal usul penetapan Nomor Induk PPPK masuk BKN sampai dengan akhir Februari 2025 dan belum diterbitkan pertimbangan teknis penetapan Nomor Induk-nya, maka TMT pengangkatan PPPK adalah tanggal 1 Maret 2025.
4. Bagi instansi yang sudah menerima pertimbangan teknis penetapan Nomor Induk CPNS dan/atau PPPK dengan TMT sebagaimana tersebut dalam angka 2 dan 3 tetap dilanjutkan prosesnya sampai dengan pengangkatan dan/atau penandatanganan perjanjian kerja.
5. Surat Kepala BKN Nomor: 2793/B.KS.04.01/SD/K/2025 tanggal 8 Maret 2025 perihal Penyesuaian Jadwal Seleksi Calon ASN Kebutuhan Tahun 2024 dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
6. Surat Deputi Bidang Penyelenggaraan Layanan Manajemen ASN Nomor: 1239/B.MP.01.01/SD/D/2025 tanggal 14 Januari 2025 perihal Penetapan NIP ASN T.A. 2024, tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan surat ini.
7.   Pejabat Pembina Kepegawaian Instansi tetap menganggarkan gaji bagi pegawai Non-ASN yang sedang mengikuti proses seleksi hingga diangkat menjadi ASN sebagaimana diatur dalam Surat Menteri PANRB Nomor: B/5993/M.SM.01.00/2024 tanggal 12 Desember 2024.
8. Pejabat Pembina Kepegawaian agar memastikan proses pengangkatan CPNS dan PPPK diaksanakan tepat waktu sesuai ketentuan surat ini.
Demikianlah butir-butir surat terbaru yang dikeluarkan BKN, sehingga diharapkan seluruh CASN dan PPPK untuk tetap bersabar dan meyakini bahwa kebijakan pemerintah tetap akan berjalan sebagaimana mestinya, meskipun terdapat penyesuaian jadwal pengangkatannya. (Hary, 20/3/2025)

Jumat, 29 Maret 2024

RATUSAN WARGA TUMPAH RUAH MENGHADIRI TABLIGH RAMADHAN DI DESA WAGIR LOR

 

Suasana Tabligh Ramadhan

Malam itu bertepatan dengan hari Rabu 27 Maret 2024, Kantor Desa Wagir Lor menjadi semarak dengan kegiatan yang diselenggarakan oleh para mahasiswi Kebidanan dari Akademi Kebidanan Harapan Mulya Ponorogo. Sejak sore para remaja Karang Taruna Desa Wagir Lor sudah sibuk menata dan mempersiapkan segala sesuatunya.Mulai dari memasang tarup, beckdrop acara, tempat tamu VIP, sound system, dan lain sebagainya yang diperlukan.  Mereka semakin semangat karena yang mendampingi adalah para Mahasiswa yang sudah selama satu bulan melakukan kegiatan KKN atau dalam istilah kampus kebidanan adalah Praktik Kebidanan Komunitas di Beberapa Dukuh yang berada di wilayah Desa Wagir Lor. Malam itu Para Mahasiswa pun mengadakan acara pisah kenang dalam bentuk Tabligh Ramadhan.

Kegiatan tersebut dinamakan tabligh Ramadhan karena acaranya bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Disamping itu acara ini dimaksudkan sebagai sarana silaturahmi kepada masyarakat desa Wagir Lor yang telah hadir di acara tersebut, dan yang telah banyak membantu, mendukung seluruh program kerja mahasiswa selama praktik Kebidanan Komunitas. Disamping itu sebagai tempat untuk berpamitan kepada masyarakat desa Wagir Lor yang memeiliki penduduk yang ramah dan selalu mendukung kegiatan mahasiswa.Hal tersebut disampaikan oleh Indah yang berkesempatan memberikan pidato mewakili mahasiswa. Hal senada juga disampaikan oleh Dr Hariyanto yang pada kesempatan itu mewakili Akbid HMP dalam sambutannya.

Mahasiswi Akbid HMP Penyelenggara Tabligh Ramadhan
Sebelumnya selama satu bulan Mahasiswa telah melaksanakan Praktik Kebidanan Komunitas di semua dukuh di wilayah Desa Wagir Lor. Keberadaan mahasiswa untuk melakukan Survey Mawas Diri dan menemukan berbagai masalah kesehatan khususnya yang terkait dengan kesehatan ibu dan anak. Arum salah satu mahasiswi yang praktik menuturkan bahwa dia dan teman-temannya memiliki kesan yang baik karena masyarakat Desa sungguh sangat ramah, Bidan Desa, Kader, dan perangkat desa sangat membantu semua tugas mahasiswa. Keramahan warga desa juga dsampaikan oleh Lestari yang mengatakan bahawa seringkali mendapat kiriman buah-buahan dari masyarakat, seperti manggis dan durian.

Foto bersama KH. Sujarwo, S.Sos (tengah)

KH. Sujarwo, S.Sos yang memberikan tausiyah mampu menghipnotis masyarakat Desa Wagir Lor dan sekitarnya yang hadir. Gaya ceramah yang humoris dan santai namun berbobot dengan pesan-pesan keagamaan yang mudah dicerna membuat masyarakat yang hadir tidak ada yang meninggalkan tempat kendati sampai pukul 10.30 malam. Apalagi bacaan Sholawat dan lagu-lagu religi yang dilantunkan oleh group Hadrah asal Desa Wagir lor ini begitu menentramkan dan menghibur. Sehingga acara Tabligh Ramadhan yang digelar oleh para Mahasiswa Semester VI Akbid Harapan Mulya Ponorogo ini berlangsung meriah dan sukses lancar sesuai yang diharapkan. Winda Mardiana mewakili Panitia mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada rekan-rekan mahasiswa yang bekerja keras sehingga bisa menyelenggarakan acara tersebut. Panitia juga mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada Kepala Desa Wagir Lor yang telah memfasilitasi acara tersebut, Masyarakat yang membantu baik tenaga maupun finansial, para pemuda dan karang taruna, anggota Banser, dan Polsek Ngebel yang turut memberikan pengamanan pada acara Tabligh Ramadhan. Singkatnya tanpa kerjasama dan bantuan dari berbagai Pihak, maka acara Tabligh Akbar tersebut tidak akan bisa terselenggara dengan baik.

Sebagai calon tenaga kesehatan/ bidan, dalam acara tersebut mahasiswa juga membuka stand untuk konsultasi kesehatan bagi Ibu, Anak dan Remaja yang memiliki masalah kesehatan. Cek kesehatan gratis juga dilakukan seperti pengecekan gula darah, asam urat, dan kolesterol. Kegiatan Praktik Kebidanan Komunitas ini akan berakhir 30 Maret 2024 atau selama satu bulan. Sekitar pukul 11.30 acara sudah selesai, mahasiswa dan para pemuda bergotong royong membersihkan area kantor desa dan kembali ke tempat tinggal masing-masing. (HAR, 27/3/24)

Galleri Foto Kegiatan:





Sabtu, 06 Januari 2024

SDIT QURROTA A'YUN SELENGGARAKAN WISUDA JUZ 30 DAN HADITS APLIKATIF

inspirasipendidikan.com- SDIT Qurrota A'yun Ponorogo sukses menggelar acara Wisuda Tahfidz Qur'an dan Hadits aplikatif. Acara yang digelar di gedung PGRI Ponorogo pada tanggal 06 Januari 2024 itu diikuti oleh siswa-siswi jenjang kelas 3 berjumlah 84 wisudawan. Acara tersebut juga dihadiri oleh kedua orang tua / wali murid, para kepala sekolah di bawah naungan yayasan Qurrota A'yun Ponorogo, Komite sekolah dan Ketua Yayasan serta jajaran pengurus yayasan lainnya. Yang menarik dari wisuda kali ini adalah tidak hanya dilakukan wisuda dan uji publik melainkan ada tambahan yaitu uji publik hadits aplikatif. 

Para peserta didik kelas 3 Umar bin Khattab didampingi orang tua

Kepala SDIT Qurrota A'yun Ponorogo, Wijiati, S.TP, S.Pd dalam sambautannya menyampaikan bahwa inovasi dengan menambahkan uji publik hadits aplikatif ini adalah agar para siswa tidak hanya mencintai AL Qur'an dengan menghafalkannya, tetapi juga mengingat Hadits. Karena bagaimanapun sebagai umat Islam harus berpedoman pada Al Qur'an dan Al Hadits. Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa hadits aplikatif adalah hadits-hadits pendek yang biasa digunakan sebagai pedoman dalam keseharian. misalnya hadits makan dan minum, hadits suka memberi, hadits tentang menebarkan salam, dll. Kepala sekolah yang juga peraih kepala sekolah inovatif peringkat 1 Jawa Timur tahun 2023 itu juga bersyukur sekali karena ada peningkatan dalam capaian kualitas hafalan para peserta didik, karena prosentase yang mendapatkan predikat mumtaz pada tahun ini mencapai 80 % dari tahun sebelumnya yang hanya sekitar 50%. Hebatnya lagi terdapat 8 peserta didik pada waktu ujian sekali duduk tingkat kesaahannya nol, artinya mereka bisa menghafal juz 30 dan hadits secara keseluruhan tanpa kesalahan sama sekali.

Sementara itu Ketua Yayasan Qurrota A'yun, H. Ahmad Marsudin, M.Si dalam sambutannya mengucapkan selamat kepada para wisudawan dan mengajak seluruh orang tua wali murid untuk terus memberikan dukungan agar anak-anak juga bisa menjaga hafalannya di rumah dengan cara muroja'ah setiap hari di rumah, selain itu mereka juga harus terus dibimbing agar bisa menghafalkan Juz 29. sehingga nantinya di kelas 5 mereka minimal sudah hafal juz 29 dan juz. 30. syukur lagi kalau ada hafal 5 atau 6 juz sebagaimana target yang ditetapkan untuk anak-anak yang mengambil program takhasus. Ketua yayasan juga menegaskan pentingya sinergi yang terus dbangun untuk lebih erat dan berkembang baik, sehingga semua program kerja/ kegiatan yang diadakan SDIT QA bisa berjalan dengan baik seperti yang hari ini dilaksanakan.

Shamita bersama orang tua dan kepala SDIT QA, Wijiati, S.TP.,S.Pd  (baju BIRU)

Acara Wisuda berlangsung dengan hikmat, dibuka dengan hadrah yang dimainkan para siswa siswi SDIT Qurrota A'yun dan dipandu oleh pembawa acara yang menggunakan 3 bahasa, yaitu bahasa Arab, Inggris dan Bahasa Indonesia oleh para peserta didik dari SDIT Qurrota Ayun.  Kehikmatan itu berlangsung sejak para wisudawan memasuki ruangan hingga tiba saatnya mereka diuji di depan orang tua/ wali murid yang hadir. Selain Penguji dari SDIT QA, orang tua/ undangan juga dipersilahkan jika ingin bertanya dan menguji para  wisudawan. 

Setelah uji publik selesai dilaksanakan, dilanjutkan dengan pelantikan wisudawan yang diawali dengan pembacaan SK Kepala Sekolah tentang para wisudawan dan dilanjutkan pemberian sertifikat serta mahkota kepada masing-masing wisudawan. Acara menjadi menahru biru ketika para wisudawan menyanyikan lagu hafidz Qur'an dan kemudian turun dari atas panggung menuju ke kursi kedua orang tua untuk sungkem dan memakaikan mahkota kepada ayah bundanya. Banyak dari para orang tua yang tak kuasa membendung air mata karena merasa haru, bahagia, karena anak-anaknya sudah berprestai bisa menghafal juz 30. Acara berakhir pada jam 12.00 dengan foto bersama dengan wisudawan dan orang tua. 

Senin, 18 Desember 2023

SMK HARAPAN MULYA PONOROGO MENGGELAR WORKSHOP PENGUATAN IMPLEMENTASI KURUKULUM MERDEKA

inspirasipendidikan.com- Kurukulum Merdeka merupakan inovasi dalam pembelajaran di Indonesia yang bertujuan mengembangkan bakat dan minat belajar peserta didik. Kurikulum yang digagas oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim ini mensyaratkan guru untuk memiliki inovasi dalam pembelajarannya dengan pendekatan differensiasi. Guru harus memahami bahwa setiap anak itu memiliki gaya belajar, kecepatan belajar yang berbeda-beda. Strategi pembelajaran yang variatif dan diversifikasi sumber belajar, interaksi dan kolaborasi yang berbasiskan teknologi harus mampu dikembangkan dan diimplementasikan oleh guru.

Diskusi kelompok dalam workshop

Berdasarkan hal-hal tersebut maka SMK Harapan Mulya Ponorogo menggelar workshop Penguatan Implementasi Kurikulum Merdeka yang diadakan mulai tanggal 18-20 Desember 2023.  Lutfi Fransiska, S.Pd selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang kurikulum berharap dengan adanya kegiatan ini maka semua guru di SMK Harapan Mulya Ponorogo menjadi lebih paham tentang apa itu kurikulum Merdeka dan bagaimana mengimplementasikan di kelas. Pemahaman yang sama antar guru ini perlu dicapai, agar dalam pelaksanaannya di level lembaga dapat lebih mudah dan antar guru dapat saling asah, asih dan asuh dalam mengimplementasikannya. Workshop yang diikuti oleh semua guru dan tenaga kependidikan SMK Harapan Mulya Ponorogo tersebut berlangsung selama 3 hari, sehingga diharapkan pemahaman terhadap kurikulum Merdeka bisa secara lebih komprehensif.

SMK Harapan Mulya Ponorogo, yang beralamat di Jl. Batoro Katong No. 30 Ponorogo ini memiliki 2 kompetensi keahlian yaitu Farmasi dan Keperawatan. Dua kompetensi keahlian ini sangat penting untuk dimiliki karena terkait dengan kebutuhan pokok manusia yaitu kesehatan. Afrilia Eka Prasetyawati, S.Pd, selaku Wakil Kepala Sekolah bidang kesiswaan menegaskan bahwa kompetensi ini memerlukan keahlian yang khusus, maka pengimplementasian kurikulum Merdeka ini akan dapat memudahkan dalam pencapaian belajar peserta didik. “Narasumber memberikan materi secara santai tapi jelas, terbangun komunikasi interaktif antara peserta dengan narasumber, sehingga lebih tahu tips-tips untuk mengimplementasikan kurikulum ini.” tambahnya.

Sebagai Narasumber dalam kegiatan ini adalah Bapak Mujiono, S.Pd., M.Pd, Pengawas Pendidikan dari Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Wilayah Ponorogo.  Beberapa topik materi yang dibahas antara lain: Memahami Pembelajaran Dengan Paradigm Baru, Strategi Implementasi Kurikulum Merdeka Dalam Pembelajaran, Implikasi Penerapan Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran, dan Tantangan Guru Menghadapi Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran.

Penyampaian Materi oleh Bapak. Mujiono, S.Pd., M.Pd
Kebijakan Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan memberlakukan Kurikulum Merdeka ini tidak akan berhasil dengan maksimal jika tanpa ada dukungan dari semua lapisan masyarakat, terutama lembaga pendidikan. Karena itu untuk tujuan yang mulya demi percepatan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia, Guru sebagai garda terdepan harus selalu siap dalam mengimplementasikan kebijakan tersebut.  SMK Harapan Mulya Ponorogo berharap dengan adanya kegiatan ini, akan memberikan semangat dan motivasi bagi guru-guru di SMK Harapan Mulya untuk menjalankan pengabdiannya sebagai guru. Guru yang mau belajar dan terus meningkatkan kompetensinya secara sadar, bukan karena terpaksa, apalagi karena merasa sudah pandai sendiri. Dalam paradigma keilmuan, Guru haruslah mau “belajar” dan “Berpikir”.  

Suasana Pembelajaran pada workshop Implementasi Pengembangan Kurikulum Merdeka
(AEP, 18/12/2023)

GESSIT; WUJUD NYATA PARTISIPASI DAN DUKUNGAN MASYARAKAT TERHADAP KEMAJUAN LEMBAGA PENDIDIKAN

 

Guru dan Jajaran Pengurus POMG yang selalu bersinergi harmoni

inspirasipendidikan.com- Inovasi menjadi salah satu kunci keberhasilan untuk menjaga eksistensi sebuah lembaga pendidikan ditengah kompetisi sengit mendapatkan kepercayaan masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya. Tidak dapat dipungkiri bahwa orang tua sekarang sudah semakin cerdas dalam memilih sekolah yang terbaik untuk putra-putrinya. Dampaknya adalah ada beberapa sekolah yang mendapatkan peserta didik dalam jumlah yang banyak, tetapi ada juga sekolah yang hanya mendapatkan peserta didik sedikit bahkan tidak mendapatkan peserta didik sama sekali. Disinilah kepiawaian sekolah, dalam hal ini kepala sekolah untuk terus berinovasi dan mengembangkan mutu pendidikan di semua bidang. Termasuk memberikan ruang bagi anak didiknya mengembangkan bakat, minat dan potensinya masing-masing, dan menggandeng orang tua/wali murid/masyarakat untuk terlibat menyelenggarakan program-program sekolah.

SDIT Qurrota A’yun Ponorogo yang beralamat di Jl. Lawu 100 selalu melakukan terobosan inovasi yang menyebabkan keberadaannya sekarang menjadi sekolah unggulan di Kabupaten Ponorogo. Sebagai Sekolah Penggerak, SDIT Qurrota A’yun berupaya mengimplementasikan Total Quality Management yang berbasis pada partisipasi masyarakat. Salah satu Program Kerja yang sukses dilaksanakan adalah GESSIT yang merupakan singkatan dari Gebyar Seni, Sains, dan Teknologi, pada hari Sabtu, 16 Desember 2023. Dalam Acara ini digelar pentas seni yang diisi ketrampilan dan bakat peserta didik, seperti tari, menyanyi, teater, Hadrah, Karate, Musik, dan lain-lain. Semua acara tersebut dikemas secara spektakuler. Disamping persembahan seni tersebut, juga digelar panen karya siswa di bidang teknologi, dan hasil belajarnya selama satu semester. Karya-karya batik eco print dari siswa, kemampuan wirausaha, teknologi sederhana yang diajarkan dalam pembelajaran di kelas semua dipamerkan dan hebatnya lagi semua tamu yang diundang bisa langsung bertanya kepada para peserta didik yang bertugas untuk menjaga stand pameran tersebut.

Turut hadir dalam acara tersebut, para tamu undangan dari Dinas Pendidikan Kab. Ponorogo, Ketua Yayasan Qurrota A’yun Ponorogo, Bapak H. Marsudin, M.Si yang didampingi pengurus yayasan lainnya, Komite sekolah, Para kepala sekolah SD/MI, Ketua Komunitas Guru Penggerak Kab. Ponorogo, Kepala TK, dan para wali murid/ orang tua. Pada kesempatan itu Ketua Yayasan mengucapkan penghargaan dan ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada masyarakat Ponorogo khususnya para orang tua/ wali murid yang memberikan kepercayaan untuk mendidik anak-anaknya di lembaga yang dinaungi oleh Yayasan Qurrota A’yun. Seperti diketahui bahwa Yayasan ini sudah memiliki sekitar 7 lembaga dan semua mendapatkan kepercayaan yang luar biasa dari masyarakat. 

Wijiati, S.TP., S.Pd Kepala SDIT Qurrota A’yun Ponorogo dalam sambutannya juga menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada POMG (Paguyuban Orang Tua Murid Dan Guru) yang telah bekerjasama dengan para guru di sekolah untuk mensukseskan acara Gessit tahun ini. Karena tanpa dukungan orang tua baik finansial, pikiran dan tenaga, maka acara Gessit ini tidak akan berhasil dan lancar.

Tamu yang hadir sedang berdialog dengan peserta didik tentang karya yang dipamerkan

Gessit ini selain sebagai wadah untuk bakat minat peserta didik, tetapi juga sebagai bukti bahwa SDIT Qurrota A’yun telah berhasil membina hubungan baik dengan orang tua/wali murid, sehingga setiap kegiatan yang diadakan selalu orang tua/ wali murid ikut dalam kepanitiaan dan membantu secara masksimal. Dalam Gessit kali ini, POMG juga yang menata stand, menghias, mempersiapkan segala sesuatunya di setiap jenjang, bahkan ikut meramaikan bazar yang diadakan pada hari itu. Tidak heran kalau Gessit 2023 ini dihadiri ribuan tamu undangan, masyarakat dan orang tua/ wali murid.

Shamita, salah seorang Jurnalis QA, dalam wawancaranya dengan Kepala SDIT Qurrota A’yun menanyakan apakah acara Gessit ini akan diadakan setiap tahun? Dijawab oleh Kepala Sekolah bahwa acara Gessit ini menjadi agenda tahunan. Sehingga anak-anak/ peserta didik bisa mempersiapkan diri untuk unjuk kebolehan di pentas yang megah seperti ini dan dilihat oleh ribuan orang. Mengenai biaya penyelenggaraan acara ini 40% dari bantuan orang tua/ wali murid, 30 % dari Sponsor yang mendanai acara ini, dan 30 % diambil dari dana BOS Kinerja.

Keberhasilan acara Gessit 2023 ini diharapkan bisa menginspirasi sekolah lain untuk turut bergerak, berinovasi, dan memberikan mutu yang terbaik bagi peserta didik, sehingga nantinya akan dihasilkan lulusan yang benar-benar berkualitas dan berakhlaqul karimah, (HAR, 18 /12/2023)