f ' SISI GELAP PENGELOLAAN KELAS ~ Inspirasi Pendidikan

Kamis, 18 Juni 2026

SISI GELAP PENGELOLAAN KELAS

 Oleh: Naufal Annora Ichwan* 

Mungkin bagi kalangan akademisi terutama pendidik melihat suasana kelas yang kondusif adalah sebuah kemegahan yang tak tergantikan. Namun perlu diketahui bahwa untuk mencapai taraf tersebut diperlukan effort besar agar tujuan dari ketenangan kelas bisa diperoleh. 

Hari ini saya terjun di dunia pendidikan khususnya dalam kegiatan perkuliahan, alhasil saya berhasil memotret berbagai problem pengelolaan kelas yang sebetulnya ini perlu dibenahi oleh pendidik maupun peserta didik. Salah satunya terkait penataan ruang kelas yang masih mengedepankan cirikhas tradisional (baris), dimana banyak sekali sekolah-sekolah yang masih mengadopsi tata letak seperti ini tanpa mempertimbangakan implikasi dan mungkin sekolah tidak melakukan kajian terkait penataan ini taken for granted (diterima begitu saja tanpa digugat). 

Dalam prinsip pengelolaan kelas ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan yaitu ;Visibility, Accesbility, Flexybility, kenyamanan, dan keindahan. Nah, saya menganailisis penataan ruang kelas tradisional itu membuat guru kesusahan untuk mengawasi atau memantau aktivitas peserta didik secara intens, karena model baris sendiri sebenarnya lebih cocok digunakan untuk proses belajar yang berfokus pada intruksi secara langsung seperti : ceramah, ujian, atau pemberian tugas. Akan tetapi masih banyak sekali yang menggunakan model ini untuk kegiatan belajar mengajar di tengah gagahnya kurikulum merdeka. Padahal di zaman sekarang sudah ada pendekatan deep learning mengharuskan pendidik untuk memberikan ruang aktif bagi peserta didik dalam mengaktualisasikan potensinya. 

Model tradisional (baris) ini juga menghambat keleluasan guru untuk berinteraksi lebih dekat kepada muridnya, karena melihat tatanan ruang yang sangat padat memungkinkan guru untuk tetap nyaman menerangkan materinya di singgasananya dan yang saya amati guru / pendidik itu jarang yang mau berkeliling atau berusaha mengeksplore habibat siswa khususnya yang tidak bisa dijangkau (posisi duduk bisa di belakang, atau nylempit). Ini juga didukung dengan pendidik / guru tidak punya ghiroh untuk menciptakan sebuah gebrakan baru seperti ; mencoba model penataan ruang konsep letter U, atau model klusterisasi (kelompok) dll. Padahal dalam penyusunan modul ajar pasti disana sudah tertulis bagaimana guru nanti memasak berbagai metode, pendekatan, model pembelajaran dalam pengelolaan kelas. 

Di dalam buku Teaching and Learning Through Reflective Practice karya Tony Ghaye ada kalimat yang berbunyi “ Ketika pihak lain sedang berbicara, mereka mendengarkan dan berharap dapat belajar dari situ. Jika pemahaman timbal balik tidak ada, orang – orang akan salah dimengerti dan tidak dihormati,serta saling tidak percaya”. Pernah suatu Ketika dosen saya memberikan sepercik cerita “ kadang para guru atau dosen merasa kesusahan ketika akan mendesain ruang kelas yang notabene-nya sudah tertata rapi oleh pihak sekolah”, karena jika di dunia perkuliahan penataan ruang fisik bisa menjadi Pr bagi pengguna selanjutnya dan jika di lingkup sekolah mungkin menjadi sebuah beban baru bagi wali kelas barangkali harus menata ulang kelasnya. Akan tetapi yang saya soroti bukan beban ini, tapi bagaiman proses percakapan reflektif bisa dirasakan secara kolektif dan murid bisa ikut andil dalam proses belajar. Kalau kita amati terkadang kursi  depan diisi siswa yang aktif dan rajin sedangkan penghuni bangku belakang biasanya anaknya malu-malu, atau memilih aman, atau ingin kumpul dengan temannya (sekadar asumsi penulis). Ketika guru sudah tidak diperdulikan maka disitulah komunikasi reflektif menjadi pertanyaan, ini sesuai dengan isi buku diatas menekankan adanya proses menghargai dan memberikan feed back, karena berfungsi sebagai pondasi penting dalam proses belajar mengajar.

Mungkin ini menjadi sebuah oleh – oleh bagi kalangan akademisi khususnya bagi guru, bahwa kelas itu sebenarnya bisa menjadi wadah kita dalam mewarnai karakter sang anak, meskipun terkadang banyak sekali problem diluar prediksi yang terjadi di dalam kelas. Alangkah baiknya guru harus mempunyai sebuah bumbu baru bagaimana menyesuiakan materi dengan kondisi kelas, memanah metode dengan baik, dan mengevaluasinya secara objektif. Mengajar memang mudah yang sulit itu menciptakan pembelajaran bermakna, berkesadaran, dan menyenangkan. Sekolah sebaiknya juga memberikan retreatment bagi guru terutama yang masih menggunakan metode mengajar konvensional. Kita boleh mejaga warisan budaya nenek moyang tapi jangan sampai proses Pendidikan tidak relevan bagi generasi masa depan.

Terakhir penulis mengambil Kesimpulan bahwa sisi gelap itu konotasinya tak harus hal – hal yang bersifat destruktif, akan tetapi kelas yang penuh manusia tetapi sepi dari interaksi yang tulus adalah sebuah kegelapan  yang perlu penerangan.

-------------------  
*Penulis adalah Mahasiswa program Studi Pendidikan Agama Islam UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

0 comments:

Posting Komentar