Oleh: Naufal Annora Ichwan*
Mungkin bagi kalangan akademisi terutama pendidik
melihat suasana kelas yang kondusif adalah sebuah kemegahan yang tak
tergantikan. Namun perlu diketahui bahwa untuk mencapai taraf tersebut
diperlukan effort besar agar tujuan dari ketenangan kelas bisa diperoleh.
Hari ini saya terjun di dunia pendidikan khususnya
dalam kegiatan perkuliahan, alhasil saya berhasil memotret berbagai problem
pengelolaan kelas yang sebetulnya ini perlu dibenahi oleh pendidik maupun
peserta didik. Salah satunya terkait penataan ruang kelas yang masih
mengedepankan cirikhas tradisional (baris), dimana banyak sekali
sekolah-sekolah yang masih mengadopsi tata letak seperti ini tanpa
mempertimbangakan implikasi dan mungkin sekolah tidak melakukan kajian terkait
penataan ini taken for granted (diterima begitu saja tanpa
digugat).
Dalam prinsip pengelolaan kelas ada beberapa unsur
yang perlu diperhatikan yaitu ;Visibility, Accesbility, Flexybility,
kenyamanan, dan keindahan. Nah, saya menganailisis penataan ruang kelas
tradisional itu membuat guru kesusahan untuk mengawasi atau memantau aktivitas
peserta didik secara intens, karena model baris sendiri sebenarnya lebih cocok
digunakan untuk proses belajar yang berfokus pada intruksi secara langsung
seperti : ceramah, ujian, atau pemberian tugas. Akan tetapi masih banyak
sekali yang menggunakan model ini untuk kegiatan belajar mengajar di tengah
gagahnya kurikulum merdeka. Padahal di zaman sekarang sudah ada pendekatan deep
learning mengharuskan pendidik untuk memberikan ruang aktif bagi peserta
didik dalam mengaktualisasikan potensinya.
Model tradisional (baris) ini juga menghambat
keleluasan guru untuk berinteraksi lebih dekat kepada muridnya, karena melihat
tatanan ruang yang sangat padat memungkinkan guru untuk tetap nyaman menerangkan
materinya di singgasananya dan yang saya amati guru / pendidik itu jarang yang
mau berkeliling atau berusaha mengeksplore habibat siswa khususnya yang tidak
bisa dijangkau (posisi duduk bisa di belakang, atau nylempit). Ini juga
didukung dengan pendidik / guru tidak punya ghiroh untuk menciptakan sebuah
gebrakan baru seperti ; mencoba model penataan ruang konsep letter U, atau
model klusterisasi (kelompok) dll. Padahal dalam penyusunan modul ajar pasti
disana sudah tertulis bagaimana guru nanti memasak berbagai metode, pendekatan,
model pembelajaran dalam pengelolaan kelas.
Di dalam buku Teaching and Learning Through
Reflective Practice karya Tony Ghaye ada kalimat yang berbunyi “ Ketika
pihak lain sedang berbicara, mereka mendengarkan dan berharap dapat belajar
dari situ. Jika pemahaman timbal balik tidak ada, orang – orang akan salah
dimengerti dan tidak dihormati,serta saling tidak percaya”. Pernah suatu Ketika
dosen saya memberikan sepercik cerita “ kadang para guru atau dosen merasa
kesusahan ketika akan mendesain ruang kelas yang notabene-nya sudah tertata
rapi oleh pihak sekolah”, karena jika di dunia perkuliahan penataan ruang fisik
bisa menjadi Pr bagi pengguna selanjutnya dan jika di lingkup sekolah mungkin menjadi
sebuah beban baru bagi wali kelas barangkali harus menata ulang kelasnya. Akan
tetapi yang saya soroti bukan beban ini, tapi bagaiman proses percakapan
reflektif bisa dirasakan secara kolektif dan murid bisa ikut andil dalam proses
belajar. Kalau kita amati terkadang kursi
depan diisi siswa yang aktif dan rajin sedangkan penghuni bangku
belakang biasanya anaknya malu-malu, atau memilih aman, atau ingin kumpul
dengan temannya (sekadar asumsi penulis). Ketika guru sudah tidak diperdulikan
maka disitulah komunikasi reflektif menjadi pertanyaan, ini sesuai dengan isi
buku diatas menekankan adanya proses menghargai dan memberikan feed back,
karena berfungsi sebagai pondasi penting dalam proses belajar mengajar.
Mungkin ini menjadi sebuah oleh – oleh bagi kalangan
akademisi khususnya bagi guru, bahwa kelas itu sebenarnya bisa menjadi wadah
kita dalam mewarnai karakter sang anak, meskipun terkadang banyak sekali
problem diluar prediksi yang terjadi di dalam kelas. Alangkah baiknya guru harus
mempunyai sebuah bumbu baru bagaimana menyesuiakan materi dengan kondisi kelas,
memanah metode dengan baik, dan mengevaluasinya secara objektif. Mengajar
memang mudah yang sulit itu menciptakan pembelajaran bermakna, berkesadaran,
dan menyenangkan. Sekolah sebaiknya juga memberikan retreatment bagi guru terutama
yang masih menggunakan metode mengajar konvensional. Kita boleh mejaga warisan
budaya nenek moyang tapi jangan sampai proses Pendidikan tidak relevan bagi generasi
masa depan.
Terakhir
penulis mengambil Kesimpulan bahwa sisi gelap itu konotasinya tak harus hal –
hal yang bersifat destruktif, akan tetapi kelas yang penuh manusia tetapi sepi
dari interaksi yang tulus adalah sebuah kegelapan yang perlu penerangan.








0 comments:
Posting Komentar