f ' April 2026 ~ Inspirasi Pendidikan

Inspirasi Pendidikan untuk Indonesia

Pendidikan bukan cuma pergi ke sekolah dan mendapatkan gelar. Tapi, juga soal memperluas pengetahuan dan menyerap ilmu kehidupan.

Bersama Bergerak dan Menggerakkan pendidikan

Kurang cerdas bisa diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki (Bung Hatta)

Berbagi informasi dan Inspirasi

Tinggikan dirimu, tapi tetapkan rendahkan hatimu. Karena rendah diri hanya dimiliki orang yang tidak percaya diri.

Mari berbagi informasi dan Inspirasi

Hanya orang yang tepat yang bisa menilai seberapa tepat kamu berada di suatu tempat.

Mari Berbagi informasi dan menginspirasi untuk negeri

Puncak tertinggi dari segala usaha yang dilakukan adalah kepasrahan.

Senin, 20 April 2026

TKW DAN IRONI EMANSIPASI: KARTINI YANG TERABAIKAN

 

Setiap tanggal 21 April, bangsa ini selalu merayakan semangat emansipasi, terinspirasi dari sosok pahlawan RA. Kartini. Berbagai kegiatan seremonial dirayakan, para pegawai pemerintah, anak-anak sekolah yang perempuan berpakaian kebaya ala Kartini. Bangsa ini merayakan semangat emansipasi perempuan melalui sosok Kartini. Namun, di saat yang sama, ribuan perempuan Indonesia justru memperjuangkan hidupnya jauh dari tanah air, tanpa panggung, tanpa perayaan, tanpa berpakaian kebaya. tetapi seringkali tanpa perlindungan memadai. Mereka adalah Tenaga Kerja Wanita (TKW), Kartini modern yang ironisnya justru terabaikan.

Fenomena pekerja migran perempuan bukanlah hal kecil. Berbagai persoalan menyangkut keberadaan dan nasib mereka, di negeri orang dari tahun ke tahun semakin meningkat. Belum lagi persoalan sosial yangdialami oleh mereka yang berstatus menikah. Tidak jarang keluarganya berakhir tragis dengan perceraian. Anak-anaknya pun tumbuh tanpa kasih sayang seutuhnya.

Sebagai wujud tanggung jawab perlindungan hukum, pemerintah pun secara khusus membentuk kementerian yang menangani yaitu kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia. Hal ini seiring bertambah banyaknya jumlah pekerja yang ingin mengadu nasib ke luar negeri. Tentu saja harus jujur diakui bahwa keberadaan buruh migran perempuan ini juga menyumbang devisa besar bagi negara. Kompas.com pernah merilis berita pada tahun 2025, devisa yang disumbangkan sebesar Rp. 439 trilun. Tidak mengherankan pemerintah juga seolah mengizinkan “ekspor” tenaga kerja ke luar negeri secara besar-besaran. Hal ini dapat diketahui dari https://kp2mi.go.id/ bahwa Menteri P2MI, Mukhtaruddin menyampaikan kesiapan Pemerintah untuk menyediakan 500.000 pekerja migran pada tahun 2026.  Ini belum termasuk jutaan pekerja yang pada tahun sebelumnya bekerja dan masih bekerja di luar negeri. Sekali lagi harga diri bangsa ini dipertanyakan, karena logika awam akan sampai pada pemikiran bahwa semakin banyak pekerja migran Indonesia itu menandakan bahwa semakin besar kegagalan pemerintah untuk menyediakan lapangan pekerjaan bagi rakyatnya.

Ironinya, ketika kita berbicara tentang Kartini sebagai simbol emansipasi, kita sering membayangkan perempuan terdidik, bekerja di sektor formal, dan berdaya di ruang publik. Padahal, TKW telah mempraktikkan emansipasi dalam bentuk paling nyata, yaitu mengambil keputusan ekonomi, menjadi tulang punggung keluarga, bahkan melintasi batas negara. Sayangnya, mereka tidak selalu mendapat pengakuan yang setara. Sudah saatnya narasi emansipasi diperluas. Kartini hari ini bukan hanya mereka yang bersuara di ruang publik, tetapi juga mereka yang bekerja diam-diam di negeri orang demi keluarga dan negara. Jika Kartini dahulu memperjuangkan akses pendidikan dan kebebasan berpikir, maka TKW hari ini memperjuangkan hal yang lebih mendasar, yaitu keberlangsungan hidup. Justru di sanalah  makna emansipasi yang paling jujur, bukan yang dirayakan, tetapi yang dijalani.

Mengakui mereka sebagai bagian dari narasi besar emansipasi bukan sekadar soal simbolik. Ini adalah langkah awal untuk memastikan bahwa perjuangan mereka tidak lagi berjalan dalam sunyi. Dan bahwa negara benar-benar hadir, tidak hanya saat mereka menghasilkan devisa, tetapi juga ketika mereka membutuhkan perlindungan dan keadilan.

Selamat Hari Kartini, selamat berjuang perempuan hebat Indonesia, Selamat berjuang para Pekerja migran perempuan, Kartini di era modern. (Hary, 21/4/26)