f ' KETIKA CARA BICARA GEN Z BERUBAH DI ERA DIGITAL ~ Inspirasi Pendidikan

Jumat, 13 Februari 2026

KETIKA CARA BICARA GEN Z BERUBAH DI ERA DIGITAL

Oleh: Shakayla Adzkiya El Queena H.

Coba jujur deh. Kamu lebih pede ngetik di chat atau  ngomong langsung di depan orang? Kalau jawabannya “chat dong”, tenang… kamu normal.  Gen Z tumbuh di dunia yang penuh layar,  seperti  laptop, tablet, dan notifikasi. Cara kita ngobrol pun ikut berubah. Dari yang dulu tatap muka, sekarang seringnya lewat teks, voice note, atau video. Masalahnya, perubahan ini nggak cuma soal media, tapi juga soal cara kita bicara dan percaya diri.

Media sosial ngajarin kita satu hal, semua harus cepat. Cepat update, cepat respon, cepat trending. Kalau mau ngomong sesuatu, tinggal ketik, bisa diedit, bisa dihapus, bisa pakai emoji buat nutupin perasaan.  Tapi dunia nyata beda. Ngomong langsung itu: real time, nggak bisa diedit, semua mata langsung ke kamu. Makanya, banyak Gen Z yang lancar bikin caption, jago balas chat, aktif di story, tapi langsung blank grogi gugup saat disuruh presentasi atau bicara di depan kelas.

Disadari atau tidak,  ketika chatting kita terbiasa pakai kalimat pendek, singkatan (“g”, “ntar”, “ok”), respon cepat tapi dangkal. Kita juga sering tanpa sadar jadi susah nyusun kalimat panjang saat ngomong kosa kata,  lisan jadi terbatas,  sering mikir: “aku ngerti, tapi ngomongnya gimana ya?”Ibaratnya otak punya ide mulut nggak terbiasa ngeluarin ide. Akhirnya pas harus bicara, rasanya kayak “Aku tahu jawabannya… tapi kok mulutku error ya?” . Karena skill ngomong itu kayak otot. Kalau jarang dipakai, ya kaku.

Sobat Gen Z, Hidup di era digital itu sama dengan hidup di era penilaian,  like,  view,  comment, terkadang itu yang sering menganggu dan merubah cara pikir kita. Ini bikin banyak Gen Z mikir, takut salah ngomong, takut diketawain, takut dikira aneh, takut viral karena blunder, dan lain-lain. Akhirnya muncul  overthinking,  insecure,  anxiety saat tampil. Padahal, kenyataannya audiens nggak sekejam itu, banyak juga yang sama-sama grogi, orang lebih fokus ke diri mereka sendiri daripada ke kesalahan kita. So, what’s the problem?  Masalahnya sering bukan di kemampuan bicara, tapi di  pikiran yang kebanyakan skenario buruk.

Sekarang ngomong di depan orang nggak selalu di aula. Bisa lewat Zoom, Google Meet, Podcast,  TikTok Live, YouTube.  Ngomong ke kamera juga termasuk public speaking.  Tantangannya adalah ngomong ke layar nggak lihat ekspresi audiens, gampang ke-distract, dan harus lebih jelas dan ekspresif. Tapi keuntungannya: bisa latihan dari kamar, bisa rekam ulang, bisa mulai pelan-pelan, nggak langsung ketemu banyak orang. Buat Gen Z, ruang virtual itu bisa jadi tempat latihan,  tempat bangun percaya diri, tempat belajar ngomong tanpa terlalu tertekan.

Jadi, Era Digital bikin kita susah ngomong? Jawabannya: nggak selalu. Kalau cuma dipakai buat scroll, chat, nonton, ya kemampuan ngomong bisa tumpul. Tapi kalau dipakai buat  bikin konten opini, podcast kecil-kecilan, presentasi online, atau diskusi virtual. Era digital malah bisa jadi alat latihan , panggung pertama,  dan ruang belajar komunikasi. Semua balik ke Gen Z mau dipakai pasif atau mau jadi aktif.

Memang harus diakui Gen Z hidup di dunia lebih banyak ngetik daripada ngomong, lebih sering lihat kamera daripada audiens langsung.  Tapi justru itu tantangannya. Gimana caranya tetap berani bersuara di dunia yang penuh layar? Public speaking sekarang bukan cuma soal pidato di podium, tapi juga ngomong di Zoom, bikin konten nyampein ide,  berani beda pendapat. Karena di tengah dunia yang rame dan cepat, suara yang jelas dan jujur tetap punya nilai. Dan siapa tahu… suara itu adalah suara kamu.

------   
Penulis adalah siswi kelas IX ICP MTs N 2 Ponorogo

0 comments:

Posting Komentar