Coba jujur deh. Kamu lebih pede ngetik di chat atau ngomong langsung di depan orang? Kalau jawabannya “chat dong”, tenang… kamu normal. Gen Z tumbuh di dunia yang penuh layar, seperti laptop, tablet, dan notifikasi. Cara kita ngobrol pun ikut berubah. Dari yang dulu tatap muka, sekarang seringnya lewat teks, voice note, atau video. Masalahnya, perubahan ini nggak cuma soal media, tapi juga soal cara kita bicara dan percaya diri.
Media sosial ngajarin kita satu hal,
semua harus cepat. Cepat update, cepat respon, cepat trending. Kalau mau
ngomong sesuatu, tinggal ketik, bisa diedit, bisa dihapus, bisa pakai emoji
buat nutupin perasaan. Tapi dunia nyata
beda. Ngomong langsung itu: real time, nggak bisa diedit, semua mata langsung
ke kamu. Makanya, banyak Gen Z yang lancar bikin caption, jago balas chat,
aktif di story, tapi langsung blank grogi gugup saat disuruh
presentasi atau bicara di depan kelas.
Disadari atau
tidak, ketika chatting kita terbiasa
pakai kalimat pendek, singkatan (“g”, “ntar”, “ok”), respon cepat tapi dangkal.
Kita juga sering tanpa sadar jadi susah nyusun kalimat panjang saat ngomong
kosa kata, lisan jadi terbatas, sering mikir: “aku ngerti, tapi ngomongnya
gimana ya?”Ibaratnya otak punya ide mulut nggak terbiasa ngeluarin ide. Akhirnya
pas harus bicara, rasanya kayak “Aku tahu jawabannya… tapi kok mulutku error
ya?” . Karena skill ngomong itu kayak otot. Kalau jarang dipakai, ya
kaku.
Sobat Gen
Z, Hidup di era digital itu sama dengan hidup di era penilaian, like, view, comment, terkadang itu yang sering
menganggu dan merubah cara pikir kita. Ini bikin banyak Gen Z mikir, takut
salah ngomong, takut diketawain, takut dikira aneh, takut viral karena blunder,
dan lain-lain. Akhirnya muncul overthinking,
insecure, anxiety saat tampil. Padahal, kenyataannya
audiens nggak sekejam itu, banyak juga yang sama-sama grogi, orang lebih fokus
ke diri mereka sendiri daripada ke kesalahan kita. So, what’s the problem?
Masalahnya sering bukan di kemampuan
bicara, tapi di pikiran yang kebanyakan
skenario buruk.
Sekarang
ngomong di depan orang nggak selalu di aula. Bisa lewat Zoom, Google Meet, Podcast, TikTok Live, YouTube. Ngomong ke kamera juga termasuk public
speaking. Tantangannya adalah ngomong ke
layar nggak lihat ekspresi audiens, gampang ke-distract, dan harus lebih jelas
dan ekspresif. Tapi keuntungannya: bisa latihan dari kamar, bisa rekam ulang,
bisa mulai pelan-pelan, nggak langsung ketemu banyak orang. Buat Gen Z, ruang
virtual itu bisa jadi tempat latihan,
tempat bangun percaya diri, tempat belajar ngomong tanpa terlalu
tertekan.
Jadi, Era Digital bikin kita susah ngomong? Jawabannya: nggak
selalu. Kalau cuma dipakai buat scroll, chat, nonton, ya kemampuan
ngomong bisa tumpul. Tapi kalau dipakai buat
bikin konten opini, podcast kecil-kecilan, presentasi online, atau
diskusi virtual. Era digital malah bisa jadi alat latihan , panggung
pertama, dan ruang belajar komunikasi.
Semua balik ke Gen Z mau dipakai pasif atau mau jadi aktif.
Memang harus
diakui Gen Z hidup di dunia lebih banyak ngetik daripada ngomong, lebih sering
lihat kamera daripada audiens langsung.
Tapi justru itu tantangannya. Gimana caranya tetap berani bersuara di
dunia yang penuh layar? Public speaking sekarang bukan cuma soal pidato di
podium, tapi juga ngomong di Zoom, bikin konten nyampein ide, berani beda pendapat. Karena di tengah dunia
yang rame dan cepat, suara yang jelas dan jujur tetap punya nilai. Dan
siapa tahu… suara itu adalah suara kamu.
Penulis adalah siswi kelas IX ICP MTs N 2 Ponorogo








0 comments:
Posting Komentar