f ' Inspirasi Pendidikan: Sastra

Inspirasi Pendidikan untuk Indonesia

Pendidikan bukan cuma pergi ke sekolah dan mendapatkan gelar. Tapi, juga soal memperluas pengetahuan dan menyerap ilmu kehidupan.

Bersama Bergerak dan Menggerakkan pendidikan

Kurang cerdas bisa diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki (Bung Hatta)

Berbagi informasi dan Inspirasi

Tinggikan dirimu, tapi tetapkan rendahkan hatimu. Karena rendah diri hanya dimiliki orang yang tidak percaya diri.

Mari berbagi informasi dan Inspirasi

Hanya orang yang tepat yang bisa menilai seberapa tepat kamu berada di suatu tempat.

Mari Berbagi informasi dan menginspirasi untuk negeri

Puncak tertinggi dari segala usaha yang dilakukan adalah kepasrahan.

Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Juni 2026

Labirin Rasa di Hari Kamis


Karya: Shakayla Adzkiya El Queena 

Hari Kamis selalu terasa seperti monster bagi Queena. Bagaimana tidak? Deretan mata pelajaran mulai dari Matematika, IPA, Bahasa Jawa, PJOK, hingga TIK berjejal memaksa masuk ke kepalanya yang serasa mau pecah akibat vertigo. Bel sekolah yang berbunyi nyaring terdengar sangat kuno, seolah memanggil para siswa dari zaman Kerajaan Mataram.

Meskipun kelas Queena terkenal berisi anak-anak ber-IQ tinggi, kelakuan mereka tetap saja khas remaja. Tidur di kelas, malas, atau dihukum guru sudah jadi santapan harian. Bahkan langganan disidang di ruang BK. Namun, solidaritas mereka kuat bak keluarga. Sayangnya, kehangatan itu mendadak menguap bagi Queena begitu pelajaran Matematika dimulai.

Langkah kaki sang guru wanita yang merangkul laptop dan buku kian mendekat.di belakangnya seorang siswa dengan tubuh tinggi tegak membawa seperangkat kabel mengikuti. Ya, semua tahu kalau dia adalah Mas Tama, Kakak kelas. Begitu Bu Guru duduk di kursi dan membuka laptop, dia yang sibuk membantu untuk menyambungkan ke layar monitor kelas.  Kelas mendadak ricuh, teman-teman Queena sibuk mengatur posisi dan mematikan layar PC yang tersambung ke TV kelas. Begitu duduk, sang guru langsung mencekoki mereka dengan rumus-rumus rumit. Queena tidak luput diiserang dengan pertanyaan matematika yang mematikan.

Queena gelagapan menjawab. Di tengah kepanikan tiba-tiba terdengar suara dari depan. Dengan wajah tanpa senyum, anak itu menyindir Queena yang tampak kebingungan, “Paham gak nih... jangan lama-lama loading-nya!”

Seketika seisi kelas menertawakannya. Rasanya Queena ingin menghilang karena malu. Beruntung, Queena sudah terbiasa dengan ejekan model seperti ini dari teman-teman sekelas. Untuk menenangkan hatinya yang dongkol, Queena pura-pura tersenyum manis meskipun pahit rasaya. Apalagi yang menyindir adalah Mas Tama, Kakak kelas yang sok pintar ini.

Sesampainya di rumah, rasa malas membayangi Queena saat mengingat tugas Civic Education (PKn) dari guru killer yang harus dikumpulkan besok. Namun, kantuk dan rasa malasnya mendadak buyar saat sebuah notifikasi berdering. di layarnya, muncul nama "Mas Tama".

Mas Tama adalah kakak kelas yang semua siswi pasti kenal. Perawakannya tinggi, berkulit sawo matang dengan senyum manis eksotis. Nilai plusnya? Dia sangat genius di bidang Matematika, sebuah pesona level dewa di mata Queena.

“Aku free nih, mau ngobrol nggak?” pesan dari Mas Tama.

Tepat di saat jemari Queena gemetar ingin membalas, sebuah pesan lain masuk. Kali ini dari Alza, cowok yang selama ini diam-diam ditunggunya.

“Bantu aku jawab soal dong,” tulis Alza singkat.

Queena panik. Logika dan perasaannya bertabrakan. Dengan gugup, ia meminta saran ke grup obrolan bersama sahabat-sahabatnya: Lucy, Veliza, Rena, dan Viska.

Respon sahabat-sahabatnya justru sangat menohok.

"Udah jelas-jelas nggak pasti, ngapain ditunggu?" ketus Lucy.

"Ingat, second choice itu ngalah," tambah Viska mengingatkan bahwa Alza sering memperlakukan Queena sebagai pilihan kedua.

Kata-kata mereka menghujam bak pasukan gajah. Queena sadar, selama ini Alza hanya mencarinya saat butuh bantuan tugas. Di titik akhir logikanya, Queena berbisik pada diri sendiri: “Dia tidak sepeduli itu dengan perasaanku selama ini.”

Dengan nekat, Queena mengetik pesan penolakan kepada Alza.

“Sorry Za, aku masih sibuk.”

Lalu, ia mengiyakan ajakan Mas Tama untuk melakukan panggilan telepon pertama mereka.

Queena mengira obrolan dengan Mas Tama akan terasa monoton, kaku, dan membosankan mengingat citra Mas Tama di sekolah yang pendiam, jarang tersenyum, dan tampak tidak peka. Ia takut Mas Tama akan sedingin Alza.

Namun, begitu suara di seberang telepon menyapa, asumsi Queena berputar 180 derajat. Mas Tama ternyata sangat hangat, seru, dan pendengar yang baik. Mereka tertawa bersama, berdiskusi banyak hal, hingga membuat Queena melupakan sejenak beban tugas sekolahnya.

Di tengah asyiknya obrolan, Mas Tama tiba-tiba berkata, “Oh iya Queen, maaf ya soal kejadian di kelas tadi Kamis. Aku nggak bermaksud bikin kamu malu di depan anak-anak waktu mapel Matematika.”

Queena tertegun. Jantungnya serasa berhenti. “Maksud... Mas Tama?”

“Iya, tadi siang kan aku yang masuk ke kelasmu bareng Bu Guru buat bantu asistensi materi PC yang nyambung ke TV,” suara Mas Tama terdengar tulus dan penuh sesal dari seberang telepon.

“Wajahku emang galak dan nggak ada manis-manisnya kalau lagi serius ngajar. Kalimatku yang 'jangan lama-lama loading-nya' itu murni bercanda biar kelas gak tegang, tapi aku baru sadar kalau itu malah bikin kamu ditertawain sekelas. Maaf banget ya, Queen.”

Queena mematung di kamarnya. Semburat merah langsung menjalar di pipinya.

Plot twist kehidupan remaja baru saja dimulai. Sosok menyebalkan yang sepanjang hari ia umpat sebagai sok pintar di kelas Matematika, ternyata adalah Mas Tama, kakak kelas idaman yang diam-diam dikaguminya, sekaligus cowok yang malam ini sedang menemaninya tertawa lewat panggilan telepon.

Satu malam di telepon bersama Mas Tama telah berhasil menjungkir balikkan dunia Queena. Kejadian hari Kamis yang semula dianggapnya sebagai kutukan, berubah menjadi awal dari sebuah harapan baru. Hari-hari berikutnya dilewati Queena dengan senyum yang sulit disembunyikan. Di koridor sekolah, setiap kali berpapasan dengan Mas Tama yang bertubuh tinggi itu, ada getaran halus yang membuat langkah kaki Queena terasa ringan. Mas Tama sesekali memberikan anggukan kecil atau senyuman tipis, sesuatu yang dulu dianggap Queena sebagai sikap "tak kasat rasa", namun kini terasa begitu eksklusif hanya untuknya.

Queena merasa telah mengambil keputusan paling tepat dalam hidup remaja awalnya: membuang Alza yang hanya datang saat butuh, dan membuka hati untuk Mas Tama yang genius Matematika dan ternyata penuh kehangatan.

Namun, dunia remaja memang sebuah labirin yang kejam. Dan Queena baru saja membentur dinding paling keras.

Tepat satu minggu setelah malam telepon yang indah itu, hari Kamis kembali datang membawa takdirnya yang dingin. Siang itu, bel istirahat berbunyi. Queena bermaksud pergi ke perpustakaan untuk mencari referensi tugas Civic Education alias PKn yang mulai menumpuk lagi. Langkahnya terhenti tepat di koridor dekat laboratorium komputer yang agak sepi.

Dari balik sekat ruangan, ia mendengar suara tawa yang sangat ia kenal. Suara berat, lembut, dan renyah. Suara Mas Tama.

Queena berniat mengejutkannya. Namun, begitu ia melangkah mendekat, pasokan oksigen di paru-parunya seolah tersedot habis. Di sana, Mas Tama tidak sendirian. Ia sedang duduk berdua, begitu dekat dan asyik, dengan seorang siswi bernama Nindia, siswi populer dari kelas sebelah yang dikenal cantik, pintar, dan berprestasi.

Mas Tama sedang menatap Nindia dengan binar mata yang belum pernah Queena lihat sebelumnya. Tangan Mas Tama bergerak pelan, mengacak rambut Nindia dengan penuh kasih sayang, sebuah gestur yang teramat intim.

“Kamu masih marah soal minggu lalu?” samar-samar Queena mendengar suara Mas Tama membujuk Nindia.

“Maaf ya, kemarin aku emang lagi pusing banget karena kita berantem. Makanya aku sengaja nyari kesibukan lain biar nggak kepikiran kamu terus.”

Nindia mengerucutkan bibirnya, lalu tersenyum manis.

“Terus, cewek kelas bawah yang kamu telepon semalaman itu gimana? Kamu nggak kasihan?”

Mas Tama terkekeh, menggelengkan kepala meremehkan.

“Queena? Ah, dia cuma anak anak remaja awal yang polos, gampang baper. Lagian malam itu aku cuma gabut dan butuh pelarian gara-gara kamu diemin. Mana mungkin aku serius sama anak kecil? Cinta aku kan cuma buat kamu, Nin.”

Brak!!!

Dunia di sekitar Queena serasa runtuh. Jiwanya seperti dihantam gada besi berwajah seribu. Kata-kata Mas Tama barusan bukan lagi sekadar sindiran Matematika yang membuatnya malu sekelas, melainkan belati berkarat yang ditusukkan tepat ke ulu hatinya, lalu diputar dengan sengaja.

Queena berbalik, berlari sekencang-kencangnya menuju toilet paling pojok sekolah. Di depan cermin, napasnya memburu, air matanya tumpah tak terbendung. Rasa malu, kecewa, benci, dan dendam bercampur menjadi satu racun yang pekat di dalam dadanya.

“Pelarian? Anak kecil yang gampang baper?” Queena berbisik lirik, suaranya bergetar menahan amarah yang meledak-ledak.

Rasa benci yang luar biasa kini mengalir di setiap aliran darahnya. Ia membenci Mas Tama atas kepalsuan wajah manis eksotisnya. Ia membenci Nindia yang menertawakan kepolosannya. Dan yang paling parah, ia membenci dirinya sendiri karena begitu bodoh dan murahan hingga mau dijadikan obat penawar sepi dari sepasang kekasih yang sedang bertengkar.

Seketika, kata-kata pedas dari Viska dan teman-temannya terngiang kembali di kepalanya: “Ngapain ditunggu? Second choice itu ngalah.”

Ternyata, bukan hanya Alza yang menganggapnya pilihan kedua. Mas Tama, cowok yang ia anggap "pesona level dewa", melakukan hal yang jauh lebih menjijikkan, menjadikannya sebuah keset pelampiasan ego.

Amarah itu mulai meracuni pikiran sehatnya. Muncul hasrat gelap di benak Queena untuk membalas dendam. Ingin rasanya ia mengonfrontasi mereka di depan umum, menyebarkan cerita busuk tentang kelakuan Mas Tama, atau setidaknya membuat kekacauan yang bisa menghancurkan reputasi Mas Tama yang sebentar lagi mau lulus. Pikiran tentang cinta monyet ini benar-benar telah membutakannya, persis seperti ketakutannya dulu tentang remaja sebayanya yang menghalalkan segala cara demi perasaan obsesif.

Namun, di tengah badai dendam itu, lembaran kertas putih bergaris di dalam sakunya mendadak terjatuh ketika dia merogoh saku untuk mengambil tisu. Itu adalah kertas tempat ia menulis puisi dan target masa depannya. Queena tertegun melihat tulisan tangannya sendiri.

Aku adalah anak kelas unggulan ber-IQ tinggi. Aku punya mimpi besar untuk kuliah di universitas ternama, menjadi seorang penulis hebat, dan membuktikan pada dunia bahwa aku bukan sekadar angka di buku absen.

Dua kekuatan besar kini berperang hebat di dalam dada remaja awal itu. Di satu sisi, perasaan hancur dan dendam membara yang mendesaknya untuk merusak segalanya, membiarkan nilai-nilainya hancur, dan larut dalam depresi cinta remaja yang toxic. Di sisi lain, cita-cita dan harga diri yang berteriak mengingatkannya bahwa masa depannya terlalu mahal untuk ditumbalkan demi seorang lelaki pengecut.

Queena membasuh wajahnya dengan air dingin. Menatap tajam bayangannya di cermin.

“Kamu mau menghancurkan masa depanmu hanya untuk membuktikan bahwa tebakan mereka benar? Bahwa kamu cuma anak kecil yang lemah?” tanyanya pada diri sendiri.

Tidak. Queena menolak kalah. Kalau Mas Tama menggunakan keahlian Matematikanya untuk meremehkan orang, maka Queena akan menggunakan otak dan penanya untuk membalas dengan cara yang paling elegan. Kesuksesan yang tak tergapai oleh mereka.

Queena mengambil tasnya, berjalan keluar dari toilet dengan dagu tegak. Rasa kecewa dan benci itu tidak hilang, perasaan itu masih ada dan amat menyakitkan, namun kini Queena telah mengubah racun itu menjadi bahan bakar. Labirin remaja ini memang penuh jebakan, tetapi malam ini, di atas kertas putih bergarisnya, di dalam buku diarinya,  Queena tidak lagi menulis puisi cengeng tentang cinta. Ia menulis babak baru tentang ambisinya. Meninggalkan Mas Tama dan Alza di belakang sebagai serpihan masa lalu yang remeh.

---------

*        Penulis

Minggu, 17 Mei 2026

“SELAMAT TINGGAL LUKA”


by: Hariyanto

“Yah, kenapa luka itu rasanya lama sekali sembuh?”Suara Queena memecah sunyi di teras rumah. Gadis itu duduk memeluk lutut, memandangi langit yang mulai menguning diterpa senja. Wajahnya muram, matanya sembab seperti sudah terlalu sering menahan tangis.

Ayahnya, yang duduk di kursi kayu sambil memegang secangkir teh hangat, menoleh pelan.

“Luka yang mana?” tanyanya lembut.
Queena tersenyum hambar. “Semua luka. Luka karena dikecewakan. luka karena kehilangan. Luka karena masa lalu yang nggak bisa diubah.”
Ayah terdiam beberapa saat, lalu meletakkan cangkirnya.
“Kalau kamu jatuh dan lututmu terluka, apa yang kamu lakukan?”
“Dibersihkan, diobati, lalu ditunggu sembuh.”
Ayah mengangguk. “Kenapa?”
“Kalau nggak, bisa infeksi.”
“Nah,” katanya sambil tersenyum tipis, “hati juga begitu.”
Queena menatap ayahnya, lalu tertawa kecil tanpa benar-benar merasa lucu.
“Kalau hati lebih sulit, Yah. Nggak kelihatan lukanya.”
“Itulah kenapa banyak orang berpura-pura baik-baik saja, padahal lukanya makin dalam.”
Angin sore bertiup pelan, menggoyangkan daun-daun mangga di halaman.
Queena menunduk. “Kadang aku capek. Rasanya sakit hati ini nggak selesai-selesai. Aku sudah mencoba melupakan, tapi kenangan buruk itu selalu datang lagi.”
Ayah menghela napas panjang, seperti sedang mencari kata yang paling tepat.
“Queena, sembuh itu bukan berarti kamu menghapus semua yang pernah terjadi.”
“Lalu?”
“Sembuh berarti kamu berhenti membiarkan masa lalu mengendalikan masa depanmu.”
Kalimat itu membuat Queena terdiam.
Ia memikirkan banyak hal. Malam-malam penuh tangis, rasa marah yang tak sempat diluapkan, dan pertanyaan “kenapa aku?” yang terus berulang di kepalanya.
“Tapi kenapa orang harus mengalami luka separah itu?” tanyanya lirih.
Ayah memandang langit yang semakin jingga.
“Kadang hidup tidak meminta izin sebelum memberi badai. Kita tidak selalu bisa memilih apa yang menimpa kita.”
“Jadi kita cuma harus menerima?”
“Bukan menyerah,” jawab ayah cepat. “Menerima berbeda dengan menyerah.”
Queena mengernyit.
“Menerima adalah berkata "Ya, ini pernah terjadi. Ya, ini menyakitkan. Tapi aku tidak akan tinggal di sana selamanya.”
Ayah menoleh padanya.
“Kamu tahu, Nak, ada dua pilihan setelah seseorang terluka.”
“Apa?”
“Yang pertama, menjadikan luka itu rumah. Tinggal di dalamnya, meratapi apa yang hilang, memeluk rasa sakit seolah itu satu-satunya hal yang tersisa.”
Queena menelan ludah.
“dan yang kedua?”
“Menjadikan luka itu guru.”
Queena terdiam lebih lama kali ini.
Ayah melanjutkan, “Luka bisa mengajarimu mana yang perlu dilepas, mana yang layak diperjuangkan, dan seberapa kuat dirimu sebenarnya.”
“Tapi aku nggak merasa kuat.”
“Karena kamu mengira kuat itu artinya tidak menangis.”
Ayah tersenyum hangat.
“Padahal kuat kadang sesederhana tetap bangun di pagi hari ketika hatimu masih berat. Tetap mencoba percaya lagi setelah pernah dikhianati. Tetap melangkah meski kakimu gemetar.”
Mata Queena mulai berkaca-kaca.
“Aku takut kalau masa lalu ini akan terus menghantuiku.”
Ayah mengusap kepala putrinya perlahan.
“Masa lalu itu seperti bayangan, Queena. Ia selalu ada saat ada cahaya. Kamu tidak perlu menghilangkannya.”
“Lalu?”
“Cukup terus berjalan. Semakin kamu bergerak menuju cahaya, bayangan itu akan tetap di belakangmu.”
Air mata akhirnya jatuh dari mata Queena. Bukan tangis meledak-ledak, melainkan seperti sesuatu yang perlahan luruh setelah terlalu lama dipendam.
“Kalau aku gagal sembuh?”


Ayah tersenyum.
“Sembuh bukan ujian dengan nilai lulus atau gagal.”
“Terus?”
“Sembuh adalah perjalanan. Ada hari di mana kamu merasa baik-baik saja, ada hari di mana luka terasa terbuka lagi. Itu normal.”
Queena menghapus air matanya.
“Jadi aku nggak harus buru-buru sembuh?”
“Tidak.”
Ayah mengambil cangkirnya kembali.
“Bunga tidak dipaksa mekar dalam semalam. Tapi ia tetap tumbuh, sedikit demi sedikit. Anakku, Ayah dan Bunda akan selalu bersamamu. Percayalah, di dunia ini hanya ada seorang lelaki  yang tidak merasa tersaingi dan justru merasa bangga atas keberhasilanmu, dia adalah Ayah. dan hanya ada seorang perempuan yang bersedia menerima kamu apa pun kondisimu, dia adalah  Bunda.”
Queena tersentak dengan perkataan ayah dan langsung menghambur dalam tangis bahagia di dada Ayahnya.
Senja hampir selesai. Langit berubah dari jingga menjadi ungu gelap.
Queena menarik napas panjang, seolah untuk pertama kalinya dadanya punya ruang lebih luas.
“Ayah?”
“Hmm?”
“Aku rasa aku tahu pilihanku sekarang.”
Ayah menatapnya penuh tanya.
“Aku capek terus hidup di masa lalu.”
Ayah tersenyum lebar, lebih lega daripada yang bisa ia ungkapkan.
“Itu keputusan yang berani.”
Queena menatap ke depan, ke jalan kecil di depan rumah yang perlahan diselimuti lampu-lampu malam.
Masa lalunya tidak hilang. Lukanya belum sepenuhnya tertutup.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya, ia tidak lagi memandang ke belakang.
Ia memilih tumbuh. karena Queena tahu bahwa terkadang, kesembuhan memang dimulai bukan saat rasa sakit hilang, melainkan saat seseorang akhirnya berkata pada dirinya sendiri:
"Aku pantas punya masa depan yang lebih baik daripada luka-lukaku."

_______
* Penulis adalah Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Sabtu, 07 Februari 2026

MEREKA YANG MENUNGGU DI UJUNG GANG


 Oleh: Shakayla Adzkiya El Queena

Di ujung sebuah gang sempit, berdiri rumah tua yang seolah lupa kapan terakhir kali didatangi tamu. Catnya mengelupas, pintunya berderit pelan saat tertiup angin, dan jendelanya selalu terbuka seperti sedang menunggu seseorang datang.

Di rumah itu tinggal seorang nenek bernama Sari dan cucunya, Bima. Mereka hidup dari hari ke hari, bukan dari mimpi ke mimpi. Setiap pagi, Bima berjalan menyusuri gang membawa kaleng bekas biskuit. Ia mengumpulkan botol plastik, kardus basah, dan apa pun yang bisa ditukar dengan beberapa keping uang. Sementara itu, Nenek Sari menunggu di rumah dengan napas yang semakin pendek dan doa yang semakin panjang.

“Jangan takut miskin, Nak,” kata Nenek suatu hari, sambil mengelus rambut cucunya.
“Takutlah kalau hatimu ikut menjadi sempit.”

Namun tubuh Nenek tak sekuat hatinya. Usianya telah mengajarinya banyak hal, kecuali bagaimana cara meminta tolong.

Orang-orang di kampung itu sebenarnya tahu tentang mereka. Mereka sering melewati rumah itu, sering melihat Bima berjalan sendirian. Tetapi hidup membuat banyak orang lupa bahwa melihat tidak selalu berarti peduli.

Mereka berkata, “Kasihan ya.” Lalu berjalan lagi.

Padahal, kasihan yang tak diikuti tindakan hanyalah suara tanpa makna.

Suatu hari, Nenek Sari jatuh sakit. Ia tak mampu bangun dari tikarnya. Bima duduk di sampingnya, menggenggam tangan yang mulai dingin.

“Nek, hari ini kita makan apa?” tanya Bima pelan.

Nenek tersenyum lemah. “Kita makan sabar dulu, Nak.”

Bima mengetuk beberapa pintu. Ada yang tak mendengar. Ada yang pura-pura tak ada. Ia pulang dengan langkah kecil dan mata yang basah.

Hari-hari berlalu dengan perut yang semakin kosong dan tubuh yang semakin ringan, seolah hidup perlahan mengajarkan mereka cara menghilang. Tak ada teriakan. Tak ada berita.
Tak ada yang benar-benar tahu. Hingga suatu pagi, gang itu terasa berbeda. Sunyinya lebih berat dari biasanya. Seorang warga akhirnya masuk ke rumah itu dan mendapati dua tubuh yang terbaring diam, seperti sedang tidur panjang tanpa mimpi.

Di atas meja reyot, ada secarik kertas bertuliskan: “Kami tidak lapar perhatian,
kami hanya lupa bagaimana cara meminta.”

Kampung itu gempar. Orang-orang datang dengan wajah terkejut dan mata penuh penyesalan. “Seandainya kita tahu…” “Seandainya kita lebih peka…”

Namun, penyesalan selalu datang setelah kepedulian terlambat.

Sejak hari itu, gang sempit itu berubah. Orang-orang mulai saling menyapa. Mulai bertanya jika tetangga tak terlihat. Mulai mengerti bahwa hidup bukan hanya tentang bertahan sendiri, tetapi tentang saling menguatkan. Mereka sadar, bahwa kemiskinan bukan hanya soal tak punya makanan, tetapi soal tak punya siapa-siapa. Dan kepedulian bukan tentang seberapa besar yang kita beri, melainkan seberapa cepat kita hadir saat orang lain mulai menghilang dalam diam.

Nenek Sari dan Bima tak pernah kembali. Namun kisah mereka tinggal, menjadi cermin bagi hati yang hidup:

 “Jika satu tangan mau menolong, mungkin satu nyawa tak perlu menyerah.”

“Hidup bukan soal siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang mau menguatkan.”

“Orang miskin tak selalu butuh uang, kadang mereka hanya butuh diingat.”

Kini, rumah di ujung gang itu tak lagi kosong. Ia menjadi pengingat: bahwa setiap pintu yang kita tutup dari sesama, bisa menjadi pintu terakhir bagi seseorang. Dan sejak kisah itu,

orang-orang belajar satu hal sederhana: Menjadi manusia, bukan hanya tentang hidup,
tetapi tentang peduli.

----------  

* Penulis adalah siswi kelas IX MTs Negeri 2 Ponorogo

Kamis, 13 November 2025

MENDENGAR TASBIH SEMESTA YANG TERLUKA: SEBUAH KAJIAN KRITIS ATAS PUISI "RATAPAN DOA SEMESTA" KARYA: SHAKAYLA ADZKIYA EL QUEENA

 

Afrilia Eka Prasetyawati, M.Pd *
Sahabat inspirasi pendidikan, Sebuah karya sastra sering digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan indah, namun efektif. meskipun demikian terkadang kita harus menyelami pikiran dan pesan dari penulisnya. Kali ini saya akan menyingkap tabir pesan dalam puisi yang ditulis oleh penyair yang masih belia, yaitu Shakayla Adzkiya El Queena Harfianto. Judul puisi yang ditulisnya adalah Ratapan Doa Semesta. Agar lebih bisa memahami secara  utuh berikut saya sertakan puisi yang ditulisnya.

RATAPAN DOA SEMESTA 
KARYA : SHAKAYLA ADZKIYA EL QUEENA HARFIANTO

Langit tak lagi biru, temaram bersyahadat menyebut asmaMU
Diantara kilatan cahaya petir dan kabut gelap 
Gunung dalam diam bertafakkur bersujud dibawah kabut 
Menyimpan tasbih pada batu-batu yang dicongkel keserakahan 
Air setia mengalirkan do’a yang tak pernah didengar anak manusia 
Jerit burung melafalkan takbir di kala fajar, dianggapnya nyanyian belaka

Manusia… manusia…
Selalim itukah engkau, hingga tega mencabik-cabik semesta 
Menanam bumi dengan pasak-pasak besi 
Mencincang isi perutnya demi tambang 
Selalim itukah engkau, hingga tega menodai semesta 
Meracuni angkasa dengan asap-asap  berlaksa 
Kerakusan demi kerakusan terbungkus diksi pembangunan

Sungai berdoa dalam keruhnya.
” Ya, Rabb, aku dulu jernih membawa kehidupan, kini aku penuh dengan bangkai kesombongan.” 
Namun manusia  menutup telinga dari doa air yang luka. 
Pohon-pohon merenung dalam dzikir panjangnya
Daun-daunnya luruh seperti tasbih yang putus dibabat nafsu 
Bumi, menahan rintih seraya berdoa “Kuatkan aku ya Allah” 
Meski rahimnya gersang  terpanggang

Ya Allah, yang Maha Lembut 
Engkau masih menulis kasih diantara kehancuran alam 
Setiap petir yang kau kirim adalah peringatan-Mu 
Setiap longsor adalah teguran lembut dari –Mu 
Setiap bumi berguncang adalah bentuk sapaan-Mu 
Tapi kami  tak mampu membaca titahMu 

Ya Allah, Ya Ghaffar izinkan hamba bersujud di atas tanah yang kami lukai 
Dengan air mata sebagai hujan penebus 
Untuk menumbuhkan rasa dan logika
bahwa setiap daun, setiap angin, setiap badai
adalah ayat ayat kauniyah yang kami dustakan sekian lama
Sungguh semesta ini adalah kitab-Mu yang terbuka.
Ajarilah kami kembali mendengar tasbih semesta
Yang menuntun kami menuju  jalan pulang.

Ponorogo, 22 Oktober  2025

Sekarang mari kita dalami isi puisi tersebut melalui artikel ini. Artikel ini akan mengulas puisi tersebut, tidak hanya sebagai karya seni, tetapi sebagai sebuah dokumen empirik yang merekam jejak spiritualitas dalam krisis lingkungan.

Di tengah hiruk-pikuk diskursus tentang krisis iklim yang seringkali terjebak dalam data statistik dan jargon teknis, muncul sebuah suara liris yang mengingatkan kita pada akar spiritual dari bencana ekologis. Suara itu hadir dalam puisi "Ratapan Doa Semesta", karya Shakayla Adzkiya El Queena Harfianto. Jauh dari sekadar keluhan, puisi ini adalah sebuah teofani, sebuah penyingkapan kesakralan alam yang dicederai, sekaligus sebuah kritik tajam terhadap antroposentrisme yang dibungkus dalam "diksi pembangunan".

Antara Tasbih dan Eksploitasi: Diksi sebagai Medan Laga
Kekuatan analitis (kajian empirik) utama dari puisi ini terletak pada penggunaan diksi yang sangat kontras. Shakayla secara brilian mempertentangkan dua leksikon (kosakata) yang saling bertarung: leksikon spiritualitas alam dan leksikon kekerasan industrial. Di satu sisi, semesta digambarkan dalam aktivitas ibadah yang khusyuk. Kita menemukan kata-kata seperti: bersyahadat, bertafakkur, bersujud, tasbih, takbir, dan dzikir panjang. Langit, gunung, air, dan burung bukan sekadar objek, melainkan subjek yang aktif memuji Sang Pencipta. Di sisi lain, hadir leksikon brutal yang mewakili tindakan manusia: dicongkel keserakahan, mencabik-cabik, menanam... pasak-pasak besi, mencincang isi perutnya, meracuni, dan dibabat nafsu.

Pertarungan empirik dalam puisi ini terjadi ketika aktivitas sakral alam dilanggar oleh aktivitas profan manusia. Gunung dalam diam bertafakkur sementara batu-batu (tempatnya bertasbih) dicongkel keserakahan. Jerit burung melafalkan takbir namun dianggapnya nyanyian belaka. Ini adalah kritik pedas: manusia tidak hanya merusak alam, tetapi telah tuli secara spiritual, gagal membedakan antara takbir dan nyanyian.

Pembangunan sebagai Eufemisme Kerakusan

Puisi ini mencapai puncak kritik sosialnya dalam satu baris yang menohok: Kerakusan demi kerakusan terbungkus diksi pembangunan.

Ini adalah pengamatan empirik yang tajam. Sang penyair remaja  ini mampu mengidentifikasi bahwa kata "pembangunan" seringkali berfungsi sebagai eufemisme, penghalusan bahasa, untuk menutupi motif sebenarnya, yaitu kerakusan dan eksploitasi. "Mencincang isi perutnya demi tambang" secara politis sering disebut sebagai "pembukaan lapangan kerja" atau "peningkatan pendapatan daerah".

Shakayla, melalui puisinya, menelanjangi eufemisme ini. Ia menunjukkan bahwa di balik retorika kemajuan, ada bangkai kesombongan yang mengotori sungai dan daun-daun luruh seperti tasbih yang putus.

Alam sebagai Kitab yang Terbuka

Analisis puisi ini tidak lengkap tanpa memahami kerangka teologis yang diusungnya. Krisis yang digambarkan bukanlah sekadar krisis ekologi, melainkan krisis teologi. Bencana alam yang terjadin seperti petir, longsor, bumi berguncang, secara eksplisit ditafsirkan bukan sebagai fenomena acak, melainkan sebagai "pesan" dari Tuhan.

Puisi ini menyebutnya: peringatan-Mu, teguran lembut dari-Mu, dan bentuk sapaan-Mu.

Masalahnya, manusia telah kehilangan kemampuan hermeneutiknya. Kita gagal menafsirkan pesan tersebut. Tapi kami tak mampu membaca titahMu. Kegagalan membaca inilah yang menjadi dosa terbesar. Penyair menegaskan ini di akhir puisi. Alam semesta diidentifikasi sebagai ayat-ayat kauniyah (ayat-ayat alam) dan kitab-Mu yang terbuka. Kita telah mendustakan ayat-ayat tersebut begitu lama sehingga kita lupa cara membacanya. Kerusakan lingkungan, dalam optik puisi ini, adalah bukti kebutaan kita dalam membaca "Kitab Semesta".


Kesimpulan: Doa untuk Menumbuhkan Rasa dan Logika
"Ratapan Doa Semesta" adalah sebuah karya yang matang. Ia berhasil melampaui sekadar puisi protes lingkungan. Ini adalah sebuah elegi, sebuah kritik sosial, dan sebuah doa pertobatan yang mendalam. Puisi ini tidak berhenti pada kemarahan, tetapi bergerak menuju resolusi spiritual. Solusi yang ditawarkan bukanlah solusi teknokratis, melainkan solusi batiniah: izinkan hamba bersujud di atas tanah yang kami lukai,  Dengan air mata sebagai hujan penebus.

Tujuannya? Untuk menumbuhkan rasa dan logika. Sebuah penutup yang indah. Shakayla tidak menolak logika (yang sering diidentikkan dengan "pembangunan"), tetapi ia ingin logika itu ditumbuhkan kembali di atas tanah pertobatan, disirami oleh "rasa" (empati dan spiritualitas).

Pada akhirnya, puisi ini adalah panggilan untuk "pulang". sebuah ajakan untuk kembali belajar mendengar tasbih semesta sebagai penuntun jalan kita. Sebuah karya yang kuat, relevan, dan sangat dibutuhkan di zaman ini. Shakayla, sang penyair muda ini mampu membingkainya dala karya yang indah namun syarat makna yang mendalam.

----------------------------
*
Penulis adalah pemerhati bidang sastra

Selasa, 30 September 2025

RAJA HUTAN YANG BIJAKSANA

 

Oleh: Shamita Maulida EL Queena Harfianto*

Di sebuah hutan yang rimbun dan penuh kehidupan, hiduplah berbagai macam hewan. Hutan itu dipimpin oleh seekor singa bernama Leo, yang dikenal sebagai raja hutan. Leo adalah singa yang kuat dan berani, tetapi ia juga memiliki hati yang baik. Ia selalu berusaha untuk menjaga kedamaian dan keharmonisan di antara semua penghuni hutan.

Suatu hari, saat matahari terbenam, Leo mengumpulkan semua hewan di padang terbuka untuk mengumumkan sesuatu yang penting. Semua hewan berkumpul, mulai dari tupai yang lincah hingga gajah yang besar. Mereka semua penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh raja mereka.

“Saudaraku, aku mengumpulkan kalian di sini untuk membahas sesuatu yang sangat penting,” kata Leo dengan suara yang dalam dan tegas.

“Kita semua tahu bahwa hutan ini adalah rumah kita, dan kita harus menjaga keharmonisannya. Namun, aku merasa bahwa kita perlu lebih banyak bekerja sama untuk menghadapi tantangan yang mungkin datang.”

Semua hewan mengangguk setuju. Mereka tahu bahwa hutan bisa menjadi tempat yang berbahaya, terutama ketika musim kemarau tiba dan makanan mulai menipis. Leo melanjutkan, “Aku ingin kita membentuk sebuah Dewan Hutan, di mana setiap hewan dapat mengirimkan perwakilan untuk berbicara dan memberikan pendapat. Dengan cara ini, kita bisa saling mendukung dan menemukan solusi untuk masalah yang kita hadapi.”

Saran Leo disambut baik oleh semua hewan. Mereka setuju untuk memilih perwakilan dari setiap spesies. Setelah beberapa hari, Dewan Hutan pun terbentuk. Perwakilan dari berbagai hewan berkumpul di bawah pohon besar yang menjadi tempat pertemuan mereka. Ada Kiki si Kelinci, yang dikenal karena kecerdasannya; Gino si Gajah, yang bijaksana dan kuat; dan Titi si Burung Hantu, yang selalu memiliki pandangan yang tajam.

Pertemuan pertama Dewan Hutan dimulai dengan semangat. Kiki mengusulkan agar mereka membuat rencana untuk mengumpulkan makanan sebelum musim kemarau tiba.

“Kita harus bekerja sama untuk mengumpulkan makanan sebanyak mungkin, agar semua hewan bisa bertahan hidup,” ujar Kiki.

Gino menambahkan, “Kita juga perlu membuat tempat persembunyian untuk melindungi makanan kita dari hewan-hewan lain yang mungkin ingin mencurinya.”

Titi, yang selalu berpikir jauh ke depan, berkata, “Kita harus memastikan bahwa semua hewan, besar atau kecil, memiliki akses ke makanan. Kita tidak boleh membiarkan siapa pun kelaparan.”

Semua hewan setuju dengan ide-ide tersebut, dan mereka mulai merencanakan langkah-langkah yang perlu diambil. Mereka membagi tugas, dan setiap hewan berkomitmen untuk melakukan bagian mereka. Kiki dan teman-temannya mulai mengumpulkan buah-buahan dan sayuran, sementara Gino membantu mengangkut makanan yang lebih berat. Titi terbang tinggi untuk mencari tahu di mana makanan melimpah.

Namun, tidak semua hewan setuju dengan rencana ini. Di sisi lain hutan, ada seekor serigala bernama Riko yang merasa terancam dengan kerjasama ini. Riko adalah hewan yang egois dan selalu berpikir hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Ia merasa bahwa jika hewan-hewan lain bekerja sama, ia tidak akan bisa mendapatkan makanan dengan mudah.

Riko pun merencanakan sesuatu. Ia mengumpulkan beberapa hewan lain yang juga merasa tidak senang dengan Dewan Hutan dan mengajak mereka untuk bergabung.

“Mengapa kita harus mendengarkan singa dan hewan-hewan lain? Kita bisa mengambil makanan mereka tanpa harus berbagi,” katanya dengan suara menggoda.

Beberapa hewan, seperti rubah dan tikus, terpengaruh oleh kata-kata Riko dan setuju untuk membantunya. Mereka mulai merencanakan untuk mencuri makanan yang telah dikumpulkan oleh hewan-hewan lain.

Sementara itu, di sisi lain hutan, Dewan Hutan terus bekerja keras. Mereka berhasil mengumpulkan banyak makanan dan menyimpannya di tempat yang aman. Leo merasa bangga dengan kerja sama yang ditunjukkan oleh semua hewan. Namun, ia juga merasa khawatir tentang Riko dan rencananya.

Suatu malam, saat semua hewan sedang tidur, Riko dan kelompoknya melancarkan aksinya. Mereka menyusup ke tempat penyimpanan makanan dan mulai mencuri makanan yang telah dikumpulkan. Namun, Kiki si Kelinci yang sedang berjaga melihat mereka dan segera memberi tahu Leo.

Leo segera memanggil semua hewan untuk berkumpul.

“Kita harus menghentikan Riko dan kelompoknya sebelum mereka mengambil semua makanan kita!” serunya.

Semua hewan bersiap untuk menghadapi situasi ini.

Ketika Riko dan kelompoknya sedang mengangkut makanan, mereka terkejut melihat Leo dan semua hewan lainnya mendatangi mereka.

“Berhenti! Apa yang kalian lakukan?” teriak Leo dengan suara menggelegar.

Riko, yang tidak mau mengakui kesalahannya, menjawab,

“Kami hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milik kami. Kami tidak butuh Dewan Hutan untuk memberi tahu kami apa yang harus dilakukan!”

Leo menatap Riko dengan tegas.

“Kau tidak bisa mengambil makanan orang lain tanpa izin. Hutan ini adalah rumah kita semua, dan kita harus saling menghormati dan bekerja sama.”

Kiki, yang merasa berani, melangkah maju.

“Kami telah bekerja keras untuk mengumpulkan makanan ini. Jika kau membutuhkan makanan, kami bisa membantumu, tetapi bukan dengan cara mencuri!”

Riko merasa terpojok. Ia tidak menyangka bahwa hewan-hewan lain akan bersatu melawan tindakan egoisnya.

“Aku tidak butuh bantuan dari kalian!” teriaknya, tetapi suaranya mulai terdengar lemah.

Gino, dengan suara lembut namun tegas, berkata, “Kami semua adalah bagian dari hutan ini. Jika kita tidak saling mendukung, kita semua akan menderita. Mari kita bicarakan ini dengan baik.”

Akhirnya, Riko menyadari bahwa ia tidak bisa melawan semua hewan yang bersatu. Ia merasa malu dan bingung. Leo melihat kesempatan untuk mengubah keadaan.

“Riko, jika kau mau, kami bisa membantumu. Bergabunglah dengan kami di Dewan Hutan, dan kita bisa mencari solusi bersama.”

Riko terdiam sejenak. Ia tidak pernah berpikir untuk bergabung dengan mereka. Namun, melihat betapa kuatnya persahabatan dan kerjasama di antara hewan-hewan lain, ia merasa tergerak. “Baiklah, aku akan mencoba,” jawabnya pelan.

Sejak saat itu, Riko mulai belajar tentang arti kepemimpinan dan pertemanan. Ia menyaksikan bagaimana semua hewan bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik. Ia mulai berpartisipasi dalam Dewan Hutan dan memberikan ide-ide yang bermanfaat.

Dengan waktu, Riko berubah menjadi hewan yang lebih baik. Ia tidak lagi merasa perlu untuk mencuri, karena ia tahu bahwa dengan bekerja sama, semua hewan bisa mendapatkan apa yang mereka butuhkan. Persahabatan yang terjalin di antara mereka semakin kuat, dan hutan pun menjadi tempat yang lebih harmonis.

Leo, sebagai raja hutan, merasa bangga dengan perubahan yang terjadi. Ia menyadari bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang kekuatan, tetapi juga tentang mendengarkan, memahami, dan membangun hubungan yang baik dengan semua penghuni hutan.

Dewan Hutan terus berfungsi dengan baik, dan semua hewan belajar untuk saling menghormati dan mendukung satu sama lain. Mereka mengadakan pertemuan rutin untuk membahas masalah yang dihadapi dan merayakan keberhasilan bersama. Hutan itu menjadi contoh bagi hutan-hutan lain tentang bagaimana kepemimpinan yang bijaksana dan persahabatan yang tulus dapat mengatasi segala rintangan.

Cerita ini mengajarkan kita bahwa kepemimpinan yang baik tidak hanya berasal dari kekuatan, tetapi juga dari kemampuan untuk mendengarkan dan bekerja sama. Persahabatan yang tulus dapat mengubah sikap dan membantu kita mengatasi tantangan yang ada. Dengan saling mendukung, kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih baik untuk semua.

 * Penulis adalah Siswi kelas 5 SDIT Qurrota A'yun Ponorogo