f ' Inspirasi Pendidikan: Pengembangan Diri

Inspirasi Pendidikan untuk Indonesia

Pendidikan bukan cuma pergi ke sekolah dan mendapatkan gelar. Tapi, juga soal memperluas pengetahuan dan menyerap ilmu kehidupan.

Bersama Bergerak dan Menggerakkan pendidikan

Kurang cerdas bisa diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki (Bung Hatta)

Berbagi informasi dan Inspirasi

Tinggikan dirimu, tapi tetapkan rendahkan hatimu. Karena rendah diri hanya dimiliki orang yang tidak percaya diri.

Mari berbagi informasi dan Inspirasi

Hanya orang yang tepat yang bisa menilai seberapa tepat kamu berada di suatu tempat.

Mari Berbagi informasi dan menginspirasi untuk negeri

Puncak tertinggi dari segala usaha yang dilakukan adalah kepasrahan.

Tampilkan postingan dengan label Pengembangan Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengembangan Diri. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Agustus 2025

MENGIKIS NASIONALISME SEMU PADA GENERASI MUDA DI ERA GLOBAL

Oleh: Dr. Hariyanto, M.Pd

Era globalisasi semakin cepat berkembang, keberadaan nasionalisme sebagai identitas kolektif bangsa menghadapi tantangan besar dari dinamika sosial, budaya, dan teknologi yang tidak bisa diabaikan. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi membuka akses luas terhadap berbagai budaya asing dan informasi global, sehingga memunculkan kecenderungan untuk mengadopsi nilai-nilai asing yang terkadang bertentangan dengan identitas nasional. Perkembangan media sosial turut memperkuat arus globalisasi, yang tidak hanya mempermudah komunikasi lintas negara, tetapi juga berpotensi menyebarkan pemikiran yang bersifat individualistik dan kosmopolitan tanpa mempertimbangkan aspek kebangsaan. Konsekuensinya, munculnya fenomena “nasionalisme semu”, yaitu kesadaran kultural dan identitas bangsa yang dangkal dan tidak disertai dengan pemahaman mendalam terhadap makna kebangsaan. Hal ini menjadi tantangan serius bagi generasi muda. Fenomena ini diwarnai oleh meningkatnya kecenderungan untuk mengadopsi simbol-simbol nasional secara superficial, tanpa melibatkan komitmen kuat terhadap nilai-nilai dan keberlanjutan budaya bangsa.
Globalisasi membawa dampak besar terhadap kesadaran nasionalisme generasi muda di era modern. Di satu sisi, arus globalisasi memungkinkan penyebaran budaya, informasi, dan teknologi secara luas dan cepat, yang dapat memperkaya wawasan serta memperkuat semangat keterbukaan. Namun, di sisi lain, fenomena ini juga berpotensi melemahkan rasa identitas nasional karena pengaruh budaya asing yang masuk tanpa kendali, serta pola pikir yang lebih mengedepankan kepentingan individu atau global ketimbang kepentingan bangsa sendiri. Media sosial dan platform digital memfasilitasi pertukaran budaya lintas negara secara instan, sehingga generasi muda sering terpengaruh nilai-nilai yang bersifat kosmopolitan dan konsumtif, yang mungkin bertentangan dengan prinsip nasionalisme. Terlebih lagi, keterbukaan informasi secara luas dapat menyebabkan ketidakpastian identitas dan munculnya nasionalisme semu, yaitu perasaan bangga yang dangkal tanpa pemahaman mendalam terhadap jati diri bangsa. Oleh karena itu, tantangan utama dalam menjaga nasionalisme di tengah derasnya arus globalisasi adalah bagaimana membangun kesadaran akan pentingnya identitas nasional yang kokoh, sekaligus mampu bersaing secara global.
Strategi yang efektif meliputi penguatan pendidikan karakter dan budaya lokal yang relevan dalam kurikulum, serta peningkatan kegiatan sosial dan budaya yang memperkenalkan nilai-nilai bangsa secara langsung kepada generasi muda. Dengan demikian, meskipun globalisasi membuka peluang untuk saling memahami antar bangsa, penting untuk tetap menjaga dan memperdalam rasa bangga terhadap identitas bangsa agar tidak tergeser oleh arus luar yang bersifat sementara dan superficial.
Peran pendidikan dalam memperkuat nasionalisme menjadi salah satu aspek krusial dalam menghadapi tantangan nasionalisme semu di era globalisasi. Sistem pendidikan memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan nilai-nilai kebangsaan secara efektif dan membentuk identitas nasional yang kokoh pada generasi muda. Kurikulum pendidikan harus mampu mengintegrasikan materi yang menanamkan apresiasi terhadap budaya, sejarah, dan simbol-simbol kebangsaan secara mendalam. Dengan demikian, peserta didik tidak sekadar memahami secara teoritis, tetapi juga merasakan kedekatan emosional terhadap bangsa dan tanah airnya.
Selain itu, pendidikan karakter menjadi pondasi utama dalam membangun nasionalisme yang berkelanjutan. Pengajaran nilai-nilai seperti cinta tanah air, rasa hormat terhadap keragaman budaya, dan kejujuran perlu dijadikan bagian integral dari proses pendidikan. Melalui kegiatan belajar yang menanamkan kedisiplinan, tanggung jawab sosial, dan kebersamaan, siswa secara aktif belajar menghargai identitas nasional dan menginternalisasi semangat nasionalisme.
Penyelenggaraan program inovatif seperti proyek budaya, karya siswa, dan kegiatan keaspirasian nasional sangat efektif untuk menumbuhkan rasa bangga sebagai warga negara. Dalam konteks globalisasi, pendidikan harus mampu menyoroti keunikan dan kekayaan budaya nasional agar tetap relevan dan menarik perhatian generasi muda. Dengan pendekatan yang komprehensif, peran pendidikan dalam memperkuat nasionalisme menjadi lebih efektif dalam membangun identitas bangsa yang kuat dan mampu bersaing di tingkat global.
Moment peringatan kemerdekaan RI yang ke -80 dapat menjadi saat yang tepat untuk membangkitkan nasionalisme. Di seluruh penjuru negeri, bendera merah putih dikibarkan, berbagai bentuk karnaval pendidikan, bermacam perlombaan mulai di tingkat RT, Desa, lembaga pendidikan dari jenjang dasar sampai perguruan tinggi diselenggarakan secara meriah. Hal tersebut merupakan upaya positif membangkitkan rasa kecintaan dan syukur terhadap kemerdekaan negara Indonesia. Tetapi akan lebih bagus lagi jika berbagai macam perlombaan yang diadakan berbasis pada outcome untuk mencintai tanah air, bukan sekedar bergembira dan minim konten pendidikannya.
Strategi mengikis nasionalisme semu harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan dengan pendekatan yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat. Pertama, penguatan pendidikan nasional yang komprehensif menjadi fondasi utama. Kurikulum harus mencakup sejarah, budaya, dan nilai-nilai bangsa agar generasi muda mampu memahami identitas bangsa secara autentik dan menghargai keberagaman budaya. Selain itu, pendidikan karakter perlu diarahkan untuk menanamkan rasa bangga terhadap budaya lokal dan semangat kebangsaan yang tulus, bukan sekadar simbolis atau semu.
Kedua, perlu dilakukan kampanye kesadaran nasional secara menyasar langsung ke generasi muda melalui media yang mereka konsumsi sehari-hari, seperti media sosial dan platform digital. Kampanye ini harus mampu menyampaikan pesan yang edukatif dan inspiratif tentang pentingnya nasionalisme yang nyata dan kesejatian identitas bangsa. Melalui pesan yang menggugah, diharapkan mampu membangkitkan rasa cinta tanah air yang tidak terpengaruh oleh opini semu yang dipicu oleh globalisasi.
Ketiga, kegiatan sosial dan budaya merupakan sarana efektif dalam memperkuat rasa kebangsaan. Melalui partisipasi dalam kegiatan sukarela, festival budaya, dan acara komunitas lainnya, generasi muda dapat merasakan langsung keberagaman dan kekayaan budaya bangsa, sehingga membangun rasa memiliki yang mendalam dan tulus. Kegiatan ini juga meningkatkan solidaritas dan mempererat hubungan antar warga sekaligus memupuk rasa bangga terhadap identitas nasional.
Menjaga dan merawat NKRI adalah kewajiban bagi seluruh elemen bangsa, mulai dari yang diberikan amanah menjadi pejabat publik, sampai kalangan rakyat jelata. Yang menjadi pimpinan dan memiliki kewenangan serta kekuasaan harus memberikan contoh teladan kepada rakyatnya bahwa nasionalisme diwujudkan dengan menjalankan tugas pokok dan fungsinya secara professional dan bertanggung jawab, tidak korupsi, dan benar-benar mementingkan rakyat. Nasionalisme sejati bukan terletak kepada mereka yang berkoar-koar sebagai nasionalis sejati, tetapi melakukan korupsi dan manipulasi. Nasionalisme sejati terlihat bagaimana mengabdi yang hakiki untuk kemajuan negeri.
Kepada seluruh generasi muda Indonesia, mari bangkit menjadikan nasionalisme terhadap Indonesia sebagai kebanggaan kolektif sebagai energi penggerak bagi bangsa yang berdaulat, sejahtera, dan maju bersama.( Hary, 17/08/2025)

--------   

* Penulis adalah dosen FTIK di UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo


Jumat, 13 Juni 2025

NASKAH LOMBA PIDATO TEMA: PENTINGNYA BERAKHLAQUL KARIMAH BAGI SEORANG PELAJAR


inspirasipendidikan.com_ Sahabat Inspirasi Pendidikan, kali ini kami akan berbagi satu naskah lomba pidato dengan tema pentingnya beraklaqul karimah bagi seorang pelajar. Tentu saja tema seperti ini sering dijumpai pada waktu pembaca akan mengikuti lomba pidato. Naskah pidato ini bisa digunakan dan diperkirakan waktunya tidak lebih dari 7 menit. Perhatikan betul tempo, ekspresi, intonasi, artikulasi dan tentu saja kepercayaan diri anda saat membawakan pidato ini. selamat mencoba dan teruslah berlatih sampai anda berhasil menjadi seorang orator yang hebat.

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ

yang saya hormati Dewan juri, dan

Hadirin Rohimakumulloh.

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan nikmat kepada kita, dari nikmat yang paling kecil, sampai nikmat yang paling besar, yaitu nikmat Iman dan Islam. Apa bukti kenikmatan itu? sampai detik ini kita tetap diberi keimanan dan secara istiqomah menjalankan perintah Alloh dalam Al Qur’an dan ajaran Rasulullah melalui Al Hadits.

Sholawat beserta salam marilah kita haturkan kepada junjungan kita, Baginda Nabi Muhammad SAW.

Hadirin Rohimakumulloh,

Dewan Juri yang terhormat,

Dalam kesempatan yang berbahagia ini, saya akan menyampaikan pidato dengan judul “Pentingnya berAkhlaqul Karimah Bagi Seorang Pelajar”

Bapak Ibu, teman-teman sekalian, Akhir-akhir ini kita mendengar berita anak-anak yang menjadi korban bully di sekolah.Tahu bully kan? Ya…itu bahasa Indonesianya Perundungan, yaitu sebuah perbuatan yang tidak menyenangkan seperti mengucilkan, menindas, menyusahkan orang lain dan berpotensi dilakukan berulang-ulang. Teman-teman pernah jadi korban bully di sekolah? Pernah membully? Astaghfirulloh, sesungguhnya bully ini adalah perbuatan yang tidak terpuji. Tentu saja perbuatan ini sangat dilarang oleh agama Islam. Sebagai pelajar kita tidak boleh melakukan perbuatan itu.

Sebagai pelajar Islam sudah seharusnya kita mencontoh Akhlaqul karimah yang dipraktekkan Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari. Al Qur’an secara tegas menerangkan:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا

Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Hadirin yang berbahagia, lantas contoh aklaqul karimah yang seperti apa yang seharusnya dilakukan oleh para pelajar?

Yang pertama, Akhlaq kepada Alloh SWT, apa maksudnya? Sebagai makhluk kita tidak boleh menyekutukan Alloh SWT, harus menjalankan peritahNya dan menjauhi laranganNya.

Yang kedua, Akhlaq kepada guru dan orang tua. Kita harus menghormati, berbakti kepada guru dan orang tua, menuruti semua nasehat-nasehatnya. InsyaAlloh keberkahan dan ridho dari beliau-beliau itu akan menjadi pintu pembuka untuk masa depan kita yang lebih baik.

Yang ketiga adalah Akhlaq terhadap ilmu pengetahuan, bahwa semua ilmu pengetahuan yang kita miliki harus bermanfaat untuk semua manusia, dan semua makhluk Alloh.

Dewan juri dan hadirin Rohimakumulloh,

Demikianlah yang bisa saya sampaikan. Semoga sebagai pelajar kita dapat memiliki dan mempraktekkan aklaqul karimah. Akhlaq yang terpuji sesuai tuntunan rasulullah.

Saya tutup pidato ini dengan pantun:

Ada cambuk ada cemeti
Jaga akhlak budi pekerti
Tabiat buruk segera diganti.
Simpan satu di dalam peti

 Billahi taufiq walhidaayah.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Rabu, 04 Juni 2025

ANTARA TEGAS DAN BERSAHABAT: HARAPAN SISWA TERHADAP SOSOK GURU BK DI ERA DIGITAL

 Oleh: Dr. Hariyanto, M.Pd

Era digital yang serba cepat dan kompleks ini, peran guru Bimbingan dan Konseling (BK) menjadi semakin penting namun juga semakin menantang. Perkembangan teknologi informasi yang pesat tidak hanya memengaruhi cara siswa belajar, tetapi juga memengaruhi dinamika psikososial mereka. Dalam konteks ini, muncul harapan baru dari siswa: sosok guru BK yang tidak hanya tegas dalam menegakkan aturan, tetapi juga bersahabat dan empatik dalam mendampingi mereka melewati fase-fase sulit kehidupan remaja.

Sayangnya, persepsi negatif terhadap guru BK masih cukup kuat di kalangan siswa. Banyak yang menganggap guru BK sebagai "polisi sekolah" yang tugasnya hanya menghukum atau mencari kesalahan. Hal ini tidak terlepas dari pendekatan yang terlalu represif dan kurang humanis yang masih sering dijumpai di sejumlah sekolah. Contohnya, praktik razia HP tanpa izin atau penyitaan barang pribadi tanpa prosedur yang jelas sering kali menimbulkan trauma dan hilangnya kepercayaan siswa.

Lebih jauh, praktik razia HP dan membuka isi percakapan pribadi siswa tanpa izin dapat melanggar prinsip dasar hak asasi manusia, termasuk hak atas privasi sebagaimana diatur dalam Pasal 28G UUD 1945 dan diperkuat oleh Pasal 26 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Dalam UU ITE, data pribadi dilindungi secara hukum, dan penyebaran maupun pengaksesan informasi pribadi tanpa izin dapat dipidana. Oleh karena itu, guru BK harus memahami bahwa niat baik sekalipun tidak membenarkan pelanggaran privasi siswa. Tanpa persetujuan tertulis atau dasar hukum yang kuat, praktik seperti membuka isi chat pribadi adalah bentuk pelanggaran hukum dan etika profesi.

Padahal, fungsi utama guru BK adalah membantu siswa memahami diri, mengatasi masalah, dan berkembang secara optimal, baik secara akademik, sosial, maupun emosional. Untuk itu, dibutuhkan pendekatan yang lebih adaptif dan relevan dengan zaman. Guru BK harus mampu menjembatani antara ketegasan dalam menegakkan norma dan sikap bersahabat yang membangun hubungan emosional yang sehat dengan siswa. Harus diingat bahwa Pelayanan bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu individu menemukan dan mengembangkan potensi dirinya, memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang efektif, mengenal dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya, dan merencanakan pilihan karir dan kehidupannya di masa depan.Tujuan mulya tersebut hendaknya dilakukan juga dengan cara yang tepat.

Hasil penelitian oleh Sari & Permana (2020) menunjukkan bahwa siswa lebih terbuka dan merasa nyaman berkonsultasi apabila guru BK menunjukkan sikap empatik, tidak menghakimi, dan bersedia mendengarkan secara aktif. Penelitian lain oleh Hidayati (2021) juga menegaskan bahwa pendekatan konseling yang humanistik dan non-represif meningkatkan efektivitas layanan konseling hingga 73% dibandingkan pendekatan tradisional yang kaku dan otoriter. Dalam praktik nyata hampir bisa dipastikan hanya sedikit sekali siswa yang sukarela datang ke ruang BK untuk konseling, berbicara dari hati ke hati dengan guru BK mengenai permasalahan pribadi, permasalahan yang terkait dengan sekolah, dan pengembangan karir. Justru mereka datang karena dipanggil guru BK.

Sikap tegas bukan berarti keras atau otoriter, melainkan konsisten dalam nilai dan aturan yang disepakati bersama. Sementara sikap bersahabat mencerminkan empati, keterbukaan, dan kesediaan untuk mendengarkan tanpa menghakimi. Dalam kombinasi ini, siswa akan merasa aman sekaligus dihargai sebagai individu yang memiliki suara dan masalah yang layak didengar.

Era digital juga menuntut guru BK untuk melek teknologi. Menggunakan media sosial, platform konseling daring, dan pendekatan digital lainnya dapat menjadi sarana yang efektif untuk membangun kedekatan dengan siswa. Guru BK yang memahami bahasa digital dan tantangan dunia maya yang dihadapi siswa akan lebih relevan dan diterima.

Akhirnya, harapan siswa terhadap guru BK di era digital sangat jelas: mereka menginginkan sosok yang bisa menjadi pendengar setia, pembimbing bijak, dan mitra yang bisa dipercaya. Ketegasan tetap diperlukan, tetapi harus dibalut dengan sikap humanis yang penuh empati. Dengan begitu, ruang BK akan berubah dari tempat yang ditakuti menjadi tempat yang dicari ketika siswa butuh pertolongan.

Transformasi ini hanya mungkin terjadi jika guru BK bersedia merefleksikan ulang peran dan pendekatannya. Kepala sekolah juga memiliki peran strategis dalam menciptakan budaya sekolah yang mendukung fungsi konseling yang sehat dan efektif. Kepala sekolah harus memberikan pelatihan berkelanjutan bagi guru BK agar dapat mengembangkan pendekatan yang lebih empatik, berbasis data, dan sesuai etika profesi. Selain itu, penting bagi kepala sekolah untuk membentuk kebijakan sekolah yang melindungi hak-hak siswa, termasuk privasi digital mereka.

Kepala sekolah juga dapat memfasilitasi forum komunikasi antara siswa dan guru BK, misalnya dalam bentuk survei kepuasan layanan BK atau dialog terbuka untuk mendengarkan aspirasi siswa. Dengan demikian, siswa merasa dilibatkan dan dihargai, sementara guru BK memperoleh masukan berharga untuk memperbaiki pendekatan mereka. Langkah-langkah ini akan memperkuat citra guru BK sebagai mitra pengembangan potensi siswa, bukan sekadar penegak disiplin. Di antara ketegasan dan kehangatan, di situlah terletak kekuatan sejati seorang guru BK masa kini.

Daftar Pustaka:

Hidayati, R. (2021). Efektivitas Pendekatan Humanistik dalam Layanan Bimbingan Konseling di Sekolah Menengah. Jurnal Konseling Pendidikan, 9(2), 112–120.

Sari, M., & Permana, A. (2020). Persepsi Siswa terhadap Sikap Empatik Guru BK dan Dampaknya pada Keterbukaan Konseling. Jurnal Psikologi dan Konseling, 8(1), 45–53.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 28G.

---------

   * Penulis adalah dosen FTIK di UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Selasa, 06 Mei 2025

HANYA SEKRUP KECIL YANG TAK BERARTI

Oleh: Shakayala Adzkiya El Queena H.

inspirasipendidikan.com_ Salam Inspirasi untuk sahabat inspirasi pendidikan, pada kesempatan kali ini kami akan membagikan sebuah cerita yang pastinya akan memberikan motivasi bagi pembaca inspirasi pendidikan. begini ceritanya:

Hari minggu identik dengan hari keluarga, ya.. paling tidak begitulah bagi sebagian warga yang tinggal di kompleks perumahan saya. Tinggal di kompleks perumahan yang warganya jarang bertatap muka, ini karena aktivitas rutin merekamulai  pagi jam 07.00 sudah berangkat kerja dan pulang rata-rata jam 17.00. capek sepulang kerja, langsung istirahat di rumah, bercengkerama dengan anggota keluarga masing-masing. Jika bisa sekedar ngobrol itupun karena kebetulan bertemu di depan rumah. Disadari atau tidak bahwa kami sudah terjebak dalam individualism. Tapi.. ada untungnya juga sih.. jadi jarang bergosip ria bagi emak-emak yang tinggal di kompleks perumahan kami. Hari minggu pun biasanya mereka family time, menghabiskan waktu bersama keluarga, ada yang sekedar jogging bareng, kuliner atau pergi ke tempat wisata.

Berbeda dengan keluarga yang lain, hari minggu itu saya dan keluarga tidak pergi kemana-mana. Bunda mengerjakan tugas dinasnya di dapur menyiapkan makanan dan minuman hangat untuk sarapan pagi, aku dan adik berberes rumah, dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk sekolah hari senin, sedangkan ayah tengah sibuk membersihkan mobilnya, dan seperti biasa service-service ringan akan dilakukannya sendiri.

“Ayah kok serius banget sih,, dari tadi aku perhatikan sampai masuk di kolong mobil, ada yang rusak yah?” tanyaku mengagetkan Ayah yang tengah fokus dengan memeriksa mesin mobil. Di keningnya terpasang senter kepala, layaknya montir professional.

“ ini lho.. ada suara bergetar kalau mesin dinyalakan, Ayah khawatir ada sesuatu yang salah. Kan bisa bahaya apalagi kalau kita pakai perjalanan jauh ke luar kota.” Jawab ayah santai.

“Hmm.. mau dibuatin minuman hangat nggak Yah?” Lanjutku menawarkan bantuan

“Ok, ide bagus itu, Ayah dibuatin Teh hangat saja ya..” jawabnya sampil mengacungkan jempol.

Segera aku bergegas ke dapur untuk membuatkan secangkir teh hangat dan roti bakar, untuk ganjal perut ayah yang aku yakin pasti lapar karena dari pagi belum sarapan.

“Alhamdulillah… putri Ayah memang sholihah, dan pandai.” Jawab Ayah sesaat setelah melihat aku membawa nampan berisi air minum hangat.

Aku pun tersipu malu, tapi aku suka pujian Ayah. Biasanya sih.. kalau begini bakalan dapat bonus hadiah. He..he.. he..

“Sudah ketemu problemnya Yah?” tanyaku menyelidik sambil lihat-lihat mesin mobil  Avanza kami yang sudah dimakan usia.

“Sudah, lha ini.. lihatlah.. hanya ada 2 sekrup kecil tapi sudah merepotkan carinya.” Jawab Ayah sambil menunjukkan 2 sekrup kecil yang sudah berwarna coklat berkarat.

“Kenapa gak dibuang saja Yah?” tanyaku polos

“sudah Ayah ganti yang baru tadi. Jadi sudah beres, insyaAllah aman.” Jawab Ayah seraya meminum teh hangat buatanku.

“Oiya kak.. tahu nggak bahwa gara-gara sekrup kecil saja bisa membuat banyak orang celaka. Mesin mobil rusak dan merembet kemana-mana, jika tidak ketahuan atau diabaikan saja, maka bisa membahayakan penumpang mobil.” Lanjut Ayah membuka pembicaraan.

“Memang sampai begitunya Yah?” tanyaku keheranan.

“ya pasti donk, dan tidak itu tidak hanya kendaraan roda empat, roda dua, bahkan kapal laut dan pesawat pun harus teliti dan detail. Jika tidak maka bisa mengakibatkan kecelakaan dan menewaskan orang banyak.” Lanjut Ayah.

Aku hanya mengangguk angguk saja, mencoba memahami arah pembicaraan Ayah. Karena biasanya pasti ada sesuatu yang akan disampaikan Ayah, sehingga ada hikmah dan manfaat dari setiap penjelasannya.

“Bagaimana kalau di kehidupan bermasyarakat, apakah sekrup itu bisa dianalogikan sesuatu?” tanyaku lebih serius.

Ayah tersenyum, dan melanjutkan penjelasannya. “ Tentu saja ada, dalam setiap organisasi, sekolah, madrasah, perguruan tinggi,  organisasi pemerintahan desa sampai pusat. Semua adalah sistem dengan sub sistem yang kompleks. Salah satu sub sistem yang sangat berperan penting adalah pegawai atau karyawannya.”

“Kok bisa yah?” tanyaku nyantai meminta penjelasan lebih lanjut.

“Ya, Karyawan itu ibarat sekrup-sekrup atau mur yang ada di mesin mobil. Masing-masing memiliki fungsi yang berarti. Bila salah satu diabaikan, tidak ada perawatan, kita anggap sepele meskipun sudah kendor, tidak dikencangkan lagi, maka akan membahayakan mobil itu, tentunya membahayakan penggunanya juga. Jika ada pegawai atau karyawan dianggap tidak penting, disia-siakan, diabaikan kompetensi yang dimiliki, maka tinggal menunggu waktu saja organisasi itu akan bubar.” Jelas Ayah bersemangat.

“ Yang salah siapa, kalau begitu Yah?” tanyaku menyelidik.

“Yang salah tentu pimpinannya, yang tidak memiliki kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin yang baik, mengayomi dan memberdayakan aset-aset yang dimiliki. Disinilah pentingnya manajemen Sumber Daya Manusia dikuasai dan diimplementasikan dengan bijaksana. Manusia bukanlah sekrup atau mesin, tetapi tentu lebih rumit lagi karena manusia memiliki perasaan, akal, dan hal-hal lainnya yang lebih kompleks. Karena itu kelak jika kamu diberi amanah menjadi pemimpin di level manapun, harus benar-benar perhatikan sisi kemanusiaan dari karyawan atau pegawaimu. Perhatikan kesejahteraan mereka, sehingga mereka akan secara suka rela menginvestasikan waktu dan kemampuannya sepenuhnya untuk instansi, institusi atau organiasi yang kamu pimpin.” Jawab Ayah panjang lebar.

“Siap.. Yah, terima kasih. Ini hari minggu kok masih dapat kuliah gratis ya..he..he..” Gurauku menutup pembicaraan kami.

_____    

* Penulis adalah siswi kelas VIII MTsN 2 Ponorogo

 

Kamis, 17 April 2025

ANAK YANG SUKA MEMBACA NOVEL CENDERUNG TIDAK PINTAR, BETULKAH? CEK FAKTANYA!

Judul tersebut seolah tendensius mengarah kepada anak-anak usia sekolah yang banyak membaca novel, akibatnya terdapat stigmatisasi mereka cenderung tidak menjadi anak yang pintar atau berprestasi. Dalam keseharian kita sering kita dapatkan orang tua yang masih memiliki persepsi negative terhadap karya sastra seperti novel,  cerpen dll. Karena dianggapnya hanya mengganggu pelajaran. Anak akan lebih malas membaca pelajaran dan hanyut dalam imajinasi yang dibawa dalam alur cerita novel atau cerpen tersebut. Anak yang diharapkan berprestasi tetapi lebih suka menghabiskan waktu berjam-jam, asyik dengan novel daripada membaca buku-buku pelajaran atau mengerjakan PR dari sekolah.

Betulkah demikian? Kita tidak boleh membuat kesimpulan yang sesederhana itu. Karena banyak juga anak-anak yang suka baca novel tetapi justru tidak ketinggalan pelajaran di sekolah, bakat-bakatnya terasah di bidang lainnya, memiliki prestasi yang bagik juga. Pandangan tentang anak yang malas karena kebanyakan membaca buku cerita ini, mungkin didasari pemahaman dari orang tua yang menginginkan anaknya menjadi anak yang sukses, berprestasi. Sedangkan ukuran prestasinya adalah bagusnya nilai mata pelajaran atau nilai raport.

Persepsi inilah yang seharusnya mulai dihilangkan. Setiap anak memiliki potensi, kemampuan yang berbeda-beda. Jika anak tersebut suka membaca, baik itu buku cerita atau apapun juga, semestinya mendapat dukungan yang lebih dari orang tua. Jika masih di sekolah dasar, orang tua bertanggung jawab untuk memilih dan memilah buku yang layak dibaca sesuai dengan usia perkembangannya. Begitu juga jika anak sudah menjelang remaja, maka orang tua pun harus sering berdiskusi dan membuka diri, memberi masukan tentang bahan bacaan yang sesuai dan memiliki dampak positif untuk perkembangan anak.

Beberapa penelitian menyebutkan bahawa bacaan novel sebagai produk karya sastra juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap karakter anak. Karya sastra adalah karya kreatif yang dimaksudkan selain memberikan hiburan dan kesenangan, juga menjadi sarana penanaman nilai yaitu, sifat atau hal penting yang bermanfaat bagi umat manusia (Christianto, 2017). Karya sastra membicarakan tentang berbagai macam nilai kehidupan yang secara langsung berhubungan dengan pembentukan karakter siswa (Wulandari, 2015). Karya sastra selain dapat menanamkan nilai-nilai luhur dalam membentuk karakter pembacanya juga dapat menjadi media rekreatif yang dapat menenangkan hari seperti senang, damai, nyaman, dan tidak menjenuhkan (Sukirman, 2021).

Jika kita hubungkan dengan kondisi pendidikan saat ini, yang menjadi prioritas utama dari pendidikan anak-anak adalah pembentukan karakter yang positif untuk anak. Selain di sekolah, di keluarga anak mendapatkan penguatan nilai karakter secara langsung. Maka dengan membaca karya sastra, anak akan memperoleh pembelajaran nilai-nilai luhur untuk menguatkan karakternya secara mandiri dan menyenangkan yaitu melalui produk sastra seperti novel, cerpen, puisi yang dibacanya.

Disinilah perlu diluruskan lagi, bahwa anak yang suka membaca adalah perilaku yang positif, meskipun mereka membaca karya seperti novel dll. Tugas orang tua adalah mendorong tetapi tetap mengawasi bahan bacaan yang dibacanya. Jangan sampai mematikan semangat membangun literasi pada diri anak. Sejalan dengan itu, harus diingatkan juga agar ada penyeimbang bahwa buku-buku pelajaran juga sangat penting untuk dibaca karena dari mata pelajaran tersebut anak akan mendapatkan pengetahuan baru sebagai bekal untuk pendidikan lebih lanjut dan untuk masa depan anak itu sendiri.

Gemar membaca memang suatu kebiasaan yang positif dan perlu ditingkatkan. Tetapi ada yang lebih bagus lagi, jika anak juga diberi bekal ketrampilan untuk menulis. Bisa diawali dengan menulis diary, kemudian secara bertahap menulis cerpen, dan jika sudah mahir bisa menulis novel, menulis karya tulis ilmiah. Bahan-bahan yang telah dibaca sebelumnya akan menjadi modal utama anak untuk bisa mengekspresikan melalui untaian kalimat. Sebagaimana kata pepatah sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Awalnya hanya beberapa kalimat sederhana, lama kelamaan bisa menjelma menjadi sebuah karya tulis yang membanggakan . (Hary/17/04/2025)

Minggu, 13 April 2025

MENGHASILKAN CUAN DARI MENULIS CERITA FIKSI


Afrilia Eka Prasetyawati, M.Pd : Penulis

Menulis fiksi merupakan kegiatan yang menyenangkan dan penuh dengan imajinasi. Bagi banyak orang, ini merupakan cara untuk mengekspresikan diri, membangun dunia, dan berbagi cerita dengan orang lain. Namun, bagi para pemula, memulai menulis fiksi bisa terasa sulit. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan, seperti ide cerita, karakter, plot, dan gaya bahasa. Kendati demikian, sekarang ini banyak kita jumpai penulis cilik yang dapat menghasilkan karya tulis fiksi seperti cerpen, novel, dll. tentu saja hal ini memerlukan ketekunan dalam melatih keterampilan menulis sehingga berhasil menjadi seorang penulis yang professional. Bahkan dapat menghasilkan cuan sendiri selagi masih duduk di bangku sekolah.

Nah, Berikut adalah kiat-kiat yang dapat membantu Anda menghasilkan karya tulis fiksi yang menawan:

1. Temukan Ide Cerita yang Menarik

Langkah pertama adalah menemukan ide cerita yang menarik. Ide ini bisa datang dari mana saja, seperti pengalaman pribadi, berita, buku, film, atau bahkan mimpi. yang terpenting adalah ide tersebut membuat Anda bersemangat dan ingin terus menulisnya.

Coba tanyakan pada diri Anda pertanyaan-pertanyaan berikut untuk membantu menemukan ide:

  • Apa yang ingin saya sampaikan melalui cerita ini?
  • Tema apa yang ingin saya angkat?
  • Genre apa yang ingin saya tulis?
  • Siapa karakter utama saya?
  • Apa yang akan mereka hadapi?

2. Kembangkan Karakter yang Berkesan

Karakter adalah jantung dari setiap cerita fiksi. Pembaca harus dapat terhubung dengan mereka dan peduli dengan apa yang terjadi pada mereka. Luangkan waktu untuk mengembangkan karakter Anda dengan baik. Berikan mereka kepribadian, latar belakang, motivasi, dan kekurangan yang unik. Semakin realistis dan kompleks karakter Anda, semakin menarik cerita Anda bagi pembaca.

3. Buat Plot yang Menarik

Plot adalah urutan peristiwa dalam cerita Anda. Ini adalah yang membuat pembaca terus membaca dan ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Karena itu, pastikan plot Anda memiliki awal, tengah, dan akhir yang jelas. Buatlah konflik dan ketegangan untuk menarik pembaca dan buat mereka menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Untuk pemula, Anda bisa memulainya dengan langkah sebagai berikut:

  • Perkenalkan konflik: Buatlah rintangan dan tantangan yang dihadapi karakter.
  • Tingkatkan ketegangan: Bangun rasa penasaran dan buat pembaca ingin terus membaca.
  • Selesaikan dengan memuaskan: Berikan kesimpulan yang logis dan berkesan bagi pembaca.

4. Gunakan Gaya Bahasa yang Menawan

Gaya bahasa Anda adalah cara Anda menggunakan kata-kata untuk menceritakan kisah Anda. Pilihlah kata-kata yang tepat dan deskriptif untuk membuat cerita Anda menjadi hidup. Gunakan dialog yang realistis dan perhatikan bagaimana karakter Anda berbicara.

Gunakan juga majas dan gaya bahasa lainnya untuk membuat tulisan Anda lebih menarik dan berkesan.

5. Bacalah Karya Fiksi Lainnya

Salah satu cara terbaik untuk belajar menulis fiksi adalah dengan membaca karya fiksi lainnya. Perhatikan bagaimana penulis lain mengembangkan cerita, karakter, dan plot mereka. Cobalah untuk meniru gaya penulis yang Anda sukai dan terapkan dalam tulisan Anda sendiri. Meskipun demikian, ketika Anda sudah terbiasa menulis, maka suatu saat akan menemukan style tersendiri yang khas atau berbeda dengan penulis lainnya.

6. Berlatihlah Menulis Terus Menerus

Semakin banyak Anda berlatih menulis, semakin baik Anda melakukannya. Cobalah untuk menulis setiap hari, bahkan jika itu hanya beberapa paragraf. Anda juga dapat mengikuti kelas menulis atau bergabung dengan komunitas menulis online untuk mendapatkan masukan dan dukungan dari penulis lain.

Jangan terpaku pada kesempurnaan: Fokuslah untuk menyelesaikan cerita terlebih dahulu. Atur waktu menulis: Luangkan waktu khusus untuk menulis secara konsisten. Gunakan alat bantu: Gunakan software penulisan atau aplikasi catatan untuk membantu proses kreatif Anda. Untuk mengembangkan karya tulis, Anda bisa menggunakan cara yang sederhana, yaitu:

  • Buatlah mind map: Tuliskan ide utama, karakter, plot, dan setting, lalu kembangkan detailnya.
  • Tulis poin-poin penting: Buatlah kerangka cerita yang berisi urutan kejadian dalam cerita Anda.
  • Gunakan jurnal: Catat ide, inspirasi, dan kutipan menarik yang bisa digunakan dalam cerita.

7. Jangan Takut untuk Mengedit

Menulis adalah proses yang berkelanjutan. Setelah Anda selesai menulis draf pertama Anda, luangkan waktu untuk mengeditnya dengan cermat. Bacalah ulang tulisan Anda dan carilah kesalahan tata bahasa, ejaan, dan konsistensi. Anda juga dapat meminta orang lain untuk membaca tulisan Anda dan memberikan umpan balik.

8. Bersabarlah

Menulis fiksi membutuhkan waktu dan usaha. Jangan berkecil hati jika Anda tidak langsung sukses. Teruslah berlatih dan belajar, dan pada akhirnya Anda akan menulis karya fiksi yang menawan.

9. Tips Tambahan:

  • Gunakan outline atau kerangka cerita untuk membantu Anda mengatur ide dan alur cerita Anda.
  • Lakukan riset jika Anda menulis tentang topik yang tidak Anda kenal.
  • Bacalah karya Anda dengan suara keras untuk membantu Anda mengidentifikasi kesalahan dan area yang perlu diperbaiki.
  • Jangan takut untuk bereksperimen dan mencoba gaya penulisan yang berbeda.
  • Yang terpenting, bersenang-senanglah dengan prosesnya! 

Menulis fiksi bisa menjadi kegiatan yang sangat rewarding. Dengan mengikuti kiat-kiat di atas, Anda dapat meningkatkan kemampuan menulis Anda dan menghasilkan karya fiksi yang menarik dan berkesan. Semoga tulisan ini bermanfaat. (Afrilia-13/04/2025)


Kamis, 10 April 2025

Pengalaman Yang Membanggakan menjadi Seorang Penulis

Oleh: Shakayla Adzkiya El Queena H.

Haii.. sahabat inspirasi pendidikan, perkenalkan namaku Shakayla, Kali ini aku akan berbagi pengalaman tentang menulis dan suka duka yang aku alami selama menghasilkan karya tulis atau buku. semoga apa yang aku tuliskan ini bisa bermanfaat untuk sahabat Inspirasi Pendidikan di mana pun berada.

Menulis merupakan sebuah hobi, sama halnya dengan membaca yang menjadi kegemaranku. Buku-buku cerita fiksi maupun non fiksi yang menarik bisa saja habis dalam sekali baca. Itulah sebabnya aku terinspirasi dengan para penulis terkenal di dunia seperti JK. Rowling, Helvi Tiana Rossa, Habiburrahman El Sirazi, Andrea Hirata, Asma Nadia, dan lain-lain. Cerita yang ada dalam buku yang ditulisnya membuatku iri dan ingin menjadi seperti mereka. Karena itulah sejak kelas 1, aku sudah mulai menulis. Beruntungnya Ayah dan Bunda selalu mendukung sehingga di kelas 1 sudah bisa menerbitkan sebuah Kumpulan Puisi dan Cerpen. Hmmm.. memang sih, masih sederhana banget. kalau sekarang aku baca lagi, bisa tertawa sendirian. malu juga.. tapi bangga karena sudah bisa menghasilkan karya pada saat SD kelas 1.

Kemampuanku menulis terus aku asah dibimbing oleh orang tua dan guru. Karena sulit mendapatkan kursus atau pelatihan menulis untuk anak-anak, maka suatu saat aku pernah mengikuti pelatihan menulis yang pesertanya semua adalah orang dewasa. Pelatihan yang diadakan oleh sebuah penerbitan yang ada di Surabaya merupakan pengalaman yang menarik, karena justru aku mendapatkan masukan, saran, dan motivasi dari editor dan penulis lainnya. Dari situ aku semakin semangat menulis, dan syukurlah di kelas V awal saat pandemi Covid 19 mengganas, aku malah berhasil menyelesaikan dan menerbitkan Antologi Cerpen: Menggapai Harapan. ya... kalau jujur aku menilai buku ini hasilnya lebih bagus daripada sebelumnya. Aku juga mendapat apresiasi dari mereka yang telah membaca karyaku satu ini.

Penulis (Shakayla) menyerahkan karyanya
kepada Wakil Bupati Ponorogo Hj. Lisdyarita, SH

Seolah menikmati dan ingin membuktikan kemampuanku dalam menulis, maka aku pun menulis lagi. Kali ini aku menulis sebuah novel. Hampir 6 bulan aku bisa menyelesaikan novel perdanaku. Tentu saja di sela-sela kegiatanku sekolah. Ya... bagiku menulis saat ini adalah hobbi yang tidak boleh mengalahkah tugas utama untuk belajar. Nah.. karena itulah orang tua selalu memberikan dukungan.

Akhirnya Bulan Nopember 2022, Novel Catatan Senja berhasil diterbtikan. Alhamdulillah semua merasa bergembira, kami sekeluarga, sekolah tempat aku belajar dan semua orang yang memiliki kepedulian dengan karya tulis. apalagi yang dihasilkan seorang anak yang masih duduk di SD. Yang paling membahagiakan adalah ketika orang-orang hebat seperti Ibu Yuli Dwi Astuti, Ketua Geliat Ponorogo Menulis (GPM), Amah Hida, seorang trainer dan konselor yang luar biasa, memberikan endorse statement pada novelku. dan tentu saja Ustadzah Wijiati Kepala SDIT Qurrota A'yun yang berkenan memberikan pengantar.

Kebanggaan dan kebahagiaan sebagai penulis adalah saat karya yang aku tulis itu dibaca banyak orang dan memberikan inspirasi kepada mereka. Apalagi Novel Catatan Senja ini juga sudah sampai di tangan Ibu Wakil Bupati Ponorogo, Bunda Hj. Lisdyarita, SH. Karya-karya yang aku tulis juga sudah menemui pembaca hebat lainnya yaitu kepala Dinas Pendidikan Ponorogo, Bapak komandan Kodim Ponorogo, Ustadzah Vida Rabiah Al Adawiyah, seorang penulis yang hebat dari Solo. 

Penulis bersama Kepala Dinas Kab. Ponorogo

Bertemu dengan orang-orang hebat yang menjadi pejabat penting, para penulis hebat, tentu tidak pernah aku bayangkan apalagi bisa berbincang dan menerima nasehat serta saran dari mereka semua. Adalagi yang membuatku senang, yaitu ketika teman-temanku , beberapa Adik kelas yang telah membaca novel Catatan Senja kemudian begitu antusias mengajak berdiskusi, bertanya-tanya tentang isi dan dibuat penasaran dengan akhir dari cerita Catatan Senja.

Penulis bersama Kepala SDIT Qurrota A'yun
Ustadzah Wijiati

Semoga aku bisa menghasilkan karya-karya lainnya di masa depan. terima kasih aku ucapkan kepada semua yang telah membantu. terutama CV Pustaka EL Queena yang telah menerbitkan beberapa karyaku, kepada orang tua dan semua keluarga besar, kepada para guru yang telah membimbingku semoga Allah SWT memberikan balasan terbaik untuk semua kebaikan yang diberikan kepadaku.

Selasa, 08 April 2025

TIPS BAGI GURU DAN SISWA YANG AKAN KEMBALI MASUK SEKOLAH SETELAH LIBUR PANJANG

inspirasipendidikan.com_ Sahabat inspirasi pendidikan, Rabu 09 April 2025 adalah hari pertama masuk sekolah bagi siswa siswi pendidikan dasar dan menengah bahkan beberapa perguruan tinggi setelah kurang lebih dua minggu libur panjang dan cuti bersama dalam rangka idul Fitri 1446 H/ 2025 dan Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu. Nah.. apa saja yang harus dilakukan oleh guru dan siswa untuk persiapan kembali sekolah? Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan bagi guru dan siswa.

TIPS BAGI PESERTA DIDIK:

1. Mulai dengan Pola Tidur yang Teratur
Setelah libur panjang, pola tidur sering jadi berantakan. Mulailah tidur dan bangun lebih awal beberapa hari sebelum sekolah dimulai agar tubuh tidak kaget saat kembali ke rutinitas.
2. Tentukan Tujuan Baru
Buat target kecil untuk semester ini, misalnya: Nilai meningkat di mata pelajaran tertentu, Lebih aktif di kelas, Rajin mencatat atau mengerjakan PR tepat waktu, Tujuan bisa memotivasi kamu untuk semangat menjalani hari.
3. Persiapkan Perlengkapan Sekolah
Merapikan buku, alat tulis, dan seragam bisa menumbuhkan semangat baru. Kalau ada kesempatan, beli satu atau dua barang baru—kadang semangat datang dari hal-hal kecil seperti pulpen warna favorit atau buku catatan baru!
4. Ingat Teman dan Momen Seru di Sekolah
Kangen main atau ngobrol sama teman? Ingat bahwa sekolah bukan cuma belajar, tapi juga tempat berbagi cerita, tertawa, dan bertumbuh bareng.
5. Buat Rutinitas Pagi yang Menyenangkan
Mulai hari dengan hal-hal yang disukai: dengar lagu favorit, sarapan enak, atau baca sesuatu yang ringan sebelum berangkat sekolah.
6. Berpikir Positif
Alih-alih fokus ke hal-hal berat seperti ujian atau tugas, coba pikirkan sekolah sebagai tempat untuk belajar hal baru yang seru dan memperbaiki diri.
7. Ajak Teman untuk Saling Menyemangati
Bikin grup kecil dengan teman-teman untuk saling support. Bisa jadi tempat curhat, tukar catatan, atau sekadar saling mengingatkan buat semangat sekolah.

TIPS BAGI PARA GURU:

1. Mulai dengan Niat Positif
Ingat kembali alasan mengapa Anda menjadi guru. Kembali ke ruang kelas adalah kesempatan untuk kembali memberi dampak positif bagi murid-murid. Mulai dengan doa atau afirmasi positif bisa bantu membangkitkan semangat.
 2. Siapkan Rencana Awal yang Menyenangkan
Hari-hari pertama jangan langsung “gaspol”. Mulailah dengan kegiatan ringan, refleksi liburan, atau aktivitas ice breaking agar murid merasa nyaman dan transisi kembali ke sekolah jadi menyenangkan.
3. Evaluasi & Rencanakan Semester Baru
Luangkan waktu untuk melihat pencapaian semester lalu dan menyusun strategi untuk target semester ini. Persiapan yang matang bikin mengajar lebih tenang dan percaya diri.
4. Bangun Koneksi Emosional dengan Murid
Ajak siswa berbagi cerita tentang liburan mereka. Ini bukan hanya membuat mereka merasa dihargai, tapi juga membangun kembali kedekatan yang mungkin sedikit longgar karena libur panjang.
5. Ciptakan Energi Positif di Kelas
Dekor ulang sudut kelas, ganti tampilan papan tulis, atau tampil dengan gaya baru—hal-hal kecil bisa menciptakan suasana segar dan memunculkan antusiasme, baik bagi guru maupun murid.
6. Kolaborasi dengan Rekan Guru
Bertukar ide dan semangat dengan sesama guru sangat membantu. Mungkin bisa buat sesi sharing ringan tentang tantangan dan harapan semester baru.
7. Jaga Kesehatan Fisik & Mental
Pastikan tubuh fit sebelum kembali ke rutinitas. Jika sempat, lakukan relaksasi atau olahraga ringan untuk menjaga energi positif tetap mengalir.
8. Ingat, Anda Berarti
Kadang guru lupa bahwa kehadiran mereka bisa jadi penyemangat terbesar bagi siswa. Senyum, semangat, dan perhatian Anda sangat berarti untuk mereka, apalagi di hari-hari awal setelah libur panjang.

Nah, Sahabat Inspirasi pendidikan, demikianlah beberapa tips yang dapat diimplementasikan semoga bermanfaat ya.. salam inspirasi!! (Hary/08/04/2025)