Oleh: Dr. Hariyanto, M.Pd
Era
globalisasi semakin cepat berkembang, keberadaan nasionalisme sebagai identitas
kolektif bangsa menghadapi tantangan besar dari dinamika sosial, budaya, dan
teknologi yang tidak bisa diabaikan. Kemajuan teknologi informasi dan
komunikasi membuka akses luas terhadap berbagai budaya asing dan informasi
global, sehingga memunculkan kecenderungan untuk mengadopsi nilai-nilai asing
yang terkadang bertentangan dengan identitas nasional. Perkembangan media
sosial turut memperkuat arus globalisasi, yang tidak hanya mempermudah
komunikasi lintas negara, tetapi juga berpotensi menyebarkan pemikiran yang
bersifat individualistik dan kosmopolitan tanpa mempertimbangkan aspek
kebangsaan. Konsekuensinya,
munculnya fenomena “nasionalisme semu”, yaitu kesadaran kultural dan identitas
bangsa yang dangkal dan tidak disertai dengan pemahaman mendalam terhadap makna
kebangsaan. Hal ini menjadi tantangan serius bagi generasi muda. Fenomena ini
diwarnai oleh meningkatnya kecenderungan untuk mengadopsi simbol-simbol nasional secara superficial, tanpa melibatkan komitmen kuat terhadap
nilai-nilai dan keberlanjutan budaya bangsa.
Globalisasi
membawa dampak besar terhadap kesadaran nasionalisme generasi muda di era
modern. Di satu sisi, arus globalisasi memungkinkan penyebaran budaya,
informasi, dan teknologi secara luas dan cepat, yang dapat memperkaya wawasan
serta memperkuat semangat keterbukaan. Namun, di sisi lain, fenomena ini juga
berpotensi melemahkan rasa identitas nasional karena pengaruh budaya asing yang
masuk tanpa kendali, serta pola pikir yang lebih mengedepankan kepentingan
individu atau global ketimbang kepentingan bangsa sendiri. Media sosial dan
platform digital memfasilitasi pertukaran budaya lintas negara secara instan,
sehingga generasi muda sering terpengaruh nilai-nilai yang bersifat
kosmopolitan dan konsumtif, yang mungkin bertentangan dengan prinsip nasionalisme.
Terlebih lagi, keterbukaan informasi secara luas dapat menyebabkan
ketidakpastian identitas dan munculnya nasionalisme semu, yaitu perasaan bangga
yang dangkal tanpa pemahaman mendalam terhadap jati diri bangsa. Oleh karena
itu, tantangan utama dalam menjaga nasionalisme di tengah derasnya arus
globalisasi adalah bagaimana membangun kesadaran akan pentingnya identitas
nasional yang kokoh, sekaligus mampu bersaing secara global.
Strategi
yang efektif meliputi penguatan pendidikan karakter dan budaya lokal yang
relevan dalam kurikulum, serta peningkatan kegiatan sosial dan budaya yang
memperkenalkan nilai-nilai bangsa secara langsung kepada generasi muda. Dengan
demikian, meskipun globalisasi membuka peluang untuk saling memahami antar
bangsa, penting untuk tetap menjaga dan memperdalam rasa bangga terhadap
identitas bangsa agar tidak tergeser oleh arus luar yang bersifat sementara dan
superficial.
Peran
pendidikan dalam memperkuat nasionalisme menjadi salah satu aspek krusial dalam
menghadapi tantangan nasionalisme semu di era globalisasi. Sistem pendidikan
memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan nilai-nilai kebangsaan secara
efektif dan membentuk identitas nasional yang kokoh pada generasi muda.
Kurikulum pendidikan harus mampu mengintegrasikan materi yang menanamkan
apresiasi terhadap budaya, sejarah, dan simbol-simbol kebangsaan secara
mendalam. Dengan demikian, peserta didik tidak sekadar memahami secara
teoritis, tetapi juga merasakan kedekatan emosional terhadap bangsa dan tanah
airnya.
Selain itu, pendidikan karakter menjadi pondasi utama dalam membangun nasionalisme yang berkelanjutan. Pengajaran nilai-nilai seperti cinta tanah air, rasa hormat terhadap keragaman budaya, dan kejujuran perlu dijadikan bagian integral dari proses pendidikan. Melalui kegiatan belajar yang menanamkan kedisiplinan, tanggung jawab sosial, dan kebersamaan, siswa secara aktif belajar menghargai identitas nasional dan menginternalisasi semangat nasionalisme.
Penyelenggaraan program inovatif seperti proyek budaya, karya siswa, dan kegiatan keaspirasian nasional sangat efektif untuk menumbuhkan rasa bangga sebagai warga negara. Dalam konteks globalisasi, pendidikan harus mampu menyoroti keunikan dan kekayaan budaya nasional agar tetap relevan dan menarik perhatian generasi muda. Dengan pendekatan yang komprehensif, peran pendidikan dalam memperkuat nasionalisme menjadi lebih efektif dalam membangun identitas bangsa yang kuat dan mampu bersaing di tingkat global.
Moment peringatan kemerdekaan RI yang ke -80 dapat menjadi
saat yang tepat untuk membangkitkan nasionalisme. Di seluruh penjuru negeri, bendera
merah putih dikibarkan, berbagai bentuk karnaval pendidikan, bermacam perlombaan
mulai di tingkat RT, Desa, lembaga pendidikan dari jenjang dasar sampai
perguruan tinggi diselenggarakan secara meriah. Hal tersebut merupakan upaya
positif membangkitkan rasa kecintaan dan syukur terhadap kemerdekaan negara
Indonesia. Tetapi akan lebih bagus lagi jika berbagai macam perlombaan yang
diadakan berbasis pada outcome untuk mencintai tanah air, bukan sekedar
bergembira dan minim konten pendidikannya.
Strategi mengikis nasionalisme semu harus dilakukan secara
konsisten dan berkelanjutan dengan pendekatan yang menyentuh berbagai aspek
kehidupan masyarakat. Pertama, penguatan pendidikan nasional yang
komprehensif menjadi fondasi utama. Kurikulum harus mencakup sejarah, budaya,
dan nilai-nilai bangsa agar generasi muda mampu memahami identitas bangsa
secara autentik dan menghargai keberagaman budaya. Selain itu, pendidikan
karakter perlu diarahkan untuk menanamkan rasa bangga terhadap budaya lokal dan
semangat kebangsaan yang tulus, bukan sekadar simbolis atau semu.
Kedua, perlu dilakukan kampanye kesadaran nasional secara menyasar langsung ke generasi muda melalui media yang mereka konsumsi sehari-hari, seperti media sosial dan platform digital. Kampanye ini harus mampu menyampaikan pesan yang edukatif dan inspiratif tentang pentingnya nasionalisme yang nyata dan kesejatian identitas bangsa. Melalui pesan yang menggugah, diharapkan mampu membangkitkan rasa cinta tanah air yang tidak terpengaruh oleh opini semu yang dipicu oleh globalisasi.
Ketiga, kegiatan sosial dan budaya merupakan sarana efektif dalam memperkuat rasa kebangsaan. Melalui partisipasi dalam kegiatan sukarela, festival budaya, dan acara komunitas lainnya, generasi muda dapat merasakan langsung keberagaman dan kekayaan budaya bangsa, sehingga membangun rasa memiliki yang mendalam dan tulus. Kegiatan ini juga meningkatkan solidaritas dan mempererat hubungan antar warga sekaligus memupuk rasa bangga terhadap identitas nasional.
Menjaga dan merawat NKRI adalah kewajiban bagi seluruh
elemen bangsa, mulai dari yang diberikan amanah menjadi pejabat publik, sampai
kalangan rakyat jelata. Yang menjadi pimpinan dan memiliki kewenangan serta
kekuasaan harus memberikan contoh teladan kepada rakyatnya bahwa nasionalisme
diwujudkan dengan menjalankan tugas pokok dan fungsinya secara professional dan
bertanggung jawab, tidak korupsi, dan benar-benar mementingkan rakyat.
Nasionalisme sejati bukan terletak kepada mereka yang berkoar-koar sebagai
nasionalis sejati, tetapi melakukan korupsi dan manipulasi. Nasionalisme sejati
terlihat bagaimana mengabdi yang hakiki untuk kemajuan negeri.
Kepada seluruh generasi muda Indonesia, mari bangkit
menjadikan nasionalisme terhadap Indonesia sebagai kebanggaan kolektif sebagai energi penggerak bagi bangsa yang
berdaulat, sejahtera, dan maju bersama.( Hary, 17/08/2025)
--------
* Penulis adalah dosen FTIK di UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo
0 comments:
Posting Komentar