f ' MENGIKIS NASIONALISME SEMU PADA GENERASI MUDA DI ERA GLOBAL ~ Inspirasi Pendidikan

Minggu, 17 Agustus 2025

MENGIKIS NASIONALISME SEMU PADA GENERASI MUDA DI ERA GLOBAL

Oleh: Dr. Hariyanto, M.Pd

Era globalisasi semakin cepat berkembang, keberadaan nasionalisme sebagai identitas kolektif bangsa menghadapi tantangan besar dari dinamika sosial, budaya, dan teknologi yang tidak bisa diabaikan. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi membuka akses luas terhadap berbagai budaya asing dan informasi global, sehingga memunculkan kecenderungan untuk mengadopsi nilai-nilai asing yang terkadang bertentangan dengan identitas nasional. Perkembangan media sosial turut memperkuat arus globalisasi, yang tidak hanya mempermudah komunikasi lintas negara, tetapi juga berpotensi menyebarkan pemikiran yang bersifat individualistik dan kosmopolitan tanpa mempertimbangkan aspek kebangsaan. Konsekuensinya, munculnya fenomena “nasionalisme semu”, yaitu kesadaran kultural dan identitas bangsa yang dangkal dan tidak disertai dengan pemahaman mendalam terhadap makna kebangsaan. Hal ini menjadi tantangan serius bagi generasi muda. Fenomena ini diwarnai oleh meningkatnya kecenderungan untuk mengadopsi simbol-simbol nasional secara superficial, tanpa melibatkan komitmen kuat terhadap nilai-nilai dan keberlanjutan budaya bangsa.
Globalisasi membawa dampak besar terhadap kesadaran nasionalisme generasi muda di era modern. Di satu sisi, arus globalisasi memungkinkan penyebaran budaya, informasi, dan teknologi secara luas dan cepat, yang dapat memperkaya wawasan serta memperkuat semangat keterbukaan. Namun, di sisi lain, fenomena ini juga berpotensi melemahkan rasa identitas nasional karena pengaruh budaya asing yang masuk tanpa kendali, serta pola pikir yang lebih mengedepankan kepentingan individu atau global ketimbang kepentingan bangsa sendiri. Media sosial dan platform digital memfasilitasi pertukaran budaya lintas negara secara instan, sehingga generasi muda sering terpengaruh nilai-nilai yang bersifat kosmopolitan dan konsumtif, yang mungkin bertentangan dengan prinsip nasionalisme. Terlebih lagi, keterbukaan informasi secara luas dapat menyebabkan ketidakpastian identitas dan munculnya nasionalisme semu, yaitu perasaan bangga yang dangkal tanpa pemahaman mendalam terhadap jati diri bangsa. Oleh karena itu, tantangan utama dalam menjaga nasionalisme di tengah derasnya arus globalisasi adalah bagaimana membangun kesadaran akan pentingnya identitas nasional yang kokoh, sekaligus mampu bersaing secara global.
Strategi yang efektif meliputi penguatan pendidikan karakter dan budaya lokal yang relevan dalam kurikulum, serta peningkatan kegiatan sosial dan budaya yang memperkenalkan nilai-nilai bangsa secara langsung kepada generasi muda. Dengan demikian, meskipun globalisasi membuka peluang untuk saling memahami antar bangsa, penting untuk tetap menjaga dan memperdalam rasa bangga terhadap identitas bangsa agar tidak tergeser oleh arus luar yang bersifat sementara dan superficial.
Peran pendidikan dalam memperkuat nasionalisme menjadi salah satu aspek krusial dalam menghadapi tantangan nasionalisme semu di era globalisasi. Sistem pendidikan memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan nilai-nilai kebangsaan secara efektif dan membentuk identitas nasional yang kokoh pada generasi muda. Kurikulum pendidikan harus mampu mengintegrasikan materi yang menanamkan apresiasi terhadap budaya, sejarah, dan simbol-simbol kebangsaan secara mendalam. Dengan demikian, peserta didik tidak sekadar memahami secara teoritis, tetapi juga merasakan kedekatan emosional terhadap bangsa dan tanah airnya.
Selain itu, pendidikan karakter menjadi pondasi utama dalam membangun nasionalisme yang berkelanjutan. Pengajaran nilai-nilai seperti cinta tanah air, rasa hormat terhadap keragaman budaya, dan kejujuran perlu dijadikan bagian integral dari proses pendidikan. Melalui kegiatan belajar yang menanamkan kedisiplinan, tanggung jawab sosial, dan kebersamaan, siswa secara aktif belajar menghargai identitas nasional dan menginternalisasi semangat nasionalisme.
Penyelenggaraan program inovatif seperti proyek budaya, karya siswa, dan kegiatan keaspirasian nasional sangat efektif untuk menumbuhkan rasa bangga sebagai warga negara. Dalam konteks globalisasi, pendidikan harus mampu menyoroti keunikan dan kekayaan budaya nasional agar tetap relevan dan menarik perhatian generasi muda. Dengan pendekatan yang komprehensif, peran pendidikan dalam memperkuat nasionalisme menjadi lebih efektif dalam membangun identitas bangsa yang kuat dan mampu bersaing di tingkat global.
Moment peringatan kemerdekaan RI yang ke -80 dapat menjadi saat yang tepat untuk membangkitkan nasionalisme. Di seluruh penjuru negeri, bendera merah putih dikibarkan, berbagai bentuk karnaval pendidikan, bermacam perlombaan mulai di tingkat RT, Desa, lembaga pendidikan dari jenjang dasar sampai perguruan tinggi diselenggarakan secara meriah. Hal tersebut merupakan upaya positif membangkitkan rasa kecintaan dan syukur terhadap kemerdekaan negara Indonesia. Tetapi akan lebih bagus lagi jika berbagai macam perlombaan yang diadakan berbasis pada outcome untuk mencintai tanah air, bukan sekedar bergembira dan minim konten pendidikannya.
Strategi mengikis nasionalisme semu harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan dengan pendekatan yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat. Pertama, penguatan pendidikan nasional yang komprehensif menjadi fondasi utama. Kurikulum harus mencakup sejarah, budaya, dan nilai-nilai bangsa agar generasi muda mampu memahami identitas bangsa secara autentik dan menghargai keberagaman budaya. Selain itu, pendidikan karakter perlu diarahkan untuk menanamkan rasa bangga terhadap budaya lokal dan semangat kebangsaan yang tulus, bukan sekadar simbolis atau semu.
Kedua, perlu dilakukan kampanye kesadaran nasional secara menyasar langsung ke generasi muda melalui media yang mereka konsumsi sehari-hari, seperti media sosial dan platform digital. Kampanye ini harus mampu menyampaikan pesan yang edukatif dan inspiratif tentang pentingnya nasionalisme yang nyata dan kesejatian identitas bangsa. Melalui pesan yang menggugah, diharapkan mampu membangkitkan rasa cinta tanah air yang tidak terpengaruh oleh opini semu yang dipicu oleh globalisasi.
Ketiga, kegiatan sosial dan budaya merupakan sarana efektif dalam memperkuat rasa kebangsaan. Melalui partisipasi dalam kegiatan sukarela, festival budaya, dan acara komunitas lainnya, generasi muda dapat merasakan langsung keberagaman dan kekayaan budaya bangsa, sehingga membangun rasa memiliki yang mendalam dan tulus. Kegiatan ini juga meningkatkan solidaritas dan mempererat hubungan antar warga sekaligus memupuk rasa bangga terhadap identitas nasional.
Menjaga dan merawat NKRI adalah kewajiban bagi seluruh elemen bangsa, mulai dari yang diberikan amanah menjadi pejabat publik, sampai kalangan rakyat jelata. Yang menjadi pimpinan dan memiliki kewenangan serta kekuasaan harus memberikan contoh teladan kepada rakyatnya bahwa nasionalisme diwujudkan dengan menjalankan tugas pokok dan fungsinya secara professional dan bertanggung jawab, tidak korupsi, dan benar-benar mementingkan rakyat. Nasionalisme sejati bukan terletak kepada mereka yang berkoar-koar sebagai nasionalis sejati, tetapi melakukan korupsi dan manipulasi. Nasionalisme sejati terlihat bagaimana mengabdi yang hakiki untuk kemajuan negeri.
Kepada seluruh generasi muda Indonesia, mari bangkit menjadikan nasionalisme terhadap Indonesia sebagai kebanggaan kolektif sebagai energi penggerak bagi bangsa yang berdaulat, sejahtera, dan maju bersama.( Hary, 17/08/2025)

--------   

* Penulis adalah dosen FTIK di UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo


0 comments:

Posting Komentar