Karya: Shakayla Adzkiya El Queena
Hari Kamis selalu terasa seperti monster bagi Queena. Bagaimana tidak? Deretan mata pelajaran mulai dari Matematika, IPA, Bahasa Jawa, PJOK, hingga TIK berjejal memaksa masuk ke kepalanya yang serasa mau pecah akibat vertigo. Bel sekolah yang berbunyi nyaring terdengar sangat kuno, seolah memanggil para siswa dari zaman Kerajaan Mataram.
Meskipun kelas Queena terkenal
berisi anak-anak ber-IQ tinggi, kelakuan mereka tetap saja khas remaja. Tidur
di kelas, malas, atau dihukum guru sudah jadi santapan harian. Bahkan langganan
disidang di ruang BK. Namun, solidaritas mereka kuat bak keluarga. Sayangnya,
kehangatan itu mendadak menguap bagi Queena begitu pelajaran Matematika dimulai.
Langkah kaki sang guru wanita yang
merangkul laptop dan buku kian mendekat.di belakangnya seorang siswa dengan
tubuh tinggi tegak membawa seperangkat kabel mengikuti. Ya, semua tahu kalau
dia adalah Mas Tama, Kakak kelas. Begitu Bu Guru duduk di kursi dan membuka
laptop, dia yang sibuk membantu untuk menyambungkan ke layar monitor kelas. Kelas mendadak ricuh, teman-teman Queena sibuk
mengatur posisi dan mematikan layar PC yang tersambung ke TV kelas. Begitu
duduk, sang guru langsung mencekoki mereka dengan rumus-rumus rumit. Queena
tidak luput diiserang dengan pertanyaan matematika yang mematikan.
Queena gelagapan menjawab. Di tengah
kepanikan tiba-tiba terdengar suara dari depan. Dengan wajah tanpa senyum, anak
itu menyindir Queena yang tampak kebingungan, “Paham gak nih... jangan
lama-lama loading-nya!”
Seketika seisi kelas menertawakannya.
Rasanya Queena ingin menghilang karena malu. Beruntung, Queena sudah terbiasa
dengan ejekan model seperti ini dari teman-teman sekelas. Untuk menenangkan
hatinya yang dongkol, Queena pura-pura tersenyum manis meskipun pahit rasaya.
Apalagi yang menyindir adalah Mas Tama, Kakak kelas yang sok pintar ini.
Sesampainya di rumah, rasa malas
membayangi Queena saat mengingat tugas Civic Education (PKn) dari guru killer
yang harus dikumpulkan besok. Namun, kantuk dan rasa malasnya mendadak buyar
saat sebuah notifikasi berdering. di layarnya, muncul nama "Mas Tama".
Mas Tama adalah kakak kelas yang semua
siswi pasti kenal. Perawakannya tinggi, berkulit sawo matang dengan senyum
manis eksotis. Nilai plusnya? Dia sangat genius di bidang Matematika, sebuah
pesona level dewa di mata Queena.
“Aku free nih, mau ngobrol
nggak?” pesan dari Mas Tama.
Tepat di saat jemari Queena gemetar
ingin membalas, sebuah pesan lain masuk. Kali ini dari Alza, cowok yang selama
ini diam-diam ditunggunya.
“Bantu aku jawab soal dong,” tulis
Alza singkat.
Queena panik. Logika dan perasaannya
bertabrakan. Dengan gugup, ia meminta saran ke grup obrolan bersama
sahabat-sahabatnya: Lucy, Veliza, Rena, dan Viska.
Respon sahabat-sahabatnya justru
sangat menohok.
"Udah jelas-jelas nggak pasti,
ngapain ditunggu?" ketus Lucy.
"Ingat, second choice
itu ngalah," tambah Viska mengingatkan bahwa Alza sering memperlakukan Queena
sebagai pilihan kedua.
Kata-kata mereka menghujam bak
pasukan gajah. Queena sadar, selama ini Alza hanya mencarinya saat butuh
bantuan tugas. Di titik akhir logikanya, Queena berbisik pada diri sendiri: “Dia
tidak sepeduli itu dengan perasaanku selama ini.”
Dengan nekat, Queena mengetik pesan
penolakan kepada Alza.
“Sorry Za, aku masih sibuk.”
Lalu, ia mengiyakan ajakan Mas Tama
untuk melakukan panggilan telepon pertama mereka.
Queena mengira obrolan dengan Mas
Tama akan terasa monoton, kaku, dan membosankan mengingat citra Mas Tama di
sekolah yang pendiam, jarang tersenyum, dan tampak tidak peka. Ia takut Mas
Tama akan sedingin Alza.
Namun, begitu suara di seberang
telepon menyapa, asumsi Queena berputar 180 derajat. Mas Tama ternyata sangat
hangat, seru, dan pendengar yang baik. Mereka tertawa bersama, berdiskusi
banyak hal, hingga membuat Queena melupakan sejenak beban tugas sekolahnya.
Di tengah asyiknya obrolan, Mas Tama
tiba-tiba berkata, “Oh iya Queen, maaf ya soal kejadian di kelas tadi Kamis.
Aku nggak bermaksud bikin kamu malu di depan anak-anak waktu mapel Matematika.”
Queena tertegun. Jantungnya serasa
berhenti. “Maksud... Mas Tama?”
“Iya, tadi siang kan aku yang masuk
ke kelasmu bareng Bu Guru buat bantu asistensi materi PC yang nyambung ke TV,”
suara Mas Tama terdengar tulus dan penuh sesal dari seberang telepon.
“Wajahku emang galak dan nggak ada
manis-manisnya kalau lagi serius ngajar. Kalimatku yang 'jangan lama-lama
loading-nya' itu murni bercanda biar kelas gak tegang, tapi aku baru sadar
kalau itu malah bikin kamu ditertawain sekelas. Maaf banget ya, Queen.”
Queena mematung di kamarnya.
Semburat merah langsung menjalar di pipinya.
Plot twist kehidupan remaja baru saja dimulai. Sosok menyebalkan yang
sepanjang hari ia umpat sebagai sok pintar di kelas Matematika, ternyata adalah
Mas Tama, kakak kelas idaman yang diam-diam dikaguminya, sekaligus cowok yang
malam ini sedang menemaninya tertawa lewat panggilan telepon.
Satu malam di telepon bersama Mas Tama telah berhasil
menjungkir balikkan dunia Queena. Kejadian hari Kamis yang semula dianggapnya
sebagai kutukan, berubah menjadi awal dari sebuah harapan baru. Hari-hari
berikutnya dilewati Queena dengan senyum yang sulit disembunyikan. Di koridor
sekolah, setiap kali berpapasan dengan Mas Tama yang bertubuh tinggi itu, ada
getaran halus yang membuat langkah kaki Queena terasa ringan. Mas Tama sesekali
memberikan anggukan kecil atau senyuman tipis, sesuatu yang dulu dianggap Queena
sebagai sikap "tak kasat rasa", namun kini terasa begitu eksklusif
hanya untuknya.
Queena merasa telah mengambil keputusan
paling tepat dalam hidup remaja awalnya: membuang Alza yang hanya datang saat
butuh, dan membuka hati untuk Mas Tama yang genius Matematika dan ternyata
penuh kehangatan.
Namun, dunia remaja memang sebuah
labirin yang kejam. Dan Queena baru saja membentur dinding paling keras.
Tepat satu minggu setelah malam telepon yang indah itu,
hari Kamis kembali datang membawa takdirnya yang dingin. Siang itu, bel
istirahat berbunyi. Queena bermaksud pergi ke perpustakaan untuk mencari
referensi tugas Civic Education
alias PKn yang mulai menumpuk lagi. Langkahnya terhenti tepat di koridor dekat
laboratorium komputer yang agak sepi.
Dari balik sekat ruangan, ia mendengar
suara tawa yang sangat ia kenal. Suara berat, lembut, dan renyah. Suara Mas
Tama.
Queena berniat mengejutkannya. Namun,
begitu ia melangkah mendekat, pasokan oksigen di paru-parunya seolah tersedot
habis. Di sana, Mas Tama tidak sendirian. Ia sedang duduk berdua, begitu dekat
dan asyik, dengan seorang siswi bernama Nindia, siswi populer dari kelas
sebelah yang dikenal cantik, pintar, dan berprestasi.
Mas Tama sedang menatap Nindia dengan
binar mata yang belum pernah Queena lihat sebelumnya. Tangan Mas Tama bergerak
pelan, mengacak rambut Nindia dengan penuh kasih sayang, sebuah gestur yang
teramat intim.
“Kamu masih marah soal minggu lalu?”
samar-samar Queena mendengar suara Mas Tama membujuk Nindia.
“Maaf ya, kemarin aku emang lagi pusing banget karena kita
berantem. Makanya aku sengaja nyari kesibukan lain biar nggak kepikiran kamu
terus.”
Nindia mengerucutkan bibirnya, lalu
tersenyum manis.
“Terus, cewek kelas bawah yang kamu telepon semalaman itu
gimana? Kamu nggak kasihan?”
Mas Tama terkekeh, menggelengkan
kepala meremehkan.
“Queena? Ah, dia cuma anak anak remaja awal yang polos,
gampang baper. Lagian malam itu aku cuma gabut dan butuh pelarian gara-gara
kamu diemin. Mana mungkin aku serius sama anak kecil? Cinta aku kan cuma buat
kamu, Nin.”
Brak!!!
Dunia di sekitar Queena serasa runtuh.
Jiwanya seperti dihantam gada besi berwajah seribu. Kata-kata Mas Tama barusan
bukan lagi sekadar sindiran Matematika yang membuatnya malu sekelas, melainkan
belati berkarat yang ditusukkan tepat ke ulu hatinya, lalu diputar dengan
sengaja.
Queena berbalik, berlari sekencang-kencangnya menuju toilet
paling pojok sekolah. Di depan cermin, napasnya memburu, air matanya tumpah tak
terbendung. Rasa malu, kecewa, benci, dan dendam bercampur menjadi satu racun
yang pekat di dalam dadanya.
“Pelarian? Anak kecil yang gampang
baper?” Queena berbisik lirik, suaranya bergetar menahan amarah yang meledak-ledak.
Rasa benci yang luar biasa kini
mengalir di setiap aliran darahnya. Ia membenci Mas Tama atas kepalsuan wajah
manis eksotisnya. Ia membenci Nindia yang menertawakan kepolosannya. Dan yang
paling parah, ia membenci dirinya sendiri karena begitu bodoh dan murahan
hingga mau dijadikan obat penawar sepi dari sepasang kekasih yang sedang
bertengkar.
Seketika, kata-kata pedas dari Viska
dan teman-temannya terngiang kembali di kepalanya: “Ngapain ditunggu? Second choice itu ngalah.”
Ternyata, bukan hanya Alza yang menganggapnya pilihan
kedua. Mas Tama, cowok yang ia anggap "pesona level dewa", melakukan
hal yang jauh lebih menjijikkan, menjadikannya sebuah keset pelampiasan ego.
Amarah itu mulai meracuni pikiran
sehatnya. Muncul hasrat gelap di benak Queena untuk membalas dendam. Ingin
rasanya ia mengonfrontasi mereka di depan umum, menyebarkan cerita busuk
tentang kelakuan Mas Tama, atau setidaknya membuat kekacauan yang bisa
menghancurkan reputasi Mas Tama yang sebentar lagi mau lulus. Pikiran tentang cinta
monyet ini benar-benar telah membutakannya, persis seperti ketakutannya dulu
tentang remaja sebayanya yang menghalalkan segala cara demi perasaan obsesif.
Namun, di tengah badai dendam itu,
lembaran kertas putih bergaris di dalam sakunya mendadak terjatuh ketika dia
merogoh saku untuk mengambil tisu. Itu adalah kertas tempat ia menulis puisi
dan target masa depannya. Queena tertegun melihat tulisan tangannya sendiri.
Aku adalah anak kelas unggulan ber-IQ tinggi. Aku punya
mimpi besar untuk kuliah di universitas ternama, menjadi seorang penulis hebat,
dan membuktikan pada dunia bahwa aku bukan sekadar angka di buku absen.
Dua kekuatan besar kini berperang
hebat di dalam dada remaja awal itu. Di satu sisi, perasaan hancur dan dendam
membara yang mendesaknya untuk merusak segalanya, membiarkan nilai-nilainya
hancur, dan larut dalam depresi cinta remaja yang toxic. Di sisi lain, cita-cita
dan harga diri yang berteriak mengingatkannya bahwa masa depannya terlalu mahal
untuk ditumbalkan demi seorang lelaki pengecut.
Queena membasuh wajahnya dengan air
dingin. Menatap tajam bayangannya di cermin.
“Kamu mau menghancurkan masa depanmu
hanya untuk membuktikan bahwa tebakan mereka benar? Bahwa kamu cuma anak kecil
yang lemah?” tanyanya pada diri sendiri.
Tidak. Queena menolak kalah. Kalau Mas
Tama menggunakan keahlian Matematikanya untuk meremehkan orang, maka Queena
akan menggunakan otak dan penanya untuk membalas dengan cara yang paling elegan.
Kesuksesan yang tak tergapai oleh mereka.
Queena mengambil tasnya, berjalan
keluar dari toilet dengan dagu tegak. Rasa kecewa dan benci itu tidak hilang,
perasaan itu masih ada dan amat menyakitkan, namun kini Queena telah mengubah
racun itu menjadi bahan bakar. Labirin remaja ini memang penuh jebakan, tetapi
malam ini, di atas kertas putih bergarisnya, di dalam buku diarinya, Queena tidak lagi menulis puisi cengeng
tentang cinta. Ia menulis babak baru tentang ambisinya. Meninggalkan Mas Tama
dan Alza di belakang sebagai serpihan masa lalu yang remeh.
---------
* Penulis






.jpg)














