Ponorogo, 10 Agustus 2026 — Siang itu, suasana Balai Desa Bondrang, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, tampak berbeda. Di atas meja, lembaran kain putih terbentang. Beberapa alat membatik tertata rapi. Tangan-tangan yang sebelumnya akrab dengan aktivitas rumah tangga dan kegiatan kemasyarakatan kini mulai memegang canting. Perlahan, malam panas dialirkan mengikuti garis-garis sketsa yang telah dibuat oleh para mahasiswa KPM Kelompok 66.Ada yang tampak begitu percaya diri. Ada pula yang sesekali berhenti, memperhatikan kembali ujung canting, memastikan malam mengalir tepat pada garis yang diinginkan. Hari itu, Balai Desa Bondrang tidak sekadar menjadi tempat berkumpul. Ia berubah menjadi ruang belajar, ruang kreativitas, sekaligus ruang untuk mempertemukan generasi muda dengan salah satu warisan budaya Indonesia, batik.
Suasana tersebut menjadi bagian dari kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Kelompok 66 UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo melalui program Pelatihan Membatik yang mengusung tema “Bondrang Berkarya, Sentra Budaya”. Kegiatan berlangsung pada 10–11 Agustus 2026 di Balai Desa Bondrang dan melibatkan ibu-ibu PKK Desa Bondrang. Tidak sekadar mengajarkan cara membuat batik, kegiatan ini membawa pesan yang lebih luas: bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari lingkungan terdekat dan bahwa keterampilan tradisional dapat menjadi pintu masuk bagi lahirnya kreativitas serta potensi ekonomi masyarakat. Kegiatan dibuka oleh Ketua Tim Penggerak PKK Desa Bondrang, Ibu Dian Istianingrum, A.Md.Keb. Dalam sambutannya, ia menyambut baik inisiatif mahasiswa KPM yang menghadirkan pelatihan membatik bagi masyarakat. Menurutnya, keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pengalaman sesaat, tetapi dapat menjadi bekal bagi peserta untuk terus berkarya. “Kami menyambut baik kegiatan yang dilakukan mahasiswa KPM ini. Semoga keterampilan yang diperoleh ibu-ibu melalui pelatihan membatik dapat menjadi bekal untuk terus berkarya dan dikembangkan ke depannya.” Harapan tersebut menjadi penting karena pelatihan membatik tidak hanya berbicara mengenai teknik membuat motif dan memberi warna pada kain. Lebih dari itu, kegiatan tersebut memperkenalkan sebuah proses kreatif yang membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan kemauan untuk terus belajar.
Antusiasme peserta mulai terlihat ketika praktik membatik dimulai. Setelah mendapatkan penjelasan mengenai teknik dasar, ibu-ibu PKK Desa Bondrang mulai mencoba memegang canting. Sebagian tampak hati-hati. Sebagian lainnya langsung mencoba mengikuti sketsa yang telah dipersiapkan. Mahasiswa KPM bertindak sebagai fasilitator. Fadhillah Shinta dan Huda Nurrohman menjadi fasilitator utama yang mendampingi peserta, dibantu oleh mahasiswa Kelompok 66 lainnya. Mereka berpindah dari satu kelompok ke kelompok lainnya. Ada yang membantu peserta mengatur posisi tangan. Ada yang menjelaskan kembali cara mengalirkan malam. Ada pula yang memberikan semangat ketika hasil cantingan pertama belum sesuai dengan yang diharapkan. Di sinilah suasana pelatihan terasa hidup. Tidak ada jarak antara mahasiswa dan peserta. Yang ada adalah proses belajar bersama. Sesekali terdengar percakapan ringan dan tawa ketika peserta menemukan pengalaman baru dalam memegang canting. Dari kain putih yang semula kosong, perlahan mulai muncul garis-garis motif. Setelah proses mencanting selesai, peserta kemudian melanjutkan ke tahapan pewarnaan. Pada tahap ini, kain mulai menunjukkan perubahan. Warna perlahan menghidupkan motif yang sebelumnya hanya berupa garis-garis malam.
Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Kelompok 66, Dr. Hariyanto, M.Pd. Tidak hanya hadir sebagai pengawas kegiatan, DPL turut memberikan apresiasi dan dukungan terhadap kreativitas mahasiswa dalam menyusun program yang berbasis pada potensi masyarakat. Menariknya, Dr. Hariyanto juga ikut terlibat langsung dalam praktik membatik. Ia mencoba mencanting pada sketsa yang telah dipersiapkan oleh mahasiswa. Keterlibatan tersebut menciptakan suasana yang semakin cair. Mahasiswa, peserta, narasumber, dan DPL berada dalam ruang yang sama untuk belajar dari proses membatik. Dr. Hariyanto menyampaikan kebanggaannya terhadap inisiatif mahasiswa yang mampu menghadirkan program pengabdian berbasis keterampilan dan potensi masyarakat. Menurutnya, KPM idealnya tidak sekadar menghadirkan kegiatan yang bersifat seremonial, tetapi mampu meninggalkan pengetahuan, keterampilan, dan gagasan yang dapat terus dikembangkan masyarakat setelah mahasiswa menyelesaikan masa pengabdiannya. Pelatihan membatik, menurutnya, memiliki nilai strategis karena berada di persimpangan antara pelestarian budaya, pemberdayaan masyarakat, kreativitas, dan potensi ekonomi.
Tema “Bondrang Berkarya, Sentra Budaya” menjadi semakin bermakna ketika melihat bagaimana kegiatan tersebut berlangsung. Batik tidak hanya ditempatkan sebagai benda budaya yang harus dilestarikan, tetapi juga sebagai keterampilan yang dapat dipelajari dan dikembangkan oleh masyarakat. Dari Balai Desa Bondrang, sebuah gagasan sederhana tumbuh: bahwa desa dapat memiliki ruang kreativitasnya sendiri. Hari pertama menjadi tahap pengenalan dan praktik dasar. Hari kedua menjadi kesempatan bagi peserta untuk semakin memahami proses, mulai dari mencanting hingga pewarnaan Barangkali belum semua peserta langsung menghasilkan batik yang sempurna. Namun, tujuan utama kegiatan bukanlah menciptakan pembatik profesional dalam waktu dua hari. Yang jauh lebih penting adalah memulai. Memulai mengenal canting. Memulai memahami proses. Memulai mencintai warisan budaya. Dan yang paling penting, memulai keyakinan bahwa masyarakat desa pun dapat berkarya.
Kegiatan KPM Kelompok 66 di Desa Bondrang menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat dirancang dengan pendekatan yang menghubungkan pendidikan, budaya, dan pemberdayaan ekonomi. Mahasiswa hadir bukan sekadar sebagai pelaksana program, tetapi sebagai penghubung antara sumber pengetahuan, praktisi, dan masyarakat. Sementara itu, kehadiran Sakha Butik memberikan peluang bagi peserta untuk mengenal pengalaman praktis dari dunia usaha batik. Dukungan tersebut membuka kemungkinan bahwa pelatihan tidak berhenti sebagai kegiatan KPM, tetapi dapat dilanjutkan melalui pendampingan atau kegiatan lanjutan. Bagi ibu-ibu PKK Desa Bondrang, dua hari tersebut mungkin hanya menjadi awal. Namun, dari awal yang sederhana itu, bisa saja tumbuh sesuatu yang lebih besar, misalnya kelompok pembatik, motif khas Bondrang, produk kerajinan, bahkan sebuah identitas budaya desa. Karena setiap karya besar selalu bermula dari satu langkah kecil. Dan di Balai Desa Bondrang, langkah kecil itu dimulai dari sebuah canting yang perlahan menorehkan malam di atas kain putih.
"Melestarikan budaya bukan sekadar menjaga apa yang diwariskan masa lalu, tetapi memastikan warisan itu tetap hidup dan memiliki makna bagi generasi masa kini dan masa depan.” (KPM 66 Desa Bondrang)






.jpg)





.jpeg)




.jpeg)


.jpeg)


.jpeg)



