by: Hariyanto
Suara Queena memecah sunyi di teras rumah. Gadis itu duduk memeluk lutut, memandangi langit yang mulai menguning diterpa senja. Wajahnya muram, matanya sembab seperti sudah terlalu sering menahan tangis.
Ayahnya, yang duduk di kursi kayu sambil memegang secangkir teh hangat, menoleh pelan.
“Luka yang mana?” tanyanya lembut.
Queena tersenyum hambar. “Semua luka. Luka karena dikecewakan. luka karena kehilangan. Luka karena masa lalu yang nggak bisa diubah.”
Ayah terdiam beberapa saat, lalu meletakkan cangkirnya.
“Kalau kamu jatuh dan lututmu terluka, apa yang kamu lakukan?”
“Dibersihkan, diobati, lalu ditunggu sembuh.”
Ayah mengangguk. “Kenapa?”
“Kalau nggak, bisa infeksi.”
“Nah,” katanya sambil tersenyum tipis, “hati juga begitu.”
Queena menatap ayahnya, lalu tertawa kecil tanpa benar-benar merasa lucu.
“Kalau hati lebih sulit, Yah. Nggak kelihatan lukanya.”
“Itulah kenapa banyak orang berpura-pura baik-baik saja, padahal lukanya makin dalam.”
Angin sore bertiup pelan, menggoyangkan daun-daun mangga di halaman.
Queena menunduk. “Kadang aku capek. Rasanya sakit hati ini nggak selesai-selesai. Aku sudah mencoba melupakan, tapi kenangan buruk itu selalu datang lagi.”
Ayah menghela napas panjang, seperti sedang mencari kata yang paling tepat.
“Queena, sembuh itu bukan berarti kamu menghapus semua yang pernah terjadi.”
“Lalu?”
“Sembuh berarti kamu berhenti membiarkan masa lalu mengendalikan masa depanmu.”
Kalimat itu membuat Queena terdiam.
Ia memikirkan banyak hal. Malam-malam penuh tangis, rasa marah yang tak sempat diluapkan, dan pertanyaan “kenapa aku?” yang terus berulang di kepalanya.
“Tapi kenapa orang harus mengalami luka separah itu?” tanyanya lirih.
Ayah memandang langit yang semakin jingga.
“Kadang hidup tidak meminta izin sebelum memberi badai. Kita tidak selalu bisa memilih apa yang menimpa kita.”
“Jadi kita cuma harus menerima?”
“Bukan menyerah,” jawab ayah cepat. “Menerima berbeda dengan menyerah.”
Queena mengernyit.
“Menerima adalah berkata *Ya, ini pernah terjadi. Ya, ini menyakitkan. Tapi aku tidak akan tinggal di sana selamanya.*”
Ayah menoleh padanya.
“Kamu tahu, Nak, ada dua pilihan setelah seseorang terluka.”
“Apa?”
“Yang pertama, menjadikan luka itu rumah. Tinggal di dalamnya, meratapi apa yang hilang, memeluk rasa sakit seolah itu satu-satunya hal yang tersisa.”
Queena menelan ludah.
“Dan yang kedua?”
“Menjadikan luka itu guru.”
Queena terdiam lebih lama kali ini.
Ayah melanjutkan, “Luka bisa mengajarimu mana yang perlu dilepas, mana yang layak diperjuangkan, dan seberapa kuat dirimu sebenarnya.”
“Tapi aku nggak merasa kuat.”
“Karena kamu mengira kuat itu artinya tidak menangis.”
Ayah tersenyum hangat.
“Padahal kuat kadang sesederhana tetap bangun di pagi hari ketika hatimu masih berat. Tetap mencoba percaya lagi setelah pernah dikhianati. Tetap melangkah meski kakimu gemetar.”
Mata Queena mulai berkaca-kaca.
“Aku takut kalau masa lalu ini akan terus menghantuiku.”
Ayah mengusap kepala putrinya perlahan.
“Masa lalu itu seperti bayangan, Queena. Ia selalu ada saat ada cahaya. Kamu tidak perlu menghilangkannya.”
“Lalu?”
“Cukup terus berjalan. Semakin kamu bergerak menuju cahaya, bayangan itu akan tetap di belakangmu.”
Air mata akhirnya jatuh dari mata Queena. Bukan tangis meledak-ledak, melainkan seperti sesuatu yang perlahan luruh setelah terlalu lama dipendam.
“Kalau aku gagal sembuh?”
Ayah tersenyum.
“Sembuh bukan ujian dengan nilai lulus atau gagal.”
“Terus?”
“Sembuh adalah perjalanan. Ada hari di mana kamu merasa baik-baik saja, ada hari di mana luka terasa terbuka lagi. Itu normal.”
Queena menghapus air matanya.
“Jadi aku nggak harus buru-buru sembuh?”
“Tidak.”
Ayah mengambil cangkirnya kembali.
“Bunga tidak dipaksa mekar dalam semalam. Tapi ia tetap tumbuh, sedikit demi sedikit. Anakku, Ayah dan Bunda akan selalu bersamamu. Percayalah, di dunia ini hanya ada seorang lelaki yang tidak merasa tersaingi dan justru merasa bangga atas keberhasilanmu, dia adalah Ayah. dan hanya ada seorang perempuan yang bersedia menerima kamu apa pun kondisimu, dia adalah Bunda.”
Queena tersentak dengan perkataan ayah dan langsung menghambur dalam tangis bahagia di dada Ayahnya.
Senja hampir selesai. Langit berubah dari jingga menjadi ungu gelap.
Queena menarik napas panjang, seolah untuk pertama kalinya dadanya punya ruang lebih luas.
“Ayah?”
“Hmm?”
“Aku rasa aku tahu pilihanku sekarang.”
Ayah menatapnya penuh tanya.
“Aku capek terus hidup di masa lalu.”
Ayah tersenyum lebar, lebih lega daripada yang bisa ia ungkapkan.
“Itu keputusan yang berani.”
Queena menatap ke depan, ke jalan kecil di depan rumah yang perlahan diselimuti lampu-lampu malam.
Masa lalunya tidak hilang. Lukanya belum sepenuhnya tertutup.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya, ia tidak lagi memandang ke belakang.
Ia memilih tumbuh.
Dan terkadang, kesembuhan memang dimulai bukan saat rasa sakit hilang, melainkan saat seseorang akhirnya berkata pada dirinya sendiri:
"Aku pantas punya masa depan yang lebih baik daripada luka-lukaku."






.jpg)












