Oleh: Hariyanto*
Cermin Retak Silaturahmi
Halal bihalal sejak lama dikenal
sebagai tradisi khas masyarakat Indonesia yang sarat makna. Ia bukan sekadar
pertemuan biasa, melainkan ruang untuk saling memaafkan, mempererat hubungan,
dan merajut kembali benang-benang silaturahmi yang mungkin sempat renggang.
Dalam suasana hangat penuh keikhlasan, orang-orang datang bukan untuk dinilai,
melainkan untuk kembali menyambung rasa. Bagi masyarakat Indonesia momen halal
bihalal dilaksanakan setelah Idul Fitri atau di Bulan Syawal. Makin maraknya Halal Bihalal ini terlihat
sampai ke unsur terkecil masyarakat yaitu keluarga. Munculah halal bihalal Bani
A, Bani B, Bani C dan seterusnya. Halal bihalal juga sudah menjadi kelaziman
dilaksanakan di perkantoran, kampus, sekolah dan di hampir semua lembaga
pemerintahan dari pusat hingga daerah.
Namun, di era modern yang serba
terbuka dan penuh sorotan sosial, halal bihalal tampaknya mulai menampilkan
wajah lain. Di balik senyum dan jabat tangan, terselip dinamika baru yang tak
bisa diabaikan yaitu kehadiran gengsi dan hasrat untuk menunjukkan status sosial.
Di satu sisi, wajah silaturahmi
tetap hidup. Banyak orang masih memaknai halal bihalal sebagai momen yang
tulus. Mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk memperbaiki hubungan,
mengunjungi keluarga yang lama tak ditemui, atau sekadar menyapa teman lama.
Nilai-nilai kebersamaan, kerendahan hati, dan saling memaafkan masih terasa
nyata, terutama dalam lingkup keluarga dan komunitas yang sederhana.
Namun di sisi lain, muncul wajah
gengsi yang kian menonjol. Halal bihalal tak jarang berubah menjadi ajang unjuk
diri, baik melalui pakaian yang dikenakan, kendaraan yang dipamerkan, hingga
lokasi acara yang dipilih. Media sosial turut memperkuat fenomena ini. Momen
kebersamaan yang seharusnya intim sering kali bergeser menjadi konten yang
dikurasi dengan cermat, demi mendapat pengakuan atau sekadar menjaga citra. Ini
terlihat jelas di status media sosial seperti whatsapp, instagram, tik tok,
youtube yang trend akhir-akhir ini adalah kebersamaan yang dikemas dalam acara hahal
bihalal.
Perubahan ini tentu tidak terjadi
tanpa sebab. Era digital mendorong setiap orang untuk selalu “terlihat”,
sementara standar kesuksesan sosial kerap diukur dari apa yang tampak di
permukaan. Dalam konteks ini, halal bihalal menjadi panggung yang strategis:
sebuah ruang sosial yang mempertemukan banyak orang sekaligus, lengkap dengan
peluang untuk menunjukkan pencapaian diri. Menunjukkan hasil kerja kerasnya selama
ini,
Pertanyaannya, salahkah hal
tersebut? Tentu tidak sesederhana itu kita bisa menyalahkan, karena penampilan
dan niat untuk silaturahmi secara tulus hanya bisa dinilai oleh individu
masing-masing. Jadi mau pamer status sosial ataukah silaturahmi akan kembali
kepada hati nurani masing-masing. apakah perubahan ini harus ditolak
sepenuhnya? Tidak selalu. Gengsi, dalam batas tertentu, adalah bagian dari
realitas sosial. Ia bisa menjadi motivasi untuk berkembang. Namun, ketika
gengsi mulai menggeser esensi utama halal bihalal, di situlah refleksi menjadi
penting.
Halal bihalal sejatinya bukan
tentang siapa yang paling sukses atau paling terlihat, melainkan tentang siapa
yang paling tulus dalam memperbaiki hubungan. Nilai utamanya terletak pada
keikhlasan untuk meminta dan memberi maaf, sesuatu yang tidak bisa diukur
dengan penampilan atau status. Maka, wajah ganda halal bihalal di era modern
adalah cermin dari masyarakat kita sendiri. Ia menunjukkan bahwa di tengah arus
perubahan, kita masih berusaha menjaga tradisi, meski kadang terombang-ambing
oleh tuntutan zaman. Silaturahmi dan gengsi berjalan berdampingan, saling
tarik-menarik dalam satu ruang yang sama.
Menjaga
Tradisi Silaturahim
Halal
Bihalal dalam konteks kehidupan bermasyarakat Indonesia memiliki kedudukan
strategis sebagai wahana untuk mempererat ikatan antar anggota keluarga, teman
atau kolega. Tradisi ini bukan sekadar kegiatan seremonial semata, melainkan
mengandung makna mendalam tentang penghormatan, sebagai sarana menanamkan
nilai-nilai keislaman yang luhur secara berkelanjutan. Sekaligus sebagai media
komunikasi yang efektif dalam menyampaikan nilai-nilai etika, moral, dan
spiritual. Oleh karena itu, mengembalikan halal bihalal pada wajah aslinya
yaitu wajah silaturahim perlu dilakukan secara sadar dan terencana agar
kebermanfaatannya dapat terus dirasakan, serta mampu beradaptasi dengan
dinamika perkembangan zaman. Dalam pandangan penulis, terdapat beberapa hal dapat
dilakukan untuk menjaga esensi silaturahim tersebut.
Pertama,
Halal bihalal seharusnya dimulai dari keinginan tulus untuk memperbaiki
hubungan, bukan sekadar memenuhi kewajiban sosial atau menjaga citra. Ketika
niatnya benar, cara bersikap pun akan terasa lebih hangat dan tidak
dibuat-buat. Beberapa pertanyaan basa-basi yang terkadang tanpa disadari bisa
menyakiti pihak tertentu, sebaiknya dihindari. Pilihlah kalimat lain atau topik
lain yang lebih sopan dan menarik tanpa menyinggung orang lain.
Kedua, hadir dengan kesederhanaan.
Tidak perlu berlebihan dalam penampilan atau gaya. Justru kesederhanaan
seringkali menciptakan suasana yang lebih nyaman dan setara, sehingga orang
lain merasa lebih mudah untuk terbuka dan berinteraksi tanpa tekanan.
Ketiga, utamakan interaksi yang
bermakna. Daripada hanya saling bersalaman secara formal, cobalah menyempatkan
waktu untuk berbincang, menanyakan kabar dengan sungguh-sungguh, dan
mendengarkan dengan empati. Hal kecil seperti ini justru memperkuat ikatan
emosional. Terkadang kita dapati secara sengaja atau tidak sengaja orang lain
banyak berbicara tentang suatu hal yang seolah dia sangat memahami masalah
tersebut padahal sesungguhnya orang tersebut tidak mengetahui secara mendalam. Cara
yang terbaik adalah kita mencoba menjadi pendengar yang baik. Karena Ibnu
Khaldun pernah menyampaikan bahwa adab tertinggi dari seseorang adalah ketika
orang lain berbicara tentang sesuatu hal yang dia tidak kuasai, sementara kita
sebagai pendengarnya tetap menghormati dan mendengarkannya sampai selesai,
padahal kita lebih menguasai permasalahan tersebut.
Keempat, berani meminta dan memberi
maaf dengan tulus. Ini adalah inti dari halal bihalal. Bukan sekadar ucapan
“mohon maaf lahir batin” yang diulang-ulang, tetapi benar-benar disertai
kesadaran dan keikhlasan untuk memperbaiki hubungan yang mungkin pernah retak.
Kelima, jaga silaturahmi setelah
acara selesai. Halal bihalal seharusnya bukan satu-satunya momen untuk
berhubungan. Menjaga komunikasi, menyapa di waktu lain, atau membantu saat
dibutuhkan adalah bentuk nyata bahwa silaturahmi tidak berhenti pada satu hari
saja.
Keenam, bijak dalam menggunakan
media sosial. Tidak semua momen perlu dipamerkan. Jika pun ingin berbagi, pastikan
tidak menghilangkan makna kebersamaan yang sebenarnya atau membuat orang lain
merasa dibandingkan.
Pada akhirnya, pilihan kembali
kepada masing-masing individu: apakah akan menjadikan halal bihalal sebagai
ruang memperkuat hati, atau sekadar panggung mempertegas citra diri. Tradisi
ini akan tetap hidup, tetapi maknanya akan selalu ditentukan oleh cara kita
menjalaninya.
* Penulis adalah dosen FTIK UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo






.jpg)











.jpeg)
