f ' WAJAH GANDA HALAL BIHALAL DI ERA MODERN; WAJAH SILATURAHMI DAN WAJAH GENGSI" ~ Inspirasi Pendidikan

Senin, 23 Maret 2026

WAJAH GANDA HALAL BIHALAL DI ERA MODERN; WAJAH SILATURAHMI DAN WAJAH GENGSI"

 Oleh: Hariyanto*

Cermin Retak Silaturahmi

Halal bihalal sejak lama dikenal sebagai tradisi khas masyarakat Indonesia yang sarat makna. Ia bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan ruang untuk saling memaafkan, mempererat hubungan, dan merajut kembali benang-benang silaturahmi yang mungkin sempat renggang. Dalam suasana hangat penuh keikhlasan, orang-orang datang bukan untuk dinilai, melainkan untuk kembali menyambung rasa. Bagi masyarakat Indonesia momen halal bihalal dilaksanakan setelah Idul Fitri atau di Bulan Syawal.  Makin maraknya Halal Bihalal ini terlihat sampai ke unsur terkecil masyarakat yaitu keluarga. Munculah halal bihalal Bani A, Bani B, Bani C dan seterusnya. Halal bihalal juga sudah menjadi kelaziman dilaksanakan di perkantoran, kampus, sekolah dan di hampir semua lembaga pemerintahan dari pusat hingga daerah.

Namun, di era modern yang serba terbuka dan penuh sorotan sosial, halal bihalal tampaknya mulai menampilkan wajah lain. Di balik senyum dan jabat tangan, terselip dinamika baru yang tak bisa diabaikan yaitu kehadiran gengsi dan hasrat untuk menunjukkan status sosial.

Di satu sisi, wajah silaturahmi tetap hidup. Banyak orang masih memaknai halal bihalal sebagai momen yang tulus. Mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk memperbaiki hubungan, mengunjungi keluarga yang lama tak ditemui, atau sekadar menyapa teman lama. Nilai-nilai kebersamaan, kerendahan hati, dan saling memaafkan masih terasa nyata, terutama dalam lingkup keluarga dan komunitas yang sederhana.

Namun di sisi lain, muncul wajah gengsi yang kian menonjol. Halal bihalal tak jarang berubah menjadi ajang unjuk diri, baik melalui pakaian yang dikenakan, kendaraan yang dipamerkan, hingga lokasi acara yang dipilih. Media sosial turut memperkuat fenomena ini. Momen kebersamaan yang seharusnya intim sering kali bergeser menjadi konten yang dikurasi dengan cermat, demi mendapat pengakuan atau sekadar menjaga citra. Ini terlihat jelas di status media sosial seperti whatsapp, instagram, tik tok, youtube yang trend akhir-akhir ini adalah kebersamaan yang dikemas dalam acara hahal bihalal.

Perubahan ini tentu tidak terjadi tanpa sebab. Era digital mendorong setiap orang untuk selalu “terlihat”, sementara standar kesuksesan sosial kerap diukur dari apa yang tampak di permukaan. Dalam konteks ini, halal bihalal menjadi panggung yang strategis: sebuah ruang sosial yang mempertemukan banyak orang sekaligus, lengkap dengan peluang untuk menunjukkan pencapaian diri. Menunjukkan hasil kerja kerasnya selama ini,

Pertanyaannya, salahkah hal tersebut? Tentu tidak sesederhana itu kita bisa menyalahkan, karena penampilan dan niat untuk silaturahmi secara tulus hanya bisa dinilai oleh individu masing-masing. Jadi mau pamer status sosial ataukah silaturahmi akan kembali kepada hati nurani masing-masing. apakah perubahan ini harus ditolak sepenuhnya? Tidak selalu. Gengsi, dalam batas tertentu, adalah bagian dari realitas sosial. Ia bisa menjadi motivasi untuk berkembang. Namun, ketika gengsi mulai menggeser esensi utama halal bihalal, di situlah refleksi menjadi penting.

Halal bihalal sejatinya bukan tentang siapa yang paling sukses atau paling terlihat, melainkan tentang siapa yang paling tulus dalam memperbaiki hubungan. Nilai utamanya terletak pada keikhlasan untuk meminta dan memberi maaf, sesuatu yang tidak bisa diukur dengan penampilan atau status. Maka, wajah ganda halal bihalal di era modern adalah cermin dari masyarakat kita sendiri. Ia menunjukkan bahwa di tengah arus perubahan, kita masih berusaha menjaga tradisi, meski kadang terombang-ambing oleh tuntutan zaman. Silaturahmi dan gengsi berjalan berdampingan, saling tarik-menarik dalam satu ruang yang sama.

Menjaga Tradisi Silaturahim

Halal Bihalal dalam konteks kehidupan bermasyarakat Indonesia memiliki kedudukan strategis sebagai wahana untuk mempererat ikatan antar anggota keluarga, teman atau kolega. Tradisi ini bukan sekadar kegiatan seremonial semata, melainkan mengandung makna mendalam tentang penghormatan, sebagai sarana menanamkan nilai-nilai keislaman yang luhur secara berkelanjutan. Sekaligus sebagai media komunikasi yang efektif dalam menyampaikan nilai-nilai etika, moral, dan spiritual. Oleh karena itu, mengembalikan halal bihalal pada wajah aslinya yaitu wajah silaturahim perlu dilakukan secara sadar dan terencana agar kebermanfaatannya dapat terus dirasakan, serta mampu beradaptasi dengan dinamika perkembangan zaman. Dalam pandangan penulis, terdapat beberapa hal dapat dilakukan untuk menjaga esensi silaturahim tersebut.

Pertama, Halal bihalal seharusnya dimulai dari keinginan tulus untuk memperbaiki hubungan, bukan sekadar memenuhi kewajiban sosial atau menjaga citra. Ketika niatnya benar, cara bersikap pun akan terasa lebih hangat dan tidak dibuat-buat. Beberapa pertanyaan basa-basi yang terkadang tanpa disadari bisa menyakiti pihak tertentu, sebaiknya dihindari. Pilihlah kalimat lain atau topik lain yang lebih sopan dan menarik tanpa menyinggung orang lain.

Kedua, hadir dengan kesederhanaan. Tidak perlu berlebihan dalam penampilan atau gaya. Justru kesederhanaan seringkali menciptakan suasana yang lebih nyaman dan setara, sehingga orang lain merasa lebih mudah untuk terbuka dan berinteraksi tanpa tekanan.

Ketiga, utamakan interaksi yang bermakna. Daripada hanya saling bersalaman secara formal, cobalah menyempatkan waktu untuk berbincang, menanyakan kabar dengan sungguh-sungguh, dan mendengarkan dengan empati. Hal kecil seperti ini justru memperkuat ikatan emosional. Terkadang kita dapati secara sengaja atau tidak sengaja orang lain banyak berbicara tentang suatu hal yang seolah dia sangat memahami masalah tersebut padahal sesungguhnya orang tersebut tidak mengetahui secara mendalam. Cara yang terbaik adalah kita mencoba menjadi pendengar yang baik. Karena Ibnu Khaldun pernah menyampaikan bahwa adab tertinggi dari seseorang adalah ketika orang lain berbicara tentang sesuatu hal yang dia tidak kuasai, sementara kita sebagai pendengarnya tetap menghormati dan mendengarkannya sampai selesai, padahal kita lebih menguasai permasalahan tersebut.

Keempat, berani meminta dan memberi maaf dengan tulus. Ini adalah inti dari halal bihalal. Bukan sekadar ucapan “mohon maaf lahir batin” yang diulang-ulang, tetapi benar-benar disertai kesadaran dan keikhlasan untuk memperbaiki hubungan yang mungkin pernah retak.

Kelima, jaga silaturahmi setelah acara selesai. Halal bihalal seharusnya bukan satu-satunya momen untuk berhubungan. Menjaga komunikasi, menyapa di waktu lain, atau membantu saat dibutuhkan adalah bentuk nyata bahwa silaturahmi tidak berhenti pada satu hari saja.

Keenam, bijak dalam menggunakan media sosial. Tidak semua momen perlu dipamerkan. Jika pun ingin berbagi, pastikan tidak menghilangkan makna kebersamaan yang sebenarnya atau membuat orang lain merasa dibandingkan.

Pada akhirnya, pilihan kembali kepada masing-masing individu: apakah akan menjadikan halal bihalal sebagai ruang memperkuat hati, atau sekadar panggung mempertegas citra diri. Tradisi ini akan tetap hidup, tetapi maknanya akan selalu ditentukan oleh cara kita menjalaninya.

* Penulis adalah dosen FTIK UIN Kiai Ageng Muhammad  Besari Ponorogo

0 comments:

Posting Komentar