f ' Labirin Rasa di Hari Kamis ~ Inspirasi Pendidikan

Kamis, 18 Juni 2026

Labirin Rasa di Hari Kamis


Karya: Shakayla Adzkiya El Queena 

Hari Kamis selalu terasa seperti monster bagi Queena. Bagaimana tidak? Deretan mata pelajaran mulai dari Matematika, IPA, Bahasa Jawa, PJOK, hingga TIK berjejal memaksa masuk ke kepalanya yang serasa mau pecah akibat vertigo. Bel sekolah yang berbunyi nyaring terdengar sangat kuno, seolah memanggil para siswa dari zaman Kerajaan Mataram.

Meskipun kelas Queena terkenal berisi anak-anak ber-IQ tinggi, kelakuan mereka tetap saja khas remaja. Tidur di kelas, malas, atau dihukum guru sudah jadi santapan harian. Bahkan langganan disidang di ruang BK. Namun, solidaritas mereka kuat bak keluarga. Sayangnya, kehangatan itu mendadak menguap bagi Queena begitu pelajaran Matematika dimulai.

Langkah kaki sang guru wanita yang merangkul laptop dan buku kian mendekat.di belakangnya seorang siswa dengan tubuh tinggi tegak membawa seperangkat kabel mengikuti. Ya, semua tahu kalau dia adalah Mas Tama, Kakak kelas. Begitu Bu Guru duduk di kursi dan membuka laptop, dia yang sibuk membantu untuk menyambungkan ke layar monitor kelas.  Kelas mendadak ricuh, teman-teman Queena sibuk mengatur posisi dan mematikan layar PC yang tersambung ke TV kelas. Begitu duduk, sang guru langsung mencekoki mereka dengan rumus-rumus rumit. Queena tidak luput diiserang dengan pertanyaan matematika yang mematikan.

Queena gelagapan menjawab. Di tengah kepanikan tiba-tiba terdengar suara dari depan. Dengan wajah tanpa senyum, anak itu menyindir Queena yang tampak kebingungan, “Paham gak nih... jangan lama-lama loading-nya!”

Seketika seisi kelas menertawakannya. Rasanya Queena ingin menghilang karena malu. Beruntung, Queena sudah terbiasa dengan ejekan model seperti ini dari teman-teman sekelas. Untuk menenangkan hatinya yang dongkol, Queena pura-pura tersenyum manis meskipun pahit rasaya. Apalagi yang menyindir adalah Mas Tama, Kakak kelas yang sok pintar ini.

Sesampainya di rumah, rasa malas membayangi Queena saat mengingat tugas Civic Education (PKn) dari guru killer yang harus dikumpulkan besok. Namun, kantuk dan rasa malasnya mendadak buyar saat sebuah notifikasi berdering. di layarnya, muncul nama "Mas Tama".

Mas Tama adalah kakak kelas yang semua siswi pasti kenal. Perawakannya tinggi, berkulit sawo matang dengan senyum manis eksotis. Nilai plusnya? Dia sangat genius di bidang Matematika, sebuah pesona level dewa di mata Queena.

“Aku free nih, mau ngobrol nggak?” pesan dari Mas Tama.

Tepat di saat jemari Queena gemetar ingin membalas, sebuah pesan lain masuk. Kali ini dari Alza, cowok yang selama ini diam-diam ditunggunya.

“Bantu aku jawab soal dong,” tulis Alza singkat.

Queena panik. Logika dan perasaannya bertabrakan. Dengan gugup, ia meminta saran ke grup obrolan bersama sahabat-sahabatnya: Lucy, Veliza, Rena, dan Viska.

Respon sahabat-sahabatnya justru sangat menohok.

"Udah jelas-jelas nggak pasti, ngapain ditunggu?" ketus Lucy.

"Ingat, second choice itu ngalah," tambah Viska mengingatkan bahwa Alza sering memperlakukan Queena sebagai pilihan kedua.

Kata-kata mereka menghujam bak pasukan gajah. Queena sadar, selama ini Alza hanya mencarinya saat butuh bantuan tugas. Di titik akhir logikanya, Queena berbisik pada diri sendiri: “Dia tidak sepeduli itu dengan perasaanku selama ini.”

Dengan nekat, Queena mengetik pesan penolakan kepada Alza.

“Sorry Za, aku masih sibuk.”

Lalu, ia mengiyakan ajakan Mas Tama untuk melakukan panggilan telepon pertama mereka.

Queena mengira obrolan dengan Mas Tama akan terasa monoton, kaku, dan membosankan mengingat citra Mas Tama di sekolah yang pendiam, jarang tersenyum, dan tampak tidak peka. Ia takut Mas Tama akan sedingin Alza.

Namun, begitu suara di seberang telepon menyapa, asumsi Queena berputar 180 derajat. Mas Tama ternyata sangat hangat, seru, dan pendengar yang baik. Mereka tertawa bersama, berdiskusi banyak hal, hingga membuat Queena melupakan sejenak beban tugas sekolahnya.

Di tengah asyiknya obrolan, Mas Tama tiba-tiba berkata, “Oh iya Queen, maaf ya soal kejadian di kelas tadi Kamis. Aku nggak bermaksud bikin kamu malu di depan anak-anak waktu mapel Matematika.”

Queena tertegun. Jantungnya serasa berhenti. “Maksud... Mas Tama?”

“Iya, tadi siang kan aku yang masuk ke kelasmu bareng Bu Guru buat bantu asistensi materi PC yang nyambung ke TV,” suara Mas Tama terdengar tulus dan penuh sesal dari seberang telepon.

“Wajahku emang galak dan nggak ada manis-manisnya kalau lagi serius ngajar. Kalimatku yang 'jangan lama-lama loading-nya' itu murni bercanda biar kelas gak tegang, tapi aku baru sadar kalau itu malah bikin kamu ditertawain sekelas. Maaf banget ya, Queen.”

Queena mematung di kamarnya. Semburat merah langsung menjalar di pipinya.

Plot twist kehidupan remaja baru saja dimulai. Sosok menyebalkan yang sepanjang hari ia umpat sebagai sok pintar di kelas Matematika, ternyata adalah Mas Tama, kakak kelas idaman yang diam-diam dikaguminya, sekaligus cowok yang malam ini sedang menemaninya tertawa lewat panggilan telepon.

Satu malam di telepon bersama Mas Tama telah berhasil menjungkir balikkan dunia Queena. Kejadian hari Kamis yang semula dianggapnya sebagai kutukan, berubah menjadi awal dari sebuah harapan baru. Hari-hari berikutnya dilewati Queena dengan senyum yang sulit disembunyikan. Di koridor sekolah, setiap kali berpapasan dengan Mas Tama yang bertubuh tinggi itu, ada getaran halus yang membuat langkah kaki Queena terasa ringan. Mas Tama sesekali memberikan anggukan kecil atau senyuman tipis, sesuatu yang dulu dianggap Queena sebagai sikap "tak kasat rasa", namun kini terasa begitu eksklusif hanya untuknya.

Queena merasa telah mengambil keputusan paling tepat dalam hidup remaja awalnya: membuang Alza yang hanya datang saat butuh, dan membuka hati untuk Mas Tama yang genius Matematika dan ternyata penuh kehangatan.

Namun, dunia remaja memang sebuah labirin yang kejam. Dan Queena baru saja membentur dinding paling keras.

Tepat satu minggu setelah malam telepon yang indah itu, hari Kamis kembali datang membawa takdirnya yang dingin. Siang itu, bel istirahat berbunyi. Queena bermaksud pergi ke perpustakaan untuk mencari referensi tugas Civic Education alias PKn yang mulai menumpuk lagi. Langkahnya terhenti tepat di koridor dekat laboratorium komputer yang agak sepi.

Dari balik sekat ruangan, ia mendengar suara tawa yang sangat ia kenal. Suara berat, lembut, dan renyah. Suara Mas Tama.

Queena berniat mengejutkannya. Namun, begitu ia melangkah mendekat, pasokan oksigen di paru-parunya seolah tersedot habis. Di sana, Mas Tama tidak sendirian. Ia sedang duduk berdua, begitu dekat dan asyik, dengan seorang siswi bernama Nindia, siswi populer dari kelas sebelah yang dikenal cantik, pintar, dan berprestasi.

Mas Tama sedang menatap Nindia dengan binar mata yang belum pernah Queena lihat sebelumnya. Tangan Mas Tama bergerak pelan, mengacak rambut Nindia dengan penuh kasih sayang, sebuah gestur yang teramat intim.

“Kamu masih marah soal minggu lalu?” samar-samar Queena mendengar suara Mas Tama membujuk Nindia.

“Maaf ya, kemarin aku emang lagi pusing banget karena kita berantem. Makanya aku sengaja nyari kesibukan lain biar nggak kepikiran kamu terus.”

Nindia mengerucutkan bibirnya, lalu tersenyum manis.

“Terus, cewek kelas bawah yang kamu telepon semalaman itu gimana? Kamu nggak kasihan?”

Mas Tama terkekeh, menggelengkan kepala meremehkan.

“Queena? Ah, dia cuma anak anak remaja awal yang polos, gampang baper. Lagian malam itu aku cuma gabut dan butuh pelarian gara-gara kamu diemin. Mana mungkin aku serius sama anak kecil? Cinta aku kan cuma buat kamu, Nin.”

Brak!!!

Dunia di sekitar Queena serasa runtuh. Jiwanya seperti dihantam gada besi berwajah seribu. Kata-kata Mas Tama barusan bukan lagi sekadar sindiran Matematika yang membuatnya malu sekelas, melainkan belati berkarat yang ditusukkan tepat ke ulu hatinya, lalu diputar dengan sengaja.

Queena berbalik, berlari sekencang-kencangnya menuju toilet paling pojok sekolah. Di depan cermin, napasnya memburu, air matanya tumpah tak terbendung. Rasa malu, kecewa, benci, dan dendam bercampur menjadi satu racun yang pekat di dalam dadanya.

“Pelarian? Anak kecil yang gampang baper?” Queena berbisik lirik, suaranya bergetar menahan amarah yang meledak-ledak.

Rasa benci yang luar biasa kini mengalir di setiap aliran darahnya. Ia membenci Mas Tama atas kepalsuan wajah manis eksotisnya. Ia membenci Nindia yang menertawakan kepolosannya. Dan yang paling parah, ia membenci dirinya sendiri karena begitu bodoh dan murahan hingga mau dijadikan obat penawar sepi dari sepasang kekasih yang sedang bertengkar.

Seketika, kata-kata pedas dari Viska dan teman-temannya terngiang kembali di kepalanya: “Ngapain ditunggu? Second choice itu ngalah.”

Ternyata, bukan hanya Alza yang menganggapnya pilihan kedua. Mas Tama, cowok yang ia anggap "pesona level dewa", melakukan hal yang jauh lebih menjijikkan, menjadikannya sebuah keset pelampiasan ego.

Amarah itu mulai meracuni pikiran sehatnya. Muncul hasrat gelap di benak Queena untuk membalas dendam. Ingin rasanya ia mengonfrontasi mereka di depan umum, menyebarkan cerita busuk tentang kelakuan Mas Tama, atau setidaknya membuat kekacauan yang bisa menghancurkan reputasi Mas Tama yang sebentar lagi mau lulus. Pikiran tentang cinta monyet ini benar-benar telah membutakannya, persis seperti ketakutannya dulu tentang remaja sebayanya yang menghalalkan segala cara demi perasaan obsesif.

Namun, di tengah badai dendam itu, lembaran kertas putih bergaris di dalam sakunya mendadak terjatuh ketika dia merogoh saku untuk mengambil tisu. Itu adalah kertas tempat ia menulis puisi dan target masa depannya. Queena tertegun melihat tulisan tangannya sendiri.

Aku adalah anak kelas unggulan ber-IQ tinggi. Aku punya mimpi besar untuk kuliah di universitas ternama, menjadi seorang penulis hebat, dan membuktikan pada dunia bahwa aku bukan sekadar angka di buku absen.

Dua kekuatan besar kini berperang hebat di dalam dada remaja awal itu. Di satu sisi, perasaan hancur dan dendam membara yang mendesaknya untuk merusak segalanya, membiarkan nilai-nilainya hancur, dan larut dalam depresi cinta remaja yang toxic. Di sisi lain, cita-cita dan harga diri yang berteriak mengingatkannya bahwa masa depannya terlalu mahal untuk ditumbalkan demi seorang lelaki pengecut.

Queena membasuh wajahnya dengan air dingin. Menatap tajam bayangannya di cermin.

“Kamu mau menghancurkan masa depanmu hanya untuk membuktikan bahwa tebakan mereka benar? Bahwa kamu cuma anak kecil yang lemah?” tanyanya pada diri sendiri.

Tidak. Queena menolak kalah. Kalau Mas Tama menggunakan keahlian Matematikanya untuk meremehkan orang, maka Queena akan menggunakan otak dan penanya untuk membalas dengan cara yang paling elegan. Kesuksesan yang tak tergapai oleh mereka.

Queena mengambil tasnya, berjalan keluar dari toilet dengan dagu tegak. Rasa kecewa dan benci itu tidak hilang, perasaan itu masih ada dan amat menyakitkan, namun kini Queena telah mengubah racun itu menjadi bahan bakar. Labirin remaja ini memang penuh jebakan, tetapi malam ini, di atas kertas putih bergarisnya, di dalam buku diarinya,  Queena tidak lagi menulis puisi cengeng tentang cinta. Ia menulis babak baru tentang ambisinya. Meninggalkan Mas Tama dan Alza di belakang sebagai serpihan masa lalu yang remeh.

---------

*        Penulis

0 comments:

Posting Komentar