f ' KPM DESA BONDRANG RESMI DITUTUP, MAHASISWA TINGGALKAN KESAN DAN JEJAK PENGABDIAN DI TENGAH MASYARAKAT ~ Inspirasi Pendidikan

Kamis, 13 Agustus 2026

KPM DESA BONDRANG RESMI DITUTUP, MAHASISWA TINGGALKAN KESAN DAN JEJAK PENGABDIAN DI TENGAH MASYARAKAT

Ponorogo, 13 Agustus 2026 — Setelah lebih dari satu bulan melaksanakan berbagai program pengabdian, mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo resmi mengakhiri rangkaian kegiatan di Desa Bondrang, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Kamis (13/8/2026). Meskipun begitu para mahasiswa baru pulang pada tanggal 14 Agustus 2026, karena terlebih dahulu akan berpamitan dengan warga sekitar Posko dan para tokoh masyarakat secara langsung. Acara penutupan yang dimulai pukul 09.00 WIB tersebut berlangsung di Desa Bondrang dan dihadiri oleh Kepala Desa Bondrang Barru Pria Sukoco, Sekretaris Desa, para Kepala Dusun, Ketua BPD Bapak Soelarno, ibu-ibu PKK, serta perwakilan lembaga pendidikan. Hadir pula Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dr. Hariyanto, M.Pd. dan Septiyan, M.E., Sy., bersama mahasiswa peserta KPM. Suasana penutupan berlangsung dalam nuansa kekeluargaan. Tidak sekadar menjadi seremoni berakhirnya masa pengabdian, kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi atas perjalanan mahasiswa selama berada di tengah masyarakat Desa Bondrang.

Mewakili UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, Dr. Hariyanto, M.Pd. menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Desa Bondrang beserta seluruh masyarakat yang telah menerima mahasiswa KPM dengan penuh kehangatan. Ia mengungkapkan bahwa selama lebih dari satu bulan berada di Desa Bondrang, mahasiswa tidak hanya mendapatkan kesempatan untuk menjalankan program kerja, tetapi juga memperoleh pengalaman berharga melalui interaksi dan kehidupan bersama masyarakat.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Bapak Kepala Desa dan seluruh masyarakat Desa Bondrang yang telah menerima mahasiswa kami, menyambut mereka dengan penuh kekeluargaan, serta memberikan dukungan terhadap seluruh program kerja yang dilaksanakan selama KPM.” Menurutnya, dukungan masyarakat menjadi salah satu faktor penting yang membuat berbagai program KPM dapat berjalan dengan baik. Kehadiran masyarakat sebagai mitra pengabdian juga memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa tentang bagaimana ilmu pengetahuan diterapkan dalam kehidupan sosial.

Sementara itu, Septiyan, M.E., Sy. menyampaikan permohonan maaf apabila selama pelaksanaan KPM terdapat sikap, perkataan, maupun tindakan mahasiswa yang kurang berkenan di hati masyarakat. “Kami juga memohon maaf apabila selama mahasiswa melaksanakan KPM di Desa Bondrang terdapat hal-hal yang kurang berkenan di hati masyarakat. Pada kesempatan ini, kami juga memohon izin untuk menarik kembali mahasiswa agar dapat melanjutkan proses perkuliahan pada semester tujuh.” Permohonan tersebut menjadi penanda bahwa masa pengabdian mahasiswa di Desa Bondrang telah selesai. Namun, hubungan baik yang telah terbangun antara mahasiswa dan masyarakat diharapkan tetap terjaga meskipun secara formal masa KPM telah berakhir.

Apresiasi juga disampaikan oleh Kepala Desa Bondrang, Barru Pria Sukoco. Dalam sambutannya, Kepala Desa mengungkapkan kesan positif terhadap keberadaan mahasiswa selama menjalankan KPM. Menurutnya, mahasiswa telah memberikan kontribusi yang cukup berarti bagi berbagai kegiatan masyarakat, khususnya dalam bidang pendidikan dan sosial kemasyarakatan. “Kami sangat berbangga dengan kehadiran mahasiswa KPM di Desa Bondrang. Selama berada di sini, mahasiswa sangat membantu berbagai kegiatan masyarakat, terutama di bidang pendidikan dan sosial kemasyarakatan.”

Ia juga memberikan apresiasi terhadap berbagai program pemberdayaan yang telah dilaksanakan mahasiswa. Salah satunya adalah pelatihan membatik yang dilaksanakan Kelompok 66 bersama ibu-ibu PKK Desa Bondrang. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak berhenti pada proses pelatihan, tetapi telah mulai menunjukkan hasil. Ibu-ibu PKK mendapatkan pengalaman dan keterampilan baru yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi kegiatan produktif masyarakat. Apresiasi serupa juga diberikan terhadap pelatihan pembuatan pupuk organik yang dilaksanakan Kelompok 67 bersama kelompok tani. Program tersebut dinilai relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dapat menjadi salah satu bentuk pemanfaatan potensi lokal.

Salah satu momen menarik dalam acara penutupan adalah penyerahan cendera mata berupa batik hasil karya mahasiswa bersama ibu-ibu PKK Desa Bondrang. Batik tersebut menjadi lebih dari sekadar hasil karya. Ia menjadi simbol pertemuan antara kreativitas mahasiswa dan keterampilan masyarakat yang dibangun melalui proses belajar bersama. Selain batik, mahasiswa juga menyerahkan sejumlah peralatan sederhana untuk membatik, antara lain kompor, canting, malam, dan perlengkapan pendukung lainnya. Peralatan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan oleh ibu-ibu PKK untuk melanjutkan kegiatan membatik setelah mahasiswa menyelesaikan masa KPM.

Ketua Kelompok 66, Ridho, menyampaikan bahwa peralatan yang diberikan masih bersifat sederhana dan dapat dikembangkan lebih lanjut.

“Peralatan yang kami serahkan memang masih sangat sederhana. Jika nantinya ibu-ibu PKK atau pemerintah desa menghendaki peralatan yang lebih baik, tentu dapat dilengkapi secara bertahap sehingga hasil dan kualitas batiknya juga dapat semakin baik.”

Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa program KPM tidak diarahkan untuk berhenti ketika mahasiswa meninggalkan desa. Sebaliknya, mahasiswa berupaya meninggalkan sesuatu yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat. Semangat keberlanjutan juga disampaikan oleh Huda dan Shinta, sebagai fasilitator pelatihan membatik Kelompok 66. Mereka menyatakan kesiapannya untuk memberikan pendampingan maupun pelatihan lanjutan apabila masyarakat Desa Bondrang masih membutuhkan bantuan dalam mengembangkan keterampilan membatik.

“Meskipun masa KPM kami di Desa Bondrang sudah selesai, jika ibu-ibu PKK membutuhkan pelatihan lanjutan, kami siap membantu sebisa kami. Harapannya, keterampilan yang sudah dipelajari tidak berhenti sampai di sini, tetapi dapat terus dikembangkan.”

Komitmen tersebut memperlihatkan bahwa pengabdian tidak selalu berakhir bersamaan dengan berakhirnya program formal. Pengetahuan dan pengalaman yang telah dibagikan dapat terus tumbuh melalui inisiatif masyarakat. Selama menjalankan KPM, mahasiswa tidak hanya melaksanakan kegiatan sebagai bagian dari program kerja. Mereka juga belajar memahami kehidupan masyarakat secara langsung. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu, membangun komunikasi, bekerja sama, serta memahami persoalan dan potensi yang ada di masyarakat. Di bidang pendidikan, mahasiswa terlibat dalam kegiatan sekolah dan pembelajaran. Di bidang sosial, mereka hadir dalam berbagai aktivitas kemasyarakatan. Di bidang pemberdayaan, mereka mencoba memperkenalkan keterampilan yang dapat dikembangkan masyarakat, seperti membatik dan pembuatan pupuk organik.

Karena itu, penutupan KPM bukan sekadar akhir dari sebuah agenda. Ia merupakan titik peralihan,  mahasiswa kembali ke kampus membawa pengalaman, sedangkan masyarakat menerima berbagai pengetahuan, keterampilan, dan kenangan dari para mahasiswa.

Setelah rangkaian sambutan dan penyerahan cendera mata, acara dilanjutkan dengan foto bersama mahasiswa, Kepala Desa, perangkat desa, dan seluruh undangan yang hadir. Di balik senyum yang terlihat dalam sesi foto bersama, tersimpan suasana haru. Lebih dari satu bulan hidup berdampingan dengan masyarakat membuat mahasiswa memiliki ikatan emosional dengan Desa Bondrang. Bagi mahasiswa, desa bukan lagi sekadar lokasi KPM. Ia telah menjadi ruang belajar tentang kehidupan, kebersamaan, gotong royong, dan arti sebuah pengabdian. Sementara bagi masyarakat, kehadiran mahasiswa meninggalkan cerita tersendiri, tentang anak-anak muda yang datang membawa ilmu, belajar bersama masyarakat, membantu berbagai kegiatan, kemudian berpamitan untuk kembali melanjutkan perjalanan akademiknya. KPM boleh berakhir, tetapi pengalaman dan manfaat yang telah ditanamkan diharapkan terus tumbuh.

“Pengabdian bukan tentang berapa lama kita tinggal, tetapi tentang seberapa bermakna kehadiran kita bagi orang lain.”

Penutupan KPM di Desa Bondrang akhirnya menjadi penanda berakhirnya satu perjalanan, sekaligus awal bagi perjalanan berikutnya. Mahasiswa kembali ke bangku perkuliahan untuk melanjutkan semester tujuh, sementara masyarakat Desa Bondrang melanjutkan berbagai aktivitas dan program yang telah dirintis bersama. Dari Bondrang, mahasiswa belajar bahwa ilmu akan menjadi lebih bermakna ketika dibagikan, dan pengabdian akan menjadi lebih berarti ketika meninggalkan jejak yang dapat dilanjutkan. (Kelompok 66) 

0 comments:

Posting Komentar