Oleh: Munfaridah Nur Fauziah
f '
Berbagi Inspirasi dan informasi pendidikan
Pendidikan bukan cuma pergi ke sekolah dan mendapatkan gelar. Tapi, juga soal memperluas pengetahuan dan menyerap ilmu kehidupan.
Kurang cerdas bisa diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki (Bung Hatta)
Tinggikan dirimu, tapi tetapkan rendahkan hatimu. Karena rendah diri hanya dimiliki orang yang tidak percaya diri.
Hanya orang yang tepat yang bisa menilai seberapa tepat kamu berada di suatu tempat.
Puncak tertinggi dari segala usaha yang dilakukan adalah kepasrahan.
Oleh: Munfaridah Nur Fauziah
inspirasipendidikan.com_
MisterQu begitu masyarakat Ponorogo mengenalnya. Sebuah nama lembaga pendidikan
dibawah naungan Yayasan Qurrota A’yun Ponorogo. Misterqu sejatinya adalah
Madrasah Ibtidaiyah Tahfidz dan Enterpreneur. Sesuai dengan Visinya yaitu membentuk
generasi Qur’ani dan Enterpreneur, maka berbagai keterampilan pendukung lainnya
juga diberikan kepada para siswa-siswinya. Salah satunya adalah pelatihan
menulis yang disesuaikan dengan level kemampuan literasi anak usia pendidikan
dasar. Shooting adalah akronim dari Short story training. Sebuah
pelatihan menulis cerita pendek bagi siswa-siswi kelas 5 dan 6 MisterQu. Bagi
sebagian besar orang mungkin mengira akan sulit untuk mengajarkan keterampilan
menulis cerita pendek, tetapi tidak bagi para siswa dan siswi di sekolah ini,
karena setiap tahun buku-buku karya peserta didik berhasil diterbitkan. Misalnya,
buku Kumpulan Cerpen “Kami yang Tak Pernah Biasa’ karya siswa-siswi kelas 6
tahun 2025. Kemampuan Literasi inilah yang ingin terus dibangkitkan oleh Kepala
MI Tahfidz dan Enterpreneur Qurrota A’yun, Lia Anies Winianti, M.Pd. Bersama jajarannya
Kepala Madrasah berhasil memajukan lembaga yang dipimpinnya hingga mendapatkan
peringkat akreditasi “UNGGUL”.
Tidak
mengherankan jika acara pelatihan ini menyenangkan karena penyampaian yang
mudah dipahami, mulai dari dasar, dan penuh ketelatenan dalam membimbing. Keberanian
peserta didik untuk bertanya dan menjawab pertanyaan dari trainer menunjukkan
kegiatan berlangsung dua arah. Anak-anak merasa nyaman sehingga tidak terasa
lebih dari 2 jam berlalu dengan cepat. Dalam kesempatan itu, Ibu Afrilia
menjelaskan pengertian Cerpen, ciri-ciri cerpen, langkah mudah untuk menulis
cerpen bagi anak usia pendidikan dasar, dan meminta anak-anak menulis dalam
beberapa paragraf serta menceritakan kembali apa yang ditulisnya secara lisan.
Dengan demikian, selain menulis, secara tidak langsung peserta didik juga
dilatih berani untuk mengasah keterampilan public speakingnya.
Sebagai
apresiasi dari Ibu Afrilia, beberapa siswa yang berani bertanya, menulis dengan
hasil yang bagus, dan berani tampil menceritakan kembali cerpennya secara
lisan, diberikan hadiah cendera mata dari penerbit CV. Pustaka El Queena dan
beberapa buku cerpen yang telah diterbitkan.
Pada
akhir acara pelatihan menulis cerpen ini, Ibu Afrilia sebagai seorang trainer
professional memberikan motivasi mengapa menulis itu penting. Menurutnya menulis
adalah mengukir peradaban di masa kini dan di masa depan. “Dengan membaca kita
mengenal dunia, dan dengan menulis kita dikenal dunia.” Tegasnya. “Imam Al
Ghazali pernah mengatakan bahwa jika kamu bukan anak seorang raja, bukan anak
seorang ulama, maka menulislah. Karena orang lain akan mengenal kamu dari
bentangan pikiran-pikiran yang kamu tuangkan dalam tulisan. Tidak perlu
menunda, mulailah menulis. Dan jadilah generasi yang bermanfaat tidak hanya
bagi diri sendiri, tetapi juga bagi keluarga, lingkungan sekitar kamu dan
membanggakan bangsamu melalui karya-karya hebatmu.” Imbuhnya.
Oleh: Nadyatul Mu’awanah
Oleh: Nurul Izahti*
Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang menjujung tinggi
nilai-nilai moral. Bahkan nilai-nilai moral tersebut tercermin dalam dasar
negara Indonesia yaitu Pancasila dan Undang-undang. Nilai-nilai moral yang
tercantum dalam dasar negara diharapkan dapat dijadikan sebagai pedoman
kehidupan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan masyarakat yang
bermoral maka dapat menjadi kunci dalam menjaga dan mengisi kemerdekaan bagsa
Indonesia. Namun saat ini Indonesia tengah menghadapai berbagai tantangan besar
salah satunya berupa dekadensi moral atau kemorosotan moral. Saat ini banyak
sekali ditemui berbagai praktik dekadensi moral seperti melemahnya semangat
gotong royong, munculnya berbagai kekerasan, perundungan, seks bebas, penggunaan
narkotika dan maraknya praktik korupsi.
Di tengah adanya perkembangan globalisasi dan modernisasi, krisis
moral menjadi tantangan besar yang dihadapi bangsa Indonesia. Dampak dari
adanya dekadensi moral tidak bisa dipandang sebelah mata, karena dampaknya
sangat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan sosial, budaya dan juga sistem
pemerintahan negara. Dekadensi moral bisa disebabkan oleh berbagai faktor, baik
dari faktor internal dan eksternal. Beberapa faktor utama yang menjadi penyebab
dekadensi moral yaitu lemahnya nilai spritualitas, minimnya pendidikan karakter
serta pengaruh negatif dari adanya perkembangan teknologi. Dari situasi seperti
ini, dari kalangan masyarakat dan juga pemerintahan harus memulai perbaikan
moral. Salah satu solusi yang bisa diusahakan yaitu dengan memperbaiki sistem
pendidikan Indonesia. Dalam konteks ini, lembaga pendidikan tinggi khususnya
kampus yang mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan harus hadir sebagai benteng
moral dan agen pembentuk peradaban yang bermartabat.
Kampus bukan hanya sekedar tempat untuk mencari ilmu, tetapi
disamping itu juga sebagai tempat dalam pembentukan dan mewujudkan karakter
mahasiswa yang bermoral. Khususnya bagi perguruan tinggi keagamaan yang
memiliki tanggungjawab dan peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai
spiritual dan etika. Disamping mengajarkan pengetahuan umum kampus keagamaan
juga berusaha mengajarkan nilai spiritualitas, tanggung jawab, jujur, adil dan
rasa empati terhadap orang lain. Cendekiawan Muslim Indonesia yang lebih dikenal
sebagai tokoh politik Masyumi dan Mantan Perdana Menteri RI yaitu M. Natsir
memiliki pemikiran bahwa pendidikan harus mampu mengintegrasikan antara agama
dan ilmu pengetahuan secara harmonis, integral dan universal tanpa adanya
dikotomi atau pemisahan. M. Natsir berharap setiap individu mampu memadukan dan
menyeimbangkan antara nilai agama dan ilmu pengetahuan umum. Maka dari itu
religiusitas suatu kampus seharusnya tidak hanya sebatas sebagai simbol saja
tetapi juga harus mendorong mahasiswanya untuk mampu menerapkan nilai moral
dalam kehidupan sehari-harinya.
Untuk memperkuat penanaman nilai moral pada mahasiswa, pihak
kampus juga harus mampu melakukan kolaborasi baik dengan pemerintah, masyarakat
dan juga lembaga keagamaan. Sepertihalnya dengan membuat program pengabdian
kepada masyarakat yang berbasis pada nilai-nilai keagamaan. Tujuan dari program
tersebut yaitu mahasiswa tidak hanya belajar pendidikan moral sebatas diruang
kelas saja tetapi juga di tengah kehidupan masyarakat sehingga pendidikan moral
pada mahasiswa juga akan berdampak panjang dalam kehidupan sehari-harinya.
Disamping itu kampus beragama juga memiliki peran yang penting dalam menjawab
berbagai problematika yang muncul akibat perbedaan suku, agama, ras serta
radikalisme melalui pendekatan berbasis nilai. Dengan meningkatkan nilai
toleransi dan kerukunan melalui kegiatan dialog antar agama, kegiatan sosial
dan juga kegiatan keagamaan yang inklusif.
Bangsa yang bermoral tidak dapat diwujudkan secara instan,
melainkan butuh proses yang panjang salah satunya melalui pendidikan yang
bermakna. Maka dari itu melalui kurikulum yang mengintegrasikan antara ilmu dan
akhlak, kampus beragama diharapkan dapat mencetak lulusan yang bukan hanya
cerdas secara intelektual tetapi juga matang secara spiritual dan moral.
Sehingga dapat menjaga moralitas dan peradaban bangsa yang bermartabat.
------
*Penulis adalah Mahasiswi jurusan PAI , UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo
Oleh: Nida Rofifah
Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin
pesat saat ini, penggunaan teknologi digital dalam dunia pendidikan juga
semakin meningkat pesat. Pembelajaran yang dilakukan secara daring, pemanfaatan
platform media sosial, dan penggunaan berbagai aplikasi pembelajaran saat ini
sudah menjadi bagian tidak dapat dipisahkan dari proses belajar mengajar. Di
era digital seperti saat ini sebenarnya memberikan peluang besar kepada
pendidik dan peserta didik semua untuk memperluas akses pendidikan,
meningkatkan kreativitas dan inovasi, dan juga memfasilitasi pembelajaran yang
lebih interaktif dan menyenangkan. Kita diberi kemudahan untuk mengakses
berbagai bahan ajar secara lebih luas. Namun, di balik semua kemudahan itu,
terdapat berbagai tantangan yang harus dihadapi oleh para pendidik, peserta
didik, dan pemerintah khususnya dalam bidang pendidikan.
Salah satu tantangan yang dihadapi adalah
terjadinya ketidak setaraan pada titik akses teknologi atau kesenjangan akses
teknologi. Meskipun saat ini teknologi sudah tersebar dimana mana dan
terealisasikan secara masif, akan tetapi masih terdapat beberapa tempat atau
daerah yang masih belum bisa dijangkau oleh tekhnologi yang disebabkan oleh
beberapa faktor salah satunya yaitu akses internet yang tidak memadai sehingga
hal itu menyebabkan kesulitan bagi para peserta didik untuk bisa mengakses
teknologi AI dengan mudah.1 Selain itu, tidak semua peserta didik memiliki
perangkat yang memadai. Ini menciptakan ketidakadilan dalam peluang belajar,
terutama bagi mereka yang tinggal di daerah terpencil atau keluarga dengan
ekonomi golongan menengah kebawah. Seperti dalam penelitian studi kasus pada
masyarakat pedesaan yang dilakukan oleh Adristi Naura Syifa dan kawan-kawan
menunjukkan bahwa kesenjangan digital dan akses internet di kabupaten Katingan
dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat dalam berbagai profesi. Hasil penelitian
terhadap masyarakat Kabupaten Katingan yang berprofesi sebagai ASN (aparatur
sipil negara), guru, petani sawit, wirausaha, tenaga honorer, mahasiswa,
pegawai harian lepas, dan ASN di UPTD Puskesmas Tumbang Sanamang, menunjukkan
bahwa kesenjangan akses digital telah memberikan dampak terhadap pendidikan,
perekonomian, dan kehidupan sosial masyarakat. Sehingga perlu adanya peran
aktif pemerintah untuk mengatasi hal tersebut.2
Selain itu, tantangan lain adalah ketersediaan
sumber daya manusia yang mampu untuk mengelola dan mengembangkan teknologi
pendidikan secara efektif. Seorang pendidik harus terus meningkatkan
kompetensinya dalam bidang teknologi, pedagogi digital, pengelolaan kelas, dan
lain sebagainya. Sayangnya, tidak semua pendidik memiliki kesempatan pelatihan
teknologi digital yang memadai yang dapat berpengaruh signifikan pada kualitas
pembelajaran apalagi terhadap guru yang sudah menginjak usia lanjut.
Dari tantangan tersebut, penting bagi kita semua untuk melihat
peluang yang ada. Pemerintah dan lembaga pendidikan harus berperan aktif dalam
menyediakan fasilitas, pelatihan, serta membangun sistem yang inklusif dan
aman. Guru juga perlu terus mengembangkan kompetensi yang harus dimiliki oleh
seorang pendidik dan juga harus berinovatif dalam mengajar menggunakan
teknologi. Sementara peserta didik harus didukung agar mampu memanfaatkan
teknologi secara positif dan bertanggung jawab. Jika semua elemen mampu bekerja
sama dan beradaptasi dengan perubahan ini, maka pendidikan Indonesia akan mampu
bersaing di tingkat global dan menghasilkan generasi penerus yang kompeten
serta inovatif
Bahan Bacaan:
1 M. Zidan Rizki, “Tantangan Pendidikan Indonesia
di Era Digitalisasi Artificial Intelligence (AI),” JIIC: Jurnal Intelek
Insan Cendekia, Vol. 1, No. 7 (September, 2024), 2924.
* Penulis adalah mahasiswa jurusan PAI, UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo
Oleh: Nanda Eka Putri*
* Penulis adalah Mahasiswa Jurusan PAI, UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo
OLEH: NURUL HIDAYAH*
* Penulis adalah Mahasiswi Jurusan PAI, UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo
Oleh: Ni Luh Indriaswati*
* Penulis adalah Mahasiswi Jurusan PAI, UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo