* Penulis adalah pemerhati dalam bidang pendidikan
f '
Berbagi Inspirasi dan informasi pendidikan
Pendidikan bukan cuma pergi ke sekolah dan mendapatkan gelar. Tapi, juga soal memperluas pengetahuan dan menyerap ilmu kehidupan.
Kurang cerdas bisa diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki (Bung Hatta)
Tinggikan dirimu, tapi tetapkan rendahkan hatimu. Karena rendah diri hanya dimiliki orang yang tidak percaya diri.
Hanya orang yang tepat yang bisa menilai seberapa tepat kamu berada di suatu tempat.
Puncak tertinggi dari segala usaha yang dilakukan adalah kepasrahan.
![]() |
| Dr. Hariyanto, M.Pd* |
Ghostwriter,
sebuah istilah asing yang akhir-akhir ini sering kita dengar seiring dengan
banyaknya publikasi abal-abal dan krisis integritas yang melanda dunia
pendidikan. Ghostwriter adalah seorang penulis bayangan yang menulis
untuk keperluan orang lain. Tindakannya disebut ghostwriting. Seorang ghostwriter
mendapatkan bayaran dari hasil menulisnya tetapi karya yang ditulisnya
diatasnamakan orang yang membayarnya sebagai punulis. Arnani dan Nindhita
(2024) menyebut ghostwriting ini dengan contract cheating atau academic
outsourcing. Clarke & Lancaster (2006) mendefinisikan
contract cheating merujuk pembayaran
kepada orang lain untuk menyelesaikan tugas sehingga orang yang membayar tersebut
mengklaim tugas itu atas nama sendiri. Istilah ini di Indonesia juga dikenal
dengan nama perjokian.
Fenomena perjokian atau ghostwriting ini sangat
marak di Indonesia, bahkan tidak jarang diiklankan melalui media sosial. Tentu
saja fenomena sosial ini melahirkan profesi baru yaitu joki atau ghostwriter. Ghostwriting
tidak hanya diperuntukkan pada penulisan karya-karya ilmiah
seperti menulis buku, skripsi, tesis, desertasi, artikel ilmiah, tetapi juga
karya non ilmiah atau fiksi seperti penulisan cerpen, novel dan bentuk karya
fiksi lainnya. Dengan demikian dapat diketahui justru praktik ini sedang
melanda dalam dunia akademik, di kalangan mahasiswa, siswa, dosen, guru, atau
bahkan pejabat publik yang memiliki sumber daya ekonomi tetapi kurang memiliki
kemampuan atau tidak memiliki banyak waktu untuk menghasilkan karya tulis.
Kecurangan akademik tersebut semakin nyata apabila
kita membaca hasil riset yang berjudul predatory publishing in Scopus;
Evidence on cross-country differences oleh Vit
Machachek dan Martin Shrolek (2022) bahwa terdapat banyak jurnal termasuk dalam
Beal’s List, sebagai jurnal abal-abal. dari 172 negara di empat bidang penelitian
menunjukkan keragaman yang luar biasa. Di negara Kazakhstan dan Indonesia
sebanyak 17% dari artikel dipublikasikan dalam jurnal predator. Praktik ghostwriting
ini seolah lazim terjadi di kalangan mahasiswa, karena itu
sering kali kita jumpai mahasiswa yang secara terang-terangan membuat iklan di
status whatsappnya dengan membuka jasa pembuatan
makalah, pembuatan slide presentasi, penyusunan proposal skripsi, artikel
jurnal dan lain-lain dengan mematok tarif yang beragam.
Mengapa profesi ghostwriter ini muncul
dan semakin menggurita? Disinilah mestinya kita harus kita renungkan bersama
dengan tanpa terlebih dahulu mengkambing hitamkan ghostwriter.
Bagaimanapun harus diakui bahwa ghostwriter ini adalah
orang-orang yang memiliki kompetensi dalam bidang tulis menulis, jika mereka
masih berstatus mahasiswa, maka bisa dikategorikan mahasiswa yang piawai dalam
menulis bahkan pandai. Fuad Fachruddin (2023) menganalisis dari dimensi ekonomi
dan psikologi. Faktor yang medasar adalah kebutuhan finansial. Para ghostwriter
ini menjual jasa demi mendapat imbalan. Sementara pengguna jasa ghostwriter
ini melakukan cara yang menodai integritas akademik demi
mendapatkan nilai atau pengakuan dari publik. Disinilah dilematiknya antara
urusan perut dan kejujuran akademik yang harus dijunjung tinggi. Mana yang akan
dipilih. Pada level perguruan tinggi,Wandayu, Purnomosidhi dan Ghofar (2019)
menyimpulkan hasil penelitiannya bahwa faktor mahasiswa melakukan kecurangan
akademik adalah keyakinan etis mahasiswa,
jika mahasiswa memiliki keyakinan tinggi bahwa melakukan kecurangan akademik
merupakan tindakan yang etis atau tidak etis akan memengaruhi mahasiswa
melakukan kecurangan. Faktor lainnya adalah Tekanan mahasiswa atas studi dan
kesempatan berpengaruh terhadap niat mahasiswa melakukan kecurangan.
Menghadapi kondisi krisis integritas ini, penulis
menyodorkan beberapa hal yang bisa digunakan sebagai cara untuk mengurangi agar
krisis tidak berkelanjutan menyebar lebih dalam pada dunia akademik,
menginfeksi mahasiswa bahkan dosen, juga para pejabat atau tokoh-tokoh publik. Pertama, Menumbuhkan
kesadaran kepada para penulis dengan mengkampanyekan praktik integritas dan profesionalisme penulis. Hal ini bisa
dilakukan dengan turut memberikan ruang kepada mereka untuk menjadikan profesi
penulis tidak hanya untuk membangun literasi di Indonesia, tetapi juga dapat
memberikan bekal income yang layak
dari hasil karya tulisnya. Penghormatan terhadap hak cipta dan kepatuhan dalam
memberikan royalti kepada penulis harus ditingkatkan dan dilakukan secara
jujur. Kedua, Kampus sebagai sumber peradaban
hendaknya secara terus menerus melakukan upaya preventif agar kecurangan
akademik tidak dapat dilakukan mulai dari ruang kelas melalui tugas-tugas yang
diberikan dosen, sampai pada tugas akhir sesuai jenjang studinya. Dosen harus
dibekali dengan kompetensi untuk dapat mendeteksi kecurangan mahasiswa dalam
bentuk apapun, semua tindakan plagiasi tidak boleh ditolerir. Kompetensi dosen
ini diimbangi dengan implementasi teknologi. Hal ini diperlukan karena
mahasiswa dengan mudah menggunakan Artificial intellegencies untuk menghasilkan
karya tulisnya, mengalami ketergantungan penuh pada produk AI sehingga lambat
laun bisa kehilangan kemampuan critical thinking. Ketiga, Tugas
membangun literasi di Indonesia adalah tugas seluruh elemen bangsa, maka para
pejabat publik, tokoh masyarakat, dosen dan guru hendaknya memberikan teladan
atau contoh dengan tidak menggunakan jasa ghostwriter untuk
kepentingan popularitas pribadi, demi mendongkrak popularitas. Sebagai role
model hendaknya memiliki kemampuan menulis dan kemampuan public speaking secara
berimbang.
Menjaga integritas harus menjadi prioritas, demi
membangun pendidikan di Indonesia yang lebih baik. Sebagai bangsa besar, sudah
seharusnya kita merasa malu dan menjauhi perbuatan yang akan menjerumuskan
lebih dalam lagi pada krisis integritas.
Oleh:
Shakayla Adzkiya El Queena Harfianto*
“Yah…ada yang bisa Aku
bantu?” sapaku lembut kepada Ayah yang lagi sibuk membersihkan taman kecil di
depan rumah.
“Alhamdulillah… sini donk,
ambilin sapu dan bersihin rumput dan daun-daun kering ini.” Jawab Ayah sambil
menunjuk ke arah daun-daun yang berserakan di dekatnya.
Aku pun sigap membersihkan
dan membuangnya di tempat sampah yang agak jauh di belakang rumah. Biasanya
setelah kering akan dibakar. Begitulah ritme hari libur yang kami lakukan.
Bunda sibuk masak di dapur, Adik membantu membersihkan area dapur.
Pagi ini cuaca cerah
sekali, langit bernuansa biru berselimut awan tipis putih keperakan. Burung-burung
berkicau riang hinggap di dedaunan pohon. Halaman belakang rumah kami memang
banyak pohon yang menjadi sarang beberapa burung dan berkembang biak di situ. Sementara
halaman depan dihiasi aneka bunga yang indah, semakin asri dan sedap dipandang
mata saat bunga bermekaran, banyak kupu-kupu datang sekedar untuk menghirup
madu bunga.
“ Ayah.. Kakak… istirahat
dulu, ini adik buatin teh hangat dan pisang goreng juga” Teriak adik dari dapur
sambil membawa nampan yang diletakkan di bale-bale depan rumah.
“ya, dik…terima kasih,
taruh situ saja dulu.” Sahutku
“ Yah, Istirahat dulu
yuuk.. mumpung masih hangat teh sama pisang gorengnya.” Kataku kepada Ayah seraya
menyandarkan sapu ke dinding,
Tanpa banyak bicara kami
pun segera cuci tangan dan duduk di bale-bale depan rumah sambil menatap taman
kecil yang dipenuhi bunga dan dihiasi kupu-kupu yang berterbangan.
“Yah… kalau ada kupu-kupunya
jadi cantik ya.. rumah kita.” Celetukku setelah menyeruput the hangat buatan
Adik.
“Alhamdulillah, artinya
kita telah memberikan ruang bagi makhluk Alloh yang indah itu.” Jawab Ayah
“Kakak tahu tidak bahwa
dari kupu-kupu ini kita belajar banyak tentang ketangguhan dalam hidup dan
kesabaran.” Lanjut Ayah yang sontak membuat Aku penasaran.
“oiya… apa karena keindahan
sayap yang warna-warni itu Yah?” Tanyaku penasaran, sambil bergeser mendekat ke
tempat duduk Ayah.
Aku tahu biasanya Ayah akan
memberikan cerita-cerita yang selalu menginspirasiku.
“Coba kakak ingat-ingat ya…bagaimana
proses kupu-kupu terbentuk. Dia berubah dari makhluk yang ditakuti, berbulu dan
bagi sebagaian orang itu merupakan hama bagi tanaman. Saat itu dia menjadi
Ulat. Ulat begitu dibenci karena bulu-bulunya ada yang bikin gatal, makan
daun-daunan, bisa merusak tanaman.” Jelas Ayah.
“Metamorfosis!” sahutku
percaya diri.
“benar sekali metamortosis
sempurna. Dalam perjalanan hidupnya dimulai dari telur, menjadi larva (ulat),
kemudian berubah menjadi pupa (kepompong), dan berubah menjadi kupu-kupu.”
Ayah berhenti sebentar
untuk minum, dan melanjutkan kembali.
“Untuk menjadi kupu-kupu
dia harus bertapa dulu, dia berubah menjadi pupa atau kepompong. setelah berbulan-bulan baru dia berubah wujud
menjadi kupu yang indah dengan sayap warna-warni.”
“Nilai Ketangguhan dan kesabarannya
dimana Yah?” tanyaku penasaran.
“Saat menjadi ulat, Ia
dibenci karena merugikan makhluk lain. Tapi fase berikutnya dia merenungi diri,
bertapa tidak makan sama sekali selama berbulan-bulan, membungkus dirinya. Dan itu
tentu membutuhkan perjuangan yang luar biasa, setelah itu Alloh mengaruniakan
dia menjadi kupu yang Indah.” Jelas Ayah bersemangat.
“Manusia juga harusnya
begitu, sebanyak apapun dosanya, jika dia mau bersabar, bertaubat dan pasrah
kepada Alloh, maka Alloh akan mengaruniai keindahan dalam hidupnya. Saat menjadi
kepompong, dia tidak bisa bergerak ke mana-mana, mungkin gelap dunianya. Tetapi
setelah ujian panjang itu bisa dilalui dengan penuh kesabaran, Alloh memberikan
hadiah sepasang sayap yang indah agar bisa terbang menghirup manisnya nectar bunga.
Kehadirannya selain menghadirkan keindahan juga bermanfaat bagi bunga untuk
penyerbukan. Maka diapun bermanfaat bagi kita semua.” Cerita Ayah seraya melahap
pisang goreng yang masih hangat di depannya.
Aku hanya bisa manggut-manggut
sambil merenungi perkataan Ayah. “Masya Alloh, sungguh tidak ada yang sia-sia
ciptaan Alloh.” Bisikku dalam hati.
“kakak pernah dengar
ungakapan begini ‘Jangan kau buang waktu mengejar kupu-kupu. Rawatlah kebunmu,
maka kupu-kupu akan datang’?” Tanya Ayah.
“Apa maksudnya itu Yah?”
tanyaku penasaran.
“itu adalah ungkapan dari
seorang penyair asal Brazil, Mario Quintana. Maksudnya dalam hidup itu, kita
tidak perlu mengejar-ngejar pengakuan orang lain, agar dianggap pandai,
menjilat agar bisa menjabat, menunjukkan seolah-olah mampu padahal tak mampu,
karena sesungguhnya itu sia-sia saja. Mungkin ada yang berhasil tetapi itu
hanya sementara. Yang harus dilakukan adalah perbaiki kompetensi diri, bekali
diri dengan pengetahuan, sikap yang baik, keterampilan yang bermanfaat. Maka
suatu saat nanti orang yang akan menilai dan mengetahui dari prestasimu. Dan keberkahan (kupu-kupu)
akan datang menghampirimu.” Jelas Ayah panjang lebar.
Sesaat aku terdiam, sambil
mengunyah pisang goreng. Tatapan mataku menuju kupu-kupu yang berterbangan di
pucuk-pucuk mawar putih, tapi pikiranku merenungkan kata-kata Ayah yang dalam
sekali maknanya.
Pagi ini aku belajar
kehidupan dari ulat, kupu-kupu, dan aneka bunga. Sekali lagi Ayahku mengajarkan
bahwa dimanapun tempatnya bisa menjadi sekolah, dan siapapun bisa menjadi guru,
bahkan hewan dan tumbuhan.
Sungguh Alloh Maha Besar,
tidak ada satupun ciptaanNya yang sia-sia, bagi mereka yang mau berpikir.
- Vince Lombardi -
Kepemimpinan adalah proses
mempengaruhi dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan bersama. A Leader
is an individual who influences others to act toward a particular goal or
end-state (Judith R. Gordon). Kepemimpinan adalah suatu usaha untuk
mengarahkan, membimbing dan memotivasi serta bersama-sama mengatasi
permasalahan dalam proses mencapai tujuan organisasi. Begitulah berbagai pendapat yang kemukakan
oleh berbagai ahli. Tentang pemimpin dan kepemimpinan. Untuk memiliki jiwa
kepemimpinan yang baik maka modal dasar yang harus dimiliki adalah self
leadership. Hal ini diungkapkan oleh Dr, Hariyanto, M.Pd dalam seminar
kepemimpinan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Tadris
Bahasa Indonesia UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, Jum’at 03 Oktober
2025.
![]() |
| Narasumber bersama pengurus HMJ TBINA |
Seminar yang digelar di
Ruang pertemuan Lt. 4 Gedung
Perpustakaan UIN Ponorogo tersebut berlangsung dengan baik dan antusiasme
terhadap kegiatan tersebut terlihat dari berbagai pertanyaan yang disampaikan
oleh peserta seminar. Diskusi dalam seminar tersebut semakin seru dan menarik
ketika narasumber memberikan perspektif kepemimpinan dalam sudut pandang Islam,
Budaya Jawa, dan kepemimpinan modern. Misalnya praktik kepemimpinan pada masa
khulafaur Rasyidin, Daulah Umayyah, zaman kerajaan hindu budha di nusantara,
kepemimpinan pada saat kerajaan Islam di nusantara dan kepemimpinan di era
digital. Dalam kesempatan tersebut, Narasumber berpesan kepada HMJ khususnya
para pengurus, dan semua peserta seminar agar memiliki komptensi critical
thinking, communication, creativity, dan
collaboration.
Ketua HMJ TBINA, Fatimah Azzahra Alfajri. dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada narasumber yang berkenan berbagi
ilmu dengan semua mahasiswa di jurusan Tadris Bahasa Indonesia. Harapannya
dengan bekal teori kepemimpinan ini, maka mindset mahasiswa akan berubah
menjadi lebih baik lagi, pola pikirnya semakin meluas dan berkesempatan untuk
membuktikan bahwa mahasiswa suatu saat nanti layak untuk menjadi seorang
pemimpin.
![]() |
| Penyerahan sertifikat kegiatan kepada narasumber |
Oleh: Shamita Maulida EL Queena Harfianto*
Di sebuah hutan yang rimbun dan penuh kehidupan, hiduplah
berbagai macam hewan. Hutan itu dipimpin oleh seekor singa bernama Leo, yang
dikenal sebagai raja hutan. Leo adalah singa yang kuat dan berani, tetapi ia
juga memiliki hati yang baik. Ia selalu berusaha untuk menjaga kedamaian dan
keharmonisan di antara semua penghuni hutan.
Suatu hari, saat matahari terbenam, Leo
mengumpulkan semua hewan di padang terbuka untuk mengumumkan sesuatu yang
penting. Semua hewan berkumpul, mulai dari tupai yang lincah hingga gajah yang
besar. Mereka semua penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh raja mereka.
“Saudaraku, aku mengumpulkan kalian di
sini untuk membahas sesuatu yang sangat penting,” kata Leo dengan suara yang
dalam dan tegas.
“Kita semua tahu bahwa hutan ini adalah
rumah kita, dan kita harus menjaga keharmonisannya. Namun, aku merasa bahwa
kita perlu lebih banyak bekerja sama untuk menghadapi tantangan yang mungkin
datang.”
Semua hewan mengangguk setuju. Mereka
tahu bahwa hutan bisa menjadi tempat yang berbahaya, terutama ketika musim
kemarau tiba dan makanan mulai menipis. Leo melanjutkan, “Aku ingin kita
membentuk sebuah Dewan Hutan, di mana setiap hewan dapat mengirimkan perwakilan
untuk berbicara dan memberikan pendapat. Dengan cara ini, kita bisa saling
mendukung dan menemukan solusi untuk masalah yang kita hadapi.”
Saran Leo disambut baik oleh semua hewan.
Mereka setuju untuk memilih perwakilan dari setiap spesies. Setelah beberapa
hari, Dewan Hutan pun terbentuk. Perwakilan dari berbagai hewan berkumpul di
bawah pohon besar yang menjadi tempat pertemuan mereka. Ada Kiki si Kelinci,
yang dikenal karena kecerdasannya; Gino si Gajah, yang bijaksana dan kuat; dan
Titi si Burung Hantu, yang selalu memiliki pandangan yang tajam.
Pertemuan pertama Dewan Hutan dimulai
dengan semangat. Kiki mengusulkan agar mereka membuat rencana untuk
mengumpulkan makanan sebelum musim kemarau tiba.
“Kita harus bekerja sama untuk
mengumpulkan makanan sebanyak mungkin, agar semua hewan bisa bertahan hidup,”
ujar Kiki.
Gino menambahkan, “Kita juga perlu
membuat tempat persembunyian untuk melindungi makanan kita dari hewan-hewan
lain yang mungkin ingin mencurinya.”
Titi, yang selalu berpikir jauh ke depan,
berkata, “Kita harus memastikan bahwa semua hewan, besar atau kecil, memiliki
akses ke makanan. Kita tidak boleh membiarkan siapa pun kelaparan.”
Semua hewan setuju dengan ide-ide
tersebut, dan mereka mulai merencanakan langkah-langkah yang perlu diambil.
Mereka membagi tugas, dan setiap hewan berkomitmen untuk melakukan bagian
mereka. Kiki dan teman-temannya mulai mengumpulkan buah-buahan dan sayuran, sementara
Gino membantu mengangkut makanan yang lebih berat. Titi terbang tinggi untuk
mencari tahu di mana makanan melimpah.
Namun, tidak semua hewan setuju dengan
rencana ini. Di sisi lain hutan, ada seekor serigala bernama Riko yang merasa
terancam dengan kerjasama ini. Riko adalah hewan yang egois dan selalu berpikir
hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Ia merasa bahwa jika hewan-hewan lain
bekerja sama, ia tidak akan bisa mendapatkan makanan dengan mudah.
Riko pun merencanakan sesuatu. Ia
mengumpulkan beberapa hewan lain yang juga merasa tidak senang dengan Dewan
Hutan dan mengajak mereka untuk bergabung.
“Mengapa kita harus mendengarkan singa
dan hewan-hewan lain? Kita bisa mengambil makanan mereka tanpa harus berbagi,”
katanya dengan suara menggoda.
Beberapa hewan, seperti rubah dan tikus,
terpengaruh oleh kata-kata Riko dan setuju untuk membantunya. Mereka mulai
merencanakan untuk mencuri makanan yang telah dikumpulkan oleh hewan-hewan lain.
Sementara itu, di sisi lain hutan, Dewan
Hutan terus bekerja keras. Mereka berhasil mengumpulkan banyak makanan dan
menyimpannya di tempat yang aman. Leo merasa bangga dengan kerja sama yang
ditunjukkan oleh semua hewan. Namun, ia juga merasa khawatir tentang Riko dan
rencananya.
Suatu malam, saat semua hewan sedang
tidur, Riko dan kelompoknya melancarkan aksinya. Mereka menyusup ke tempat
penyimpanan makanan dan mulai mencuri makanan yang telah dikumpulkan. Namun,
Kiki si Kelinci yang sedang berjaga melihat mereka dan segera memberi tahu Leo.
Leo segera memanggil semua hewan untuk
berkumpul.
“Kita harus menghentikan Riko dan
kelompoknya sebelum mereka mengambil semua makanan kita!” serunya.
Semua hewan bersiap untuk menghadapi
situasi ini.
Ketika Riko dan kelompoknya sedang
mengangkut makanan, mereka terkejut melihat Leo dan semua hewan lainnya
mendatangi mereka.
“Berhenti! Apa yang kalian lakukan?”
teriak Leo dengan suara menggelegar.
Riko, yang tidak mau mengakui
kesalahannya, menjawab,
“Kami hanya mengambil apa yang seharusnya
menjadi milik kami. Kami tidak butuh Dewan Hutan untuk memberi tahu kami apa
yang harus dilakukan!”
Leo menatap Riko dengan tegas.
“Kau tidak bisa mengambil makanan orang
lain tanpa izin. Hutan ini adalah rumah kita semua, dan kita harus saling
menghormati dan bekerja sama.”
Kiki, yang merasa berani, melangkah maju.
“Kami telah bekerja keras untuk
mengumpulkan makanan ini. Jika kau membutuhkan makanan, kami bisa membantumu,
tetapi bukan dengan cara mencuri!”
Riko merasa terpojok. Ia tidak menyangka
bahwa hewan-hewan lain akan bersatu melawan tindakan egoisnya.
“Aku tidak butuh bantuan dari kalian!”
teriaknya, tetapi suaranya mulai terdengar lemah.
Gino, dengan suara lembut namun tegas,
berkata, “Kami semua adalah bagian dari hutan ini. Jika kita tidak saling
mendukung, kita semua akan menderita. Mari kita bicarakan ini dengan baik.”
Akhirnya, Riko menyadari bahwa ia tidak
bisa melawan semua hewan yang bersatu. Ia merasa malu dan bingung. Leo melihat
kesempatan untuk mengubah keadaan.
“Riko, jika kau mau, kami bisa
membantumu. Bergabunglah dengan kami di Dewan Hutan, dan kita bisa mencari
solusi bersama.”
Riko terdiam sejenak. Ia tidak pernah
berpikir untuk bergabung dengan mereka. Namun, melihat betapa kuatnya persahabatan
dan kerjasama di antara hewan-hewan lain, ia merasa tergerak. “Baiklah, aku
akan mencoba,” jawabnya pelan.
Sejak saat itu, Riko mulai belajar
tentang arti kepemimpinan dan pertemanan. Ia menyaksikan bagaimana semua hewan
bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik. Ia mulai
berpartisipasi dalam Dewan Hutan dan memberikan ide-ide yang bermanfaat.
Dengan waktu, Riko berubah menjadi hewan
yang lebih baik. Ia tidak lagi merasa perlu untuk mencuri, karena ia tahu bahwa
dengan bekerja sama, semua hewan bisa mendapatkan apa yang mereka butuhkan.
Persahabatan yang terjalin di antara mereka semakin kuat, dan hutan pun menjadi
tempat yang lebih harmonis.
Leo, sebagai raja hutan, merasa bangga
dengan perubahan yang terjadi. Ia menyadari bahwa kepemimpinan bukan hanya
tentang kekuatan, tetapi juga tentang mendengarkan, memahami, dan membangun
hubungan yang baik dengan semua penghuni hutan.
Dewan Hutan terus berfungsi dengan baik,
dan semua hewan belajar untuk saling menghormati dan mendukung satu sama lain.
Mereka mengadakan pertemuan rutin untuk membahas masalah yang dihadapi dan
merayakan keberhasilan bersama. Hutan itu menjadi contoh bagi hutan-hutan lain
tentang bagaimana kepemimpinan yang bijaksana dan persahabatan yang tulus dapat
mengatasi segala rintangan.
Cerita ini mengajarkan kita bahwa
kepemimpinan yang baik tidak hanya berasal dari kekuatan, tetapi juga dari
kemampuan untuk mendengarkan dan bekerja sama. Persahabatan yang tulus dapat
mengubah sikap dan membantu kita mengatasi tantangan yang ada. Dengan saling
mendukung, kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih baik untuk semua.
* Penulis adalah Siswi kelas 5 SDIT Qurrota A'yun Ponorogo
![]() |
| Penulis: Dr. Hariyanto, M.Pd* |
Persepsi negative terhadap fungsi
Bimbingan Konseling di sekolah masih saja melekat. Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa peserta didik menganggap siswa yang berada di ruangan BK
adalah mereka yang sedang bermasalah, terutama yang terkait dengan kedisiplnan
atau pelanggaran terhadap peraturan dan tata tertib yang berlaku di sekolah.
Dengan kata lain tempat yang paling tak dikenal dan dijauhi oleh siswa di
sekolah adalah ruang kantor BK. Pertanyaan yang muncul adalah mengapa hal ini bisa
terjadi? Bagaimana peran guru Bimbingan Konseling dapat dikembalikan
sebagaimana mestinya? Bagaimana inovasi dan kreatifitas yang bisa dilakukan
untuk memberikan pelayanan yang paripurna untuk para peserta didik?.
Persepsi siswa terhadap ruang bimbingan
konseling merupakan faktor penting yang mempengaruhi efektivitas layanan yang
diberikan. Banyak siswa menganggap ruang ini sebagai tempat yang jarang mereka
kunjungi atau bahkan tidak familiar secara langsung, sehingga menimbulkan
persepsi bahwa ruang tersebut bukanlah tempat yang nyaman atau relevan dengan
kebutuhan mereka. Dalam beberapa kasus, persepsi negatif ini juga disebabkan
oleh pengalaman sebelumnya yang kurang memuaskan, atau bahkan rasa malu dan
takut akan stigma dari teman sebaya. Banyak pihak masih menganggap bahwa
layanan ini hanya untuk menangani siswa dengan masalah berat, sehingga membawa
stigma bahwa siswa yang mengikuti layanan tersebut adalah bermasalah atau tidak
mampu mengatasi permasalahan sendiri.
Hal-hal tersebut dapat disebabkan oleh
minimnya sosialisasi dan promosi dari pihak sekolah tentang fungsi dan manfaat
ruang bimbingan konseling. Siswa cenderung memandang ruang ini sebagai area
yang berisi Guru BK yang hanya berurusan dengan masalah serius atau krisis,
sehingga mereka merasa enggan berpartisipasi. Kurangnya visualisasi dan
komunikasi yang efektif tentang keberadaan dan layanan yang tersedia di ruang
bimbingan konseling membuat siswa menganggapnya sebagai tempat yang menakutkan
atau asing.
Oleh karena itu, langkah pertama adalah
meningkatkan komunikasi yang efektif antara Guru BK, siswa, serta stakeholder
terkait agar pesan positif dapat tersampaikan dengan jelas dan tidak
menimbulkan salah pengertian. Penggunaan media sosial, poster, dan forum
diskusi dapat menjadi alat yang efektif untuk menyampaikan keberhasilan dan
manfaat layanan tersebut. Selain itu, pelibatan aktif siswa dalam berbagai
kegiatan yang berkaitan dengan bimbingan dan konseling dapat memperbaiki
persepsi mereka terhadap layanan ini. Kegiatan seperti workshop, seminar, dan
kegiatan kelompok yang menyenangkan akan mempermudah mereka memahami bahwa
bimbingan dan konseling bukan hanya sebagai tempat mengatasi masalah, tetapi
juga sebagai pendukung perkembangan pribadi.
Di sisi lain, pelatihan dan pengembangan
kompetensi untuk Guru BK sangat penting agar mereka mampu menjalankan tugas
dengan profesional dan penuh empati. Guru BK yang kompeten akan mampu membangun
hubungan yang lebih baik dengan siswa dan menunjukkan bahwa layanan ini
benar-benar peduli terhadap kesejahteraan mereka. Tidak kalah penting adalah
membangun kemitraan dengan berbagai pihak, seperti orang tua, guru, dan
masyarakat sekitar, demi menciptakan lingkungan yang mendukung dan memperkuat
citra positif layanan ini.
Inovasi dalam pelayanan bimbingan
konseling menjadi aspek penting untuk meningkatkan efektivitas dan relevansi
layanan di sekolah. Seiring perkembangan zaman dan teknologi, Guru BK dituntut
untuk terus beradaptasi dan menciptakan metode baru yang memudahkan proses
bimbingan. Salah satu inovasi utama adalah pemanfaatan teknologi digital
seperti platform daring, aplikasi komunikasi, dan sistem manajemen data
berbasis cloud. Penggunaan teknologi ini memungkinkan siswa mengakses layanan
konseling kapan saja dan di mana saja, mengurangi hambatan geografis dan waktu.
Selain itu, program layanan kreatif seperti workshop, seminar motivasi, dan
kegiatan berbasis masalah sosial mampu menjaring lebih banyak siswa yang
membutuhkan bantuan. Pendekatan berbasis kreativitas ini dapat meningkatkan
partisipasi siswa dan membangun suasana yang lebih santai serta terbuka.
Program kegiatan kreatif dalam ruang
bimbingan dan konseling sekolah memegang peranan penting dalam menciptakan
suasana yang menarik dan efektif dalam proses pendampingan siswa. Melalui
kegiatan-kegiatan yang bersifat inovatif dan menyenangkan, siswa dapat lebih
terbuka serta termotivasi untuk mengikuti layanan bimbingan. Program ini
meliputi berbagai macam kegiatan seperti pelatihan seni, pembuatan media
edukatif, lomba kreativitas, serta workshop pengembangan diri yang dilakukan
secara berkala. Pendekatan ini bertujuan untuk mengatasi hambatan psikologis
maupun sosial yang sering ditemui siswa, dengan menstimulus kemampuan ekspresi,
kepercayaan diri, dan pengembangan potensi secara menyenangkan.
Peran stakeholder sangat penting dalam
upaya merubah citra negatif terhadap bimbingan dan konseling di sekolah. Guru
memegang peran sentral sebagai penghubung utama dengan siswa dan lingkungan
sekolah. Melalui keterlibatan aktif dalam promosi dan penyuluhan, guru dapat
membantu mengubah persepsi masyarakat dan siswa tentang manfaat serta relevansi
layanan konseling. Selain itu, guru harus mampu memberikan contoh sikap positif
terhadap layanan tersebut, sehingga menciptakan suasana yang mendukung dan
membuka peluang komunikasi yang efektif. Orang tua juga memiliki peran vital
dalam membentuk citra positif melalui dukungan dan pemahaman terhadap kegiatan
bimbingan dan konseling. Dengan keterlibatan yang konsisten, orang tua dapat
meminimalisir stigma sosial dan memperkuat kepercayaan siswa terhadap layanan
tersebut. Masyarakat secara umum perlu dilibatkan dalam kegiatan sosialisasi
dan edukasi mengenai pentingnya konseling di lingkungan sekolah.
Partisipasi
aktif dari masyarakat akan membantu mengikis persepsi negatif dan memperluas
pemahaman akan manfaat layanan bimbingan. Stakeholder ini harus bekerja secara
sinergis dan berkelanjutan, dengan mengembangkan komunikasi yang transparan
serta mengedepankan edukasi yang menyasar berbagai kalangan. Melalui kolaborasi
yang kokoh, citra yang sebelumnya negatif dapat diarahkan untuk menjadi lebih
positif dan konstruktif, sehingga tercipta lingkungan sekolah yang mendukung
perkembangan mental dan emosional siswa. Dengan demikian, peran semua pihak ini
menjadi fondasi utama dalam proses perubahan persepsi dan peningkatan citra
layanan bimbingan dan konseling di sekolah.
*Penulis
adalah dosen FTIK di UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo
![]() |
| Kuliah Umum oleh Menteri Agama RI: Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA |
inspirasipendidikan.com
(14/9/2025)_ UIN Kiai Ageng Muhammad
Besari Ponorogo menggelar kuliah umum dengan menghadirkan Menteri Agama RI,
Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. Tema yang diusung sangat menarik yaitu
Kurikulum Berbasis Cinta. Istilah yang digunakan memang begitu menarik karena
menggunakan kata “Cinta”, abstrak namun bisa dirasakan kehadirannya oleh setiap
makhluk. Dan memiliki variasi makna sesuai dengan persepsi yang mengartikan
masing-masing.
Dalam
kesempatan itu, Menteri Agama menyampaikan beberapa pesan yang mendalam tentang
bagaimana seharusnya visi dari perguruan tinggi agama Islam. Menurutnya Perguruan
Tinggi Islam, khususnya Univeritas Islam
Negeri seharusnya menjadi pembeda dari
perguruan tinggi umum. Tidak hanya beda dari sisi mutu dan tata kelolanya
tetapi juga keberkahan dan kebermanfaatannya di masyarkat. Perguruan tinggi
Islam tidak murni sebagai lembaga akademik saja, tetapi juga harus berfungsi
lembaga dakwah. UIN harus menjadi lembaga ganda tanpa harus mereduksi satu sama
lain.
![]() |
| Menteri Agama RI bersama Rektor UIN Ponorogo, dan Bupati Ponorogo |
Lebih
lanjut menteri Agama RI menegaskan, bahwa untuk mencetak Cendekiawan muslim,
maka diperlukan dosen yang tidak boleh sama kriterianya dengan dosen dari
perguruan tingg umum. Baik dari sisi perekrutannya maupun kompetensi yang
dimiliki. Dosen tidak boleh hanya mengajar, tetapi memberi keteladanan baik di
dalam kelas maupun di luar kelas. Mengapa demikian? Karena ekspektasi
masyarakat begitu tinggi kepada UIN. Background UIN ini adalah putih, maka
jangan pernah membuat satu titik noda pun, meskipun hanya satu titik noda
hitam. Karena itu tanggung jawab dosen begitu berat, menjadi teladan bagi
mahasiwanya. Hal yang serupa juga menjadi tanggung jawab mahasiswa untuk
menjaga kehormatannya menjadi mahasiswa di UIN.
Pernyataan
Prof. KH. Nasaruddin Umar tersebut tidaklah sederhana, apalagi di era dimana
hampir semua orang memiliki jejak digital di media sosial, baik dosen dan
mahasiswa. Sehingga diharapkan jika seorang dosen wanita atau mahasiswi
mengenakan jilbab sewaktu di kampus, maka di mana pun juga dia harus menutup
auratnya, baik di dunia nyata maupun di dunia maya, apalagi diunggah di media
sosial miliknya.
Perguruan
tinggi Islam harusnya memiliki dosen-dosen unggul yang tidak hanya mengajar,
tetapi juga harus bisa menjadi Mursyid, bahkan bisa menjadi seorang Syech. Pendidikan
tidak hanya mentransfer pengetahuan, bukankah tidak ada gunanya/ manfaatnya
jika mahasiswa pandai mendapat nilai cumlaude perilakunya kurang ajar, tidak
beradab. Tidak mampu mengedepankan adab
daripada ilmu. Dosen pada hakekatnya sama dengan guru. Guru berasal dari bahasa
sansekerta, Gu yang berarti kegelapan dan Ru yang berarti Obor penerang. Jadi
Guru sejatinya adalah obor pemberi penerangan saat gelap melanda. Kehadiran guru
atau dosen harusnya menjadi pencerah/ penerang bagi kegelapan atau kebodohan
yang melanda masyarakat. Hidup hanya sejengkal, apa yang hendak dicari, jika
pemimpin perguruan tinggi, dosen, para pejabat tidak mampu memberi prestasi,
maka kita akan malu kepada sejarah, apalagi jika sejarah itu dibaca oleh anak
cucu di generasi selanjutnya.
![]() |
| Rektor UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, Prof. Dr. Hj. Evi Muafiah |
Dalam
kesempatan Kuliah umum yang dihadiri ratusan civitas akademika UIN Kiai Ageng
Muhammad Besari Ponorogo, Bupati Ponorogo dan beberaoa pejabat dari Kementerian
Agama tersebut, Menteri juga berpesan bahwa hendaknya kita selalu membaca tidak
hanya Al Qur’an mikrokosmos tetapi juga Al Qur’an Makrokosmos. Seluruh jagad
raya semesta ini jauh sudah ada sebelum Al Qur’an mikrokosmos yang diwahyukan
kepada Rasululloh. Jadi UIN dengan segala kompetensi dosen yang dimiliki tidak
bleh hanyut dengan perguruan tinggi sekuler, yang hanya melahirkan mausia
tumpul yang tidak memiliki kepekaan sosial. Islam mengajarkan kita untuk
membaca ayat-ayat kauniyah, ciptaan Allah yang maha Agung harus dikaji dan
dibaca secara mendalam sehingga menghadirkan manfaat bagi kemaslahatan manusia,
tidak hanya manusia tetapi juga makhluk-makhluk lainnya. Sinergi dan saling
mengasihani antar sesama makhluk inilah esensi dari ekoteologi.Hukum Alam termaktub
dalam Al Qur’an Makrokosmos, tetapi Al Qur’an mikrokosmos memberi hukum
syariah. Hal inilah yang dipelajari dan diamalkan secara berimbang.
Lebih khusus sebelum menutup kuliahnya, Menteri Agama berpesan “Agama seperti nuklir, bisa menghadirkan keselamatan dan manfaat bagi ummat, lihatlah nuklir yang dikembangkan untuk tenaga listrik dan sumber energi murah lainnya. Tetapi jika disalahgunakan, maka nuklir bisa menjadi senjata penghancur massal yang dahsyat bagi semua makhluk di muka bumi. Karena itu Agama harus difungsikan sebagaimana seharusnya, untuk keselamatan manusia dan seluruh makhluk, bukan untuk memecah dan mengadu domba keberadaan mansuia di muka bumi, bukan untuk menghancurkan.” (hary, 14/9/2025)
--------
* Penulis adalah dosen FTIK di UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo