f ' Oktober 2025 ~ Inspirasi Pendidikan

Inspirasi Pendidikan untuk Indonesia

Pendidikan bukan cuma pergi ke sekolah dan mendapatkan gelar. Tapi, juga soal memperluas pengetahuan dan menyerap ilmu kehidupan.

Bersama Bergerak dan Menggerakkan pendidikan

Kurang cerdas bisa diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki (Bung Hatta)

Berbagi informasi dan Inspirasi

Tinggikan dirimu, tapi tetapkan rendahkan hatimu. Karena rendah diri hanya dimiliki orang yang tidak percaya diri.

Mari berbagi informasi dan Inspirasi

Hanya orang yang tepat yang bisa menilai seberapa tepat kamu berada di suatu tempat.

Mari Berbagi informasi dan menginspirasi untuk negeri

Puncak tertinggi dari segala usaha yang dilakukan adalah kepasrahan.

Kamis, 30 Oktober 2025

GHOSTWRITER DI NEGERI LITERASI: ANTARA ALTERNATIF KARIER DAN KRISIS INTEGRITAS

Dr. Hariyanto, M.Pd*

Ghostwriter, sebuah istilah asing yang akhir-akhir ini sering kita dengar seiring dengan banyaknya publikasi abal-abal dan krisis integritas yang melanda dunia pendidikan. Ghostwriter adalah seorang penulis bayangan yang menulis untuk keperluan orang lain. Tindakannya disebut ghostwriting. Seorang ghostwriter mendapatkan bayaran dari hasil menulisnya tetapi karya yang ditulisnya diatasnamakan orang yang membayarnya sebagai punulis. Arnani dan Nindhita (2024) menyebut ghostwriting ini dengan contract cheating atau academic outsourcing. Clarke & Lancaster (2006) mendefinisikan contract cheating merujuk pembayaran kepada orang lain untuk menyelesaikan tugas sehingga orang yang membayar tersebut mengklaim tugas itu atas nama sendiri. Istilah ini di Indonesia juga dikenal dengan nama perjokian.

Fenomena perjokian atau ghostwriting ini sangat marak di Indonesia, bahkan tidak jarang diiklankan melalui media sosial. Tentu saja fenomena sosial ini melahirkan profesi baru yaitu joki atau ghostwriter. Ghostwriting tidak hanya diperuntukkan pada penulisan karya-karya ilmiah seperti menulis buku, skripsi, tesis, desertasi, artikel ilmiah, tetapi juga karya non ilmiah atau fiksi seperti penulisan cerpen, novel dan bentuk karya fiksi lainnya. Dengan demikian dapat diketahui justru praktik ini sedang melanda dalam dunia akademik, di kalangan mahasiswa, siswa, dosen, guru, atau bahkan pejabat publik yang memiliki sumber daya ekonomi tetapi kurang memiliki kemampuan atau tidak memiliki banyak waktu untuk menghasilkan karya tulis.

Kecurangan akademik tersebut semakin nyata apabila kita membaca hasil riset yang berjudul predatory publishing in Scopus; Evidence on cross-country  differences oleh Vit Machachek dan Martin Shrolek (2022) bahwa terdapat banyak jurnal termasuk dalam Beal’s List, sebagai jurnal abal-abal.  dari 172 negara di empat bidang penelitian menunjukkan keragaman yang luar biasa. Di negara Kazakhstan dan Indonesia sebanyak 17% dari artikel dipublikasikan dalam jurnal predator. Praktik ghostwriting ini seolah lazim terjadi di kalangan mahasiswa, karena itu sering kali kita jumpai mahasiswa yang secara terang-terangan membuat iklan di status whatsappnya dengan membuka jasa pembuatan makalah, pembuatan slide presentasi, penyusunan proposal skripsi, artikel jurnal dan lain-lain dengan mematok tarif yang beragam.

Mengapa profesi ghostwriter ini muncul dan semakin menggurita? Disinilah mestinya kita harus kita renungkan bersama dengan tanpa terlebih dahulu mengkambing hitamkan ghostwriter. Bagaimanapun harus diakui bahwa ghostwriter ini adalah orang-orang yang memiliki kompetensi dalam bidang tulis menulis, jika mereka masih berstatus mahasiswa, maka bisa dikategorikan mahasiswa yang piawai dalam menulis bahkan pandai. Fuad Fachruddin (2023) menganalisis dari dimensi ekonomi dan psikologi. Faktor yang medasar adalah kebutuhan finansial. Para ghostwriter ini menjual jasa demi mendapat imbalan. Sementara pengguna jasa ghostwriter ini melakukan cara yang menodai integritas akademik demi mendapatkan nilai atau pengakuan dari publik. Disinilah dilematiknya antara urusan perut dan kejujuran akademik yang harus dijunjung tinggi. Mana yang akan dipilih. Pada level perguruan tinggi,Wandayu, Purnomosidhi dan Ghofar (2019) menyimpulkan hasil penelitiannya bahwa faktor mahasiswa melakukan kecurangan akademik adalah keyakinan etis mahasiswa, jika mahasiswa memiliki keyakinan tinggi bahwa melakukan kecurangan akademik merupakan tindakan yang etis atau tidak etis akan memengaruhi mahasiswa melakukan kecurangan. Faktor lainnya adalah Tekanan mahasiswa atas studi dan kesempatan berpengaruh terhadap niat mahasiswa melakukan kecurangan.

Menghadapi kondisi krisis integritas ini, penulis menyodorkan beberapa hal yang bisa digunakan sebagai cara untuk mengurangi agar krisis tidak berkelanjutan menyebar lebih dalam pada dunia akademik, menginfeksi mahasiswa bahkan dosen, juga para pejabat atau tokoh-tokoh publik. Pertama, Menumbuhkan kesadaran kepada para penulis dengan mengkampanyekan praktik integritas  dan profesionalisme penulis. Hal ini bisa dilakukan dengan turut memberikan ruang kepada mereka untuk menjadikan profesi penulis tidak hanya untuk membangun literasi di Indonesia, tetapi juga dapat memberikan bekal income yang layak dari hasil karya tulisnya. Penghormatan terhadap hak cipta dan kepatuhan dalam memberikan royalti kepada penulis harus ditingkatkan dan dilakukan secara jujur. Kedua, Kampus sebagai sumber peradaban hendaknya secara terus menerus melakukan upaya preventif agar kecurangan akademik tidak dapat dilakukan mulai dari ruang kelas melalui tugas-tugas yang diberikan dosen, sampai pada tugas akhir sesuai jenjang studinya. Dosen harus dibekali dengan kompetensi untuk dapat mendeteksi kecurangan mahasiswa dalam bentuk apapun, semua tindakan plagiasi tidak boleh ditolerir. Kompetensi dosen ini diimbangi dengan implementasi teknologi. Hal ini diperlukan karena mahasiswa dengan mudah menggunakan Artificial intellegencies untuk menghasilkan karya tulisnya, mengalami ketergantungan penuh pada produk AI sehingga lambat laun bisa kehilangan kemampuan critical thinking. Ketiga, Tugas membangun literasi di Indonesia adalah tugas seluruh elemen bangsa, maka para pejabat publik, tokoh masyarakat, dosen dan guru hendaknya memberikan teladan atau contoh dengan tidak menggunakan jasa ghostwriter untuk kepentingan popularitas pribadi, demi mendongkrak popularitas. Sebagai role model hendaknya memiliki kemampuan menulis dan kemampuan public speaking secara berimbang.

Menjaga integritas harus menjadi prioritas, demi membangun pendidikan di Indonesia yang lebih baik. Sebagai bangsa besar, sudah seharusnya kita merasa malu dan menjauhi perbuatan yang akan menjerumuskan lebih dalam lagi pada krisis integritas.

 *Penulis adalah dosen FTIK Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo.

Sabtu, 04 Oktober 2025

KUPU-KUPU YANG MENGINSPIRASI

Oleh: Shakayla Adzkiya El Queena Harfianto*


“Yah…ada yang bisa Aku bantu?” sapaku lembut kepada Ayah yang lagi sibuk membersihkan taman kecil di depan rumah.

“Alhamdulillah… sini donk, ambilin sapu dan bersihin rumput dan daun-daun kering ini.” Jawab Ayah sambil menunjuk ke arah daun-daun yang berserakan di dekatnya.

Aku pun sigap membersihkan dan membuangnya di tempat sampah yang agak jauh di belakang rumah. Biasanya setelah kering akan dibakar. Begitulah ritme hari libur yang kami lakukan. Bunda sibuk masak di dapur, Adik membantu membersihkan area dapur.

Pagi ini cuaca cerah sekali, langit bernuansa biru berselimut awan tipis putih keperakan. Burung-burung berkicau riang hinggap di dedaunan pohon. Halaman belakang rumah kami memang banyak pohon yang menjadi sarang beberapa burung dan berkembang biak di situ. Sementara halaman depan dihiasi aneka bunga yang indah, semakin asri dan sedap dipandang mata saat bunga bermekaran, banyak kupu-kupu datang sekedar untuk menghirup madu bunga.

“ Ayah.. Kakak… istirahat dulu, ini adik buatin teh hangat dan pisang goreng juga” Teriak adik dari dapur sambil membawa nampan yang diletakkan di bale-bale depan rumah.

“ya, dik…terima kasih, taruh situ saja dulu.” Sahutku

“ Yah, Istirahat dulu yuuk.. mumpung masih hangat teh sama pisang gorengnya.” Kataku kepada Ayah seraya menyandarkan sapu ke dinding,

Tanpa banyak bicara kami pun segera cuci tangan dan duduk di bale-bale depan rumah sambil menatap taman kecil yang dipenuhi bunga dan dihiasi kupu-kupu yang berterbangan.

“Yah… kalau ada kupu-kupunya jadi cantik ya.. rumah kita.” Celetukku setelah menyeruput the hangat buatan Adik.

“Alhamdulillah, artinya kita telah memberikan ruang bagi makhluk Alloh yang indah itu.” Jawab Ayah

“Kakak tahu tidak bahwa dari kupu-kupu ini kita belajar banyak tentang ketangguhan dalam hidup dan kesabaran.” Lanjut Ayah yang sontak membuat Aku penasaran.

“oiya… apa karena keindahan sayap yang warna-warni itu Yah?” Tanyaku penasaran, sambil bergeser mendekat ke tempat duduk Ayah.

Aku tahu biasanya Ayah akan memberikan cerita-cerita yang selalu menginspirasiku.

“Coba kakak ingat-ingat ya…bagaimana proses kupu-kupu terbentuk. Dia berubah dari makhluk yang ditakuti, berbulu dan bagi sebagaian orang itu merupakan hama bagi tanaman. Saat itu dia menjadi Ulat. Ulat begitu dibenci karena bulu-bulunya ada yang bikin gatal, makan daun-daunan, bisa merusak tanaman.” Jelas Ayah.

“Metamorfosis!” sahutku percaya diri.

“benar sekali metamortosis sempurna. Dalam perjalanan hidupnya dimulai dari telur, menjadi larva (ulat), kemudian berubah menjadi pupa (kepompong), dan berubah menjadi kupu-kupu.”

Ayah berhenti sebentar untuk minum, dan melanjutkan kembali.

“Untuk menjadi kupu-kupu dia harus bertapa dulu, dia berubah menjadi pupa atau kepompong.  setelah berbulan-bulan baru dia berubah wujud menjadi kupu yang indah dengan sayap warna-warni.”

“Nilai Ketangguhan dan kesabarannya dimana Yah?” tanyaku penasaran.

“Saat menjadi ulat, Ia dibenci karena merugikan makhluk lain. Tapi fase berikutnya dia merenungi diri, bertapa tidak makan sama sekali selama berbulan-bulan, membungkus dirinya. Dan itu tentu membutuhkan perjuangan yang luar biasa, setelah itu Alloh mengaruniakan dia menjadi kupu yang Indah.” Jelas Ayah bersemangat.

“Manusia juga harusnya begitu, sebanyak apapun dosanya, jika dia mau bersabar, bertaubat dan pasrah kepada Alloh, maka Alloh akan mengaruniai keindahan dalam hidupnya. Saat menjadi kepompong, dia tidak bisa bergerak ke mana-mana, mungkin gelap dunianya. Tetapi setelah ujian panjang itu bisa dilalui dengan penuh kesabaran, Alloh memberikan hadiah sepasang sayap yang indah agar bisa terbang menghirup manisnya nectar bunga. Kehadirannya selain menghadirkan keindahan juga bermanfaat bagi bunga untuk penyerbukan. Maka diapun bermanfaat bagi kita semua.” Cerita Ayah seraya melahap pisang goreng yang masih hangat di depannya.

Aku hanya bisa manggut-manggut sambil merenungi perkataan Ayah. “Masya Alloh, sungguh tidak ada yang sia-sia ciptaan Alloh.” Bisikku dalam hati.

“kakak pernah dengar ungakapan begini ‘Jangan kau buang waktu mengejar kupu-kupu. Rawatlah kebunmu, maka kupu-kupu akan datang’?” Tanya Ayah.

“Apa maksudnya itu Yah?” tanyaku penasaran.

“itu adalah ungkapan dari seorang penyair asal Brazil, Mario Quintana. Maksudnya dalam hidup itu, kita tidak perlu mengejar-ngejar pengakuan orang lain, agar dianggap pandai, menjilat agar bisa menjabat, menunjukkan seolah-olah mampu padahal tak mampu, karena sesungguhnya itu sia-sia saja. Mungkin ada yang berhasil tetapi itu hanya sementara. Yang harus dilakukan adalah perbaiki kompetensi diri, bekali diri dengan pengetahuan, sikap yang baik, keterampilan yang bermanfaat. Maka suatu saat nanti orang yang akan menilai dan mengetahui  dari prestasimu. Dan keberkahan (kupu-kupu) akan datang menghampirimu.” Jelas Ayah panjang lebar.

Sesaat aku terdiam, sambil mengunyah pisang goreng. Tatapan mataku menuju kupu-kupu yang berterbangan di pucuk-pucuk mawar putih, tapi pikiranku merenungkan kata-kata Ayah yang dalam sekali maknanya.

Pagi ini aku belajar kehidupan dari ulat, kupu-kupu, dan aneka bunga. Sekali lagi Ayahku mengajarkan bahwa dimanapun tempatnya bisa menjadi sekolah, dan siapapun bisa menjadi guru, bahkan hewan dan tumbuhan.

Sungguh Alloh Maha Besar, tidak ada satupun ciptaanNya yang sia-sia, bagi mereka yang mau berpikir.

 *Penulis adalah Siswi Kelas IX ICP MTs N 2 Ponorogo

SELF LEADERSHIP: MODAL DASAR UNTUK MENJADI PEMIMPIN

 

"Pemimpin yang hebat bukanlah pemimpin yang sempurna, melainkan pemimpin yang mampu mengatasi kekurangan dan belajar dari setiap kesalahan."

- Vince Lombardi -

Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan bersama. A Leader is an individual who influences others to act toward a particular goal or end-state (Judith R. Gordon). Kepemimpinan adalah suatu usaha untuk mengarahkan, membimbing dan memotivasi serta bersama-sama mengatasi permasalahan dalam proses mencapai tujuan organisasi.  Begitulah berbagai pendapat yang kemukakan oleh berbagai ahli. Tentang pemimpin dan kepemimpinan. Untuk memiliki jiwa kepemimpinan yang baik maka modal dasar yang harus dimiliki adalah self leadership. Hal ini diungkapkan oleh Dr, Hariyanto, M.Pd dalam seminar kepemimpinan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Tadris Bahasa Indonesia UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, Jum’at 03 Oktober 2025.

Narasumber bersama pengurus  HMJ  TBINA

Lebih lanjut dalam seminar yang dimoderatori oleh Kurniatul Awwalina tersebut, Dr. Hariyanto, M.Pd juga memaparkan bahwa Self leadership mengacu pada kemampuan seseorang untuk mengelola diri sendiri secara efektif agar dapat mencapai tujuan pribadi maupun profesional. Aspek utama dari self leadership meliputi kesadaran diri, motivasi intrinsik, pengendalian emosi, serta kemampuan dalam mengatur perilaku dan pikiran untuk mencapai hasil yang diinginkan. Jika semua hal tersebut sudah dimiliki, maka siapapun termasuk mahasiswa sudah siap untuk menjadi seorang pemimpin yang hebat. Pemimpin yang bisa mempengaruhi orang lain atau anggota organisasinya dengan cara yang yang bijaksana, berbasiskan keteladanan menuju visi yang telah ditetapkan bersama.

Seminar yang digelar di Ruang pertemuan  Lt. 4 Gedung Perpustakaan UIN Ponorogo tersebut berlangsung dengan baik dan antusiasme terhadap kegiatan tersebut terlihat dari berbagai pertanyaan yang disampaikan oleh peserta seminar. Diskusi dalam seminar tersebut semakin seru dan menarik ketika narasumber memberikan perspektif kepemimpinan dalam sudut pandang Islam, Budaya Jawa, dan kepemimpinan modern. Misalnya praktik kepemimpinan pada masa khulafaur Rasyidin, Daulah Umayyah, zaman kerajaan hindu budha di nusantara, kepemimpinan pada saat kerajaan Islam di nusantara dan kepemimpinan di era digital. Dalam kesempatan tersebut, Narasumber berpesan kepada HMJ khususnya para pengurus, dan semua peserta seminar agar memiliki komptensi critical thinking, communication, creativity, dan  collaboration.

Ketua HMJ TBINA, Fatimah Azzahra Alfajri. dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada narasumber yang berkenan berbagi ilmu dengan semua mahasiswa di jurusan Tadris Bahasa Indonesia. Harapannya dengan bekal teori kepemimpinan ini, maka mindset mahasiswa akan berubah menjadi lebih baik lagi, pola pikirnya semakin meluas dan berkesempatan untuk membuktikan bahwa mahasiswa suatu saat nanti layak untuk menjadi seorang pemimpin.

Penyerahan sertifikat kegiatan kepada narasumber
Acara seminar ditutup dengan session penyerahan sertifikat penghargaan kepada narasumber  dan foto bersama dengan panitia serta peserta seminar.  Selanjutnya untuk memperdalam materi seminar tersebut, dilanjutkan oleh panitia dan ketua HMJ 2025 dalam acara Focus group discussion.- inspirasipendidikan.com (03/10/2025)