--------
* Penulis adalah dosen FTIK di UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo
f '
Berbagi Inspirasi dan informasi pendidikan
Pendidikan bukan cuma pergi ke sekolah dan mendapatkan gelar. Tapi, juga soal memperluas pengetahuan dan menyerap ilmu kehidupan.
Kurang cerdas bisa diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki (Bung Hatta)
Tinggikan dirimu, tapi tetapkan rendahkan hatimu. Karena rendah diri hanya dimiliki orang yang tidak percaya diri.
Hanya orang yang tepat yang bisa menilai seberapa tepat kamu berada di suatu tempat.
Puncak tertinggi dari segala usaha yang dilakukan adalah kepasrahan.
--------
* Penulis adalah dosen FTIK di UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo
Oleh: Afrilia Eka Prasetyawati, M.Pd
Sahabat inspirasi pendidikan, kali ini kami akan berbagi karya sastra berupa puisi. Sebagai sebuah karya sastra, Puisi mengandung makna tersurat dan tersirat di dalamnya. kerap kali pesan yang ada dalam sebuah karya sastra Puisi tidak bisa diserap dengan mudah oleh pembacanya, karena penuh dengan kiasan, gaya bahasa, dan lain-lain. Tapi disitulah keunikannya, setiap penikmat puisi akan dibawa berselancar dalam dunia angannya secara berbeda sesuai dengan tingkat pemahamannya masing-masing.
Berikut ini, kami sajikan sebuah puisi yang berjudul "SELOKA RASA" Karya: Hariyanto. Setelah itu Sahabat Inspirasi Pendidikan akan diberikan penjelasan secara singkat tentang makna dan pesan yang terkandung dalam puisi tersebut.
Ponorogo, 23 Juni 2025
Sahabat inspirasi pendidikan, setelah membaca puisi tersebut, mungkin pembaca memiliki penafsiran yang berbeda, tetapi dari serangkaian kalimat yang sederhana tersebut, sejatinya dapat ditafsir maknanya. Puisi tersebut menggambarkan tentang sebuah perjalanan hidup dan perjalanan cinta seseorang dengan cara sederhana, diungkapkan dengan bahasa cinta yang sederhana tetapi nyata terasa. hal ini teruang dalam paragraf pertama, "masih selugu ituka rindumu, Bersama secangkir kopi pahit yang kau seduh untukku.." kalimat selanjutnya menunjukkan bahasa cinta dari dua pasangan yang ditunjukkan dalam bahasa tubuh "kerling genit alismu, kibasan rambut legammu" yang tersapu diujung jari lentik yang mampu membius rayu.
Perjalanan sebuah cinta, memang tidaklah singkat. Cinta terbangun oleh rasa. Dalam perjalanannya rasa berkristal menjadi sebuah kenangan yang tak mudah untuk terlupakan. Perjalanan hidup yang dibalut oleh sucinya cinta selalu memiliki warnanya. hal ini terungkap dalam kalimat "Perjalanan cerita menuju senja," disini penulis hendak mengingatkan bahwa setiap perjalanan manusia menuju masa kedewasaan sampai menjelang usia senja, pastilah diwarnai dengan suka dan duka. Layaknya sebuah kehidupan berumah tangga, pastilah rona suka, bahagia, duka menjadi hiasan tersendiri dan justru itulah yang memperkuat ikatannya. Secara sadar penulis mengungkapkan bahwa semua itu terjadi atas kehendakNya.
Pada paragraf ketiga puisi tersebut, Penulis menegaskan kembali kesederhanaan cinta, tapi dengan kesederhanaan itu cinta dapat dirawat. meskipun hanya terungkap melalui "setangkai mawar jingga." Perjalanan hidup dan cinta selalu diuji bagai gelombang, bentuk ujiannya pun bisa beragaman, ujian ekonomi, ujian kesetiaan, ujian tanggung jawab dan berbagai bentuk lainnya. Meskipun demikian, semua itu seolah tidak ada artinya apabila kedua pasangan (suami isteri) selalu berusaha "menjaga benang merah tak kasat mata agar tak putus ikatannya." Pemilihan ungkapan "Benang merah tak kasat mata" ini merujuk pada budaya dan kepercayaan tertentu bahwa setiap pasangan yang berjodoh, sesungguhnya sudah terikat benang merah yang tidak tampak oleh mata. Kekuatan jodoh ini ditentukan oleh kuat dan lemahnya benang tersebut. Penulis hendak mengingatkan bahwa tugas setiap pasangan hidup adalah menjaga agar benang merah tidak putus meski sebesar apapun ujiannya. karena sesungguhnya inilah bukti kesetiaan dan kesucian cinta.
Cobaan hidup dan cinta yang semakin besar tersebut, tidak boleh menyurutkan perjalanan menuju visi hidup yang hendak dicapai. Karena itu dalam paragraf terakhir, penulis menyatakan dalam kalimat "Lepaskanlah ikatan sauh, Bahtera ini harus tetap berlayar jauh, menuju dermaga berlabuh."
Nah, sahabat inspirasi pendidikan, demikianlah apresiasi terhadap karya sastra puisi yang berjudul, "SELOKA RASA". Semoga bermanfaat dan menjadi inspirasi bagi sahabat semua. Pesan yang hendak disampaikan dan hikmah yang terkandung di dalamnya dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. (Afrilia, 08/08/2025)
* Penulis adalah pemerhati sastra
Oleh: Dr Hariyanto, M.Pd
Dalam
beberapa Minggu terakhir, muncul tren pengibaran bendera karakter dari serial anime
terkenal, seperti One Piece, menjelang peringatan hari kemerdekaan
Indonesia. Fenomena ini menimbulkan perdebatan di kalangan masyarakat tentang
makna dan dampaknya terhadap rasa nasionalisme dan kritik terhadap pemerintah.
Di satu sisi, pengibaran bendera ini dapat dianggap sebagai bentuk ekspresi
kreativitas dan kebebasan berpendapat generasi muda yang ingin menyampaikan
pesan melalui simbol yang sedang populer di budaya pop. Mereka memanfaatkan
karakter yang ikonik untuk menarik perhatian dan merayakan identitas sendiri
dalam konteks modern. Namun, di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa tindakan ini
mengikis makna simbol nasionalisme yang selama ini dipegang teguh, terutama
dalam momen yang seharusnya memperkuat rasa cinta tanah air. Pengibaran bendera
dalam bentuk ini bisa dianggap sebagai bentuk pergeseran makna yang mengurangi
rasa hormat terhadap lambang negara, dan bahkan dapat menimbulkan kebingungan
tentang makna simbol tersebut di kalangan masyarakat. Beberapa kritik memandang
bahwa tren ini dapat menjadi bentuk protes tidak langsung terhadap kebijakan
pemerintah, sebagai ekspresi ketidakpuasan yang diwakili melalui simbol yang tidak
konvensional. Oleh karena itu, penting untuk memahami konteks dan niat di balik
fenomena ini, serta mencari jalan tengah dalam menyalurkan aspirasi dan menjaga
semangat nasionalisme yang sejati. Melalui analisis yang objektif, fenomena ini
tidak hanya sekadar tren budaya pop, melainkan sebagai cerminan dinamika
identitas dan sikap pemuda terhadap negara dan pemerintahnya.
Perbedaan
Pandangan dalam Melihat Fenomena Pengibaran Bendera one piece
Bendera
yang diadopsi dari emblem dalam manga tersebut sering kali digunakan sebagai
bentuk ekspresi diri dan identitas komunitas pemuda yang menganggap bahwa simbol
ini mampu merepresentasikan semangat perlawanan, kebebasan, dan kritik terhadap
kekuasaan atau sistem yang dirasa tidak adil. Sebagian kalangan melihat tren
ini sebagai bagian dari arus kebangkitan kesadaran politik dan sosial, di mana
simbol yang berasal dari budaya populer digunakan sebagai media simbolik untuk
menyampaikan pesan tertentu. Selain sebagai bentuk ekspresi, pengibaran bendera
One Piece juga dipicu oleh keinginan untuk menunjukkan identifikasi
terhadap karakter dan nilai yang diusung dalam karya tersebut. Dalam konteks
ini, simbol dari manga ini bukan semata-mata berfungsi sebagai apresiasi
terhadap karya seni, melainkan juga sebagai bentuk literasi simbolis yang mampu
menyentuh aspek emosional dan identitas pemuda. Hal ini sejalan dengan perkembangan
tren sosial dan budaya yang lebih mengedepankan individualisme dan keberagaman,
di mana setiap individu menuntut ruang untuk menunjukkan eksistensinya melalui
simbol-simbol yang relevan dengan minat dan nilai yang dipegang.
Namun,
tren ini juga menimbulkan berbagai pertanyaan dan persepsi berbeda dari
masyarakat umum dan pengamat sosial. Ada yang menganggap bahwa pengibaran
bendera ini lebih bersifat sebagai gerakan simbolik yang berlebihan, bahkan
cenderung merusak makna tradisional dari simbol nasionalisme. Di sisi lain,
sebagian melihat fenomena ini sebagai bentuk kritik sosial yang konstruktif dan
sebagai cermin dari dinamika perubahan nilai dalam masyarakat kontemporer. Dapat
disimpulkan bahwa pengibaran bendera One Piece bukan hanya sekadar fenomena
budaya pop, melainkan mencerminkan kompleksitas hubungan antara identitas
budaya, ekspresi politik, serta persepsi terhadap simbol nasionalisme di
kalangan generasi muda. Sebuah representasi budaya yang mampu memicu diskusi
dan refleksi kritis terhadap konstruksi identitas dan kekuasaan dalam
masyarakat modern
Pengibaran
Bendera One Piece Menjelang Peringatan Hari Kemerdekaan
Hari
Kemerdekaan Indonesia bukan sekadar perayaan tahunan yang diperingati dengan
upacara dan perlombaan. Lebih dari itu, momen ini memuat makna mendalam tentang
identitas nasional dan perjuangan bangsa. Tradisi mengibarkan bendera merah
putih di berbagai tempat menjadi simbol usaha mempertahankan rasa nasionalisme
dan cinta tanah air. Dalam konteks tersebut, pengibaran bendera memiliki fungsi
sebagai pengingat sejarah perjuangan kemerdekaan dan sebagai bentuk solidaritas
bangsa. Namun, munculnya tren pengibaran bendera dari anime populer seperti One
Piece di kalangan anak muda menimbulkan berbagai interpretasi baru mengenai
makna patriotisme dan ekspresi kebangsaan.
Pengibaran
bendera dari karya budaya pop ini ramai diperdebatkan. Sebagian melihatnya
sebagai bentuk ekspresi kreativitas tanpa niat polemik, sementara yang lain
memandang hal tersebut sebagai kritik implisit terhadap kebijakan pemerintah
atau bahkan sebagai upaya penolakan terhadap simbol nasional. Tradisi
pengibaran bendera secara konvensional dalam rangka perayaan kemerdekaan tetap
memiliki posisi utama yang dihormati, namun keberadaan simbol dari dunia
hiburan ini turut menambah dimensi baru dalam persepsi nasionalisme. Pada
akhirnya, fenomena ini harus dipahami sebagai bagian dari dinamika budaya yang
mencerminkan respon generasi muda terhadap simbol-simbol nasional dan peran
mereka dalam membangun identitas bangsa. Di tengah perubahan zaman, penting
bagi masyarakat dan pemuka budaya untuk membuka ruang dialog yang konstruktif,
memadukan tradisi dengan inovasi yang relevan bagi generasi muda, serta
memperkuat kembali rasa nasionalisme melalui pemahaman yang mendalam terhadap
simbol-simbol yang mereka anggap bermakna.
Sikap
generasi muda terhadap pengibaran bendera memegang peranan penting dalam
memperkuat rasa kebangsaan dan memupuk identifikasi terhadap simbol negara.
Sebagai agen perubahan dan penerus bangsa, sikap mereka cenderung mencerminkan
tingkat pemahaman akan makna dan nilai-nilai yang terkandung dalam pengibaran
bendera. Ketidakpedulian, apatisme, atau bahkan sikap kritis berlebihan bisa
muncul sebagai respons terhadap simbol ini, jika tidak diimbangi dengan
pendidikan dan pemahaman yang memadai. Oleh karena itu, pendidikan politik
melalui pengibaran bendera harus mampu menanamkan rasa hormat, bangga, dan
tanggung jawab kepada generasi muda. Penting adanya penanaman nilai bahwa
pengibaran bendera tidak hanya sebatas ritual formal, melainkan sebagai wujud
penghormatan terhadap sejarah perjuangan dan identitas nasional. Sikap positif
dari generasi muda akan memungkinkan mereka untuk menikmati makna kedalaman
simbol tersebut, sekaligus mampu menjadi agen penyebar semangat nasionalisme di
lingkungan mereka. Di sisi lain, sikap kritis yang konstruktif harus didorong
agar generasi muda tidak hanya sekadar mengikuti upacara tanpa memahami esensi
dan filosofi dari pengibaran bendera.
Melalui
dialog dan pendidikan berkelanjutan, diharapkan generasi muda mampu menumbuhkan
kesadaran politik yang kuat, yang berlandaskan penghormatan terhadap
simbol-simbol negara sekaligus apresiasi terhadap hak dan kewajiban mereka
sebagai warga negara. Dengan demikian, sikap generasi muda terhadap pengibaran
bendera bukan hanya sebagai ritual, melainkan sebagai bentuk komitmen mereka
dalam menjaga dan meneruskan perjuangan bangsa serta memperkuat ikatan sosial
dan politik di tengah perkembangan zaman yang cepat dan dinamis. Seiring
dengan komitmen tersebut, maka pengibaran bendera one Piece akan hilang
dengan sendirinya, dan tidak akan terulang dengan simbol-sibol yang lain. Di
sisi lain Pemerintah juga harus tetap tanggap terhadap aspirasi masyarakatnya
melalui berbagai bentuk kritik konstruktif, dan tidak menggunakan praktik
intimidatif untuk memberangus bentuk penyampaian kritik tersebut sepanjang
tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku.
Kesimpulan
Pengibaran
bendera memiliki peran penting sebagai sarana pendidikan politik yang efektif
dalam membentuk kesadaran nasional dan menanamkan nilai-nilai patriotisme
kepada masyarakat. Melalui kegiatan ini, baik di tingkat sekolah maupun acara
resmi, masyarakat diajarkan tentang simbolisme yang terkandung dalam bendera,
seperti keberanian, identitas bangsa, dan persatuan. Pengibaran bendera secara
rutin di lingkungan sekolah tidak hanya sekadar upacara seremonial, tetapi juga
sebagai momen untuk menanamkan rasa cinta tanah air dan memahami makna
perjalanan sejarah bangsa. Pada hari-hari besar nasional maupun acara
kenegaraan, pengibaran bendera berfungsi sebagai simbol penghormatan dan
pengingat terhadap perjuangan pahlawan serta kebanggaan akan identitas
nasional. Media sosial turut memengaruhi persepsi dan praktik pengibaran
bendera, memperluas jangkauan pesan nasionalisme, namun juga menimbulkan
tantangan dan kontroversi baru terkait sikap generasi muda terhadap simbol ini.
Dalam konteks global, perbandingan dengan negara lain menunjukkan berbagai
pendekatan terhadap pengibaran bendera, yang dipengaruhi oleh globalisasi dan
dinamika politik internasional. Secara umum, pengibaran bendera mampu menjadi
media efektif dalam penyampaian pesan sosial dan politik, sering digunakan
dalam kampanye sosial maupun gerakan politik. Dampaknya terhadap kesadaran
politik masyarakat sangat signifikan, karena pengibaran bendera mampu memupuk
rasa kebangsaan, memperkuat solidaritas, serta memperteguh identitas nasional
di tengah tantangan global dan perubahan sosial. Pemerintah memiliki peran
strategis dalam menjaga makna dan penghormatan terhadap pengibaran bendera agar
tetap relevan dan dihormati sebagai simbol persatuan bangsa. Di tingkat internasional,
pengibaran bendera turut memperlihatkan sikap hormat terhadap simbol negara
lain, mempererat hubungan diplomatik dan menegaskan identitas nasional di forum
global. Studi kasus di Indonesia memperlihatkan bahwa sejarah dan tradisi
pengibaran bendera telah mengalami berbagai evolusi, mencerminkan perubahan
sosial dan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat. Secara keseluruhan,
pengibaran bendera bukan sekadar ritual, melainkan sebagai bentuk pendidikan
politik yang mampu memperkuat semangat nasionalisme, mempererat persatuan, dan
menyampaikan pesan moral serta harapan bangsa terhadap masa depan.
----------