Oleh: Shakayla Adzkiya El Queena
Di ujung sebuah gang sempit, berdiri
rumah tua yang seolah lupa kapan terakhir kali didatangi tamu. Catnya
mengelupas, pintunya berderit pelan saat tertiup angin, dan jendelanya selalu
terbuka seperti sedang menunggu seseorang datang.
Di rumah itu tinggal seorang nenek
bernama Sari dan cucunya, Bima. Mereka hidup dari hari ke hari, bukan dari
mimpi ke mimpi. Setiap pagi, Bima berjalan menyusuri gang membawa kaleng bekas
biskuit. Ia mengumpulkan botol plastik, kardus basah, dan apa pun yang bisa
ditukar dengan beberapa keping uang. Sementara itu, Nenek Sari menunggu di
rumah dengan napas yang semakin pendek dan doa yang semakin panjang.
“Jangan takut miskin, Nak,” kata
Nenek suatu hari, sambil mengelus rambut cucunya.
“Takutlah kalau hatimu ikut menjadi sempit.”
Namun tubuh Nenek tak sekuat
hatinya. Usianya telah mengajarinya banyak hal, kecuali bagaimana cara meminta
tolong.
Orang-orang di kampung itu
sebenarnya tahu tentang mereka. Mereka sering melewati rumah itu, sering
melihat Bima berjalan sendirian. Tetapi hidup membuat banyak orang lupa bahwa
melihat tidak selalu berarti peduli.
Mereka berkata, “Kasihan ya.” Lalu
berjalan lagi.
Padahal, kasihan yang tak diikuti
tindakan hanyalah suara tanpa makna.
Suatu hari, Nenek Sari jatuh sakit.
Ia tak mampu bangun dari tikarnya. Bima duduk di sampingnya, menggenggam tangan
yang mulai dingin.
“Nek, hari ini kita makan apa?”
tanya Bima pelan.
Nenek tersenyum lemah. “Kita makan
sabar dulu, Nak.”
Bima mengetuk beberapa pintu. Ada
yang tak mendengar. Ada yang pura-pura tak ada. Ia pulang dengan langkah kecil
dan mata yang basah.
Hari-hari berlalu dengan perut yang
semakin kosong dan tubuh yang semakin ringan, seolah hidup perlahan mengajarkan
mereka cara menghilang. Tak ada teriakan. Tak ada berita.
Tak ada yang benar-benar tahu. Hingga suatu pagi, gang itu terasa berbeda.
Sunyinya lebih berat dari biasanya. Seorang warga akhirnya masuk ke rumah itu
dan mendapati dua tubuh yang terbaring diam, seperti sedang tidur panjang tanpa
mimpi.
Di atas meja reyot, ada secarik
kertas bertuliskan: “Kami tidak lapar perhatian,
kami hanya lupa bagaimana cara meminta.”
Kampung itu gempar. Orang-orang
datang dengan wajah terkejut dan mata penuh penyesalan. “Seandainya kita tahu…”
“Seandainya kita lebih peka…”
Namun, penyesalan selalu datang
setelah kepedulian terlambat.
Sejak hari itu, gang sempit itu
berubah. Orang-orang mulai saling menyapa. Mulai bertanya jika tetangga tak
terlihat. Mulai mengerti bahwa hidup bukan hanya tentang bertahan sendiri,
tetapi tentang saling menguatkan. Mereka sadar, bahwa kemiskinan bukan hanya
soal tak punya makanan, tetapi soal tak punya siapa-siapa. Dan kepedulian bukan
tentang seberapa besar yang kita beri, melainkan seberapa cepat kita hadir saat
orang lain mulai menghilang dalam diam.
Nenek Sari dan Bima tak pernah
kembali. Namun kisah mereka tinggal, menjadi cermin bagi hati yang hidup:
“Jika satu tangan mau menolong, mungkin satu
nyawa tak perlu menyerah.”
“Hidup bukan soal siapa yang paling
kuat, tetapi siapa yang mau menguatkan.”
“Orang miskin tak selalu butuh uang,
kadang mereka hanya butuh diingat.”
Kini, rumah di ujung gang itu tak lagi kosong. Ia menjadi pengingat: bahwa setiap pintu yang kita tutup dari sesama, bisa menjadi pintu terakhir bagi seseorang. Dan sejak kisah itu,
orang-orang belajar satu hal sederhana: Menjadi manusia, bukan hanya tentang
hidup,
tetapi tentang peduli.
----------






.jpg)





