f ' Februari 2026 ~ Inspirasi Pendidikan

Inspirasi Pendidikan untuk Indonesia

Pendidikan bukan cuma pergi ke sekolah dan mendapatkan gelar. Tapi, juga soal memperluas pengetahuan dan menyerap ilmu kehidupan.

Bersama Bergerak dan Menggerakkan pendidikan

Kurang cerdas bisa diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki (Bung Hatta)

Berbagi informasi dan Inspirasi

Tinggikan dirimu, tapi tetapkan rendahkan hatimu. Karena rendah diri hanya dimiliki orang yang tidak percaya diri.

Mari berbagi informasi dan Inspirasi

Hanya orang yang tepat yang bisa menilai seberapa tepat kamu berada di suatu tempat.

Mari Berbagi informasi dan menginspirasi untuk negeri

Puncak tertinggi dari segala usaha yang dilakukan adalah kepasrahan.

Sabtu, 07 Februari 2026

MEREKA YANG MENUNGGU DI UJUNG GANG


 Oleh: Shakayla Adzkiya El Queena

Di ujung sebuah gang sempit, berdiri rumah tua yang seolah lupa kapan terakhir kali didatangi tamu. Catnya mengelupas, pintunya berderit pelan saat tertiup angin, dan jendelanya selalu terbuka seperti sedang menunggu seseorang datang.

Di rumah itu tinggal seorang nenek bernama Sari dan cucunya, Bima. Mereka hidup dari hari ke hari, bukan dari mimpi ke mimpi. Setiap pagi, Bima berjalan menyusuri gang membawa kaleng bekas biskuit. Ia mengumpulkan botol plastik, kardus basah, dan apa pun yang bisa ditukar dengan beberapa keping uang. Sementara itu, Nenek Sari menunggu di rumah dengan napas yang semakin pendek dan doa yang semakin panjang.

“Jangan takut miskin, Nak,” kata Nenek suatu hari, sambil mengelus rambut cucunya.
“Takutlah kalau hatimu ikut menjadi sempit.”

Namun tubuh Nenek tak sekuat hatinya. Usianya telah mengajarinya banyak hal, kecuali bagaimana cara meminta tolong.

Orang-orang di kampung itu sebenarnya tahu tentang mereka. Mereka sering melewati rumah itu, sering melihat Bima berjalan sendirian. Tetapi hidup membuat banyak orang lupa bahwa melihat tidak selalu berarti peduli.

Mereka berkata, “Kasihan ya.” Lalu berjalan lagi.

Padahal, kasihan yang tak diikuti tindakan hanyalah suara tanpa makna.

Suatu hari, Nenek Sari jatuh sakit. Ia tak mampu bangun dari tikarnya. Bima duduk di sampingnya, menggenggam tangan yang mulai dingin.

“Nek, hari ini kita makan apa?” tanya Bima pelan.

Nenek tersenyum lemah. “Kita makan sabar dulu, Nak.”

Bima mengetuk beberapa pintu. Ada yang tak mendengar. Ada yang pura-pura tak ada. Ia pulang dengan langkah kecil dan mata yang basah.

Hari-hari berlalu dengan perut yang semakin kosong dan tubuh yang semakin ringan, seolah hidup perlahan mengajarkan mereka cara menghilang. Tak ada teriakan. Tak ada berita.
Tak ada yang benar-benar tahu. Hingga suatu pagi, gang itu terasa berbeda. Sunyinya lebih berat dari biasanya. Seorang warga akhirnya masuk ke rumah itu dan mendapati dua tubuh yang terbaring diam, seperti sedang tidur panjang tanpa mimpi.

Di atas meja reyot, ada secarik kertas bertuliskan: “Kami tidak lapar perhatian,
kami hanya lupa bagaimana cara meminta.”

Kampung itu gempar. Orang-orang datang dengan wajah terkejut dan mata penuh penyesalan. “Seandainya kita tahu…” “Seandainya kita lebih peka…”

Namun, penyesalan selalu datang setelah kepedulian terlambat.

Sejak hari itu, gang sempit itu berubah. Orang-orang mulai saling menyapa. Mulai bertanya jika tetangga tak terlihat. Mulai mengerti bahwa hidup bukan hanya tentang bertahan sendiri, tetapi tentang saling menguatkan. Mereka sadar, bahwa kemiskinan bukan hanya soal tak punya makanan, tetapi soal tak punya siapa-siapa. Dan kepedulian bukan tentang seberapa besar yang kita beri, melainkan seberapa cepat kita hadir saat orang lain mulai menghilang dalam diam.

Nenek Sari dan Bima tak pernah kembali. Namun kisah mereka tinggal, menjadi cermin bagi hati yang hidup:

 “Jika satu tangan mau menolong, mungkin satu nyawa tak perlu menyerah.”

“Hidup bukan soal siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang mau menguatkan.”

“Orang miskin tak selalu butuh uang, kadang mereka hanya butuh diingat.”

Kini, rumah di ujung gang itu tak lagi kosong. Ia menjadi pengingat: bahwa setiap pintu yang kita tutup dari sesama, bisa menjadi pintu terakhir bagi seseorang. Dan sejak kisah itu,

orang-orang belajar satu hal sederhana: Menjadi manusia, bukan hanya tentang hidup,
tetapi tentang peduli.

----------  

* Penulis adalah siswi kelas IX MTs Negeri 2 Ponorogo