f ' Februari 2026 ~ Inspirasi Pendidikan

Inspirasi Pendidikan untuk Indonesia

Pendidikan bukan cuma pergi ke sekolah dan mendapatkan gelar. Tapi, juga soal memperluas pengetahuan dan menyerap ilmu kehidupan.

Bersama Bergerak dan Menggerakkan pendidikan

Kurang cerdas bisa diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki (Bung Hatta)

Berbagi informasi dan Inspirasi

Tinggikan dirimu, tapi tetapkan rendahkan hatimu. Karena rendah diri hanya dimiliki orang yang tidak percaya diri.

Mari berbagi informasi dan Inspirasi

Hanya orang yang tepat yang bisa menilai seberapa tepat kamu berada di suatu tempat.

Mari Berbagi informasi dan menginspirasi untuk negeri

Puncak tertinggi dari segala usaha yang dilakukan adalah kepasrahan.

Jumat, 20 Februari 2026

Naskah Orasi Kebangsaan:"PELAJAR BERGERAK, INDONESIA BERDAMPAK: MENJAGA PANCASILA DALAM BINGKAI BHINEKA TUNGGAL IKA"

Oleh: Shakayla Adzkiya El Queena Harfianto

Sahabat inspirasi pendidikan, ada yang istimewa kali ini, karena kami akan berbagi naskah Orasi Kebangsaaan. Naskah Orasi ini pernah disampaikan oleh penulisnya, yaitu Shakayla Adzkiya El Queena di Lomba Orasi Kebangsaan jenjang SMP di Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Orasi ini menyabet Juara 1 dalam perlombaan tersebut. Nah.. Sahabat Inspirasi Pendidikan dapat mengadopsi Naskah berikut untuk kegiatan sejenis. Judul Orasinya adalah Pelajar Bergerak, Indonesia Berdampak; Menjaga Pancasila dalam Bingkai Bhineka Tunggal Ika. Berikut isi orasi secara lengkap. 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera bagi kita semua.

Salam Pancasila.

Merdeka… Merdeka… Merdeka!

 

Yang saya hormati Dewan Juri,

Yang saya muliakan para hadirin,

Serta rekan-rekan pelajar Indonesia, generasi penerus estafet perjuangan bangsa.

Perkenankan saya, menyampaikan orasi kebangsaan dengan judul “Pelajar Bergerak, Indonesia Berdampak: Menjaga Pancasila dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika.”

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Marilah kita sejenak merenung dan mengajukan pertanyaan mendasar kepada hati nurani kita. Apa arti menjadi pelajar Indonesia di tengah arus zaman yang terus bergerak cepat?

Apakah pelajar hanya dimaknai sebagai individu yang hadir di ruang kelas, mengejar nilai, dan menyelesaikan kewajiban akademik semata? Ataukah kita menyadari bahwa di pundak para pelajarlah masa depan, arah, dan martabat bangsa Indonesia dipertaruhkan?

Indonesia bukanlah bangsa yang lahir tanpa fondasi. Indonesia adalah bangsa besar yang dibangun di atas pengorbanan kolektif para pahlawan, yang dengan penuh keberanian mengorbankan jiwa, raga, dan harta demi tegaknya kemerdekaan dan kedaulatan bangsa.

Bangsa ini berdiri di atas realitas kemajemukan: lebih dari 1.300 suku bangsa, ratusan bahasa daerah, serta keberagaman agama dan budaya yang terbentang luas dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote. Namun sejarah telah mengajarkan kepada kita satu kebenaran fundamental, bahwa Indonesia tidak dipersatukan oleh kesamaan, melainkan oleh kesadaran untuk hidup bersama dalam perbedaan.

Sumpah Pemuda tahun 1928 merupakan manifestasi kesadaran kolektif para pemuda bangsa, bahwa persatuan adalah syarat mutlak bagi lahirnya sebuah negara merdeka. Pada saat itu, para pemuda tidak mempertanyakan latar belakang suku, agama, maupun asal daerah. Mereka menanggalkan identitas sempit dan mengikatkan diri dalam satu identitas agung: Indonesia. Mereka tidak bertanya, “Siapa kamu?”, melainkan “Bagaimana bangsa ini dapat berdiri merdeka dan berdaulat?” Inilah substansi filosofis dari Bhinneka Tunggal Ika, nilai luhur yang menegaskan bahwa keberagaman bukanlah ancaman integrasi, melainkan fondasi persatuan nasional.

Hadirin yang saya hormati,

Saat ini Indonesia telah mencapai usia kemerdekaan 80 tahun, berdiri kokoh di atas empat pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika. Namun, kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab sejarah. Kita memang tidak lagi menghadapi kolonialisme fisik, tetapi bangsa ini tengah diuji oleh tantangan ideologis dan sosial yang mengancam persatuan nasional. Intoleransi, perundungan, ujaran kebencian, serta degradasi nilai Pancasila telah menjelma menjadi persoalan nyata, baik di ruang publik maupun di ruang digital. Jika tidak disikapi dengan kesadaran kebangsaan, tantangan ini berpotensi merusak sendi-sendi persatuan bangsa.

Saudara-saudara sekalian,

Pancasila tidak boleh direduksi menjadi sekadar simbol formalitas kenegaraan. Pancasila adalah jiwa bangsa, pedoman etis dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Pancasila akan benar-benar hidup apabila nilai-nilainya terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari:

saling menghormati dalam keberagaman, mengedepankan dialog dan musyawarah, serta menolak segala bentuk kekerasan dan pemaksaan kehendak.

Dalam konteks inilah, pelajar Indonesia memegang peran strategis. Sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 31 ayat (3) UUD 1945, pendidikan nasional berfungsi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus membentuk manusia Indonesia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Artinya, pelajar Indonesia bukan hanya agen intelektual, tetapi juga agen moral dan agen persatuan bangsa.

Presiden Soekarno pernah menegaskan,

“Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncang dunia.”

Ungkapan ini menegaskan bahwa kualitas pemuda, bukan kuantitasnya, yang menentukan arah sejarah bangsa.

Presiden B.J. Habibie pun mengingatkan,

“Kita tidak boleh hanya menunggu perubahan, kita harus menjadi perubahan itu sendiri.”

Pesan ini menegaskan bahwa pelajar Indonesia tidak boleh bersikap pasif, melainkan harus hadir sebagai subjek aktif dalam menjaga dan mengamalkan nilai Pancasila.

Hadirin yang saya banggakan,

Marilah kita bangun Indonesia melalui pengamalan nilai-nilai luhur Pancasila secara nyata, dimulai dari lingkungan terdekat kita. Menumbuhkan sikap toleransi, bersikap bijak dalam bermedia sosial, menolak perundungan, serta hidup rukun dalam keberagaman adalah wujud nyata cinta tanah air. Karena sesungguhnya kita semua hidup dalam satu rumah besar bernama Indonesia, rumah yang berdiri kokoh karena Pancasila sebagai fondasi ideologisnya dan kebhinekaan sebagai kekuatan pemersatunya.

Mari kita menjadi pelajar yang sadar sejarah, paham konstitusi, dan berani bergerak, sehingga kehadiran kita benar-benar memberikan dampak positif bagi persatuan, keadilan, dan kemajuan Indonesia.

Demikian orasi kebangsaan ini saya sampaikan. Semoga menjadi refleksi, inspirasi, dan komitmen bersama dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Salam Pancasila.

Merdeka… Merdeka… Merdeka.!

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Jumat, 13 Februari 2026

KETIKA CARA BICARA GEN Z BERUBAH DI ERA DIGITAL

Penulis: Shakayla Adzkiya EL QH.
Coba jujur deh. Kamu lebih pede ngetik di chat atau  ngomong langsung di depan orang? Kalau jawabannya “chat dong”, tenang… kamu normal.  Gen Z tumbuh di dunia yang penuh layar,  seperti  laptop, tablet, dan notifikasi. Cara kita ngobrol pun ikut berubah. Dari yang dulu tatap muka, sekarang seringnya lewat teks, voice note, atau video. Masalahnya, perubahan ini nggak cuma soal media, tapi juga soal cara kita bicara dan percaya diri.

Media sosial ngajarin kita satu hal, semua harus cepat. Cepat update, cepat respon, cepat trending. Kalau mau ngomong sesuatu, tinggal ketik, bisa diedit, bisa dihapus, bisa pakai emoji buat nutupin perasaan.  Tapi dunia nyata beda. Ngomong langsung itu: real time, nggak bisa diedit, semua mata langsung ke kamu. Makanya, banyak Gen Z yang lancar bikin caption, jago balas chat, aktif di story, tapi langsung blank grogi gugup saat disuruh presentasi atau bicara di depan kelas.

Disadari atau tidak,  ketika chatting kita terbiasa pakai kalimat pendek, singkatan (“g”, “ntar”, “ok”), respon cepat tapi dangkal. Kita juga sering tanpa sadar jadi susah nyusun kalimat panjang saat ngomong kosa kata,  lisan jadi terbatas,  sering mikir: “aku ngerti, tapi ngomongnya gimana ya?”Ibaratnya otak punya ide mulut nggak terbiasa ngeluarin ide. Akhirnya pas harus bicara, rasanya kayak “Aku tahu jawabannya… tapi kok mulutku error ya?” . Karena skill ngomong itu kayak otot. Kalau jarang dipakai, ya kaku.

Sobat Gen Z, Hidup di era digital itu sama dengan hidup di era penilaian,  like,  view,  comment, terkadang itu yang sering menganggu dan merubah cara pikir kita. Ini bikin banyak Gen Z mikir, takut salah ngomong, takut diketawain, takut dikira aneh, takut viral karena blunder, dan lain-lain. Akhirnya muncul  overthinking,  insecure,  anxiety saat tampil. Padahal, kenyataannya audiens nggak sekejam itu, banyak juga yang sama-sama grogi, orang lebih fokus ke diri mereka sendiri daripada ke kesalahan kita. So, what’s the problem?  Masalahnya sering bukan di kemampuan bicara, tapi di  pikiran yang kebanyakan skenario buruk.

Sekarang ngomong di depan orang nggak selalu di aula. Bisa lewat Zoom, Google Meet, Podcast,  TikTok Live, YouTube.  Ngomong ke kamera juga termasuk public speaking.  Tantangannya adalah ngomong ke layar nggak lihat ekspresi audiens, gampang ke-distract, dan harus lebih jelas dan ekspresif. Tapi keuntungannya: bisa latihan dari kamar, bisa rekam ulang, bisa mulai pelan-pelan, nggak langsung ketemu banyak orang. Buat Gen Z, ruang virtual itu bisa jadi tempat latihan,  tempat bangun percaya diri, tempat belajar ngomong tanpa terlalu tertekan.

Jadi, Era Digital bikin kita susah ngomong? Jawabannya: nggak selalu. Kalau cuma dipakai buat scroll, chat, nonton, ya kemampuan ngomong bisa tumpul. Tapi kalau dipakai buat  bikin konten opini, podcast kecil-kecilan, presentasi online, atau diskusi virtual. Era digital malah bisa jadi alat latihan , panggung pertama,  dan ruang belajar komunikasi. Semua balik ke Gen Z mau dipakai pasif atau mau jadi aktif.

Memang harus diakui Gen Z hidup di dunia lebih banyak ngetik daripada ngomong, lebih sering lihat kamera daripada audiens langsung.  Tapi justru itu tantangannya. Gimana caranya tetap berani bersuara di dunia yang penuh layar? Public speaking sekarang bukan cuma soal pidato di podium, tapi juga ngomong di Zoom, bikin konten nyampein ide,  berani beda pendapat. Karena di tengah dunia yang rame dan cepat, suara yang jelas dan jujur tetap punya nilai. Dan siapa tahu… suara itu adalah suara kamu.

------   
Penulis adalah siswi kelas IX ICP MTs N 2 Ponorogo

Sabtu, 07 Februari 2026

MEREKA YANG MENUNGGU DI UJUNG GANG


 Oleh: Shakayla Adzkiya El Queena

Di ujung sebuah gang sempit, berdiri rumah tua yang seolah lupa kapan terakhir kali didatangi tamu. Catnya mengelupas, pintunya berderit pelan saat tertiup angin, dan jendelanya selalu terbuka seperti sedang menunggu seseorang datang.

Di rumah itu tinggal seorang nenek bernama Sari dan cucunya, Bima. Mereka hidup dari hari ke hari, bukan dari mimpi ke mimpi. Setiap pagi, Bima berjalan menyusuri gang membawa kaleng bekas biskuit. Ia mengumpulkan botol plastik, kardus basah, dan apa pun yang bisa ditukar dengan beberapa keping uang. Sementara itu, Nenek Sari menunggu di rumah dengan napas yang semakin pendek dan doa yang semakin panjang.

“Jangan takut miskin, Nak,” kata Nenek suatu hari, sambil mengelus rambut cucunya.
“Takutlah kalau hatimu ikut menjadi sempit.”

Namun tubuh Nenek tak sekuat hatinya. Usianya telah mengajarinya banyak hal, kecuali bagaimana cara meminta tolong.

Orang-orang di kampung itu sebenarnya tahu tentang mereka. Mereka sering melewati rumah itu, sering melihat Bima berjalan sendirian. Tetapi hidup membuat banyak orang lupa bahwa melihat tidak selalu berarti peduli.

Mereka berkata, “Kasihan ya.” Lalu berjalan lagi.

Padahal, kasihan yang tak diikuti tindakan hanyalah suara tanpa makna.

Suatu hari, Nenek Sari jatuh sakit. Ia tak mampu bangun dari tikarnya. Bima duduk di sampingnya, menggenggam tangan yang mulai dingin.

“Nek, hari ini kita makan apa?” tanya Bima pelan.

Nenek tersenyum lemah. “Kita makan sabar dulu, Nak.”

Bima mengetuk beberapa pintu. Ada yang tak mendengar. Ada yang pura-pura tak ada. Ia pulang dengan langkah kecil dan mata yang basah.

Hari-hari berlalu dengan perut yang semakin kosong dan tubuh yang semakin ringan, seolah hidup perlahan mengajarkan mereka cara menghilang. Tak ada teriakan. Tak ada berita.
Tak ada yang benar-benar tahu. Hingga suatu pagi, gang itu terasa berbeda. Sunyinya lebih berat dari biasanya. Seorang warga akhirnya masuk ke rumah itu dan mendapati dua tubuh yang terbaring diam, seperti sedang tidur panjang tanpa mimpi.

Di atas meja reyot, ada secarik kertas bertuliskan: “Kami tidak lapar perhatian,
kami hanya lupa bagaimana cara meminta.”

Kampung itu gempar. Orang-orang datang dengan wajah terkejut dan mata penuh penyesalan. “Seandainya kita tahu…” “Seandainya kita lebih peka…”

Namun, penyesalan selalu datang setelah kepedulian terlambat.

Sejak hari itu, gang sempit itu berubah. Orang-orang mulai saling menyapa. Mulai bertanya jika tetangga tak terlihat. Mulai mengerti bahwa hidup bukan hanya tentang bertahan sendiri, tetapi tentang saling menguatkan. Mereka sadar, bahwa kemiskinan bukan hanya soal tak punya makanan, tetapi soal tak punya siapa-siapa. Dan kepedulian bukan tentang seberapa besar yang kita beri, melainkan seberapa cepat kita hadir saat orang lain mulai menghilang dalam diam.

Nenek Sari dan Bima tak pernah kembali. Namun kisah mereka tinggal, menjadi cermin bagi hati yang hidup:

 “Jika satu tangan mau menolong, mungkin satu nyawa tak perlu menyerah.”

“Hidup bukan soal siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang mau menguatkan.”

“Orang miskin tak selalu butuh uang, kadang mereka hanya butuh diingat.”

Kini, rumah di ujung gang itu tak lagi kosong. Ia menjadi pengingat: bahwa setiap pintu yang kita tutup dari sesama, bisa menjadi pintu terakhir bagi seseorang. Dan sejak kisah itu,

orang-orang belajar satu hal sederhana: Menjadi manusia, bukan hanya tentang hidup,
tetapi tentang peduli.

----------  

* Penulis adalah siswi kelas IX MTs Negeri 2 Ponorogo