--------
* Penulis adalah dosen FTIK di UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo
f '
Berbagi Inspirasi dan informasi pendidikan
Pendidikan bukan cuma pergi ke sekolah dan mendapatkan gelar. Tapi, juga soal memperluas pengetahuan dan menyerap ilmu kehidupan.
Kurang cerdas bisa diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki (Bung Hatta)
Tinggikan dirimu, tapi tetapkan rendahkan hatimu. Karena rendah diri hanya dimiliki orang yang tidak percaya diri.
Hanya orang yang tepat yang bisa menilai seberapa tepat kamu berada di suatu tempat.
Puncak tertinggi dari segala usaha yang dilakukan adalah kepasrahan.
--------
* Penulis adalah dosen FTIK di UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo
Oleh: Afrilia Eka Prasetyawati, M.Pd
Sahabat inspirasi pendidikan, kali ini kami akan berbagi karya sastra berupa puisi. Sebagai sebuah karya sastra, Puisi mengandung makna tersurat dan tersirat di dalamnya. kerap kali pesan yang ada dalam sebuah karya sastra Puisi tidak bisa diserap dengan mudah oleh pembacanya, karena penuh dengan kiasan, gaya bahasa, dan lain-lain. Tapi disitulah keunikannya, setiap penikmat puisi akan dibawa berselancar dalam dunia angannya secara berbeda sesuai dengan tingkat pemahamannya masing-masing.
Berikut ini, kami sajikan sebuah puisi yang berjudul "SELOKA RASA" Karya: Hariyanto. Setelah itu Sahabat Inspirasi Pendidikan akan diberikan penjelasan secara singkat tentang makna dan pesan yang terkandung dalam puisi tersebut.
Ponorogo, 23 Juni 2025
Sahabat inspirasi pendidikan, setelah membaca puisi tersebut, mungkin pembaca memiliki penafsiran yang berbeda, tetapi dari serangkaian kalimat yang sederhana tersebut, sejatinya dapat ditafsir maknanya. Puisi tersebut menggambarkan tentang sebuah perjalanan hidup dan perjalanan cinta seseorang dengan cara sederhana, diungkapkan dengan bahasa cinta yang sederhana tetapi nyata terasa. hal ini teruang dalam paragraf pertama, "masih selugu ituka rindumu, Bersama secangkir kopi pahit yang kau seduh untukku.." kalimat selanjutnya menunjukkan bahasa cinta dari dua pasangan yang ditunjukkan dalam bahasa tubuh "kerling genit alismu, kibasan rambut legammu" yang tersapu diujung jari lentik yang mampu membius rayu.
Perjalanan sebuah cinta, memang tidaklah singkat. Cinta terbangun oleh rasa. Dalam perjalanannya rasa berkristal menjadi sebuah kenangan yang tak mudah untuk terlupakan. Perjalanan hidup yang dibalut oleh sucinya cinta selalu memiliki warnanya. hal ini terungkap dalam kalimat "Perjalanan cerita menuju senja," disini penulis hendak mengingatkan bahwa setiap perjalanan manusia menuju masa kedewasaan sampai menjelang usia senja, pastilah diwarnai dengan suka dan duka. Layaknya sebuah kehidupan berumah tangga, pastilah rona suka, bahagia, duka menjadi hiasan tersendiri dan justru itulah yang memperkuat ikatannya. Secara sadar penulis mengungkapkan bahwa semua itu terjadi atas kehendakNya.
Pada paragraf ketiga puisi tersebut, Penulis menegaskan kembali kesederhanaan cinta, tapi dengan kesederhanaan itu cinta dapat dirawat. meskipun hanya terungkap melalui "setangkai mawar jingga." Perjalanan hidup dan cinta selalu diuji bagai gelombang, bentuk ujiannya pun bisa beragaman, ujian ekonomi, ujian kesetiaan, ujian tanggung jawab dan berbagai bentuk lainnya. Meskipun demikian, semua itu seolah tidak ada artinya apabila kedua pasangan (suami isteri) selalu berusaha "menjaga benang merah tak kasat mata agar tak putus ikatannya." Pemilihan ungkapan "Benang merah tak kasat mata" ini merujuk pada budaya dan kepercayaan tertentu bahwa setiap pasangan yang berjodoh, sesungguhnya sudah terikat benang merah yang tidak tampak oleh mata. Kekuatan jodoh ini ditentukan oleh kuat dan lemahnya benang tersebut. Penulis hendak mengingatkan bahwa tugas setiap pasangan hidup adalah menjaga agar benang merah tidak putus meski sebesar apapun ujiannya. karena sesungguhnya inilah bukti kesetiaan dan kesucian cinta.
Cobaan hidup dan cinta yang semakin besar tersebut, tidak boleh menyurutkan perjalanan menuju visi hidup yang hendak dicapai. Karena itu dalam paragraf terakhir, penulis menyatakan dalam kalimat "Lepaskanlah ikatan sauh, Bahtera ini harus tetap berlayar jauh, menuju dermaga berlabuh."
Nah, sahabat inspirasi pendidikan, demikianlah apresiasi terhadap karya sastra puisi yang berjudul, "SELOKA RASA". Semoga bermanfaat dan menjadi inspirasi bagi sahabat semua. Pesan yang hendak disampaikan dan hikmah yang terkandung di dalamnya dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. (Afrilia, 08/08/2025)
* Penulis adalah pemerhati sastra
Oleh: Dr Hariyanto, M.Pd
Dalam
beberapa Minggu terakhir, muncul tren pengibaran bendera karakter dari serial anime
terkenal, seperti One Piece, menjelang peringatan hari kemerdekaan
Indonesia. Fenomena ini menimbulkan perdebatan di kalangan masyarakat tentang
makna dan dampaknya terhadap rasa nasionalisme dan kritik terhadap pemerintah.
Di satu sisi, pengibaran bendera ini dapat dianggap sebagai bentuk ekspresi
kreativitas dan kebebasan berpendapat generasi muda yang ingin menyampaikan
pesan melalui simbol yang sedang populer di budaya pop. Mereka memanfaatkan
karakter yang ikonik untuk menarik perhatian dan merayakan identitas sendiri
dalam konteks modern. Namun, di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa tindakan ini
mengikis makna simbol nasionalisme yang selama ini dipegang teguh, terutama
dalam momen yang seharusnya memperkuat rasa cinta tanah air. Pengibaran bendera
dalam bentuk ini bisa dianggap sebagai bentuk pergeseran makna yang mengurangi
rasa hormat terhadap lambang negara, dan bahkan dapat menimbulkan kebingungan
tentang makna simbol tersebut di kalangan masyarakat. Beberapa kritik memandang
bahwa tren ini dapat menjadi bentuk protes tidak langsung terhadap kebijakan
pemerintah, sebagai ekspresi ketidakpuasan yang diwakili melalui simbol yang tidak
konvensional. Oleh karena itu, penting untuk memahami konteks dan niat di balik
fenomena ini, serta mencari jalan tengah dalam menyalurkan aspirasi dan menjaga
semangat nasionalisme yang sejati. Melalui analisis yang objektif, fenomena ini
tidak hanya sekadar tren budaya pop, melainkan sebagai cerminan dinamika
identitas dan sikap pemuda terhadap negara dan pemerintahnya.
Perbedaan
Pandangan dalam Melihat Fenomena Pengibaran Bendera one piece
Bendera
yang diadopsi dari emblem dalam manga tersebut sering kali digunakan sebagai
bentuk ekspresi diri dan identitas komunitas pemuda yang menganggap bahwa simbol
ini mampu merepresentasikan semangat perlawanan, kebebasan, dan kritik terhadap
kekuasaan atau sistem yang dirasa tidak adil. Sebagian kalangan melihat tren
ini sebagai bagian dari arus kebangkitan kesadaran politik dan sosial, di mana
simbol yang berasal dari budaya populer digunakan sebagai media simbolik untuk
menyampaikan pesan tertentu. Selain sebagai bentuk ekspresi, pengibaran bendera
One Piece juga dipicu oleh keinginan untuk menunjukkan identifikasi
terhadap karakter dan nilai yang diusung dalam karya tersebut. Dalam konteks
ini, simbol dari manga ini bukan semata-mata berfungsi sebagai apresiasi
terhadap karya seni, melainkan juga sebagai bentuk literasi simbolis yang mampu
menyentuh aspek emosional dan identitas pemuda. Hal ini sejalan dengan perkembangan
tren sosial dan budaya yang lebih mengedepankan individualisme dan keberagaman,
di mana setiap individu menuntut ruang untuk menunjukkan eksistensinya melalui
simbol-simbol yang relevan dengan minat dan nilai yang dipegang.
Namun,
tren ini juga menimbulkan berbagai pertanyaan dan persepsi berbeda dari
masyarakat umum dan pengamat sosial. Ada yang menganggap bahwa pengibaran
bendera ini lebih bersifat sebagai gerakan simbolik yang berlebihan, bahkan
cenderung merusak makna tradisional dari simbol nasionalisme. Di sisi lain,
sebagian melihat fenomena ini sebagai bentuk kritik sosial yang konstruktif dan
sebagai cermin dari dinamika perubahan nilai dalam masyarakat kontemporer. Dapat
disimpulkan bahwa pengibaran bendera One Piece bukan hanya sekadar fenomena
budaya pop, melainkan mencerminkan kompleksitas hubungan antara identitas
budaya, ekspresi politik, serta persepsi terhadap simbol nasionalisme di
kalangan generasi muda. Sebuah representasi budaya yang mampu memicu diskusi
dan refleksi kritis terhadap konstruksi identitas dan kekuasaan dalam
masyarakat modern
Pengibaran
Bendera One Piece Menjelang Peringatan Hari Kemerdekaan
Hari
Kemerdekaan Indonesia bukan sekadar perayaan tahunan yang diperingati dengan
upacara dan perlombaan. Lebih dari itu, momen ini memuat makna mendalam tentang
identitas nasional dan perjuangan bangsa. Tradisi mengibarkan bendera merah
putih di berbagai tempat menjadi simbol usaha mempertahankan rasa nasionalisme
dan cinta tanah air. Dalam konteks tersebut, pengibaran bendera memiliki fungsi
sebagai pengingat sejarah perjuangan kemerdekaan dan sebagai bentuk solidaritas
bangsa. Namun, munculnya tren pengibaran bendera dari anime populer seperti One
Piece di kalangan anak muda menimbulkan berbagai interpretasi baru mengenai
makna patriotisme dan ekspresi kebangsaan.
Pengibaran
bendera dari karya budaya pop ini ramai diperdebatkan. Sebagian melihatnya
sebagai bentuk ekspresi kreativitas tanpa niat polemik, sementara yang lain
memandang hal tersebut sebagai kritik implisit terhadap kebijakan pemerintah
atau bahkan sebagai upaya penolakan terhadap simbol nasional. Tradisi
pengibaran bendera secara konvensional dalam rangka perayaan kemerdekaan tetap
memiliki posisi utama yang dihormati, namun keberadaan simbol dari dunia
hiburan ini turut menambah dimensi baru dalam persepsi nasionalisme. Pada
akhirnya, fenomena ini harus dipahami sebagai bagian dari dinamika budaya yang
mencerminkan respon generasi muda terhadap simbol-simbol nasional dan peran
mereka dalam membangun identitas bangsa. Di tengah perubahan zaman, penting
bagi masyarakat dan pemuka budaya untuk membuka ruang dialog yang konstruktif,
memadukan tradisi dengan inovasi yang relevan bagi generasi muda, serta
memperkuat kembali rasa nasionalisme melalui pemahaman yang mendalam terhadap
simbol-simbol yang mereka anggap bermakna.
Sikap
generasi muda terhadap pengibaran bendera memegang peranan penting dalam
memperkuat rasa kebangsaan dan memupuk identifikasi terhadap simbol negara.
Sebagai agen perubahan dan penerus bangsa, sikap mereka cenderung mencerminkan
tingkat pemahaman akan makna dan nilai-nilai yang terkandung dalam pengibaran
bendera. Ketidakpedulian, apatisme, atau bahkan sikap kritis berlebihan bisa
muncul sebagai respons terhadap simbol ini, jika tidak diimbangi dengan
pendidikan dan pemahaman yang memadai. Oleh karena itu, pendidikan politik
melalui pengibaran bendera harus mampu menanamkan rasa hormat, bangga, dan
tanggung jawab kepada generasi muda. Penting adanya penanaman nilai bahwa
pengibaran bendera tidak hanya sebatas ritual formal, melainkan sebagai wujud
penghormatan terhadap sejarah perjuangan dan identitas nasional. Sikap positif
dari generasi muda akan memungkinkan mereka untuk menikmati makna kedalaman
simbol tersebut, sekaligus mampu menjadi agen penyebar semangat nasionalisme di
lingkungan mereka. Di sisi lain, sikap kritis yang konstruktif harus didorong
agar generasi muda tidak hanya sekadar mengikuti upacara tanpa memahami esensi
dan filosofi dari pengibaran bendera.
Melalui
dialog dan pendidikan berkelanjutan, diharapkan generasi muda mampu menumbuhkan
kesadaran politik yang kuat, yang berlandaskan penghormatan terhadap
simbol-simbol negara sekaligus apresiasi terhadap hak dan kewajiban mereka
sebagai warga negara. Dengan demikian, sikap generasi muda terhadap pengibaran
bendera bukan hanya sebagai ritual, melainkan sebagai bentuk komitmen mereka
dalam menjaga dan meneruskan perjuangan bangsa serta memperkuat ikatan sosial
dan politik di tengah perkembangan zaman yang cepat dan dinamis. Seiring
dengan komitmen tersebut, maka pengibaran bendera one Piece akan hilang
dengan sendirinya, dan tidak akan terulang dengan simbol-sibol yang lain. Di
sisi lain Pemerintah juga harus tetap tanggap terhadap aspirasi masyarakatnya
melalui berbagai bentuk kritik konstruktif, dan tidak menggunakan praktik
intimidatif untuk memberangus bentuk penyampaian kritik tersebut sepanjang
tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku.
Kesimpulan
Pengibaran
bendera memiliki peran penting sebagai sarana pendidikan politik yang efektif
dalam membentuk kesadaran nasional dan menanamkan nilai-nilai patriotisme
kepada masyarakat. Melalui kegiatan ini, baik di tingkat sekolah maupun acara
resmi, masyarakat diajarkan tentang simbolisme yang terkandung dalam bendera,
seperti keberanian, identitas bangsa, dan persatuan. Pengibaran bendera secara
rutin di lingkungan sekolah tidak hanya sekadar upacara seremonial, tetapi juga
sebagai momen untuk menanamkan rasa cinta tanah air dan memahami makna
perjalanan sejarah bangsa. Pada hari-hari besar nasional maupun acara
kenegaraan, pengibaran bendera berfungsi sebagai simbol penghormatan dan
pengingat terhadap perjuangan pahlawan serta kebanggaan akan identitas
nasional. Media sosial turut memengaruhi persepsi dan praktik pengibaran
bendera, memperluas jangkauan pesan nasionalisme, namun juga menimbulkan
tantangan dan kontroversi baru terkait sikap generasi muda terhadap simbol ini.
Dalam konteks global, perbandingan dengan negara lain menunjukkan berbagai
pendekatan terhadap pengibaran bendera, yang dipengaruhi oleh globalisasi dan
dinamika politik internasional. Secara umum, pengibaran bendera mampu menjadi
media efektif dalam penyampaian pesan sosial dan politik, sering digunakan
dalam kampanye sosial maupun gerakan politik. Dampaknya terhadap kesadaran
politik masyarakat sangat signifikan, karena pengibaran bendera mampu memupuk
rasa kebangsaan, memperkuat solidaritas, serta memperteguh identitas nasional
di tengah tantangan global dan perubahan sosial. Pemerintah memiliki peran
strategis dalam menjaga makna dan penghormatan terhadap pengibaran bendera agar
tetap relevan dan dihormati sebagai simbol persatuan bangsa. Di tingkat internasional,
pengibaran bendera turut memperlihatkan sikap hormat terhadap simbol negara
lain, mempererat hubungan diplomatik dan menegaskan identitas nasional di forum
global. Studi kasus di Indonesia memperlihatkan bahwa sejarah dan tradisi
pengibaran bendera telah mengalami berbagai evolusi, mencerminkan perubahan
sosial dan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat. Secara keseluruhan,
pengibaran bendera bukan sekadar ritual, melainkan sebagai bentuk pendidikan
politik yang mampu memperkuat semangat nasionalisme, mempererat persatuan, dan
menyampaikan pesan moral serta harapan bangsa terhadap masa depan.
----------
Oleh: Munfaridah Nur Fauziah
inspirasipendidikan.com_
MisterQu begitu masyarakat Ponorogo mengenalnya. Sebuah nama lembaga pendidikan
dibawah naungan Yayasan Qurrota A’yun Ponorogo. Misterqu sejatinya adalah
Madrasah Ibtidaiyah Tahfidz dan Enterpreneur. Sesuai dengan Visinya yaitu membentuk
generasi Qur’ani dan Enterpreneur, maka berbagai keterampilan pendukung lainnya
juga diberikan kepada para siswa-siswinya. Salah satunya adalah pelatihan
menulis yang disesuaikan dengan level kemampuan literasi anak usia pendidikan
dasar. Shooting adalah akronim dari Short story training. Sebuah
pelatihan menulis cerita pendek bagi siswa-siswi kelas 5 dan 6 MisterQu. Bagi
sebagian besar orang mungkin mengira akan sulit untuk mengajarkan keterampilan
menulis cerita pendek, tetapi tidak bagi para siswa dan siswi di sekolah ini,
karena setiap tahun buku-buku karya peserta didik berhasil diterbitkan. Misalnya,
buku Kumpulan Cerpen “Kami yang Tak Pernah Biasa’ karya siswa-siswi kelas 6
tahun 2025. Kemampuan Literasi inilah yang ingin terus dibangkitkan oleh Kepala
MI Tahfidz dan Enterpreneur Qurrota A’yun, Lia Anies Winianti, M.Pd. Bersama jajarannya
Kepala Madrasah berhasil memajukan lembaga yang dipimpinnya hingga mendapatkan
peringkat akreditasi “UNGGUL”.
Tidak
mengherankan jika acara pelatihan ini menyenangkan karena penyampaian yang
mudah dipahami, mulai dari dasar, dan penuh ketelatenan dalam membimbing. Keberanian
peserta didik untuk bertanya dan menjawab pertanyaan dari trainer menunjukkan
kegiatan berlangsung dua arah. Anak-anak merasa nyaman sehingga tidak terasa
lebih dari 2 jam berlalu dengan cepat. Dalam kesempatan itu, Ibu Afrilia
menjelaskan pengertian Cerpen, ciri-ciri cerpen, langkah mudah untuk menulis
cerpen bagi anak usia pendidikan dasar, dan meminta anak-anak menulis dalam
beberapa paragraf serta menceritakan kembali apa yang ditulisnya secara lisan.
Dengan demikian, selain menulis, secara tidak langsung peserta didik juga
dilatih berani untuk mengasah keterampilan public speakingnya.
Sebagai
apresiasi dari Ibu Afrilia, beberapa siswa yang berani bertanya, menulis dengan
hasil yang bagus, dan berani tampil menceritakan kembali cerpennya secara
lisan, diberikan hadiah cendera mata dari penerbit CV. Pustaka El Queena dan
beberapa buku cerpen yang telah diterbitkan.
Pada
akhir acara pelatihan menulis cerpen ini, Ibu Afrilia sebagai seorang trainer
professional memberikan motivasi mengapa menulis itu penting. Menurutnya menulis
adalah mengukir peradaban di masa kini dan di masa depan. “Dengan membaca kita
mengenal dunia, dan dengan menulis kita dikenal dunia.” Tegasnya. “Imam Al
Ghazali pernah mengatakan bahwa jika kamu bukan anak seorang raja, bukan anak
seorang ulama, maka menulislah. Karena orang lain akan mengenal kamu dari
bentangan pikiran-pikiran yang kamu tuangkan dalam tulisan. Tidak perlu
menunda, mulailah menulis. Dan jadilah generasi yang bermanfaat tidak hanya
bagi diri sendiri, tetapi juga bagi keluarga, lingkungan sekitar kamu dan
membanggakan bangsamu melalui karya-karya hebatmu.” Imbuhnya.
Oleh: Nadyatul Mu’awanah
Oleh: Nurul Izahti*
Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang menjujung tinggi
nilai-nilai moral. Bahkan nilai-nilai moral tersebut tercermin dalam dasar
negara Indonesia yaitu Pancasila dan Undang-undang. Nilai-nilai moral yang
tercantum dalam dasar negara diharapkan dapat dijadikan sebagai pedoman
kehidupan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan masyarakat yang
bermoral maka dapat menjadi kunci dalam menjaga dan mengisi kemerdekaan bagsa
Indonesia. Namun saat ini Indonesia tengah menghadapai berbagai tantangan besar
salah satunya berupa dekadensi moral atau kemorosotan moral. Saat ini banyak
sekali ditemui berbagai praktik dekadensi moral seperti melemahnya semangat
gotong royong, munculnya berbagai kekerasan, perundungan, seks bebas, penggunaan
narkotika dan maraknya praktik korupsi.
Di tengah adanya perkembangan globalisasi dan modernisasi, krisis
moral menjadi tantangan besar yang dihadapi bangsa Indonesia. Dampak dari
adanya dekadensi moral tidak bisa dipandang sebelah mata, karena dampaknya
sangat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan sosial, budaya dan juga sistem
pemerintahan negara. Dekadensi moral bisa disebabkan oleh berbagai faktor, baik
dari faktor internal dan eksternal. Beberapa faktor utama yang menjadi penyebab
dekadensi moral yaitu lemahnya nilai spritualitas, minimnya pendidikan karakter
serta pengaruh negatif dari adanya perkembangan teknologi. Dari situasi seperti
ini, dari kalangan masyarakat dan juga pemerintahan harus memulai perbaikan
moral. Salah satu solusi yang bisa diusahakan yaitu dengan memperbaiki sistem
pendidikan Indonesia. Dalam konteks ini, lembaga pendidikan tinggi khususnya
kampus yang mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan harus hadir sebagai benteng
moral dan agen pembentuk peradaban yang bermartabat.
Kampus bukan hanya sekedar tempat untuk mencari ilmu, tetapi
disamping itu juga sebagai tempat dalam pembentukan dan mewujudkan karakter
mahasiswa yang bermoral. Khususnya bagi perguruan tinggi keagamaan yang
memiliki tanggungjawab dan peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai
spiritual dan etika. Disamping mengajarkan pengetahuan umum kampus keagamaan
juga berusaha mengajarkan nilai spiritualitas, tanggung jawab, jujur, adil dan
rasa empati terhadap orang lain. Cendekiawan Muslim Indonesia yang lebih dikenal
sebagai tokoh politik Masyumi dan Mantan Perdana Menteri RI yaitu M. Natsir
memiliki pemikiran bahwa pendidikan harus mampu mengintegrasikan antara agama
dan ilmu pengetahuan secara harmonis, integral dan universal tanpa adanya
dikotomi atau pemisahan. M. Natsir berharap setiap individu mampu memadukan dan
menyeimbangkan antara nilai agama dan ilmu pengetahuan umum. Maka dari itu
religiusitas suatu kampus seharusnya tidak hanya sebatas sebagai simbol saja
tetapi juga harus mendorong mahasiswanya untuk mampu menerapkan nilai moral
dalam kehidupan sehari-harinya.
Untuk memperkuat penanaman nilai moral pada mahasiswa, pihak
kampus juga harus mampu melakukan kolaborasi baik dengan pemerintah, masyarakat
dan juga lembaga keagamaan. Sepertihalnya dengan membuat program pengabdian
kepada masyarakat yang berbasis pada nilai-nilai keagamaan. Tujuan dari program
tersebut yaitu mahasiswa tidak hanya belajar pendidikan moral sebatas diruang
kelas saja tetapi juga di tengah kehidupan masyarakat sehingga pendidikan moral
pada mahasiswa juga akan berdampak panjang dalam kehidupan sehari-harinya.
Disamping itu kampus beragama juga memiliki peran yang penting dalam menjawab
berbagai problematika yang muncul akibat perbedaan suku, agama, ras serta
radikalisme melalui pendekatan berbasis nilai. Dengan meningkatkan nilai
toleransi dan kerukunan melalui kegiatan dialog antar agama, kegiatan sosial
dan juga kegiatan keagamaan yang inklusif.
Bangsa yang bermoral tidak dapat diwujudkan secara instan,
melainkan butuh proses yang panjang salah satunya melalui pendidikan yang
bermakna. Maka dari itu melalui kurikulum yang mengintegrasikan antara ilmu dan
akhlak, kampus beragama diharapkan dapat mencetak lulusan yang bukan hanya
cerdas secara intelektual tetapi juga matang secara spiritual dan moral.
Sehingga dapat menjaga moralitas dan peradaban bangsa yang bermartabat.
------
*Penulis adalah Mahasiswi jurusan PAI , UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo
Oleh: Nida Rofifah
Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin
pesat saat ini, penggunaan teknologi digital dalam dunia pendidikan juga
semakin meningkat pesat. Pembelajaran yang dilakukan secara daring, pemanfaatan
platform media sosial, dan penggunaan berbagai aplikasi pembelajaran saat ini
sudah menjadi bagian tidak dapat dipisahkan dari proses belajar mengajar. Di
era digital seperti saat ini sebenarnya memberikan peluang besar kepada
pendidik dan peserta didik semua untuk memperluas akses pendidikan,
meningkatkan kreativitas dan inovasi, dan juga memfasilitasi pembelajaran yang
lebih interaktif dan menyenangkan. Kita diberi kemudahan untuk mengakses
berbagai bahan ajar secara lebih luas. Namun, di balik semua kemudahan itu,
terdapat berbagai tantangan yang harus dihadapi oleh para pendidik, peserta
didik, dan pemerintah khususnya dalam bidang pendidikan.
Salah satu tantangan yang dihadapi adalah
terjadinya ketidak setaraan pada titik akses teknologi atau kesenjangan akses
teknologi. Meskipun saat ini teknologi sudah tersebar dimana mana dan
terealisasikan secara masif, akan tetapi masih terdapat beberapa tempat atau
daerah yang masih belum bisa dijangkau oleh tekhnologi yang disebabkan oleh
beberapa faktor salah satunya yaitu akses internet yang tidak memadai sehingga
hal itu menyebabkan kesulitan bagi para peserta didik untuk bisa mengakses
teknologi AI dengan mudah.1 Selain itu, tidak semua peserta didik memiliki
perangkat yang memadai. Ini menciptakan ketidakadilan dalam peluang belajar,
terutama bagi mereka yang tinggal di daerah terpencil atau keluarga dengan
ekonomi golongan menengah kebawah. Seperti dalam penelitian studi kasus pada
masyarakat pedesaan yang dilakukan oleh Adristi Naura Syifa dan kawan-kawan
menunjukkan bahwa kesenjangan digital dan akses internet di kabupaten Katingan
dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat dalam berbagai profesi. Hasil penelitian
terhadap masyarakat Kabupaten Katingan yang berprofesi sebagai ASN (aparatur
sipil negara), guru, petani sawit, wirausaha, tenaga honorer, mahasiswa,
pegawai harian lepas, dan ASN di UPTD Puskesmas Tumbang Sanamang, menunjukkan
bahwa kesenjangan akses digital telah memberikan dampak terhadap pendidikan,
perekonomian, dan kehidupan sosial masyarakat. Sehingga perlu adanya peran
aktif pemerintah untuk mengatasi hal tersebut.2
Selain itu, tantangan lain adalah ketersediaan
sumber daya manusia yang mampu untuk mengelola dan mengembangkan teknologi
pendidikan secara efektif. Seorang pendidik harus terus meningkatkan
kompetensinya dalam bidang teknologi, pedagogi digital, pengelolaan kelas, dan
lain sebagainya. Sayangnya, tidak semua pendidik memiliki kesempatan pelatihan
teknologi digital yang memadai yang dapat berpengaruh signifikan pada kualitas
pembelajaran apalagi terhadap guru yang sudah menginjak usia lanjut.
Dari tantangan tersebut, penting bagi kita semua untuk melihat
peluang yang ada. Pemerintah dan lembaga pendidikan harus berperan aktif dalam
menyediakan fasilitas, pelatihan, serta membangun sistem yang inklusif dan
aman. Guru juga perlu terus mengembangkan kompetensi yang harus dimiliki oleh
seorang pendidik dan juga harus berinovatif dalam mengajar menggunakan
teknologi. Sementara peserta didik harus didukung agar mampu memanfaatkan
teknologi secara positif dan bertanggung jawab. Jika semua elemen mampu bekerja
sama dan beradaptasi dengan perubahan ini, maka pendidikan Indonesia akan mampu
bersaing di tingkat global dan menghasilkan generasi penerus yang kompeten
serta inovatif
Bahan Bacaan:
1 M. Zidan Rizki, “Tantangan Pendidikan Indonesia
di Era Digitalisasi Artificial Intelligence (AI),” JIIC: Jurnal Intelek
Insan Cendekia, Vol. 1, No. 7 (September, 2024), 2924.
* Penulis adalah mahasiswa jurusan PAI, UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo