f ' Juli 2026 ~ Inspirasi Pendidikan

Inspirasi Pendidikan untuk Indonesia

Pendidikan bukan cuma pergi ke sekolah dan mendapatkan gelar. Tapi, juga soal memperluas pengetahuan dan menyerap ilmu kehidupan.

Bersama Bergerak dan Menggerakkan pendidikan

Kurang cerdas bisa diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki (Bung Hatta)

Berbagi informasi dan Inspirasi

Tinggikan dirimu, tapi tetapkan rendahkan hatimu. Karena rendah diri hanya dimiliki orang yang tidak percaya diri.

Mari berbagi informasi dan Inspirasi

Hanya orang yang tepat yang bisa menilai seberapa tepat kamu berada di suatu tempat.

Mari Berbagi informasi dan menginspirasi untuk negeri

Puncak tertinggi dari segala usaha yang dilakukan adalah kepasrahan.

Senin, 27 Juli 2026

Dari URI hingga PTKI: Membangun Ekosistem Pendidikan Tinggi yang Kompetitif

Oleh: Dr. Hariyanto, M.Pd

Presiden Prabowo Subianto kembali membuat gebrakan, berencana untuk mendirikan 10 Universitas Republik Indonesia (URI). Seperti biasa gagasan yang belum pernah terdengar gaungnya “tiba-tiba” hendak didirikan dengan melantik Gubernur URI, Marsekal TNI (Purn) Donny Ermawan Taufanto  pada tanggal 23 Juli 2026. Kebijakan baru memunculkan optimisme sekaligus perdebatan di kalangan akademisi. Di satu sisi, pendirian sebuah universitas baru dipandang sebagai simbol komitmen mendasar yang layak dijawab secara ilmiah. Apakah Indonesia benar-benar kekurangan sumber daya manusia unggul yang dapat mengisi posisi calon pemimpin dalam pemerintahan di masa depam. Di sisi lain, muncul pertanyaan apakah Indonesia  kekurangan universitas, atau justru kekurangan kualitas, tata kelola, dan investasi terhadap perguruan tinggi yang telah ada? 
Pertanyaan ini penting karena kebijakan pendidikan tinggi tidak dapat hanya dibangun  atas dasar simbolisme politik, melainkan harus berpijak pada kebutuhan nyata, efisiensi anggaran, serta dampaknya terhadap daya saing bangsa dalam jangka panjang.

Data Kementerian Pendidikan Tinggi menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah perguruan tinggi terbanyak di dunia. Saat ini terdapat lebih dari 4.370 perguruan tinggi, terdiri atas 125 perguruan tinggi negeri (PTN), 2813 perguruan tinggi swasta (PTS), 171 perguruan tinggi kedinasan, serta 1307 perguruan tinggi keagamaan di bawah Kementerian Agama (https://dikti.kemdiktisaintek.go.id/data-statistik).

Secara kuantitatif, Indonesia bukan negara yang kekurangan institusi pendidikan tinggi. Tantangan terbesar justru terletak pada ketimpangan kualitas, pemerataan akses, mutu pembelajaran, kapasitas riset, dan tata kelola kelembagaan. Dengan kata lain, persoalan utama pendidikan tinggi Indonesia bukanlah jumlah kampus, melainkan kualitas kampus.

Jika ukuran keberhasilan pendidikan tinggi adalah daya saing global, maka Indonesia masih menghadapi pekerjaan rumah yang sangat besar. Dalam QS World University Rankings, hanya beberapa perguruan tinggi Indonesia yang berhasil masuk jajaran 300 besar dunia. Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, dan beberapa perguruan tinggi lain memang terus mengalami peningkatan, namun secara keseluruhan posisi Indonesia masih tertinggal dibanding Singapura, Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, bahkan Malaysia. National University of Singapore (NUS) dan Nanyang Technological University (NTU) secara konsisten berada dalam kelompok universitas terbaik dunia. Universiti Malaya bahkan telah mampu menembus kelompok universitas papan atas Asia.

Sebaliknya, mayoritas perguruan tinggi Indonesia masih menghadapi tantangan pada indikator-indikator utama penilaian dunia, seperti: produktivitas publikasi internasional, jumlah sitasi ilmiah, reputasi akademik, kolaborasi riset internasional, kualitas lulusan, serta inovasi dan hilirisasi penelitian. Artinya, persoalan Indonesia bukan kekurangan universitas baru, tetapi bagaimana meningkatkan mutu universitas yang sudah ada agar mampu bersaing secara global.

Dalam situasi pemerintah sedang mendorong efisiensi belanja negara, pendirian sebuah universitas nasional tentu memerlukan pertimbangan yang sangat matang. Mendirikan universitas baru berarti membutuhkan pembangunan infrastruktur, pengadaan laboratorium, pembangunan perpustakaan, rekrutmen dosen, pengembangan kurikulum, sistem administrasi, investasi teknologi,  biaya operasional jangka panjang.  Nilainya tentu mencapai triliunan rupiah. Pertanyaan yang layak diajukan adalah, apakah investasi sebesar itu akan menghasilkan manfaat yang lebih besar dibanding memperkuat ribuan perguruan tinggi yang telah ada? Dalam ilmu ekonomi publik dikenal konsep opportunity cost. Setiap rupiah yang digunakan untuk membangun institusi baru berarti mengurangi kesempatan memperbaiki institusi lama.

Bukankah dengan dana yang sama, pemerintah dapat meningkatkan laboratorium ratusan perguruan tinggi, memberikan ribuan beasiswa doktor, memperbanyak hibah penelitian, memperkuat digitalisasi kampus, meningkatkan kesejahteraan dosen,  membangun pusat inovasi di berbagai daerah. Tanpa mengurangi penghargaan terhadap niat baik pemerintah untuk membangun SDM Indonesia, penulis berpandangan bahwa pendekatan ini justru berpotensi menghasilkan dampak nasional yang jauh lebih luas.

Kampus terbaik di dunia tidak lahir semata-mata karena gedung megah. Harvard, Oxford, Cambridge, MIT, Stanford maupun NUS, NTU  dibangun selama puluhan bahkan ratusan tahun melalui budaya akademik yang kuat. Kualitas universitas ditentukan oleh ekosistemnya, bukan oleh nama atau usia lembaga. Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan mendasar. Misalnya anggaran riset yang relatif kecil dibanding negara maju, budaya publikasi yang belum merata, birokrasi akademik yang kompleks, kolaborasi industri yang terbatas, rendahnya jumlah paten dan inovasi dan yang tak kalah mendasar adalah tingkat kesejahteraan dosennya.  Tanpa menyelesaikan persoalan tersebut, mendirikan universitas baru berpotensi hanya menambah jumlah institusi, bukan meningkatkan kualitas pendidikan nasional.

Jantung sebuah universitas adalah dosennya. Sayangnya, kualitas sumber daya manusia perguruan tinggi Indonesia masih memerlukan penguatan serius. Meskipun jumlah dosen terus meningkat, proporsi dosen bergelar doktor dan profesor masih relatif kecil dibanding kebutuhan nasional. Produktivitas publikasi internasional juga masih terkonsentrasi pada sejumlah perguruan tinggi besar. Banyak dosen masih menghadapi berbagai kendala, seperti beban administrasi yang tinggi, keterbatasan dana penelitian, minimnya kolaborasi internasional, dan akses laboratorium yang belum memadai. Akibatnya, sebagian besar energi akademisi justru habis untuk memenuhi kewajiban administratif dibanding menghasilkan inovasi ilmiah. Jika pemerintah benar-benar ingin menciptakan universitas kelas dunia, maka investasi terbesar seharusnya diarahkan kepada manusia, bukan hanya pada bangunan. Universitas hebat dibangun oleh dosen hebat.


Di sinilah diskusi menjadi semakin menarik. Keberadaan URI tentu akan meningkatkan persaingan antar kampus dalam memperoleh mahasiswa terbaik, dosen unggul, hibah penelitian, hingga jejaring internasional. Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) tidak boleh memandang kondisi ini sebagai ancaman.  Sebaliknya, momentum tersebut harus dijadikan pemicu transformasi. PTKI memiliki modal yang tidak dimiliki banyak universitas lain, yaitu integrasi antara ilmu pengetahuan, nilai-nilai keislaman, moderasi beragama, dan pembentukan karakter. Namun modal tersebut tidak lagi cukup apabila tidak diiringi peningkatan kualitas akademik. 

PTKI harus mempercepat internasionalisasi kurikulum, peningkatan publikasi bereputasi internasional, penguatan laboratorium, digitalisasi pembelajaran, kolaborasi global, peningkatan jumlah professor, penguatan riset multidisipliner, dan pengembangan inovasi berbasis kebutuhan masyarakat. Transformasi UIN dalam dua dekade terakhir merupakan langkah yang tepat. Namun transformasi tersebut harus dilanjutkan menuju universitas riset yang mampu menghasilkan pengetahuan baru, bukan sekadar mengubah nomenklatur kelembagaan.

Pendidikan tinggi abad ke-21 tidak lagi dibangun melalui kompetisi semata. Kolaborasi justru menjadi kata kunci. Apabila URI benar-benar berdiri, maka idealnya tidak menjadi “super campus” yang menyerap seluruh sumber daya terbaik Indonesia. Sebaliknya, URI semestinya menjadi pusat kolaborasi nasional yang memperkuat PTN, PTS, dan PTKI melalui jaringan riset, pertukaran dosen, pengembangan teknologi, serta inovasi bersama. Model seperti ini jauh lebih sesuai dengan semangat pembangunan pendidikan nasional.

Pendirian Universitas Republik Indonesia patut diapresiasi sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap pendidikan tinggi. Namun apresiasi tidak boleh menghilangkan sikap kritis. Indonesia sesungguhnya tidak sedang mengalami krisis jumlah universitas. Yang lebih mendesak adalah krisis kualitas, produktivitas riset, internasionalisasi, dan tata kelola pendidikan tinggi. Dalam konteks efisiensi anggaran, memperkuat ribuan perguruan tinggi yang telah ada kemungkinan memberikan manfaat yang lebih luas dibanding membangun sebuah universitas baru. Investasi pada dosen, riset, laboratorium, teknologi, dan ekosistem akademik akan menghasilkan dampak yang lebih berkelanjutan.

Bagi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam, wacana URI hendaknya tidak disikapi dengan rasa khawatir, melainkan dengan keberanian untuk bertransformasi. PTKI harus semakin adaptif, inovatif, dan berorientasi global tanpa kehilangan identitas keislaman dan kebangsaan. Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah bangsa bukanlah berapa banyak universitas yang dibangun, melainkan berapa banyak universitas yang mampu melahirkan ilmu pengetahuan, inovasi, pemimpin berintegritas, dan solusi nyata bagi persoalan masyarakat. Di situlah sesungguhnya makna investasi pendidikan yang hakiki.

* Penulis adalah Dosen Prodi PAI FTIK UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo
Dr. Hariyanto, M.Pd



Rabu, 22 Juli 2026

Mahasiswa KPM Kelompok 66 UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo Isi MPLS di SDN Bondrang 1, Tanamkan Budaya Anti-Bullying dan Gemar Menabung Sejak Dini

 

Foto bersama Siswa, Guru dan Mahasiswa KPM Kelompok 66

inspirasipendidikan.com – Komitmen mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo dalam mendukung penguatan pendidikan di sekolah dasar diwujudkan melalui partisipasi aktif pada kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SDN Bondrang 1, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, yang berlangsung pada 14-15 Juli 2026 dan dilanjutkan tanggal 18 Juli 2026.

Kegiatan yang menjadi bagian dari program kerja Bidang Pendidikan Kelompok 66 KPM ini menghadirkan mahasiswa sebagai narasumber dan fasilitator pembelajaran bagi peserta didik baru. Dibawah bimbingan DPL Dr. Hariyanto, M.Pd, Kelompok 66 mengusung konsep pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan, mahasiswa menyampaikan dua materi yang sangat dekat dengan kehidupan anak-anak, yakni Pencegahan Bullying di Lingkungan Sekolah dan Gemar Menabung Sejak Dini.

Ketua Kelompok 66 KPM, Ridho Nurrohman, menjelaskan bahwa kedua tema tersebut dipilih berdasarkan kebutuhan sekolah sekaligus sebagai upaya membangun karakter peserta didik sejak usia dini.

Suasana antusias dalam kegiatan MPLS bersama mahasiswa KPM 66

"Sekolah bukan hanya tempat memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga tempat membentuk karakter. Karena itu kami ingin anak-anak memahami pentingnya saling menghargai teman dan membiasakan hidup hemat melalui budaya menabung," ujarnya.

Materi mengenai anti-bullying dikemas secara sederhana melalui cerita, simulasi, diskusi ringan, serta permainan edukatif yang mengajak siswa mengenali bentuk-bentuk perundungan, dampaknya terhadap korban, dan cara menjadi teman yang baik. Sementara itu, materi gemar menabung memperkenalkan pentingnya mengelola uang sejak dini, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menanamkan kebiasaan menyisihkan sebagian uang saku untuk masa depan.

Berbeda dari metode ceramah konvensional, mahasiswa menghadirkan pembelajaran yang komunikatif melalui ice breaking, permainan kelompok, kuis interaktif, hingga pemberian hadiah sederhana bagi siswa yang aktif berpartisipasi. Suasana kelas pun berlangsung meriah dengan gelak tawa, tepuk tangan, dan antusiasme siswa yang terus terlibat dalam setiap sesi.

Unjuk kreativitas para siswa SDN Bondrang 1

Pada hari pertama, kegiatan dipandu oleh Ridho Nurrohman, Fadhillah Shinta, Zulfa Zakiyyah, Huda Nurrohman, Arin, dan Pinchi Septian. Sementara pada hari kedua, sesi pembelajaran dilanjutkan oleh Moch. Rifa'i, Ervina Pranindita, Arwinda Ilma, Rina Setiana, Latifa Syarafina, Zilda Hidayatul, Shahida, dan Alfi Lailatul Badriyah. Pada hari ketiga, yaitu tanggal 18 Juli 2026 diisi dengan berbagai lomba yang edukatif dan menarik.

Kepala SDN Bondrang 1, Ni’mal Mafiroh, S.Pd  menyampaikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa KPM dalam menyukseskan kegiatan MPLS tahun ini. Menurutnya, pendekatan yang dilakukan mahasiswa mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus memberikan nilai-nilai pendidikan karakter kepada peserta didik.

"Kami mengucapkan terima kasih atas kerja sama yang luar biasa dari mahasiswa Kelompok 66 KPM. Topik yang diangkat sangat relevan dengan kebutuhan anak-anak saat ini, dan cara penyampaiannya begitu menarik. Anak-anak terlihat sangat antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan."

Melihat semangat dan kemampuan mahasiswa dalam berinteraksi dengan siswa, pihak sekolah juga berharap kerja sama tidak berhenti pada kegiatan MPLS. Kepala sekolah meminta mahasiswa KPM untuk turut membantu proses pembelajaran selama masa pengabdian,

Menanggapi permintaan tersebut, Ketua Kelompok 66, Ridho, menyatakan kesiapan seluruh anggota kelompok untuk mendukung kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Mahasiswa KPM Kelompok 66 berpose di depan SDN Bondrang1
"Kami siap membantu sekolah selama pelaksanaan KPM. Selain menjadi bentuk pengabdian kepada masyarakat, kami berharap kehadiran mahasiswa juga dapat memberikan energi baru bagi proses pembelajaran sekaligus ikut memperkenalkan SDN Bondrang 1 kepada masyarakat sebagai sekolah yang terus berkembang dan memiliki kualitas yang baik."

Bagi para mahasiswa, pengalaman mengajar secara langsung memberikan pembelajaran yang tidak diperoleh di ruang kuliah. Mereka belajar memahami karakter peserta didik, mengelola kelas, serta membangun komunikasi yang efektif dengan anak-anak sekolah dasar.

Fadhillah Shinta, salah satu mahasiswa peserta KPM, mengungkapkan bahwa antusiasme siswa menjadi motivasi tersendiri selama menyampaikan materi.

"Awalnya kami sempat khawatir anak-anak akan cepat bosan. Namun ternyata mereka sangat aktif bertanya, berani menjawab, bahkan ikut berbagi pengalaman. Rasanya menyenangkan ketika melihat mereka belajar sambil tertawa."

Hal serupa disampaikan Ervina Pranindita yang bertugas pada hari kedua.

"Kegiatan ini membuat kami sadar bahwa menjadi pendidik bukan hanya menyampaikan materi, tetapi juga menciptakan pengalaman belajar yang berkesan bagi peserta didik."

Antusiasme juga datang dari para siswa. merekamengaku senang mengikuti kegiatan karena penyampaian materi tidak membosankan.

"Kakak-kakaknya baik. Belajarnya sambil main game, jadi seru. Sekarang aku tahu kalau mengejek teman itu tidak boleh."

Sementara itu, salah seorang siswi yang lain juga mengaku mulai termotivasi untuk rajin menabung.

"Aku mau mulai menabung supaya nanti bisa membeli barang yang aku butuhkan sendiri. Ternyata menabung itu penting."

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa kehadiran mahasiswa KPM tidak hanya menjalankan program kerja, tetapi juga membangun ruang belajar yang inspiratif dan menyenangkan bagi peserta didik. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dasar diharapkan mampu memperkuat pendidikan karakter, meningkatkan literasi keuangan sejak dini, serta menumbuhkan budaya sekolah yang aman, inklusif, dan bebas dari perundungan.

Keceriaan siswa siswi dalam game yang menyenangkan

Melalui pengabdian yang menyentuh langsung dunia pendidikan, mahasiswa UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo kembali menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan akan memiliki makna ketika hadir dan memberi manfaat bagi masyarakat. Alfi, salah seorang mahasiswi dari kelompok 66 menegaskan “Pendidikan terbaik bukan hanya membuat anak menjadi pintar, tetapi juga menjadikan mereka tumbuh sebagai manusia yang berkarakter.” Senada dengan itu, Zilda menyatakan bahwa ketika mahasiswa hadir di tengah masyarakat, ilmu pengetahuan berubah menjadi aksi, dan pengabdian menjadi jembatan menuju perubahan. (Hary_23/72026)

Senin, 13 Juli 2026

KPM UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo Resmi Dibuka di Desa Bondrang; Mahasiswa Siap Wujudkan Program Pengabdian Berbasis Kebutuhan Masyarakat

 

inspirasipendidikan.com – Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo secara resmi membuka kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Tahun 2026 di Desa Bondrang, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, pada Senin (13/7/2026). Bertempat di Kantor Desa Bondrang, kegiatan pembukaan berlangsung khidmat dan penuh semangat kolaborasi sebagai langkah awal sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat dalam mewujudkan pengabdian yang berdampak nyata.

Acara pembukaan dihadiri oleh Kepala Desa Bondrang, Baru Pria Sukaca, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Larno, beserta perangkat desa. Dari pihak kampus hadir Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dr. Hariyanto, M.Pd. dan Septiyan Huda Fuadi, M.E., Sy., bersama seluruh mahasiswa peserta KPM yang akan melaksanakan pengabdian selama beberapa pekan ke depan.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Bondrang, Baru Pria Sukaca, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Desa Bondrang sebagai lokasi pelaksanaan KPM UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Ia berharap kehadiran mahasiswa mampu menjadi mitra strategis pemerintah desa dalam mendukung berbagai program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.

“Kami menyambut dengan penuh sukacita kehadiran mahasiswa KPM di Desa Bondrang. Semoga mereka dapat berbaur dengan masyarakat, memahami kondisi riil desa, serta menghadirkan inovasi dan solusi yang bermanfaat bagi kemajuan desa,” ungkapnya.

Sementara itu, Septiyan Huda Fuadi, M.E., Sy., selaku Dosen Pembimbing Lapangan, menegaskan bahwa Kuliah Pengabdian Masyarakat merupakan implementasi nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya dituntut menguasai teori, tetapi juga mampu menerapkan ilmu pengetahuan melalui program-program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

“KPM menjadi ruang belajar yang sesungguhnya bagi mahasiswa. Mereka akan belajar berinteraksi dengan masyarakat, memetakan potensi dan permasalahan desa, serta merancang program yang memberikan manfaat nyata. Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan mampu menjaga etika, membangun komunikasi yang baik, serta menjadi bagian dari solusi bagi masyarakat,” jelasnya.

Hal senada disampaikan oleh Dr. Hariyanto. M.Pd, yang mengajak seluruh peserta KPM untuk menjaga nama baik almamater serta menjadikan pengabdian sebagai media pembelajaran yang memperkuat kompetensi akademik, sosial, dan kepemimpinan.

Pada pelaksanaan KPM di Desa Bondrang, mahasiswa dibagi menjadi dua kelompok yang ditempatkan di beberapa dusun agar pelaksanaan program lebih efektif dan menjangkau masyarakat secara luas.

Kelompok 66 terdiri atas 15 mahasiswa yang berada di bawah bimbingan Dr. Hariyanto, M.Pd. Kelompok ini menempati dua posko, yaitu Posko Mahasiswi di Dukuh Tengah dan Posko Mahasiswa di Dukuh Jotangan. Sementara itu, Kelompok 67 juga beranggotakan 15 mahasiswa/mahasiswi yang berposko di Dukuh Pethak di bawah pendampingan Septiyan Huda Fuadi, M.E., Sy.

Pembagian kelompok tersebut diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pelaksanaan program kerja, memperkuat pendampingan kepada masyarakat, sekaligus mempermudah koordinasi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan dosen pembimbing lapangan.

Usai mengikuti acara pembukaan di Kantor Desa Bondrang, Kelompok 66 langsung menggelar rapat koordinasi internal di Posko Mahasiswa Dukuh Jotangan. Rapat tersebut membahas tindak lanjut hasil analisis kebutuhan masyarakat yang telah dilakukan sebelumnya, penyusunan skala prioritas program kerja, pembagian tugas antar anggota, serta strategi teknis implementasi program pengabdian selama masa KPM.

Koordinasi ini menjadi langkah awal untuk memastikan setiap program yang akan dilaksanakan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat Desa Bondrang serta dapat diimplementasikan secara terencana, kolaboratif, dan berkelanjutan. Melalui pendekatan berbasis kebutuhan masyarakat (needs assessment), dengan pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) mahasiswa diharapkan mampu menghadirkan kegiatan yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas kehidupan masyarakat desa.

Dengan semangat kolaborasi dan pengabdian, pelaksanaan KPM UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo di Desa Bondrang diharapkan menjadi wadah pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa sekaligus memperkuat kemitraan antara perguruan tinggi dan pemerintah desa dalam mewujudkan pembangunan masyarakat yang partisipatif, inovatif, dan berkelanjutan. (HR/13/7/26)