f '
Berbagi Inspirasi dan informasi pendidikan
Pendidikan bukan cuma pergi ke sekolah dan mendapatkan gelar. Tapi, juga soal memperluas pengetahuan dan menyerap ilmu kehidupan.
Kurang cerdas bisa diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki (Bung Hatta)
Tinggikan dirimu, tapi tetapkan rendahkan hatimu. Karena rendah diri hanya dimiliki orang yang tidak percaya diri.
Hanya orang yang tepat yang bisa menilai seberapa tepat kamu berada di suatu tempat.
Puncak tertinggi dari segala usaha yang dilakukan adalah kepasrahan.
![]() |
| Foto bersama Siswa, Guru dan Mahasiswa KPM Kelompok 66 |
inspirasipendidikan.com
– Komitmen mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) UIN Kiai Ageng Muhammad
Besari Ponorogo dalam mendukung penguatan pendidikan di sekolah dasar
diwujudkan melalui partisipasi aktif pada kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan
Sekolah (MPLS) di SDN Bondrang 1, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, yang
berlangsung pada 14-15 Juli 2026 dan dilanjutkan tanggal 18 Juli 2026.
Kegiatan
yang menjadi bagian dari program kerja Bidang Pendidikan Kelompok 66 KPM ini
menghadirkan mahasiswa sebagai narasumber dan fasilitator pembelajaran bagi
peserta didik baru. Dibawah bimbingan DPL Dr. Hariyanto, M.Pd, Kelompok 66 mengusung
konsep pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan, mahasiswa menyampaikan
dua materi yang sangat dekat dengan kehidupan anak-anak, yakni Pencegahan
Bullying di Lingkungan Sekolah dan Gemar Menabung Sejak Dini.
Ketua
Kelompok 66 KPM, Ridho Nurrohman, menjelaskan bahwa kedua tema tersebut dipilih
berdasarkan kebutuhan sekolah sekaligus sebagai upaya membangun karakter
peserta didik sejak usia dini.
![]() |
| Suasana antusias dalam kegiatan MPLS bersama mahasiswa KPM 66 |
"Sekolah
bukan hanya tempat memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga tempat membentuk
karakter. Karena itu kami ingin anak-anak memahami pentingnya saling menghargai
teman dan membiasakan hidup hemat melalui budaya menabung," ujarnya.
Materi
mengenai anti-bullying dikemas secara sederhana melalui cerita,
simulasi, diskusi ringan, serta permainan edukatif yang mengajak siswa
mengenali bentuk-bentuk perundungan, dampaknya terhadap korban, dan cara
menjadi teman yang baik. Sementara itu, materi gemar menabung memperkenalkan
pentingnya mengelola uang sejak dini, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta
menanamkan kebiasaan menyisihkan sebagian uang saku untuk masa depan.
Berbeda
dari metode ceramah konvensional, mahasiswa menghadirkan pembelajaran yang
komunikatif melalui ice breaking, permainan kelompok, kuis interaktif,
hingga pemberian hadiah sederhana bagi siswa yang aktif berpartisipasi. Suasana
kelas pun berlangsung meriah dengan gelak tawa, tepuk tangan, dan antusiasme
siswa yang terus terlibat dalam setiap sesi.
![]() |
| Unjuk kreativitas para siswa SDN Bondrang 1 |
Pada hari
pertama, kegiatan dipandu oleh Ridho Nurrohman, Fadhillah Shinta, Zulfa
Zakiyyah, Huda Nurrohman, Arin, dan Pinchi Septian. Sementara pada hari kedua,
sesi pembelajaran dilanjutkan oleh Moch. Rifa'i, Ervina Pranindita, Arwinda
Ilma, Rina Setiana, Latifa Syarafina, Zilda Hidayatul, Shahida, dan Alfi
Lailatul Badriyah. Pada hari ketiga, yaitu tanggal 18 Juli 2026 diisi dengan
berbagai lomba yang edukatif dan menarik.
Kepala SDN
Bondrang 1, Ni’mal Mafiroh, S.Pd menyampaikan apresiasi atas kontribusi
mahasiswa KPM dalam menyukseskan kegiatan MPLS tahun ini. Menurutnya,
pendekatan yang dilakukan mahasiswa mampu menciptakan suasana belajar yang
menyenangkan sekaligus memberikan nilai-nilai pendidikan karakter kepada
peserta didik.
"Kami
mengucapkan terima kasih atas kerja sama yang luar biasa dari mahasiswa
Kelompok 66 KPM. Topik yang diangkat sangat relevan dengan kebutuhan anak-anak
saat ini, dan cara penyampaiannya begitu menarik. Anak-anak terlihat sangat
antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan."
Melihat
semangat dan kemampuan mahasiswa dalam berinteraksi dengan siswa, pihak sekolah
juga berharap kerja sama tidak berhenti pada kegiatan MPLS. Kepala sekolah
meminta mahasiswa KPM untuk turut membantu proses pembelajaran selama masa
pengabdian,
Menanggapi
permintaan tersebut, Ketua Kelompok 66, Ridho, menyatakan kesiapan seluruh
anggota kelompok untuk mendukung kegiatan belajar mengajar di sekolah.
![]() |
| Mahasiswa KPM Kelompok 66 berpose di depan SDN Bondrang1 |
Bagi para
mahasiswa, pengalaman mengajar secara langsung memberikan pembelajaran yang
tidak diperoleh di ruang kuliah. Mereka belajar memahami karakter peserta
didik, mengelola kelas, serta membangun komunikasi yang efektif dengan
anak-anak sekolah dasar.
Fadhillah
Shinta, salah satu mahasiswa peserta KPM, mengungkapkan bahwa antusiasme siswa
menjadi motivasi tersendiri selama menyampaikan materi.
"Awalnya
kami sempat khawatir anak-anak akan cepat bosan. Namun ternyata mereka sangat
aktif bertanya, berani menjawab, bahkan ikut berbagi pengalaman. Rasanya menyenangkan
ketika melihat mereka belajar sambil tertawa."
Hal serupa
disampaikan Ervina Pranindita yang bertugas pada hari kedua.
"Kegiatan
ini membuat kami sadar bahwa menjadi pendidik bukan hanya menyampaikan materi,
tetapi juga menciptakan pengalaman belajar yang berkesan bagi peserta
didik."
Antusiasme
juga datang dari para siswa. merekamengaku senang mengikuti kegiatan karena
penyampaian materi tidak membosankan.
"Kakak-kakaknya
baik. Belajarnya sambil main game, jadi seru. Sekarang aku tahu kalau mengejek
teman itu tidak boleh."
Sementara
itu, salah seorang siswi yang lain juga mengaku mulai termotivasi untuk rajin
menabung.
"Aku
mau mulai menabung supaya nanti bisa membeli barang yang aku butuhkan sendiri.
Ternyata menabung itu penting."
Kegiatan
ini menjadi bukti bahwa kehadiran mahasiswa KPM tidak hanya menjalankan program
kerja, tetapi juga membangun ruang belajar yang inspiratif dan menyenangkan
bagi peserta didik. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dasar
diharapkan mampu memperkuat pendidikan karakter, meningkatkan literasi keuangan
sejak dini, serta menumbuhkan budaya sekolah yang aman, inklusif, dan bebas
dari perundungan.
![]() |
| Keceriaan siswa siswi dalam game yang menyenangkan |
Melalui pengabdian yang menyentuh langsung dunia pendidikan, mahasiswa UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo kembali menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan akan memiliki makna ketika hadir dan memberi manfaat bagi masyarakat. Alfi, salah seorang mahasiswi dari kelompok 66 menegaskan “Pendidikan terbaik bukan hanya membuat anak menjadi pintar, tetapi juga menjadikan mereka tumbuh sebagai manusia yang berkarakter.” Senada dengan itu, Zilda menyatakan bahwa ketika mahasiswa hadir di tengah masyarakat, ilmu pengetahuan berubah menjadi aksi, dan pengabdian menjadi jembatan menuju perubahan. (Hary_23/72026)
inspirasipendidikan.com – Universitas
Islam Negeri (UIN) Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo secara resmi membuka
kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Tahun 2026 di Desa Bondrang,
Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, pada Senin (13/7/2026).
Bertempat di Kantor Desa Bondrang, kegiatan pembukaan berlangsung khidmat dan
penuh semangat kolaborasi sebagai langkah awal sinergi antara perguruan tinggi,
pemerintah desa, dan masyarakat dalam mewujudkan pengabdian yang berdampak
nyata.
Acara
pembukaan dihadiri oleh Kepala Desa Bondrang, Baru Pria Sukaca, Ketua Badan
Permusyawaratan Desa (BPD), Larno, beserta perangkat desa. Dari pihak kampus
hadir Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dr. Hariyanto, M.Pd. dan Septiyan
Huda Fuadi, M.E., Sy., bersama seluruh mahasiswa peserta KPM yang akan
melaksanakan pengabdian selama beberapa pekan ke depan.
Dalam
sambutannya, Kepala Desa Bondrang, Baru Pria Sukaca, menyampaikan apresiasi
atas kepercayaan yang diberikan kepada Desa Bondrang sebagai lokasi pelaksanaan
KPM UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Ia berharap kehadiran mahasiswa
mampu menjadi mitra strategis pemerintah desa dalam mendukung berbagai program
pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.
“Kami
menyambut dengan penuh sukacita kehadiran mahasiswa KPM di Desa Bondrang.
Semoga mereka dapat berbaur dengan masyarakat, memahami kondisi riil desa,
serta menghadirkan inovasi dan solusi yang bermanfaat bagi kemajuan desa,”
ungkapnya.
Sementara
itu, Septiyan Huda Fuadi, M.E., Sy., selaku Dosen Pembimbing Lapangan,
menegaskan bahwa Kuliah Pengabdian Masyarakat merupakan implementasi nyata dari
Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada
masyarakat. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya dituntut menguasai teori, tetapi
juga mampu menerapkan ilmu pengetahuan melalui program-program yang relevan
dengan kebutuhan masyarakat.
“KPM
menjadi ruang belajar yang sesungguhnya bagi mahasiswa. Mereka akan belajar
berinteraksi dengan masyarakat, memetakan potensi dan permasalahan desa, serta
merancang program yang memberikan manfaat nyata. Oleh karena itu, mahasiswa
diharapkan mampu menjaga etika, membangun komunikasi yang baik, serta menjadi
bagian dari solusi bagi masyarakat,” jelasnya.
Hal
senada disampaikan oleh Dr. Hariyanto. M.Pd, yang mengajak seluruh peserta KPM
untuk menjaga nama baik almamater serta menjadikan pengabdian sebagai media
pembelajaran yang memperkuat kompetensi akademik, sosial, dan kepemimpinan.
Pada
pelaksanaan KPM di Desa Bondrang, mahasiswa dibagi menjadi dua kelompok yang
ditempatkan di beberapa dusun agar pelaksanaan program lebih efektif dan
menjangkau masyarakat secara luas.
Kelompok
66 terdiri atas 15 mahasiswa yang berada di bawah bimbingan Dr. Hariyanto,
M.Pd. Kelompok ini menempati dua posko, yaitu Posko Mahasiswi di Dukuh Tengah
dan Posko Mahasiswa di Dukuh Jotangan. Sementara itu, Kelompok 67 juga
beranggotakan 15 mahasiswa/mahasiswi yang berposko di Dukuh Pethak di bawah
pendampingan Septiyan Huda Fuadi, M.E., Sy.
Pembagian
kelompok tersebut diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pelaksanaan program
kerja, memperkuat pendampingan kepada masyarakat, sekaligus mempermudah
koordinasi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan dosen pembimbing lapangan.
Usai
mengikuti acara pembukaan di Kantor Desa Bondrang, Kelompok 66 langsung
menggelar rapat koordinasi internal di Posko Mahasiswa Dukuh Jotangan. Rapat
tersebut membahas tindak lanjut hasil analisis kebutuhan masyarakat yang telah
dilakukan sebelumnya, penyusunan skala prioritas program kerja, pembagian tugas
antar anggota, serta strategi teknis implementasi program pengabdian selama
masa KPM.
Koordinasi
ini menjadi langkah awal untuk memastikan setiap program yang akan dilaksanakan
benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat Desa Bondrang serta dapat
diimplementasikan secara terencana, kolaboratif, dan berkelanjutan. Melalui
pendekatan berbasis kebutuhan masyarakat (needs assessment), dengan
pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) mahasiswa diharapkan
mampu menghadirkan kegiatan yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga
memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas kehidupan masyarakat desa.
Dengan semangat kolaborasi dan pengabdian, pelaksanaan KPM UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo di Desa Bondrang diharapkan menjadi wadah pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa sekaligus memperkuat kemitraan antara perguruan tinggi dan pemerintah desa dalam mewujudkan pembangunan masyarakat yang partisipatif, inovatif, dan berkelanjutan. (HR/13/7/26)